Pesona The Twins

Pesona The Twins
122 Kebahagiaan Putra Ayra


__ADS_3

Di sebuah rumah sakit, Ayra, Bram, Ammar dan Ibrahim tampak menunggu di depan ruang operasi. Nur harus di operasi ERACS, dimana merupakan suatu prosedur operasi caesar dengan pendekatan khusus untuk mengoptimalkan kesehatan dan keamanan bunda dan bayi. Ibrahim lebih memilih Enhanced Recovery After Cesarean Surgery agar proses penyembuhan atau recovery persalinan pasca operasi dapat dipercepat dengan hasil maksimal.


Ia begitu mencintai istrinya, sebelum proses melahirkan. Ia sudah mencari informasi terkait apa yang akan ia ambil jika istrinya tak bisa melahirkan normal.


"Kamu tenang sekali?" Tanya Ammar heran.


Ibrahim tampak santai karena ia baru saja dari musholla rumah sakit itu.


"Kenapa juga harus khawatir. Semua sudah ada takdirnya. Aku sudah mengusahakan yang terbaik, rumah sakit, dan operasi. Maka sekarang mengkhawatirkan kondisi Nur hanya membuat aku sibuk dengan prasangka ku. Aku lebih baik menghabiskan waktu untuk berdzikir." Ucap Ibrahim yang duduk kembali di bangku tunggu tepat di depan ruang operasi.


Ammar merasa senang karena adiknya sudah kembali mengingat siapa dirinya. Bahkan cara berpikir bungsu Ayra itu tak berubah. Ia masih menjadi Ibrahim, cucu sekaligus santri Umi Laila yang mirip Kyai Rohim.


Ayra yang sesekali mengusap lengannya. Ia mengenakan jaket kulit Bram. Karena terburu-buru mendengar Nur akan kerumah sakit bersama Ibrahim membuat ia lupa membawa sweater atau jaket. Bram memeluk istrinya karena ia lihat tangan Ayra terus mengusap lengannya.


Hampir dua jam dokter menangani Nur. Lalu seorang perawat keluar dengan membawa bayi laki-laki yang memiliki bobot 3,2. Ayra bahkan menitikkan air mata kala Ibrahim mengumandangkan adzan di telinga putranya. Sungguh kebahagiaan meliputi hati Bram dan Ayra. Mereka merasakan senangnya memiliki cucu. Bahkan saat Nur sudah di pindahkan ke ruang rawat inap. Bram dan Ayra meminta bayi Nur yang sehat berada di kamar bersama Nur.


"Mama ini... Tidak mungkin tertukar..." Ucap Ammar yang sedikit protes karena Ayra tampak sangat ingin cucunya berada satu ruangan dengan Nur.


Akhirnya bayi itu pun dibawa ke dalam kamar Nur. Malam itu Ammar pulang karena Arumi sedang tak sehat. Sedangkan Ayra dan Bram menemani Nur di rumah sakit.


"Mama yakin tidak pulang?" Tanya Ibrahim pada Ayra.


"Mama mau disini. Papa?" Tanya Ayra.


"Papa juga akan disini. Hah... begini rasanya punya cucu... " Ucap Bram yang dari tadi menatap bayi mungil yang sedang terlelap. Hidung mancung bayi itu bisa menunjukkan bahwa ia betul-betul anak dari Ibrahim.


Ammar akhirnya pulang sendiri.


"Ya sudah besok aku kemari bersama Arumi. Mudah-mudahan nular ke aku ya Ma." Ucap Ammar saat berpamitan pada Bram dan Ayra.


Ayra mengangguk.


"Jangan lupa Am, minta Mbok besok masak menu yang sudah papa titipkan catatannya kalau Nur melahirkan." Ucap Ayra.


"Siap Ma." Jawab Ammar sambil berlalu.

__ADS_1


Saat tiba di dalam mobil ia baru akan menghidupkan mobilnya. Arumi menelpon beberapa kali ternyata. Ammar tak mendengar karena ponselnya ia ubah di mode getar dan diletakkan di jaketnya. Hal itu membuat ia menepuk dahinya.


"Wah... Bakal ngambek lagi ini nyonya..." ucap Ammar yang melihat ada 9 kali panggilan tak terjawab.


Ammar cepat menghubungi Arumi. Satu kali, dua kali dan tiga kali tidak diangkat.


"Semoga kamu seperti ini karena hamil juga. Masa' aku dilangkahi lagi sama Qiya kalau duluan Qiya dapat junior." ucap Ammar sambil melajukan mobilnya.


Setibanya dirumah, ia langsung menuju kamar. Saat ia melihat Arumi sudah duduk sambil membaca sebuah buku.


"Sayang... Mas minta maaf. Ponselnya tadi di jaket dan Ma-"


"Mas itu kebiasaan... Kan aku sudah bilang mas... Jangan lama-lama...." Ucap Arumi yang sudah cemberut.


Ia menghampiri Ammar. Ia membantu suaminya membuka jaket.


"Nih kan kebiasaan. Kan sudah aku bilang jangan pernah letakkan ponselnya di bagian sini. Aku pernah dengar Habib Umar jika jangan letakkan ponselnya disini. Ini isinya semua yang berhubungan dengan dunia. Ini hati... energinya itu loh Mas ...." Ucap Arumi yang ngomel karena Ammar menyimpan ponselnya di saku jaket yang tepat berada di dada bagian kiri dimana pada tubuh merupakan letaknya hati.


Ammar cepat menggendong Arumi.


"Iya tuan putri.... Maaf, lupa. Tadi lagi dirumah sakit. Ga enak kalau suaranya keras. Sekarang bilang kenapa nelpon sampai 9 kali?" Tanya Ammar.


Ammar terkekeh melihat wajah cemberut istrinya. Ia sebenarnya curiga Arumi hamil, karena karakter Arumi berbeda sekali selama satu Minggu ini. Lebih perhatian, selalu manja, selalu ingin di perhatikan, kadang setengah jam menelpon hanya ingin melihat wajah Ammar. Lagi dimana sang suami, sama siapa.


"Mau dipijat?" Ucap Ammar.


Arumi menggeleng.


"Aku ngantuk tapi ga bisa tidur... " Ucap Arumi yang sudah memeluk tubuh Ammar erat.


"Aku ganti baju dulu Ar..."


"Ga usah, aku suka baunya." Ucap Arumi yang semakin menenggelamkan wajahnya di dada Ammar.


Ammar hanya mengusap rambut panjang istrinya.

__ADS_1


"Mas..." Ucap Arumi sambil memeluk suaminya dengan mata terpejam.


"Hem." Ucap Ammar dengan dua tangannya sibuk sendiri-sendiri.


Tangan kirinya mengusap rambut Arumi sedangkan tangan kanannya mengusap punggung istrinya.


"Mas besok kalau aku hamil, mau anak lelaki atau anak perempuan?" Tanya Arumi.


"Terserah mau dikasih perempuan atau laki-laki yang penting dari rahim kamu.


Tiba-tiba Arumi mendelik dan melerai pelukannya.


"Memangnya punya rahim dari perempuan lain?" Ucap Arumi


"Hehehe.... Besok kita sekalian ke Obgyn. Kamu satu Minggu ini terlihat aneh. Kamu belum Haid loh bulan ini..." Ucap Ammar.


Arumi menautkan alisnya.


"Modus..."


"Ya kalau di kasih kenapa nolak rezeki..." ucap Ammar yang menarik turun kan alisnya.


"Ga, aku ngantuk banget. Tapi kalau mas mau... apa boleh buat..." Ucap Arumi yang cepat memejamkan kedua matanya dan kembali memeluk Ammar.


"Hehe.. sudah tidurlah... Besok kita pagi-pagi kerumah sakit. Kamu ga mual lagi?" Tanya Ammar.


Karena sore tadi saat akan mengantar Nur, Arumi mual dan muntah. Namun Arumi tetap memaksa Ammar untuk mengantar dan menemani Ibrahim.


"Ga. Mualnya kalau ga ada Mas. Kalau ada mas malah bawak an nya pengen tidur terus..." Ucap Arumi.


Dan benar saja baru sekitar 15 menit ia memejamkan mata, usapan lembut dari Ammar juga aroma tubuh suaminya membuat nafas Arumi sudah teratur dan ia tertidur lelap.


Ammar justru bermunajat agar diberikan anak banyak dari istrinya itu. Disaat Pak Rendra justru sedang memikirkan cara untuk bertemu dengan Ratih. Mereka sudah di Bali tapi Rendra masih ragu.


"Ayolah Mas.... turunkan ego mu. Hilman butuh donor..." Ucap Ratih pelan.

__ADS_1


"Hah.... aku malu.... Aku malu Rat..." Ucap Rendra yang berdiri di balkon kamar hotel.


"Baiklah, besok aku sendiri akan menemui ibunya Gede. Mas bisa menunggu di mobil." Ucap istri Pak Rendra itu sambil memegang secangkir teh hangat ditangannya.


__ADS_2