
Saat ini Arumi duduk di koridor rumah sakit. Ia menanti kedatangan Ammar. Ia baru saja menelpon Ammar. Ketika kejadian tadi, ia dan sopir mengendarai mobil Gede. Mereka mencari rumah sakit terdekat. Lengan, dada bagian perut Gede terkena senjata tajam dari lelaki penjambretan tadi.
Arumi menunduk saja. Jika ia mengangkat wajahnya. Ia menutupnya dengan ujung gamisnya yang cukup lebar. Ia berharap Gege atau Gede tak lagi memiliki rasa padanya. Ia sudah tak lagi mengingat dan tak ada rasa yang tertinggal untuk Gede. Hanya ada Ammar di hati Arumi. Ia juga bingung, apakah harus meminta maaf pada lelaki yang ternyata adik iparnya itu.
Bahkan saat Arumi menelpon Ammar. Ia seraya menangis, Ammar yang bertanya ada apa. Ketika sang istri mengatakan jika Gede terkena luka, kini ia dan sopir berada di rumah sakit. Saat hari Arumi khawatir sang adik ipar masih punya rasa untuknya. Ammar justru sibuk menenangkan perasaan yang berkecamuk.
"Semoga kamu sudah tidak ada rasa yang tertinggal di hati kalian berdua. Aku begitu menyayangi ku Ar. Lalu kenapa tangisan mu begitu pilu... Apakah masih ada Gede di sudut hati mu." Ucap Ammar seraya menatap kosong keluar jendela. Marvin hanya melirik dari spion mobil.
Sedangkan Arumi, ia bersedih. Ia khawatir adik iparnya marah, dan ada rasa yang belum tuntas. Karena sepanjang perjalanan tadi Gede hanya diam dan tak ada komunikasi diantara mereka. Bahkan Gede membentak dirinya. Ammar saja sebagai suaminya, tak pernah membentak dia. Sehingga rasa di hati Arumi bercampur aduk.
Flashback On.
"Jangan sentuh aku!" Bentak Gede.
Raut wajahnya terlihat merah padam. Lelaki itu menenangkan hatinya. Ia tahu, panggilan 'Gege' hanya Niang Ayu dan Mayang yang tahu.
"Kamu terluka Ge...." Ucap Arumi khawatir masih dengan satu tangan menutup sebagian wajahnya.
"Jangan perdulikan aku! Siapa kamu?!" Bentak Gede.
Sang sopir hanya terpaku menatap dua menantu bos nya sedang terlibat percakapan yang menegangkan.
"Kita kerumah sakit dulu. Bagian perut mu mengeluarkan daraah." Ucap Arumi pada Gede.
Gede menoleh ke arah perutnya. Ia memegang bagian yang berdaraaah tersebut. Ia berdiri di bantu sopir. Ia pun masuk kedalam mobil. Ia duduk di sisi sopir. Ada rasa benci pada Arumi. Bahkan saat akan turun dari mobil ketika sopir membuka pintu. Gede sengaja menahannya agar belum terbuka. Kedua mata Gede menatap spion di atas kepalanya. Ia tatap Arumi penuh amarah.
"Katakan, siapa kamu? Kamu Mayang? Atau Arumi?" Ucap Gede.
Arumi menunduk. Ia diam membisu. Bahkan lengangnya yang juga terluka tak ia rasakan perihnya. Ia khawatir sang ipar masih punya rasa padanya. Ia tak ingin menyakiti Qiya juga Ammar. Ia sudah bahagia bersama Ammar. Berharap mengubur masalalu. Tetapi Allah punya rencana lain ternyata.
__ADS_1
"Maafkan aku. Semua ini salah ku dan Mayang...." Ucap Arumi lirih.
"Lalu? Kamu atau Mayang yang selama ini ada disisi ku?" Tanya Gede dengan wajah merah.
"Maafkan aku Ge... Maafkan aku. Tapi sekarang, kita sudah sama-sama bahagia. Aku m-"
"Cukup! Tega kau. Jadi selama ini kamu mempermainkan aku! jadi yang meninggalkan aku di hari itu juga kamu!?." Ucap Gede penuh amarah. Tangannya bahkan terkepal.
Arumi semakin menunduk. Ia tak berani menjawab pertanyaan Gede. Namun saat Gede akan keluar dari pintu mobil, hanya ada satu kata yang keluar dari bibir Arumi.
"Maaf...." Ucap Arumi.
Gede pun mendengar kata yang keluar dari bibir Arumi. Ia meninggalkan Arumi seorang diri. Sopir itu membantu Gede ke IGD. Sedangkan Arumi, ia menangis di dalam mobil. Ia menangis tersedu-sedu. Ini yang ia khawatirkan. Kebenaran bahwa ia adalah yang telah menyakiti Gede. Ia yang dulu bertukar posisi dengan Gede. Ia yang dulu mencintai Gede, bukan Mayang.
Setelah puas menangis, Arumi menghubungi Ammar. Masih dengan Isak tangis. Tanpa Arumi sadar, tangis Arumi di salah artikan oleh Ammar.
Flashback Off.
"Ar...." Panggil Ammar.
Arumi mendongak dan langsung menenggelamkan wajahnya di dada sang suami. Ia kembali menangis. Dua tangannya ia letakkan di dada Ammar.
"Hiks.... Gede... Gede sudah tahu aku adalah Mayang dulunya Mas... Aku khawatir dia marah, atau hubungan nya dan Qiya terganggu." Ucap Arumi sambil menangis.
Istri Ammar itu kembali menumpahkan isi hatinya.
"Aku tidak ingin hubungan mu juga Qiya menjadi terganggu hanya karena masalalu aku dan Gede." Ucap Arumi.
Ammar hanya mengusap kepala istrinya.
__ADS_1
"Mana Niqab mu?" Tanya Ammar.
Arumi menceritakan kejadian yang membuat ia dan Gede akhirnya berada di rumah sakit. Namun kedua netra Ammar terlihat membesar, baju kemeja putihnya kini penuh bercak darah. Arumi tak sadar jika tangan dan lengannya terkena luka sabetan tadi.
"Astaghfirullah... Ar, kamu terluka sayang...." Ucap Ammar khawatir. Ammar pun segera membawa Arumi ke ruang IGD.
Namun tanpa Ammar dan Arumi tahu. Sang sopir yang sedang di tunggu Ayra. Menerima telepon dari Ayra ketika Arumi tak mengangkat telepon darinya.
"Anu, anu Bu. Ini, den Arumi sama den Gede tadi bertengkar terus sekarang dirumah sakit " Ucap Pak Sopir.
Ayra yang terkejut, ia cepat mencegah Bram untuk pergi ke luar. Karena akan bertemu klien siang itu.
"Mas.... Arumi dan Gede bertengkar. Mereka di rumah sakit." Ucap Ayra khawatir.
"Astaghfirullah.... Bagaimana bisa terjadi Ay? Bukannya Gede dan Qiya pergi kerumah Cita? Dan Arumi pergi menjemput kak Siti?" Tanya Bram.
"Tidak tahu. Kita kesana sekarang Mas. Pak sopir bilang, kalau Ammar sudah di rumah sakit. Arumi juga terluka." Ucap Ayra bergegas mengajak Bram ke rumah sakit.
Bram dan Ayra begitu khawatir. Itulah orang tua, mereka akan sangat khawatir jika mendengar kabar, tanpa mereka melihat langsung kejadian sebenarnya. Sehingga tak heran akan banyak orang tua yang jauh dari anak-anaknya yang begitu khawatir jika mendengar kabar sakit, atau anak dan menantunya punya masalah. Padahal apa yang di dengar tak seseram yang terjadi.
"Semoga tidak terjadi apa-apa dengan mereka ya Mas " Ucap Ayra khawatir.
"Rasanya Gede tak mungkin menyakiti perempuan Ay. Apalagi Arumi. Dia kakak iparnya, walau dia mantan tunangannya." Ucap Bram.
"Dan tak mungkin Arumi mencelakai Gede. Ia sudah jauh berubah..." Ucap Ayra.
Bram menautkan alisnya.
"Kamu tidak tahu jika Arumi mantan intelejen. Tetapi rasanya tak mungkin juga jika Arumi melukai Gede..." Batin Bram seraya mencoba menghubungi Ammar.
__ADS_1
"Sudah kita lihat saja dan dengar apa yang terjadi. Kadang apa yang di dengar tidak sesuai dengan apa yang terjadi kalau kita tidak melihat langsung Ay. Tenanglah, menantu-menantu kita bukan orang-orang yang tak punya akhlak dan adab sampai berkelahi karena masalalu." ucap Bram.
"