Pesona The Twins

Pesona The Twins
25 Dua Kondisi Di Dua tempat Berbeda


__ADS_3

Dokter Gede terlihat gelagapan. Ia pun cepat mengambil Pen Light yang tergeletak di atas lantai. Ayra melirik ke arah Bram. Sedangkan Qiya membesarkan pupil matanya karena ia tahu maksud ayahnya menggoda dokter itu. Bram memasang wajah dinginnya.


"Maafkan saya dokter Qiya. Istirahat yang cukup. Perbanyak minum air putih ya dok. Baiklah saya permisi dulu. Jika ada yahh ada keluhkan selain rasa panas di tenggorokan tolong beri tahu perawat." ucap dokter Gede sekilas menatap wajah yang membuat hatinya kembali sakit namun juga berharap jika perempuan itu adalah Mayang. Tapi ia sadar dokter muda itu bukan Mayang.


Kepribadian merek sangat berbeda. Hanya bulu mata yang lentik, bibir yang mungil serta ketik tersenyum saat itulah mulai terlihat mereka seperti kembaran. Walau sebenarnya jika hijab itu terbuka maka wajah Qiya justru jauh lebih cantik dari mantan tunangan dokter Gede.


Dokter itu pun menundukkan kepalanya ke arah Bram dan Ayra tanda permisi. Perawat yang berada di belakang dokter Gede pun mengingat seolah mengingat sesuatu.


"Itu bapaknya dokter Isip kok mukanya aku ga asing ya?" Batinnya sambil mengekor di belakang dokter Gede.


Selepas kepergian dokter itu. Bram membuka paperbag yang ia bawa bersama Ayra tadi. Ia tahu jika dua pasang mata meminta penjelasan atas deheman nya tadi.


"Papa sedang merasa tersaingi oleh dokter tadi?" Tanya Ayra sambil menatap punggung Bram yang berjalan ke arah meja.


"Bukan. Tapi dokter itu sedang menatap perempuan yang belum halal ia pandangi. Dan putri Ku entah terlalu lugu atau ia belum dewasa hingga tak pernah bisa membedakan tatapan lelaki padanya sebagai tatapan biasa atau suka." Ucap Bram sambil mengeluarkan buah melon.


Ia mengatakan hal itu karena ketika saat pertama ia bertemu Hilman pun. Ia yang pertama kali mengatakan pada Ayra jika lelaki itu menyukai putri mereka. Ibarat kata feeling seorang ayah begitu kuat.


Bram mengupas melon untuk Qiya. Satu buah favorit putrinya sedari kecil. Ketika selesai mengupasnya kecil itu ia menyuapi buah itu ke arah mulut sang putri.


"Aaa...." Ucap Bram pada sang anak.

__ADS_1


"Beliau. dokter pembimbing ku Pa." Ucap Qiya sebelum menerima suapan buah itu kedalam mulutnya.


"Mau pembimbing, mau teman, atau siapapun. Dia lelaki, dan Papa adalah lelaki yang lebih berpengalaman dari dokter itu. Tatapannya dari pertama mengecek selang infus mu itu sudah terlihat jantungnya sedang tidak baik-baik. Jangan-jangan ia menyukai kamu sudah cukup lama maka ia bisa begitu nervous tadi." Ucap Bram sambil menyuapkan irisan melon pada Ayra yang hanya tersenyum dari tadi mendengarkan pendapat sang suami.


"Belajar dari kejadian kemarin, Papa tidak akan menyerahkan keputusan untuk menerima lamaran lelaki untuk kamu pada kamu. Tapi dia harus menemui Papa dulu. Harus izin Papa dulu. Kejadian kemarin cukup sudah membuat putri Papa ini terluka. Tidak boleh untuk yang kedua kalinya." Ucap Bram penuh penekanan.


"Mas.... " Ayra memainkan bola matanya sambil ia lirikan kearah putrinya.


"Tenanglah Ayra... Putri mu bukan perempuan lemah yang akan menangis hanya karena batal menikah dengan pecundang seperti Hilman itu. Yakinlah Papa akan begitu selektif memilih pasangan Mu. Dan Putri Papa ini teruslah menjaga hati. Jangan jatuh hati dulu sebelum menikah. Karena Cinta datang disaat waktu yang tepat dan orang yang tepat akan membuat Kamu bahagia sayang." Ucap Bram masih silih berganti menyuapi istri dan anaknya.


"Papa kenapa jadi protektif begini?" Protes Qiya saat ia tak menerima suapan terakhir buah melon itu.


"Karena.... Papa tidak ingin anak-anak Papa kembali tersakiti karena Papa yang terlalu memasrahkan pada kalian untuk masa depan kalian. Rasanya sakit Qiy. Sakit ketika kalian di sakiti." Suara dan napas Bram pun terasa berat karena dulu ia hanya menyetujui dan mendukung keputusan Ibrahim untuk ikut tes seleksi sekolah intelegen.


Saat anak kedua mulai terlihat lebih baik dari pagi tadi saat di besuk Ayra dan Bram. Sesosok tubuh yang sedang terbaring di atas sebuah tempat tidur dan terlihat beberapa anggota tubuhnya terlilit perban. Beberapa alat medis juga melekat di tubuhnya. Saat ia membuka kedua bola matanya. Ia tak mampu mengingat apapun. Ia memandangi langit-langit kamar itu. Bahkan untuk menoleh pun ia tak mampu. Ia hanya mampu menggerakkan jari-jarinya.


Ada rasa kering pada tenggorokannya. Tiba-tiba muncul seorang perempuan berambut panjang dengan usia yang tak terlalu muda. Ia menyodorkan sebotol minuman pada lelaki itu. Baru beberapa teguk lelaki itu menikmati segarnya air. Namun botol itu sudah di tarik oleh oleh perempuan itu.


"A-Ku.... Ha-us...." Ucap lelaki itu lirih.


"Hhhh... Setidaknya kamu beruntung masih bisa bernapas. Maaf aku tak bisa membantu mu lebih. Seseorang sedang memantau kita lewat sebuah kamera." Ucap perempuan itu dengan gerakan bibir tanpa ada suara yang di hasilkan.

__ADS_1


Anehnya lelaki itu bisa mengerti seolah ia mendengar apa yang dikatakan perempuan itu hanya melihat gerakan bibirnya. Perempuan masih menatapnya dengan tatapan dingin. Ia pun menekan tombol berwarna merah di sisi lelaki itu.


Tak berapa lama muncul beberapa lelaki dan perempuan yang terlihat seperti dokter dan perawat namun mereka tak mengenakan jas pada umumnya para perawat atau dokter. Seorang lelaki mengecek alat yang menempel pada lelaki itu dan mengecek denyut nadi juga pupil mata lelaki itu.


"Apa yang anda rasakan?" Tanya lelaki yang tadi memeriksanya.


"Sa-kit. Sakit semua tubuh saya. Kepala saya... Juga... Sakit..." Ucap lelaki yang terbaring itu dengan pelan.


"Baiklah... Kita akan memeriksa anda lagi nanti." Ucap dokter itu.


Namun sebuah kalimat yang meluncur dari bibir lelaki itu. Mengehentikan langkah dokter yang telah setengah berbalik untuk meninggalkan ruangan itu.


"Si-apa Saya? Dimana saya?" Tanya nya pelan dan lirih.


Perempuan paruh baya yang pertama menemui ia disaat ia tertidur cukup lama. Hampir satu bulan. Menatap lelaki itu tak percaya.


Namun tak satupun dari mereka menjawab pertanyaan pria malang itu. Ia kembali sendirian di ruangan itu. Sebuah ruangan yang disulap menjadi kamar pasien mendadak oleh pemilik rumah. Lelaki itu hanya mampu menatap langit-langit dan menahan rasa hausnya. Berkali-kali ia mencoba menelan sisa-sisa air atau salivanya agar tenggorokan nya terasa tak kering.


"Siapa aku? Dimana aku? Dan kenapa dengan diriku...." Batin Pria itu.


Ketika ia memejamkan matanya seketika ia merasakan sakit bukan main. Bahkan beberapa potret kejadian-kejadian yang ia tak mengerti apa, siapa dan dimana. Namun semakin ia mencoba mengingat apa yang terjadi kepalanya semakin sakit. Rasa ingin tahu dirinya membuat ia merasa semakin tersakiti.

__ADS_1


"Aaaah.... Ahh... Astaghfirullahalazhim.... astaghfirullahalazhim...." Berkali-kali lelaki itu menahan rasa sakit itu dengan mengucapkan istighfar.


Namun rasa ingin tahunya mengingat potongan demi potongan adegan di dalam memorinya. Ia justru berakhir dengan kembali memejamkan matanya karena pingsan akibat menahan rasa sakit yang ada di kepalanya.


__ADS_2