
“Ma, Mama mau lihat Arumi chat apa sama aku?” Tanya Ammar.
Qiya yang menoleh ke arah Ammar merasa lega, karena Mamanya saat ini tak akan bertanya tentang pesan dari siapa. Namun sayang, putri Ayra itu tak tahu jika kembarannya telah memotret chat nya dengan Gede. Ungkapan cinta lewat ponsel disaat duduk hanya berjarak satu meter lebih. Ammar beranjak ke arah Ayra dan Bram.
“Papa harus baca juga, karena Papa nanti akan punya tamu penting sepertinya .” Ucap Ammar yang memaksa duduk diantara kedua orang tuanya. Ayra pun mencondongkan tubuhnya ke arah Ammar, sedangkan Bram merangkul anak sulungnya dan ikut memandangi ponsel putranya itu.
Bram sudah curiga jika itu pasti bukan tentang dirinya dan Arumi, karena Ammar cukup jarang bercerita perihal hati padanya, tempatnya bercerita adalah Ayra, walau ia tahu semuanya dari Ayra tapi ia tetap pura-pura tidak tahu. Agar ada kenyamanan anak-anak untuk curhat pada Mama mereka, sedangkan Ayra melakukan itu karena ia ingin suaminya tahu setiap apapun perkembangan anaknya.
Kedua Netra Ayra membesar, Bram tak kalah kaget membaca chating itu. Usai membaca di bagian akhir chat itu. ketiga pasang mata itu menatap Qiya sambil tersenyum.
“Katakan kapan lelaki bernama dokter Gede itu akan kemari?” Tanya Bram sambil menatap Qiya.
Ammar tersenyum puas, kedua alisnya naik turun tanda kemenangan. Qiya membenamkan wajahnya. Tak ada keberanian menjawab pertanyaan Papanya. Tak ada keberanian menatap Papa dan Mamanya.
Qiya tertunduk malu, ia tak menyangka akan secepat ini menyampaikan perihal itu pada orang tuanya karena ulah Ammar,beberapa detik, ia menarik napas dalam. Butuh tenaga dan keberanian untuk mengeluarkan suara untuk menjawab pertanyaan lelaki nomor satu di rumah itu.
“Qiya terserah Papa dan Mama kapan.” Ucap Qiya tertunduk tak berani menatap kedua orang tuanya, ia seperti maling tertangkap basah.
Ayra bangkit dari tempat duduknya, ia berpindah ke sisi Qiya. Ibu tiga anak itu merangkul Qiya, ia usap lembut lengan putrinya itu.
“Kamu tahu Qiy, mama dan papa tidak marah kamu memiliki perasaan suka pada lelaki, hal wajar dan normal,toh kamu sudah dewasa." Ucap Ayra menenangkan hati gadisnya yang mungkin merasa malu, takut dan bersalah.
__ADS_1
“Papa justru akan marah kalau kamu punya perasaan pada Cita, karena Papa lihat kalian nyaris selalu berdua.” Ucap Bram sambil sedikit tertawa membayangkan sahabat anaknya yang selera humornya tinggi itu.
“ElGeBT, oh No… itu sangat menyeramkan Qiy… Makanya kakak minta dia segera kemari, karena burung Cicit itu juga tak akan menemukan jodohnya jika terus bersama mu.” Ammar pun ikut berkomentar.
“Ammaaarr…. Cita” Ingat Ayra pada anak sulungnya yang menyematkan nama burung Cicit pada Cita, Ammar meringis menangkupkan kedua tangannya tanda meminta ampun karena melihat mata Ayra yang melotot menatap dirinya di balik kacamata yang plus.
“Kamu sudah benar Qiy. Perempuan bisa memilih sikap dalam menyukai lelaki. Pertama bisa seperti Sayyidah Khadijah yang mengungkap perasaannya lebih dulu, tentu melalui perantara. Dan kedua seperti Sayyidah Fatimah Azzahra yang menyimpan rasanya, ia lebih memilih menceritakan dan membawa rasanya pada Gusti Allah.” Jelas Ayra.
Istri Bram itu tahu putrinya malu karena ketahuan chating dengan lelaki dan membalas pesan lelaki juga mengatakan bahwa ia ada rasa suka yang sama. Namun bagi Ayra memiliki anak gadis di zaman sekarang, yang masih begitu berusaha menjaga interaksinya agar tak berdua-duaan dalam hubungan pacaran dan dikhawatirkan menjurus ke zina. Maka Langkah atau jalan yang dipilih Qiya sudah cukup baik.
“Lebih cepat lebih baik. Atau begini saja setelah Kak Ammar lamaran, malamnya dia bisa datang kemari. Tapi… Bukan berarti ia langsung diterima walau kamu suka.Papa ingin lihat dia seperti apa.Khawatir nanti terjadi lagi.Kegagalan itu bukan untuk kita terpuruk tapi untuk dijadikan pelajaran ketika kita akan mulai bangkit lagi.Setuju?” Tanya Bram sambil melihat Ayra dan Ammar juga Ibrahim dan Nur.
Semua yang ada disana mengangguk tanda setuju pendapat kepala keluarga itu.
Ibrahim menoleh ke arah Nur, karena masih hilangnya ingatannya. Ia seolah hilang rasa. Bahkan ia tak mampu merasakan cinta yang begitu besar untuk Nur. H@srat yang ingin membahagiakan, memanjakan sang istri itu nyaris tak dapat ia rasakan sama seperti ia baru menikah dan belum hilang ingatan. Hanya ada rasa tak ingin menyakiti di hati Ibrahim. Namun kesan cueknya dan sedikit ketus dalam berbicara membuat hati istrinya sebenarnya merasa sedikit kecewa.
“Dia belum tentu menikah, kenapa sudah diberi selamat?” Protes Ibrahim. Suara dan juga tanggapan dingin ke arah Nur di tangkap jelas oleh Ayra dan Bram..
Satu kalimat dengan raut wajah datar, membuat Empat pasang mata menatap Ibrahim bergantian dan melirik Nur.
Nur hanya menunduk tanda malu dan ada sedikit goresan yang Ibrahim torehkan di hati Nur. Ini pertama kalinya suaminya berbicara dingin dan seolah tak menunjukkan cintanya yang begitu lembut, cintanya yang begitu memanjakan dirinya ketika awal-awal menikah. Ia bahkan lupa bahwa ia mantan intelejen karena cinta dan perhatian suaminya. Nada bicara Ibrahim yang begitu lembut, tapi kini. Jasadnya Kembali utuh tapi separuh hatinya hilang. Ia hadir hanya membawa pulang tubuh yang sama tapi cinta dan perhatian yang berbeda.
__ADS_1
Ingin Nur menangis dan berlari ke kamar, namun pernah menjadi anggota intelegen, menjadi bekal untuk dirinya pandai menutupi apa yang ia rasakan saat itu. Tapi tidak untuk Ayra, perempuan sarat akan pengalaman dan perjuangan dalam rumah tangganya. Nur cukup merasakan sakitnya hati lewat goresan sikap suaminya, hanya ibu mertua yang begitu menyayangi dirinya yang mampu membuat ia merasa rumah itu adalah surga baginya.
Semua anggota keluarga Bramantyo memang menyayanginya. Akan tetapi, Ayra. Ia sosok ibu mertua yang betul-betul hadir sebagai ibu. Ia bahkan sangat memanjakan Nur disaat Ibrahim belum ditemukan. Pulang dari manapun maka pertama yang ia cari adalah Nur, saat diluar kadang ia akan menelpon menantunya. Hanya bertanya ingin makan apa dan ada saja oleh-oleh yang ia bawa pulang untuk sang menantu.
Sebenarnya itu biasa ia lakukan pada Qiya dan dua anaknya ketika dirumah, namun karena Nur yatim piatu dari kecil,cinta Ayra menghangatkan hati yang dingin. Ayra hanya ingin memberikan apa yang pernah ia dapatkan dari sang ibu mertua, ia juga tak ingin anak menantu mengalami hal yang sama, dimana berpisah dengan suami di saat hamil anak pertama sangat tak menyenangkan.
"Bersabarlah Nur... Ibrahim mungkin belum mengingat mu." batin Ayra. Ia tahu, putranya bukan lelaki yang kasar. Putranya begitu besar jika mencintai orang, putranya akan memperlakukan orang yang ia cintai lebih baik dari dirinya sendiri.
"Aku akan bersabar menunggu cinta mu kembali mas." Munajat hati Nur sambil tersenyum menatap Ayra.
***
Saat Gede telah mendapatkan izin, ia pun segera menyiapkan beberapa resep untuk pasiennya. Hari itu ia akan pulang. Karena esok adalah hari Galungan. Galungan adalah hari Raya Suci Agama Hindu yang jatuh setiap 6 bulan sekali. Gede memang pulang tetapi ia pulang karena rasa cinta pada Niang Ayu yang mulai sepuh. Sosokperempuan yang memberikan pertolongan pertama pada ibunya kala masyarakat desa sendiri mencemooh dan mengusir karena dianggap berzina dan hamil tanpa suami.
Padahal ia jelas-jelas menikah secara agama dengan Rendra. Niang Ayu tak hanya memberikan tempat tinggal pada Bu Ratih,disebelah rumahnya. Ia bahkan memberikan modal usaha dan semangat hidup baru pada Ibu dokter Gede. Bahkan saat dokter Gede lahir, ia tak diperbolehkan pergi dari sana. Niang Ayu mengangkat Bu Ratih sebagai anaknya. Maka ia dan suaminya menyekolahkan Gede. Dan saat akan menjadi dokter pun, Bu Ratih sebenarnya tak sanggup dengan biaya kuliah yang besar sedang ia hanya memiliki toko roti kecil.
Usahanya belum besar seperti sekarang. Maka Niang Ayu dan suami yang membiayai Gede. Namun sayang, belum pula melihat Gede menyandang gelar dokternya. Suami Niang Ayu meninggal dunia. Tak ingin melupakan kenangan di rumah itu. Niang Ayu masih tinggal di rumahnya. Maka tak heran jika Gede punya dua rumah. Sejak kepergian Pak Wayan, Niang Ayu hanya memiliki dirinya dan Bu Ratih sebagai keluarga. Terlebih kondisi Niang Ayu yang saat ini harus berjalan menggunakan tongkat Maka ia membutuhkan bantuan seseorang untuk berjalan ke suatu tempat.
Gede telah tiba di bandara. Alangkah kagetnya dia Ketika ia bertemu Cita dan Alam di dalam pesawat. Bahkan mereka duduk berjejer.
“Dokter?” Tanya dokter Gede kaget karena melihat dua dokter Iship itu berada di pesawat yang sama.
__ADS_1
“Saya tukeran dengan teman yang kemarin saya gantikan dok, besok Galungan, saya tak bisa jika tak pulang. Ayah saya sendirian.” Ucap Cita.
Alam menundukkan kepalanya tanda hormat pada dokter Gede. Maka hari itu tiga dokter itu pun terbang bersama untuk tujuan yang berbeda dan maksud yang berbeda.