Pesona The Twins

Pesona The Twins
82 Masalalu Yang Harus Diceritakan


__ADS_3

Qiya terdiam, ia menutup ponselnya dengan telapak tangannya. Ia mengatur napasnya. Ketika ia merasa napasnya sudah teratur. Dan ia menarik napas dalam. Ia pun baru berani menjawab panggilan dokter Gede.


"Maaf Dok, saya baru saja mengiris bawang jadi seperti orang menangis.Seperti kelilipan." Ucap Qiya, ia memang baru dari dapur dan mengiris bawang. Ia membantu menyiapkan untuk acar timun kesukaan Umi Laila dan Mamanya.


"O... Ya sudah saya kirim pesan saja ya. Saya bingung mau ngomongnya." Ucap Gede.


"Iya Ndak papa dok." Ucap Qiya.


"Masih perih matanya?" Tanya dokter Gede.


"Alhamdulilah tidak terlalu." Ucap Qiya.


"Ya sudah, dicuci dulu mukanya. Nanti saya kirim pesan saja ya..."


"Ya."


"Ya sudah ditutup telponnya."


"Kan dokter yang telpon."


"Ya Dek Qiya saja yang nutup."


"Dokter saja. Ndak sopan kalau saya tutup."


"Ya sudah saya tutup. Assalamualaikum."


"Walaikumsalam."


Dua orang itu sama-sama tidak menyentuh layar yang terdapat gambar merahnya. Maka ketika mereka sama-sama menghela napas mereka masing-masing dengan telepon di telinga mereka, otomatis de$@han napas mereka pun dapat terdengar satu sama lain.


Udara yang keluar dari hidung sepasang dokter itu membuat dua wajah tersebut merona. Mereka sama-sama malu. Yang satu mengira jika sambungan telah diputuskan yang diseberang. Yang satu juga begitu. Maka alhasil mereka pun bersamaan menyentuh layar yang menunjukkan bagian berwarna merah tanda mengakhiri panggilan.


"Bodoh.... bodoh... kenapa kamu tidak matikan dulu Gede..." Rutuk Gede.

__ADS_1


"Qiyaaaa.... aduh... dokter Gede pasti dengar juga suara ku tadi... ah.... maluuuu" Ucap Qiya merutuki dirinya.


Dua orang itu sama-sama merasa malu. Dokter Gede yang merasa malu pun menemui Ibunya.


"Bu, saya bingung harus bagaimana ngomongnya. Ibu saja ya yang bicara sama Qiya. Saya khawatir, soalnya saya malah deg deg an begini." ucap Gede.


Bu Ratih dan Niang Ayu spontan tertawa karena anaknya bisa merasa malu seperti itu. Dulu dia biasa saja berbicara dengan Mayang, bahkan Gede begitu sabar menghadapi Mayang yang begitu manja.


Bu Ratih pun mengiyakan. Gede kembali menghubungi nomor Qiya. Gadis yang masih merasa malu itu melebarkan dua bola matanya. Ia tak sanggup jika harus kembali mengangkat sambungan telepon itu.


"Katanya tadi mau kirim pesan saja. Kok sekarang nelpon balik." Ucap Qiya.


Ia pun merasa sepertinya ada hal penting. Sedangkan hati yang merasa malu. Ia cepat keluar dari kamar dan setengah berlari. Ia mencari keberadaan Bram di ruang kerjanya. Namun tak ia temui. Ia pun menemui sosok yang ia cari di Gazebo bersama Ayra.


Ayra dan Bram melihat putri mereka setengah berlari ke arah mereka.


"Ada apa Qiy?" tanya Ayra.


"Ini Ma, Pa. Dokter Gede telpon." ucap Qiya.


"Papa saja ya bicara ya? Katanya tadi ada yang mau disampaikan. Qiya khawatir...."


"Sini papa yang bicara." Ucap Bram cepat. Ia bisa melihat gurat khawatir dan takut di wajah sang anak.


"Berani di main-main dengan putri ku. Tak akan aku diamkan. Aku tuntut lelaki Itu." Batin Bram yang juga khawatir.


"Assalamualaikum." Suara Bram mengangkat panggilan tersebut.


"Walaikumsalam." Jawab Bu Ratih.


Bram menautkan kedua alisnya. Ia menatap sang putri.


"Maaf Pak, saya ibu nya Gede. Ada yang ingin saya sampaikan dan menurut saya ini penting kami sampaikan sebelum kami kesana besok." Ucap Bu Ratih cepat.

__ADS_1


"O... baik, silahkan bicara Bu. Ini saya loud speaker. Kebetulan istri saya ada disebelah saya." Ucap Bram.


Bu Ratih pun dengan pelan tapi pasti, ia menjelaskan secara jelas tentang gambaran secara umum dengan masalalu nya dan membuat Gede khawatir jika itu akan menjadi masalah bagi Bram keluarga keesokan harinya.


Qiya tampak tertunduk dan merasa lega. Ia sudah berpikir pesimis jika kembali akan menelan pil pahit untuk gagal menikah di kedua kalinya dengan orang yang berbeda.


Bram menaikan alisnya sambil matanya ia arahkan ke arah ponsel. Kode yang Ayra tangkap sebagai dirinya lah yang diminta sang suami untuk menjawab apa yang disampaikan oleh Bu Ratih.


"Alhamdulilah, kami senang. Ibu dan Gede begitu menghormati kami dan putri kami. Sungguh di awal saya sudah suka cara berpikir Gede. Dan hari ini kembali Gede memberikan saya sebagai orang tua Qiya merasa yakin jika kedepan rumah tangga mereka akan sakinah mawadah warahmah karena keterbukaan, kejujuran dan niat yang baik. Jangan terlalu dipikirkan tentang masalah itu Bu. Kami sekeluarga tidak mempermasalahkan hal itu. Justru kami sangat terharu, Ibu dan keluarga mau membahas hal ini pada kami. Padahal bisa saja ibu tidak menceritakan hal ini." Ucap Ayra.


"Lantas, mengenai ayah kandung Gede..." Ucap Bu Ratih pelan dan cukup berat untuk kembali menyebut satu nama lelaki yang begitu melukai hatinya.


"Tidak perlu diceritakan Bu. Cukup. Biarlah yang lalu menjadi kenangan ibu. Tak usah diingat dan diceritakan. Kita sama-sama mengahadapi masa sekarang dan masa depan untuk anak-anak kita. Yang jelas saya bisa melihat bahwa Bu Ratih berhasil mendidik putra ibu menjadi lelaki yang insyaallah mudah-mudahan bisa membahagiakan anak saya tidak hanya di dunia tapi juga ke surga.Aamiin."


"Aamiin... Masyaallah... Terimakasih kalau begitu Bu Ayra. Insyaallah sore ini kami berangkat dari Bali. Mudah-mudahan tidak ada halangan apapun untuk acara besok pagi." Ucap Bu Ratih.


"Aamiin... Insyaallah ada kemudahan untuk niat yang baik Bu." Ucap Ayra.


Percakapan di telpon itu pun diakhiri oleh Bu Ratih. Gede dan Niang Ayu yang juga mendengar langsung pun merasa bahagia.


"Niang sudah bisa memastikan jawaban apa dari putri Kyai Rohim itu. Buah itu jatuh tak jauh dari pohonnya. Tapi tergantung juga siapa yang mendidiknya. Ayra itu bukan putri kandung Kyai Rohim. Tapi dari bayi ia dididik oleh Umi Laila dan Kyai Rohim. Banyak kenangan sama Ayra itu." Ucap Niang Ayu tersenyum karena mengingat Momen lucu kala masih di Kali Bening dan ada beberapa kejadian dimana ia merasa lucu akan tingkah putri Munir itu.


"Besok reuni dong Niang?" ucap Gede.


"Iya, tidak sabar. Jangan Lupa Carikan madu lanceng. Umi Laila itu satu keluarga hobi dan favorit minum madu.


"Sudah Niang. Sudah siap." Ucap Bu Ratih.


Di kediaman Bram, Qiya pun bisa bernafas lega. Ia tak mempermasalahkannya. Baginya yang penting Gede tidak sama seperti lelaki yang merupakan Ayahnya. Ia bisa melihat jika Gede lelaki yang bertanggung jawab dan penyayang.


Setelah kepergian Qiya kembali ke kamarnya. Bram pun menikmati kopinya.


"Kenapa jodoh putri kita seperti terlalu banyak masalah ya Ay." Ucap Bram.

__ADS_1


"Tidak boleh berbicara seperti itu.Semua sudah ada skenarionya. Kita hanya bertugas bagaiamana anak-anak kita lebih kuat, lebih sabar dalam mengarungi bahtera rumah tangga mereka Mas. Allah tak mungkin memberikan Ikan Salmon jika anak-anak kita memancing di Kolam ikan Gurame." Ucap Ayra yang menenangkan Suaminya.


Ia yakin Allah sudah menyiapkan setiap takdir hambanya. Tinggal lagi bagaimana seorang makhluk Allah itu menjalaninya. Sepeti kesuksesan, jika sudah ditakdirkan buat hambanya tetapi yang ditakdirkan tak berusaha menggapainya maka hal itu tak akan terjadi.


__ADS_2