Pesona The Twins

Pesona The Twins
92 Kompetisi Meraih Cinta


__ADS_3

Hari berganti hari. Esok adalah hari dimana acara ngunduh mantu di kediaman Ayra. Jika dikediaman Ayra terlihat ramai dan tenda yang besar juga megah sudah terpasang. Bahkan jalan di depan rumahnya terpaksa dipasang tenda untuk menyambut banyaknya tamu.


Bagaimanapun itu adalah hajat besar. Tiga anak Bramantyo menikah dan akan di rayakan juga di doakan di satu hari yang sama. Jika di kediaman Pak Subroto kemarin acara di lengkapi dengan band dan musik. Di kediaman Ayra ada dua panggung.


Satu panggung yang ia siapkan untuk santri dari Kali Bening yang akan di boyong menggunakan Bus. Ayra yang begitu mencintai shalawat maka tiada hari tanpa Shalawat. Mungkin cintanya pada Kanjeng Nabi yang membuat ia bisa begitu anggun melalui setiap masalah dalam hidupnya. Shalawat dan dzikir penenang hati baginya. Hingga ia menua pun, Ayra masih ingin menghadirkan majelis shalawat dalam momen bahagia nya menyambut besan dan anak menantu.


Di kediaman Pak Subroto justru terlihat banyak nya sibuk para asisten yang mempersiapkan untuk besok. Ammar melihat Ifah menangis. Sudah tiga malam ini Ifah tidur bersama Arumi. Pagi itu Arumi mandi dan Ifah yang tertidur tiba-tiba bangun dan mencari keberadaan Arumi.


Ammar pun mendekati Ifah.


"Sini sama Papa?" Ucap Ammar sambil menjulurkan tangannya.


Ifah pun beringsut menuju Ammar. Ia baru bisa berjalan satu dua langkah. Ammar memeluk balita itu. Rambut ikal Ifah dibelai Ammar.


"Aku yakin Umi mu itu nanti akan mencintai Papa mu ini. Bantu Papa untuk meraih cinta Umi mu. Jika mencintai dirimu saja Umi mu bisa. Kenapa tak bisa mencintai Papa. Betul?" Ucap Ammar sambil mencium Pipi gembul Ifah.


Tiba-tiba pintu terbuka. Arumi keluar dari kamar. Ia betul-betul menggunakan hijab selama di kamar. Ia tak ingin jika Ammar mengambil sesuatu yang berharga bagi dirinya. Ia pun segera mengambil Arumi dari pelukan Ammar. Empat hari menjadi suami istri. Keromantisan dan kehangatan hanya terjadi di hadapan orang lain. Ingin sekali Arumi berlari dari hidupnya saat itu. Apalagi kebencian pada Pak Subroto yang masih besar. Karena merasa dibuang. Padahal Pak Subroto tak tahu apa-apa.


"Ar... Sampai kapan kamu akan diam dan membisu? Andai Ifah sudah bisa bicara mungkin dia bisa jadi jubir diantara kita." Ucap Ammar.


Seperti biasa, tak ada jawaban. Arumi sibuk membuka Pampers Ifah. Ia pun menekan tombol interkom memanggil baby sitter untuk mengambil beberapa peralatan Ifah. Ia ingin memandikan Ifah di kamarnya.


"Tidak perlu. Aku yang akan mengambilnya." Kala Arumi mengatakan kata 'masuk' saat pintu di Ketuk.


Ammar membuka kamar. Ia menerima sebuah peralatan mandi dan baju ganti Ifah. Ia kembali menutup pintu. Ia letakkan di atas tempat tidur. Arumi terdengar berbincang dan tertawa riang dengan Ifah. Hanya ada keriangan saat istri Ammar itu bersama Ifah.


Namun ketika kembali masuk ke kamar. Arumi kembali dingin. Ia akan menjawab pertanyaan Ifah dan bercengkrama dengan anak yatim itu.


"Keringkanlah dulu rambut mu. Nanti masuk angin. Sini biar aku yang gantikan baju Ifah." Ucap Ammar.


Namun kembali Arumi tak menjawab. Ia hanya sibuk bercengkrama dengan Ifah.


"Dingin ya? Sini, ayo belakangnya belum di kasih bedak." ucap Arumi pada Ifah.


Ammar menghela napas pelan. Ia pun baru akan menikmati rokok. Suara bentakan Arumi kembali membuat ia tersenyum.


"Jangan merokok di dekat anak kecil.!" Ucap Arumi tanpa memandang suaminya.


Ammar pun tersenyum sambil melangkah ke arah balkon kamarnya.


"Hah.... Untung suami mu ini belajar banyak tentang bagaimana kalau punya istri galak Ar. Dan beruntung aku belajar dengan Ulama yang tidak memandang satu masalah dengan satu sudut pandang. Terimakasih wahai para Guru, terimakasih Ma.. Kini apa yang mama ucapkan betul." Ucap Ammar sedikit bersuara dan bisa di dengar Arumi. Namun istri Ammar itu tak memperdulikan apa yang diucapkan Ammar.


Furqon dan Ayra yang sering melihat anak-anak mereka sekarang menikmati betul ngaji streaming. Maka Ayra hanya menyarankan untuk mengikuti ceramah dari ulama yang dimana mengajarkan saling mengasihi, mencintai dan agama tidak terlalu kaku walau ia sesuatu yang tak boleh dipermainkan.

__ADS_1


Ammar baru merasakan jika dulu ia pernah mengantar Ayra mengisi pengajian ibu-ibu. Ia yang dianggap supir akan menunggu di teras. Namun setiap apa yang disampaikan ibunya sebagai pemateri adalah hal yang justru ia ingat. Kala itu Ayra pernah mengatakan salah satu kunci rumah tangga harmonis adalah diamnya salah satu pasangan kalau satu diantara mereka sedang naik pitam atau marah. Maka Ammar yang beberapa hari ini selalu mendapatkan kalimat demi kalimat ketus. Ia hanya bisa diam dan bersabar.


"Setelah dirumah Mama besok. Apakah kamu ingin tinggal dirumah Mama dan Papa ku atau disini atau kita mau tinggal sendiri?" Ucap Ammar.


Arumi pun kembali menjawab dengan nada dingin.


"Terserah! Asal tidak dirumah ini!" Ucap Arumi kesal ia yang dari tadi tak bisa menarik resleting baju Ifah.


"Ga begitu. Apa-apa kalau dipaksa akan rusak. sini aku bantu Ar." ucap Ammar yang mendekat dan menjulurkan tangannya untuk membantu menarik resleting baju Ifah di bagian belakang.


"Termasuk hubungan ini!" Ucap Arumi sambil berlalu. Ia meletakkan handuk basahnya di atas meja rias.


Ammar masih tersenyum dan diam. Ia sudah tahu istrinya belum menerima pernikahan dan dirinya. Ia tak ambil pusing. Ia akan fokus meraih cinta Arumi bukan fokus pada penolakan Arumi.


Ammar menarik hati-hati dan pelan resleting tersebut dan berhasil. Ia gendong balita itu dan ia angkat tinggi ke arah langit-langit. Balita itu tersenyum manis karena diangkat tinggi oleh Ammar seperti mau terbang.


"Sesuatu itu rusak jika di rusak. Tapi jika di rawat dan diusahakan apalagi di tirakati ya Ndak bakal rusak ya Fah?" Ucap Ammar pada balita itu.


Ifah tergelak kala Ammar mencium hidung dan pipinya. Arumi mendengar apa yang diucapkan Ammar. Tapi ia tak ingin menjawab lagi. Dari kemarin Ammar selalu menjawab setiap ucapannya dengan kiasan dan dengan canda. Nyaris tak ada emosi.


"Kamu tahu Ifah, lebih baik makan hidangan di meja kita sendiri daripada memandang lauk di meja orang lain. Setuju?" Ucap Ammar masih pada Ifah.


"Uju...." jawab bocah itu yang mengambil ujung kalimat Ammar. Yang berarti setuju.


"Aku mohon padamu Arumi. Aku tak memaksa mu untuk hal-hal lain. Kenakanlah cadar itu saat kamu keluar dari kamar ini. Dan tolong jangan tunjukkan hubungan dingin ini dihadapan siapapun. Termasuk besok. Apapun yang terjadi. Tetaplah di sisiku. Mungkin aku tak sempurna masalalu mu. Jika aku tak bisa menjadi cinta pertama mu. Izinkan aku mengobati luka dihati mu." Ucap Ammar


Arumi menelan salivanya. 4 hari hidup dalam satu kamar. Membuat Arumi baru melihat lelaki yang dari kemarin selalu santai itu terlihat serius dan sedikit memohon pada dirinya.


Arumi merebut Ifah dengan kasar dari tangan Ammar. Kembali Ammar harus mengelus dada. Perempuan itu pun keluar dari kamar tanpa menggunakan cadar. Ammar pun menghela napasnya dengan berat.


~~


Keesokan pagi, Ammar dan Arumi sibuk sendiri-sendiri. Arumi masih di dandani oleh beberapa MUA. Sedangkan Ammar, Ia sibuk mengganti pakaiannya sendiri. Ia tak mau dibantu untuk menggunakan pakaian pengantinnya. Namun saat ia keluar dari kamar ganti. Ammar berteriak membuat semua mata yang memandang dirinya.


"Stop!"


Ucap Ammar sambil melangkah ke arah Arumi.


"Maaf bisakah keluar dulu sebentar. Ada yang ingin saya bicarakan pada istri saya." Ucap Ammar.


Satu orang lelaki fotografer dan satu lagi perempuan yang akan merias Arumi dan satu lelaki gemulai juga ikut keluar dari ruangan kamar Arumi.


Ammar menutup pintu itu. Ammar mendekati Arumi. Semakin dekat langkah Ammar ke arah Arumi, semakin istri Ammar itu mundur. Saat tiba di meja rias. Arumi tak dapat melangkah mundur.

__ADS_1


"Tidakkah kau tahu jika yang akan memasangkan kamu baju itu adalah lelaki?" Ucap Ammar menatap Arumi dari jarak yang sangat dekat.


"Apakah kamu cemburu?" Tanya Arumi dengan pandangan sinis.


"Dengar Arumi, apapun yang kamu lakukan padaku.Aku anggap itu kekurangan dirimu. Aku tak menuntut istri yang sempurna. Tapi setidaknya, dimata orang lain, dimata Allah aku suami yang dihormati. Suami yang dijaga nama baiknya, suami yang di tinggikan derajatnya oleh istrinya! Sedagnkan kamu bercanda dan bersedia untuk mengganti baju di depan lelaki itu! Mau dia gemulai segemulai perempuan pun! Dia tetap lelaki!" Kali pertama Ammar membentak Arumi.


Sedari ia mengganti kamarnya, ia bisa melihat Arumi tertawa dan bercanda dengan lelaki yang merupakan penata rias yang gemulai tersebut. Arumi bukan malah takut tapi ia justru menatap tajam Ammar dengan tatapan menantang.


"Demi Allah aku tak akan pernah membentak mu jika hanya kamu menyakiti ku. Tapi ketika kamu menjatuhkan harga diriku sebagai suami, kamu tak hanya menyakiti aku, tapi juga orang tua ku! Dan itu tak bisa aku terima. Kau pikir aku meminta mu mengenakan hijab agar kau terlihat cantik? Agar kau terlihat sholehah? Agar lekuk tubuh mu hanya aku bisa menikmati? Bukan! Bukan Arumi! Semua aku lakukan karena aku menyayangi kamu!" Suara Ammar terdengar parau. Ia mulai terengah-engah untuk bernapas.


"Semua aku lakukan karena agar kamu bisa menjaga marwah mu saat aku tak ada bersama mu, dan menjauhkan atau menahan kamu untuk melakukan hal-hal yang mungkin akan membuat kamu malu karena kamu berhijab walau kamu belum sepenuhnya menjalankan syariaat agama!" Bentak Ammar lagi.


"Aku tidak mau diatur!" Bentak Arumi.


"Baik, kalau begitu. Aku tak akan mengatur kamu. Aku akan memaksa kamu. Jika kelembutan tak bisa!" Ammar memajukan wajahnya ke arah Arumi. Maksud hati ingin menc!um paksa istrinya.


Namun Ammar tak tahu jika Arumi aadalah mantan anggota intelejen ahli lapangan. Ia mencekik Ammar kuat. Kedua netra Ammar membesar sempurna. Ia tak menyangka apa yang ia rasakan dan lihat. Istrinya memiliki kekuatan fisik yang luar biasa. Rasa di lehernya tercekik dengan sempurna. Ammar yang juga sedaari kecil hobi berkelahi, maka dengan sigap ia tangkis satu tangan Arumi yang mencekik lehernya. Ia sedikit memelintir tangan istrinya dan ia arahkan tubuh istrinya berbalik  menghadap meja rias.


Namun rasa marah yang tadi sempat memenuhi rongga dada Ammar, kini justru membuat ia tersneyum. Degnan kondisi Arumi yang tangannya ia kunci kebelakang. Satu tangannya ia lingkarkan kepinggang langsing Arumi. Ia berbisik ke telinga sang istri.


"Kita berjdooh Arumi, aku makin menyukai kamu karena kamu jinak jinak merpati. Aku tak menyangka kamu bisa beladiri rupanya. Baik, kalahkan aku hari ini. Siapa yang berhasil meraih gaun pengantin itu lebih dulu! Ia pemenangnya, dan kamu harus menuruti apa yang aku katakan jika tidak, aku boleh meminta hak ku, dan jika kamu yang menang! kamu boleh sesuka hati mu mengatur hidup mu. Setuju?" Ucap Ammar berbisik di teilinga Arumi. Dan bisikan itu tanpa Ammar sadari membuat tubuh Arumi merinding.


Bahkan ingatannya pun mengatakan Gede dan dirinya tak pernah sedekat itu, bahkan satu area yang merupakan area sens!itif bagi Arumi baru Ammar yang melakukannya.


Ya, Gede dan Arumi memang lama berpacaran. Namun Gede di didik ibunya untuk tidak menjadi pecundang dengan menyentuh anak gadis orang yang menjurus ke hubungan int!m, maka mereka hanya sekedar bergandengan tangan, atau Arumi memilih bersandar di pundak Gede.


"Baik! dan Aku ingin kamu menceraikan aku jika aku bisa meraih gaun itu lebih dulu." Ucap Arumi.


"No. Bukan perceraian. Tapi lebih aku akan menuruti apapun itu asal bukan cerai."Ucap Ammar.


Arumi mendengus kesal.


"Baik! Selama kita menikah kamu tidak boleh tidur bersama aku dan Ifah!"


"Deal!" Jawab Ammar penuh semangat


"Satu."


"Dua"


"Tiga."Ucap Ammar.


Sepasang suami istri itu setengah berlari menuju satu gaun yang ada di sudut ruangan yang terpajang. Saat tiba ditengah ruangan. Arumi menarik jas Ammar dan ia mendorong tubuh suaminya. Beruntung Sulung Ayra itu jatuh ke kasur. Ammar cepat menarik baju gamis yang Arumi kenakan. Kini istrinya iku jatuh ke sisi nya. Ammar yang memang sedari kecil jahil, ia tarik ujung baju istrinya dan ia kaitkan di bawah kasur yang terdapat pin. Ketika Ammar berdiri dan berlari, Arumi juga berdiri dan mencoba berlari ke arah Ammar. Sulung Bram itu bisa berlari dengan cepat dan meraih gaun itu. Sedangkan Arumi ia terhuyung dan hampir terjatuh ke lantai, beruntung jiwa kesigapannya masih ada dalam dirinya, Ia merentangkan kedua tangannya sehingga tubuhnya tak jatuh ke lantai. Ammar tersenyum puas melihat wajah istrinya yang merasa kesal.

__ADS_1


"I Win, Arumi sayang." Ucap Ammar sambil tersenyum penuh kemenangan.


__ADS_2