
Malam itu juga Pak Subroto, Bu Melisa dan Ammar berangkat ke Australia menemani Arumi. Ammar tampak masih menghubungi Ayra. Namun berkali-kali ia mencoba menelepon tetapi Ibu tiga anak itu tak menjawab panggilan Ammar. Ia tak mampu mengirimkan pesan.
Setelah hampir belasan kali mencoba, Arumi yang telah di bawa kedalam pesawat yang berjenis Ari ambulance. Satu pesawat untuk penanganan medis yang sengaja disewa oleh Pak Subroto untuk perjalanan mereka menuju Australia. Arumi yang membutuhkan alat-alat khusus untuk tetap menjaga dirinya tetap bisa ditangani medis.
Bahkan dipesawat itu ikut juga beberapa perawat dan dokter yang akan mendampingi Arumi.
"Ayo, Am. Kita akan segera berangkat." ucap Pak Subroto.
"Baik Pa." Ucap Ammar.
Ammar beberapa detik memandangi ponselnya. Mau tidak mau dia pun mengirimkan pesan beserta satu gambar perawat yang tampak mendorong brankar Arumi.
[Ma, malam ini Ammar ke Australia. Arumi tadi siang di patuk ular Ma. Mohon doanya. Arumi masih belum sadar. Nanti kalau sudah tiba disana. Ammar akan kembali menghubungi Mama. Mohon doanya Ma. Ammar mohon maaf jika Ammar dan Arumi ada salah sama Mama dan Papa.]
Airmata Ammar menetes begitu saja ke layar ponselnya setelah ia mengirimkan pesan tersebut ke nomor Ayra. Ada rasa sakit karena musibah datang disaat ia merasa bahagia. Ada rasa khawatir jika cobaan terus saja datang, masalah terus saja datang karena ia menyakiti hati orang tua atau kedua mertuanya. Padahal setiap ujian itu ada hikmahnya sendiri-sendiri.
Ammar pun memasukkan ponselnya ke dalam tas kecil miliknya. Ia bergegas menaiki pesawat.
Disaat Ammar bertolak ke negeri kangguru tersebut. Ayra yang dari tadi dihubungi sedang mencoba merawat Qiya. Putrinya itu menggigil dan tubuhnya sangat lemah. Ia juga muntah berkali-kali.
"Kita bawa kerumah sakit saja De. Kalau hamil muntahnya ga begini." Ucap Ayra khawatir.
Gede pun mengangguk. Ponsel yang berada di kamar tak ia bawa. Ia sangat khawatir pada putrinya. Qiya sedari kecil tak pernah mengeluh. Bahkan di saat suhu tubuhnya dulu begitu tinggi tak ada tangis, tak ada rintihan yang keluar dari mulut putrinya. Termasuk kini saat hamil. Ayra berkali-kali bertanya apa yang dirasakan. Putrinya tak menjawab. Ia hanya menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
Di dalam mobil Ayra memeluk Qiya. Ia mengusap lengan Putrinya. Suasana hatinya begitu tak tenang. Ia terus beristighfar, bibirnya tampak tertutup namun hatinya terus beristighfar.
"Astaghfirullah.... kenapa perasan ku tak tenang. Jauhkan hamba dari perasaan was was ya Allah." Ucap Ayra dalam hatinya.
Putri Ayra itu justru paham dengan tubuhnya. Ia selalu seperti itu. Kembar Ayra itu akan bisa saling kontak. Ia sudah bisa merasakan karena sering terjadi hal seperti ini.
"Astaghfirullah... Semoga kamu baik-baik saja Kak." Batin Qiya yang entah kenapa ia selalu sakit disaat sang kakak sedang tidak baik-baik saja. Berbeda dengan Ammar, ia akan ikut sakit saat sang adik juga sakit.
Bibirnya ingin sekali terbuka dan meminta Mamanya menghubungi Ammar dan menanyakan kondisi sang Kembaran. Namun lemahnya tubuh lelahnya leher yang dari tadi terasa sakit karena harus muntah, membuat ia hanya bisa memejamkan matanya. Airmata mengalir dengan sendirinya.
Gede yang melihat dari spion pun mempercepat laju kendaraannya.
"Hati-hati Nak. Jangan terlalu mengebut." Ingat Bram pada Gede.
Gede pun mengangguk dan mengurangi kecepatan mobilnya.
Ia sendiri sebenarnya merasa khawatir. Berkali-kali ia menoleh ke arah belakang. Ia melihat kondisi putrinya.
Dua keluarga sedang sibuk mengkhawatirkan anak mereka. Begitu pun dengan satu pasangan suami istri yang sudah berapa hari ini tak ada komunikasi. Bu Ratih sekalipun tak berbicara pada suaminya. Ia ingin sekali berpisah dengan lelaki yang sekarang berstatus sebagai suaminya. Ia pun bertahan karena nasihat ayah mertuanya.
Pak Toha berpesan bahwa ada yang lebih penting dari rasa di hatinya. Hilman, buah hatinya sedang membutuhkan support juga doa dari kedua orang tuanya. Malam itu Bu Ratih sedikit senang. Ia mendapatkan kabar bahwa ada 5 orang pendonor yang akan mencocokan tulang sumsum belakang mereka untuk Hilman.
"Kita harap hasilnya sesuai yang kita harapkan. Tetap berdoa jangan putus asa. Tuhan pasti beri keajaiban pada hambanya yang bersabar akan ujian yang diberikan." ucap dokter yang asli kelahiran Indonesia tersebut.
__ADS_1
"Baik dok. Kami menunggu kabar baik dari dokter." Ucap Bu Ratih.
Ia pun kembali ke ruangan Hilman. Anak lelakinya masih terbaring di ranjang pesakitan. Ia berharap anak yang selalu menjadi teman bercerita, anak yang menjadi satu-satunya alasan ia bertahan hidup di sisi suami yang bahkan sangat kaku.
"Mama menanti kamu Hil... Ibu sama siapa nak kalau kamu pergi... Ibu sama siapa... Ibu mohon bersabar dan tetap kuat ya Nak..." Ucap Bu Ratih.
Kepalanya ia rebahkan di dada sang anak. Ia merasa begitu sedih. Ingin sekali melihat anaknya sehat. Bahkan selama hidupnya Hilman tak pernah mengeluhkan sikap Pak Rendra. Ia rela menuruti setiap keinginan Pak Rendra agar ibunya tak kena imbasnya dari sikap protesnya jika tak ingin menuruti kemauan sang ayah.
Tanpa disadari oleh Bu Ratih. Anak satu-satunya menitikkan air mata. Ia memang tergeletak tak berdaya di atas ranjang rumah sakit itu. Bahkan untuk makan, minum, bernafas juga BAB, dia membutuhkan alat-alat yang menempel pada tubuhnya. Akan tetapi indera pendengarannya masih bisa berfungsi. Ia ingin sekali membuka matanya, mengangkat tangannya untuk menenangkan sang ibu.
Namun apa hendak di kata. Pasca operasi pengangkatan penggumpalan darah di otaknya. Ia justru koma. Saraf-saraf pada tubuhnya tak bisa berfungsi. Hanya telinga yang bisa mendengar apa yang ada disekelilingnya. Hingga tangisan pilu sang ibu membuat airmatanya mengalir dalam kondisi terpejam.
"Ma.... Ma.... Kuatkan Mama Rabb... Ampuni aku jika ada dosa berat pada diriku... Jika ini cobaan, hamba akan bersabar akan setiap takdir yang engkau berikan. Hamba pasrah akan setiap apa yang menimpa hamba." ucap Hilman dalam kondisi mata yang terpejam namun mengalirkan butiran bening.
Tubuhnya sebenarnya merasakan sakit, bahkan kepala yang tiba-tiba sakit kadang membuat ia seketika kejang-kejang dan hal itu akan membuat alarm pada satu monitor berbunyi hingga membuat beberapa perawat akan berlari ke kamarnya. Malam itu pun kembali terjadi. Dan Bu Ratih bisa melihat airmata di sudut mata anaknya yang terpejam.
"Kamu pasti lelah Nak... rasanya pasti sakit sekali.... Sabarlah Nak..." Ucap Bu Ratih saat ia dipaksa keluar oleh perawat. Akhirnya Pak Rendra merangkul Bu Ratih.
Ia membawa sang istri keluar dari kamar pasien tersebut.
"Hilman... Hiks... Jangan tinggalkan Mama Hil..." ucap Bu Ratih.
"Ratih... ayo kita keluar. Biarkan para petugas medis menangani Hilman..." ucap Pak Rendra.
__ADS_1
Malam itu kembali Bu Ratih menangisi kondisi putranya. Hari demi hari di lalui Pak Rendra yang melihat kondisi istrinya selalu menangis. Bahkan ia tak terurus hampir satu bulan itu. Air mata lelaki yang hatinya begitu keras itu, hati yang begitu angkuh itu malam yang dingin itu, ia menangis sambil menarik-narik rambutnya dengan wajah tertunduk.
"Maafkan aku ya Allah... maafkan aku... jangan engkau buat rumah tangga ku seperti ini.. selamatkan putra kami..." Ucap Pak Rendra yang tampak menunduk karena ia malu jika terlihat menangis.