
Pagi yang cukup cerah Pagi-pagi sekali saat Ammar turun dari kamar dan menuju dapur. Ayra memandangi sang anak yang sedang menikmati air putih.
"Ammar, pergilah menggunting rambutmu pagi ini. Sebelum kita menemui kedua orang tua Arumi." Ucap Ayra sambil kembali fokus mengaduk sayur yang ada di kuali yang terdapat diatas kompor.
Ia ditemani dua asiten rumah tangga untuk menyiapkan menu sarapan.
"Kenapa harus dicukur si Ma. Orang tua Arumi juga sudah bertemu Ammar. Arumi juga pertama bertemu Ammar dengan penampilan begini." protes Ammar yang meletakkan cangkir bekas ia minum kesamping ibunya.
"Tunjukkan bahwa kamu menghormati kedua orang tua Arumi. Jika Mama di posisi orang tua Arumi. Mama yang melihat lelaki berambut panjang seperti ini. Mama akan berpikir lagi untuk memberikan izin anak Mama untuk hidup dengannya." ucap Ayra sambil menoleh ke arah Ammar.
"Baiklah. Ammar melakukannya bukan dengan berharap diterima oleh Arumi dan keluarganya karena penampilan Ammar. Tapi karena Mama yang meminta." Ucap Ammar berlalu.
Tampak ia menelpon seseorang dan tak lama lelaki itu mengatakan jika ia akan pergi keluar untuk memotong rambutnya. Ayra pun tersenyum puas. Selama ini dialah yang memang akan mengingatkan sang anak jika rambutnya sudah cukup panjang.
Saat Ammar kembali dengan gaya rambut baru. Maka pesonanya pun bertambah. Kesan berwibawa, tampan dan dewasa terlihat betul dari sosok Ammar. Membuat Ayra teringat sosok suaminya saat mereka baru bertemu.
Bram yang sudah berada di ruang makan tersenyum melihat penampilan Ammar.
"Kalau sudah begini tak mungkin masih di tolak oleh gadis."Komentar Bram.
Ammar hanya menggelengkan kepalanya. Ia sendiri sebenarnya lebih nyaman dengan rambut panjangnya. Jika bukan Ayra yang meminta untuk rambutnya di gunting maka ia akan tetap memelihara rambut panjangnya. Setelah semua seelsai sarapan. Mereka sedang menunggu Marvin.
Nur tak ikut karena ia masih belum bisa mencium bau parfum mobil. Ia juga khawatir nanti di sana malah merepotkan sedangkan mertuanya ada hajat penting untuk sang kakak ipar. Untunglah Nur betul-betul perempuan yang dipilih oleh Ibrahim karena akhlaknya. Ia tak merasa insecure ketika kedua mertuanya akan melamar gadis untuk sulung di saat ia sendiri masih belum menemukan sang suami.
Ia bisa mengerti jika ia di posisi Ayra dan Bram. Dimana punya lebih dari satu anak. Belum lagi di posisi Ammar.Bahkan adik Ammar pun langsung melamar dirinya ketika ia jatuh hati pada dirinya.
Saat Marvin tiba. Bram dan keluarganya berangkat. Qiya tak ikut pulang karena belum libur. Putri Bram itu akan pulang ketika lamaran secara resmi karena Ayra dan Bram berencana secepatnya melamar Arumi secara Resmi jika memang kehadiran mereka pagi ini mendapatkan kabar baik.
Tiba di kediaman Pak Broto mereka disambut Pak Broto dan Melisa. Arumi semalam langsung mengatakan pada Melisa jika pagi menjelang siang Ammar akan datang bersama kedua orangtuanya.
Dua pengusaha bertemu maka obrolan pun terasa hangat. Bahkan sosok Ayra ketika menjabat wakil walikota juga cukup membuat Pak Broto mengenal sosok Ibu Ammar tersebut. Pak Broto tak menyangka jika lelaki yang dua kali menyelamatkan putrinya adalah anak dari orang terpandang, kaya, sukses namun dikenal rendah hati.
Ketiga anak Bram juga nyaris tak dikenal dunia bisnis mereka. Karena Ketiga anak Bram tak ingin sukses jika dianggap karena orang tuanya sukses.Tibalah pada saat Bram menyampaikan maksudnya datang ke kediaman Pak Broto.
__ADS_1
"Jadi begini Pak Broto. Kedatangan saya dan keluarga kemari, selain silahturahmi. Saya ingin melamar putri anda yang bernama Arumi untuk putra sulung saya Ammar." Ucap Bram.
Melisa dan Broto menoleh ke arah Ammar. Mereka sebenarnya bingung, karena mereka baru berkumpul dengan Arumi. Dan kini putrinya justru di lamar lelaki. Pak Broto menceritakan kisah hidup dia dan Arumi hingga bertemu kembali. Dan ia bertanya pada Ammar.
"Sebelum saya panggil Arumi kemari. Sebelum apapun jawaban Arumi. Saya ingin satu saja syarat." Ucap Pak Broto.
Ammar tak berkata apapun. Sedari awal hanya Bram, Ayra yang berbicara. Ini kali pertama putra Ayra itu merasa tegang, nervous.
"Katakanlah Pak apa syaratnya." Ucap Bram sambil menatap Ammar.
Putranya masih menatap Pak Broto dengan santun.
"Saya ingin jika putri saya menerima lamaran putra anda. Saya harap setelah menikah. Putra anda mau tinggal disini. Daripada ini saya bahas ketika mereka sudah menikah. Jika nak Ammar setuju, maka saya pun setuju jika Arumi menerima nak Ammar." Ucap Pak Broto.
Rasa ingin menebus kesalahannya selama Arumi terpisah darinya. Ia tetap ingin sang anak ada ditempat itu. Tinggal seatap dengan dirinya. Karena ia khawatir, banyak yang akan pindah tinggal sendiri ketika sudah menikah.
"Kami tidak akan ikut campur urusan rumah tangga nak Ammar. Saya hanya ingin bersama Arumi yang dimana kami baru dipersatukan kembali beberapa waktu lalu." Ucap Pak Broto lagi.
"Bagaimana Am?" Tanya Bram.
Alih-alih ia memikirkan dirinya. Justru ia lebih memikirkan orang tuanya. Ayra dan Bram mengatakan tak keberatan. Bahkan Ayra juga mengatakan jika mertua juga adalah mertua. Pak Broto melihat sendiri kedewasaan dan cara berpikir keluarga Bram seperti kabar yang beredar. Ia pun malu teringat bagaimana ia yang menentang keras hubungan sang anak bersama dokter Gede kala itu. Karena status ayah yang tak jelas.
Namun saat itu ia beralasan jika dokter Gede dan mereka tak selevel. Namun saat Mayang kabur dari rumah selama dua malam. Maka ia pun menyetujui jika sang anak menikah dengan dokter Gede. Namun satu hari menjelang pernikahan, Pak Broto sengaja meminta Tim Mayang mengirim anaknya ke sebuah misi. Dan beralasan jika sang agen tepat di hari pernikahannya akan kembali setelah itu baru meneruskan misi.
Namun yang terjadi adalah ketika berada di Malaysia, ia baik-baik saja. Karena saat itu Mayang pikir jika kembaran yang mencintai dokter Gede yang akan menikah dan menjalani hidup sebagai dirinya.
Ya, Arumi dan Mayang sama-sama telah mengetahui jika mereka kembar. Namun mereka tak tahu jika mereka sama-sama agen tetapi dari lembaga berbeda. Arumi kala itu bertemu Mayang saat anak Broto itu masih SMA. Ia diminta kelas berkuda. Namun ia tak berminat. Ia yang hampir menabrak Arumi saat mengendarai sepeda motor miliknya. Ia pun sejak saat itu bertukar posisi. Dan Melisa juga Broto tak mengetahui itu. Hanya Mayang dan Arumi yang tahu.
Arumi pun dipanggil untuk ke depan. Saat ada di hadapan Ayra dan Bram. Bram sedikit kurang suka, semenjak ia menikah dengan Ayra. Matanya terlalu sering memandang Ayra juga Qiya yang menutupi auratnya dengan hijab. Maka ketika melihat Arumi menggunakan dress berlengan pendek, dan hanya sebatas lutut, Bram menoleh ke arah Ayra.
Satu kedipan cepat dari kedua mata Istri, sebuah komunikasi tanpa nada bicara yang biasa mereka praktekan, maka itu adalah ketenangan yang diberikan Ayra pada sang suami. Ayra melihat dari penampilan Arumi, bagi sesama perempuan yang tidak mengenyam pendidikan di pondok. Ayra cukup menilai ada point plusnya.
Saat tiba diruangan itu, Arumi hanya melemparkan senyum untuk Ayra dan Bram. Gadis itu tak memberi sebuah senyum pada Putranya. Padahal Arumi ada rasa kecewa karena kemarin dibentak. Hati perempuan mana yang tak sakit ketika di bentak.
__ADS_1
Saat Pak Broto mengatakan bahwa kedatangan Ammar dan kedua orang tuanya untuk meminang Arumi. Arumi hanya diam, ia sebenarnya sudah meminta tolong Miss Allyne untuk membawa Ifah ke luar agar keluargaAmmar juga tahu bahwa ia memiliki seseorang yang ingin tetap ada disisinya walau ia telah menikah.
"Saya sendiri belum tahu siapa saya. Entah budi entah apa. Jika memang Mr Ammar ingin melamar saya. Saya ada satu syarat." Ucap Arumi menatap Ammar.
"Entah kenapa penampilan mu hari ini semakin membuat aku suka. Tapi rasa sakit kemarin masih belum bisa di lupakan." Batin Arumi.
Arumi tak memikirkan perasaannya. Ia sudah berbicara dengan Miss Allyne dan Melisa. Ketika ada lelaki yang menerima syarat Arumi maka ia termasuk lelaki yang baik dan bertanggungjawab.
Lelaki yang di tatap Arumi tak berani mengangkat kepalanya. Ia hanya menundukkan kepalanya. Ia hanya khawatir jika di tolak ia akan bertambah sulit untuk melupakan kecantikan yang ia lihat.
Ayra mengusap punggung Ammar. Tanda sang ibu meminta anaknya berbicara.
"Katakanlah." Ucap Ammar.
Masih tidak mengangkat kepalanya. Pak Broto dan Melisa justru terkesan melihat lelaki yang kemarin berada di kediamannya sangat bertolak belakang. Betul-betul lelaki langka. Ia terlihat berwibawa kemarin. Tapi hari ini. Untuk berbicara pun ia tak berani jika tak dipersilahkan oleh orang tuanya.
"Jika menikah, saya tetap ingin Ifah ada bersama saya. Satu tahun lebih hidup bersama Ifah, suka duka saya lewati bersama. Saya tidak ingin berpisah dengan dirinya. Saya tetap ingin menjadi Uminya." Jelas Arumi.
Tak lama Miss Allyne membawa Ifah keluar. Bram bertambah sesak dadanya. Ia merasa tak adil untuk Ammar yang baginya sempurna mendapatkan pasangan seperti Arumi. Ammar baru berani mengangkat kepalanya dan menoleh ke arah Ayra. Senyum di bibir ibunya sebuah tanda jika semua ia serahkan pada Ammar.
"Jika saya menyetujui syarat mu? Saya menerima Ifah. Saya akan melindungi Ifah sama seperti saya melindungi kamu jika kamuau menjadi istri saya. Lantas maukah kamu menjaga aku jika aku jadi suami mu?" Kembali Ammar yang bertanya.
Arumi yang penasaran cepat menjawab.
"Apa?" Tanyanya.
Dua orang itu saling pandang.
"Masyaallah... Cantik..."
"....." Arumi betul-betul terpesona penampilan baru Ammar.
"Salah satu kewajiban Istri kepada suaminya yaitu melakukan apa saja yang menyebabkan suaminya senang ketika memandang dan apapun yang istrinya pakai, sesuai dengan apa yang dikehendaki suami. Maka Aku tak menuntut banyak dari istri ku kelak. Hanya cukup kamu menutup Aurat mu itu sudah cukup bagi ku jika kamu mau menjadi istriku. Maka syarat apapun yang kamu berikan selagi tak keluar syariat, aku akan menyanggupinya. Maka kita akan menikah atau tidak tergantung kamu. Aku tak ingin setelah menikah dengan ku kamu justru tertekan dan terpaksa untuk menjalankan kewajiban mu sebagai seorang perempuan dimana aku sebagai suami mu akan menerima akibatnya. Karena aku akan menanggung dosa ku ketika kamu menjadi istriku. Namun orang tua mu akan mendapatkan surga jika memiliki anak perempuan yang patuh dan taat pada suaminya." Jelas Ammar pada Arumi.
__ADS_1
Ayra tersenyum lega. Apa yang di khawatirkan telah terjawab.Anaknya sudah mengambil keputusan yang tepat. Pak Broto, Melisa dan Miss Allyne menanti jawaban Arumi.