
Disaat Ammar sedang terluka di negara kangguru itu, Qiya justru hatinya kian terluka. Pagi itu ia yang masih belum terlalu sehat masih belum bekerja. Ia duduk di depan teras saat mengantar kepulangan Ayra. Mamanya harus pulang karena keesokan hari akan ada rapat di Qiam Shop. Ayra yang memang akan membuka beberapa cabang di beberapa provinsi membuat ia cukup sibuk sebenarnya diusianya yang tak lagi mudah.
Namun bersyukur ia ditemani oleh Alma yang merupakan putri angkat Yasmin. Yasmin hanya mengurus di kantor. Sedangkan berbagai kebijakan terkait perkembangan dan untuk kemajuan perusahaan itu, Ayra mengandalkan putri almarhum Shela itu.
Sayangnya Ayra lupa jika putrinya memiliki tingkat kecerdasan yang tinggi juga analisa yang kuat tenang sesuatu. Ia yang melihat mobil Ayra yang berbelok ke kiri. Padahal jika akan pulang ke kota mereka harusnya mobil yang dikemudikan oleh Alan itu harusnya belok ke kanan.
"Mau kemana Mama? Kenapa belok ke arah sana? Apa jangan-jangan.... " Ucap Qiya yang sedikit lemah. Ia memikirkan sesuatu dengan perasaaan yakin. ia pergi kedalam, ia mengganti pakaiannya dengan sebuah pakaian yang biasa ia kenakan ketika akan bersepeda. Ia ingin naik sepeda motor matic Cita. Namun sahabatnya itu tak tahu dimana cita meletakan kunci motornya.
Akhirnya Qiya mengendarai sepeda miliknya. Ia mendorong sepeda itu keluar dari bagian dapur rumah itu. Ia berpikir jika Ayra yang terlihat tak tenang dari semalam. Ibunya itu terjaga tengah malam bahkan hingga larut pagi sang ibu sibuk membaca ayat-ayat suci Al Quran dengan berlinang air mata. Ia khawatir jika Ayra telah mengetahui jika Bram memiliki perempuan simpanan di desa itu.
Dan Ayra ingin menemui simpanan papanya. Ia tak tega jika harus membiarkan sang Mama sendirian menghadapi pelakor itu. Baru ia ingin berniat menemui Nur dan menanyakan perihal hubungan dirinya dengan Bram. Ia lebih memilih mengklarifikasi dengan Nur. Karena jika dengan Bram, ia tak kuat jika harus menerima kenyataan dan melihat mimik wajah bersalah seorang ayah di hadapannya. Ia tak ingin ada rasa benci di hatinya pada lelaki yang harus ia hormati. Lelaki yang juga akan menanggung perbuatan dosa dari anak perempuan nya kelak.
"Sepertinya aku kalah cepat. Mama yang akan lebih dulu mengklarifikasi hubungan Nur dan Papa. hhhhh... Kuatkan Mama ya Allah. Jangan Engkau pisahkan Mama dan Papa. Tapi aku tak mungkin bisa melihat ada orang ketiga di antara Mama dan Papa." Ucap Qiya sambil mengayuh sepeda nya.
Tubuh yang masih lemah membuat ia sedikit pelan mengayuh sepeda itu. Ia tak perlu mengejar mobil yang ditumpangi Ayra. Karena ia tahu jalan menuju kediaman Nur. Tak lama mengayuh sepeda itu. Ia tiba di rumah yang mewah itu. Namun saat ia telah permisi dengan satpam di depan pagar. Satu pemandangan yang membuat Qiya menitikkan air mata justru membuat Satpam itu bingung.
Putri Ayra itu melihat dari tempat ia berdiri. Ayra tampak tersenyum bahagia, ia sedang mengecup dahi perempuan yang terlihat setengah tertidur di kursi balkon kamar.
"Hiks... Hiks... Jadi mama selama ini tahu kalau papa menduakan nya. Ya Allah... terbuat dari apa hati mu Ma... " Qiya bermonolog dalam hati.
Air mata mengalir deras ke pipinya. Dan karena rasa lelah juga kondisi yang baru sehat sudah mengayuh sepeda cukup jauh, membuat tubuh Putri Ayra itu terjatuh tepat di depan pos satpam. Ayra yang dari atas balkon melihat sesosok perempuan yang jatuh itu adalah putrinya. Ia cepat turun ke lantai bawah.
Satpam itu telah membawa Qiya ke ruang tengah. Ia merebahkan tubuh lemah Qiya diatas sofa. Nur yang tadi terjaga karena mendengar suara kaget Ayra ketika beristighfar. Ia cepat menghampiri Ayra yang mengusap dahi Qiya.
"Bagaimana dia bisa Sampai kesini." Ucap Ayra yang merasa khawatir.
"Mbak Qiya...." Ucap Nur saat melihat perempuan yang sedang di usap dahinya oleh Ayra adalah sang adik ipar.
Ia mendekati Ayra.
"Mbak Qiya kenapa Ma?" Ucap Nur sambil duduk di ujung kaki Qiya.
"Tidak tahu. Dia pingsan di depan pagar depan. Mungkin ia kelelahan mengayuh sepeda. Tapi kenapa dia bisa Sampai kesini." Ucap Ayra bingung.
"Mbak Qiya pernah kemari Ma." Ucap Nur pelan.
Nur pun menceritakan bagaimana pertemuan mereka sehingga ia pun berasumsi apakah ia sedang ingin bermain dan pingsan.
Bram dua perempuan itu bingung. Bram pun tiba di kediaman itu. Ia yang mengirimkan pesan pada Alan dan ternyata sang Istri ada di kediaman Nur.
Ayra dan Nur cepat menyambut kehadiran kepala keluarga mereka.
"Qiya? Mama mengajak Qiya kemari?" Tanya Bram sedikit kaget.
Namun belum sempat di jawab. Qiya terlihat bergerak dan perempuan itu mencoba membuka kedua matanya. Kepalanya terasa sakit, samar-samar ketika kedua netranya terbuka, ia melihat sosok perempuan yang telah melahirkan dirinya. Cukup lama Qiya menatap wajah ibunya itu. Ia bahkan mencium punggung tangan Ayra dengan cukup lama. Airmata putri Ayra itu bahkan jatuh membasahi punggung tangan sang ibu.
__ADS_1
"Ada apa Qiy?" Tanya Ayra sambil mengusap kepala putrinya.
"Apakah Mama sedang ingin meraih surga melalui jalan sabar karena sang suami poligami?" Tanya Qiya sambil menoleh ke arah Bram dan Nur. Namun air matanya masih mengalir. Bahkan kedua bola matanya terlihat sangat merah. Tatapan sendu namun ada rasa sakit pada Papanya.
Bram melotot tak percaya, ia heran karena mendengar ucapan anak. Namun Ayra malah tersenyum. Ia menoleh ke arah Nur.
"Nak... Kemari. Sepertinya putri Mama ini sudah salah menduga." Ucap Ayra pada sang menantu.
Nur pun mendekati Qiya. Ia pun duduk di sisi Ayra.
"Siapa Dia Ma?" Tanya Qiya pelan dan menatap Nur. Suaranya terdengar terisak.
"Dia saudara ipar mu Qiy.... Dia istri Ibrahim." Ucap Ayra sambil memeluk Nur.
Perempuan berkerudung itu tersenyum pada Qiya. Ia menggenggam tangan Qiya.
"Maaf jika kehadiran saya membuat Mbak Qiya merasa terganggu, salah paham bahkan tersakiti." Ucap Nur pelan.
Kedua pupil netra Qiya membesar dengan sempurna. Ia menoleh ke arah wajah Bram yang tersenyum dan melipat kedua tangannya di depan dada.
"Apakah papa seb3j@t itu di mata mu Nak? Sampai kamu berpikir Papa akan menduakan Mama mu?" Tanya Bram sambil tersenyum simpul.
"Mas..." Ayra kurang suka dengan kalimat yang diucapkan Bram.
"Oke... Oke... Maafkan Papa. Semua mungkin salah Papa..." Ucap Bram mencoba mendekati ketiga perempuan yang harus ia jaga.
Ayra pun akhirnya menghela napas pelan. Ia menoleh ke arah Bram.
"Mas.... Kita harus berbicara dengan semua anak-anak kita. Aku tidak mau hal ini menjadi bom waktu untuk keluarga kita. Kita bisa mencari solusi bersama dengan masalah ini. Hari ini juga kita pulang bersama Nur dan Qiya. Ammar akan aku telpon. Aku mohon mas...." Ucap Ayra penuh harap.
Bram pun menganggukkan kepalanya. Akhirnya satu keluarga itu segera pulang ke kediaman Bram. Sedangkan lelaki yang berada di negara tetangga sedang menahan rasa sakit dari luka tusuk yang sedang di jahit seorang dokter ahli bedah yang merupakan dokter keluarga Miss Allyne.
Suara ponsel dari ponsel Ammar membuat ia melirik ke arah benda itu. Namun gerakan tiba-tiba nya membuat dokter bedah itu itu mengumpat Ammar.
"Are you cr3azy?" Ucap perempuan itu dengan marah.
Karena saat ia akan menarik jarum jahit di pinggangnya. Benda itu harus tertarik paksa. Anehnya Ammar tak menjerit kesakitan. Rasa sakitnya hanya ia tahan dengan mengatup dua bibirnya dengan rapat.
"Mama... " Ucap Ammar pelan.
Ia mengangkat panggilan dari Ayra.
"Ammar... Mama minta tolong pada mu. Usahakan malam nanti dirimu sudah ada dirumah nak. Ada hal yang ingin Mama diskusikan bersama dirimu nak." Ucap Ayra di seberang.
Ammar pun dengan cepat menjawab 'iya'. Bagi putra Ayra itu jangankan berkata 'Ah' pada sang ibu. Menolak permintaan ibunya saja nyaris tidak pernah. Maka setelah panggilan itu berakhir. Ia menunggu pinggang nya selesai di jahit. Cukup lumayan luka tikaman itu. Ia harus menerima 6 jahitan untuk luka dipanggangnya.
__ADS_1
Saat selesai, ia menemui Marvin yang sedang duduk di sofa luar ruangan. Miss Allyne sedang menghubungi orang-orang ayahnya untuk membersikan banyak jejak mereka di hotel tempat ia mengadakan pertemuan tadi.
"Aku harap kamu bisa menyenangkan hati Miss Allyne. Aku titipkan perempuan dan balita itu. Jangan sampai ada yang menyakiti dirinya. Dan jangan biarkan dia pergi dari tempat ini. Sebelum aku mendapatkan identitas perempuan itu. Mama meminta ku untuk tiba di Indonesia malam ini juga." Ucap Ammar setengah berbisik.
Tak lama Miss Allyne muncul. Marvin mengangguk tanda mengerti. Ammar pun berpamitan dan sebelum pergi dari kediaman Miss Allyne, Marvin pun dengan gaya yang ia buat se cool mungkin, ia menebar pesonanya. Ia mendekati Miss Allyne.
"Miss Allyne, aku dan Marvin sudah seperti saudara. Maka ku harap anda mau menerima permintaan ku." Ucap Marvin dengan sedikit menatap Miss Allyne dengan tatapan palyboy nya.
Ammar justru di buat membelalakkan matanya.
"Sungguh akting mu begitu totalitas Marvin. Harusnya kamu menjadi pemain film bukan asisten pribadi ku." Ucap Ammar dalam hatinya.
Miss Allyne melangkah dan mendekati Marvin. Ia memegang pudang Marvin.
"Apa itu Mr. Ammar. Saya sebagai tuan rumah dan rekan bisnis yang baik akan melakukan apapun." Ucap Miss Allyne dengan genit sambil mengedipkan matanya kearah Marvin.
Yang di goda biasa saja. Namun Ammar yang berdiri dibelakang Marvin bergidik. Ia merinding bertemu perempuan dan rekan bisnis yang begitu semangat dan tak menyerah melakukan serangan untuk mendapatkan hati nya. Beruntung Marvin yang biasa gonta-ganti pacar itu menjadi posisinya sekarang. Jika tidak ia pastikan jika hubungan kerjasama akan tak pernah terjadi karena sikap Miss Allyne itu. Padahal MIKEL Group pun membutuhkan Rose Company karena untuk mengembangkan sayap di produksi yang baru.
"Marvin mencintai perempuan tadi. Maka aku mohon pada Anda. Jaga dan rawat dia, Marvin harus ke Indonesia, ada pekerjaan disana yang harus ia kerjakan. Aku akan tetap di sini menyelesaikan pekerjaan ku." Ucap Marvin sambil menoleh ke arah Miss Allyne yang memegang pundak Marvin yang terbungkus jas mewah milik Ammar.
"Ok. Don't worry baby. Aku akan menjaga perempuan nya Marvin. Tapi berjanjilah akan ada dinner setelah Marvin pulang Kembali kemari." Ucap Miss Allyne.
"Ok. Aku terima kesepakatan itu. Tapi hanya dinner tidak ke one night..." Ucap Marvin sedikit nakal dan melirik Ammar yang sudah melotot. Ia tak ingin citra namanya buruk karena tingkah dan sikap Marvin kepada perempuan genit itu.
"Ok pergilah. Serahkan pada ku. Aku akan menjaga dan menempatkan perawat untuk merawat dirinya dan baby sitter untuk anaknya." Ucap Miss Allyne.
Ammar pun mengucapkan terimakasih.
"Terimakasih Miss Allyne."
Miss Allyne sedikit mendekati Ammar ia pun setengah berbisik.
"Semua tidak gratis Marvin. Pastikan bos mu pun menjadi lelaki ku. Maka aku pastikan perempuan dan anak itu akan menjadi milik mu. Tak ada yang akan menemukan dan menyakiti dirinya selama ia berada bersama ku." Ucap Miss Allyne setengah berbisik.
Ammar sebenarnya merinding tetapi ia cepat memberikan kode tanda 'ok' dengan jari tangannya. Saat berada di mobil, Ammar memukul Marvin yang sedang santai duduk dibelakang.
"Buuughh...."
"Aawwwh..."
"Jangan sekali-kali kamu bertingkah genit atau playboy seperti tadi. Aku tidak suka nama baik ku jadi rusak karena ulah mu. Paham?" Ucap Ammar sambil pindah ke kursi belakang dan menyerahkan kunci mobil kepada Marvin.
"Tadi katanya disuruh menyenangkan hati nya Miss Allyne... Nasib, nasib, semoga suatu saat nanti aku benar-benar menjadi CEO. Bukankah doa orang teraniaya tidak ada hijab?" Batin Marvin.
Ammar justru menatap foto wallpaper ponselnya. Terdapat foto ketika Qiya wisudah. Ibrahim bahkan hanya mau berfoto ketika wisudah adiknya itu. Hampir sulit sekali mencari foto Ibrahim karena lelaki itu nyaris tidak pernah mau berfoto.
__ADS_1
"Ada masalah apa Ma? Apa terkait Qiya? Apa ada yang menyakiti Qiya lagi?" Ucap Ammar sambil memejamkan matanya dan kepala yang ia sandarkan di kursi mobil.