Pesona The Twins

Pesona The Twins
32 Kau Gadis Atau Janda? Atau Istri Orang?


__ADS_3

Di tempat lain, Miss Allyne dikagetkan dengan suara tangis balita yang harusnya tidur. Balita itu tak mau diam. Ia bahkan tak mau minum susu yang telah dibuatkan baby sitter untuk dirinya.


"Apakah kamu tak bisa mendiamkan bayi itu?" Ucap Miss Allyne yang telah mengenakan piyama serta wajah yang di lapisi masker. Ia sengaja mencari baby sitter yang berasal dari Indonesia karena menurut Ammar Kw perempuan yang sedang dalam perawatan itu adalah orang Indonesia.


"Atau dia mencari ibunya Miss. Karena biasanya bayi atau balita akan tenang ketika berada di dekat ibunya." Ucap baby sitter.


Miss Allyne pun akhirnya dengan gaya anggunnya menuju kamar perempuan yang di tolong Ammar. Di salah satu tangan perempuan itu masih terlilit selang infus. Tampak seorang perawat berada di ruangan itu. Miss Allyne betul-betul jatuh hati pada Ammar KW. Ia sebenarnya sudah terpesona sejak pertama melihat foto di media sosial Ammar yang memang foto nya ia ganti dengan gaya Marvin yang begitu cool. Sehingga bagi Miss Allyne yang memang mencintai lelaki sukses kaya dan tentu salah satu daya tarik Ammar bagi Miss Allyne adalah kesederhanaan keluarga Bramantyo itu. Hampir setiap perusahaan yang telah bekerja sama dengan MIKEL Group memuji sepak terjang Bramantyo dan kini putra sulungnya pun seolah menjadi duplikat sang ayah.


Jika para pemimpin perusahaan lain akan sangat mudah di luluhkan dengan uang atau perempuan. Tidak dengan Bram dan putra sulung nya. Dua lelaki beda generasi ini betul-betul tak tergoda dengan dua hal itu. Sehingga Miss Allyne sangat ingin memiliki pasangan hidup yang setia. Ia yang dulu di tinggal seorang ibu harus merasakan susahnya hidup tanpa orang tua lengkap. Karena sang ibu selingkuh dengan pimpinannya.


Miss Allyne pun bertanya tentang kondisi perempuan itu.


"Bagaimana kondisinya?" Tanya Miss Allyne mendekati perempuan itu.


"Dia belum sadar, tetapi sepertinya kondisinya mulai membaik. Tetapi dia terus mengigau... Dia sepertinya mentalnya betul-betul tertekan. Ia terus merintih seperti orang ketakutan." Ucap perawat itu.


Miss Allyne menatap Perempuan cantik dan masih tak sadarkan diri itu.


"Kamu cukup beruntung karena Marvin punya cinta yang tulus. Cepatlah sadar, agar aku bisa dinner dengan Ammar." Ucap Miss Allyne.


Ya, Ammar tak melihat kondisi perempuan itu semenjak ia di bawa ke kediaman Miss Allyne. Hal itu membuat Miss Allyne betul-betul aneh. Ia bahkan sangat protektif pada perempuan itu. Bahkan satu pesan yang Marvin alias Ammar titipkan pada Miss Allyne membuat ia kagum pada lelaki yang sebenarnya adalah Ammar itu.


"Miss. Saya mohon hanya ada perempuan yang boleh merawat dia, hanya ada perempuan yang boleh melihat dia tanpa hijabnya." Pinta Ammar kala ia akan pergi meninggalkan kediaman Miss Allyne.


Hal itu tentu aneh bagi Miss Allyne. Ia dan ayahnya memang beragama Islam. Dulu ayahnya pergi merantau ke negeri kangguru itu karena ingin mencari pekerjaan tak disangka bertemu dengan ibunya yang bule. Sang ibu pun mau menjadi mualaf. Hingga kini Miss Allyne beragama Islam walau ia tak terlalu paham tentang agama yang ia anut. Ia tahu jika dalam agamanya terdapat waktu ibadah wajib sehari 5 kali. Namun nyaris perempuan itu tak melakukannya. Karena sedari kecil ia memang tak pernah melakukan hal itu. Ia akan shalat jika watu hari raya idul Fitri atau hari raya Kurban.


Tinggal dilingkungan minoritas, orang tua yang tak juga terlalu paham menjadikan ia pun tak paham akan kewajiban nya sebagai muslim.


Saat Miss Allyne akan keluar kamar. Perempuan itu terlihat merintih.


"Hhhhh....hhhhh... Umi... Umi.... Alisha ingin pulang Mi... Umi..." Ucap perempuan itu terus mengigau.

__ADS_1


Wajah yang cantik namun hampir di sekujur tubuh perempuan itu terdapat banyak luka. Dari luka lebam, luka bekas seperti sayatan. Miss Allyne yang merasa iba dengan kondisi perempuan itu.


Ia duduk di sisi perempuan itu. Ia membelai dahinya. Seketika ada ketenangan dari perempuan itu. Ia kembali tak mengigau. Napas nya kembali teratur.


"Malang sekali kamu gadis cantik. Aku pastikan tidak akan ada yang berani menyakiti mu lagi. Gila sekali orang yang menyiksa mu begini. Apakah tak punya hati nurani." Ucap Miss Allyne terus membelai dahi perempuan itu.


Seorang baby sitter masuk dan balita tadi yang menangis ketika melihat sesosok orang yang ia kenal. Kedua mata balita itu tertuju pada perempuan yang masih belum sadar itu. Balita mungil dan memiliki mata sipit mirip perempuan yang terbaring itu pun menunjukkan jarinya ke arah perempuan itu sambil terus memanggil satu dua patah kata.


"Mi.... Mi... Mi... Au Mi.... Au Mi...." Celoteh bocah yang berumur kurang lebih dua tahun itu. Ia terus menunjukkan jarinya ke arah perempuan itu.


[Umi.... Umi.... Mau Umi.... Mau sama Umi....]


Sang baby sitter itu pun membawa balita tadi ke sisi perempuan itu. Begitu ajaibnya seketika balita itu langsung diam. Ia tak menangis lagi. Ia memeluk perempuan tadi. Ia tidur diatas perut perempuan itu layaknya bayi panda. Miss Allyne membesarkan kedua pupil matanya. Ia yang hampir berusia 36 tahun merasa begitu tersentuh dengan apa yang ia lihat.


Balita yang dari tadi dengan susah payah di tenangkan terus saja menangis. Kali ini langsung terdiam dan tidur diatas perut perempuan itu. Satu tangannya tampak memainkan ujung rambut perempuan yang masih terbaring itu.


"Jadi kamu sudah memiliki anak? Oh Marvin kami begitu mempesona dengan ketampanan mu. Lantas kenapa kamu menyukai janda atau bahkan.... istri orang... Apa tak ada lagi stok gadis di dunia ini?" Ucap Miss Allyne sambil mengusap punggung balita itu.


"Malang sekali kalian.... Aku tak menyangka ada orang yang tidak beruntung seperti kalian. Seperti apa pahitnya hidup kalian? Apakah lebih pahit dari aku?" Ucap Miss Allyne yang justru ikut merebahkan tubuhnya di sisi perempuan itu dan satu tangannya terus mengusap punggung balita itu.


Sedangkan di Tanah Air. Seorang lelaki yang dari tadi berusaha memejamkan matanya merasa kesal. Ia tak mampu masuk ke alam mimpi. Ia pun keluar dari kamarnya. Saat melewati Sebuah ruangan yang biasa dipakai untuk bersantai, Ammar melihat Ayra duduk di atas karpet permadani. Ia membaca mushaf yang sudah sangat usang. Itu adalah mushaf pertama ia belajar menghapal Qur'an.


Sampai saat ini mushaf itu masih menemani Mama Ammar itu. Ammar pun pergi ke dapur. Ia mengambil air mineral. Setelah itu ia juga membawa sebotol untuk sang Mama. Tiba di sisi Ayra ia meletakkan nya di sisi sang ibu dan menuangkan kedalam gelas.


Ayra melihat kehadiran sang putra cepat menutup mushaf nya. Ia pun membenarkan kacamata nya sambil menatap sang anak.


"Belum tidur? Kamu tidak lelah?" Tanya Ayra pada sang putra.


"Tidak Ma... Belum mengantuk." ucap Ammar.


Lelaki itu memainkan botol mineral itu. Terlihat ia memutar-mutar botol itu. Ayra meminum air yang putranya berikan.

__ADS_1


"Apa yang membuat anak Mama gelisah? Apa ada hubungannya dengan pencarian Ibrahim?" Tanya Ayra pada Ammar.


"Hhhhh..." Ammar menghela napasnya pelan.


Ia pun menoleh ke arah Ayra.


"Ma.... Apakah kita jatuh cinta jika kita selalu terbayang wajah seseorang?" Tanya Ammar sambil merebahkan kepalanya dipangkuan sang ibu. Jilbab lebar Ayra pun digigit ujungnya oleh sang putra. Ammar memiringkan tubuh nya karena ia merasakan sakit pada pinggangnya.


"O.... Katakan gadis mana yang menganggu hati putra Mama?" Ucap Ayra.


Ammar pun memejamkan kedua matanya.


"Aku tidak tahu dia gadis atau janda Ma... atau bahkan istri orang." Ucap Ammar pelan.


Ayra mengernyitkan dahinya. Komunikasi yang sering terjadi, perhatian yang terus kepada buah hatinya. Ayra seakan menebak apa yang terjadi pada sang anak.


"Jangan katakan luka mu tadi adalah akibat kamu memperebutkan perempuan Nak... Qiya bilang luka mu sepertinya baru kamu dapatkan hari ini." Ucap Ayra.


"Aku tidak tahu Ma. Ini pertemuan kami kedua. Aku bahkan tak tahu namanya, dia siapa, apa statusnya dengan perempuan itu... Tapi wajahnya yang ia tutupi cadar sempat aku lihat jelas di pertemuan pertama kami Ma... Apakah karena Ammar jatuh cinta apa hanya terpesona sesuatu yang disembunyikan dan Ammar menikmati nya?" Jelas Ammar.


Ayra mengusap kepala sang anak. Belum selesai urusan Ibrahim, Qiya yang Ayra lihat masih berjuang menyusun kepingan hati. Kini putra sulung nya mencintai perempuan yang tak jelas siapa dan statusnya gadis atau janda.


"Ceritakan pada Mama awal kamu bertemu dan akhir hingga luka mu itu kamu dapatkan. Maka Mama bisa memberikan pendapat Mama dari kacamata Mama." Ucap Ayra.


Malam itu Ammar pun menceritakan semua yang ia alami hingga bertemu perempuan itu.


"So... Apa pendapat Mama?"


"Jika dia istri orang, tinggalkan dia. Jika dia gadis atau janda. Lamar dan menikah jika dia menerima lamaran mu Nak? Mama mohon cukup Ibrahim dan Qiya yang tertutup akan setiap isi hati dan masalah mereka. Tidak dengan kamu Nak... " Ucap Ayra yang justru terlihat sedih.


"Ma...." Ucap Ammar pelan.

__ADS_1


__ADS_2