
Qiya membuka ponselnya yang ia lihat ada pesan dari dokter Gede. Baru ia ingin membuka pesan tersebut. Amma yang duduk di sebelahnya, sedikit mendekat dan menoleh ke arah ponsel adik kembarannya. Qiya cepat menarik ponselnya ke arah dada.
"Apaan sih Kak... " Sungut Qiya merasa tak nyaman karena kakaknya kepo pesan yang ada di ponselnya.
Ammar tersenyum dan cepat memasukan adiknya dalam rangkulannya.
"Adik ku yang cantik, jangan menutupi apapun dari ku. Kita lahir hanya berselang beberapa menit. Kamu tahu,ketika kamu sakit. Aku akan sakit. Sedangkan kamu, kamu tak akan merasakan jika aku sakit. Jadi kembaran mu ini hanya ingin memastikan jika kamu tidak tersakiti baik fisik maupun batin, karena aku sebagai kembaran mu akan merasakannya." Ucap Ammar sambil lengannya mengunci kepala sang adik sehingga berada di dalam kungkungannya.
Qiya hanya diam, ia menyimpan ponselnya ke dalam tas ia tak ingin sang kakak akan membaca. Ia hapal betul karakter Ammar, kembarannya itu akan menggodanya habis-habisan didepan Mama dan Papanya. Dulu ketika masih Aliyah saja, ia pernah dinyatakan cinta oleh ketua osis di MAN tempat ia sekolah, dan itu diceritakan lengkap dengan rekaman beberapa orang berdiri di lapangan memberikan tulisan.
..."I LOVE U,QIYA."....
Sontak hal itu membuat gadis Ayra itu malu bukan kepalang. Ia bahkan satu bulan tak berani ke kantin karena malu pasca kejadian itu. Ia sebenarnya ingin marah dengan lelaki itu, tetapi ia yang menangis tersedu-sedu pada sang Mama kala Ayra membesuknya di pondok. Mamanya lah yang selalu memberikan motivasi bahwa hidup di dunia ini tak bisa menuntut orang lain hidup sesuai kemauan kita, tetapi bagaiamana kita mengolah hati dan perasaan kita agar tetap memperlakukan makhluk Allah dengan baik, dikala mereka mempermalukan kita, menyakiti kita, dan bertindak tidak sesuai apa yang diajarkan pada guru dan ulama sesuai tuntunan Rasulullah atau agama Islam.
"Dokter Gede kirim pesan apa ya." Ada rasa penasaran di hati Qiya karena belum sempat membuka pesan dari dokter yang baru saja mengungkapkan rasa cintanya dengan cara yang gentleman.
Saat baru tiba di kediamannya. Ammar lebih dulu turun karena Alan harus pulang dan membawa mobilnya. Sehingga ia mengantar asisten pribadi Papanya yang seumuran dengan dirinya itu ke arah mobilnya. Qiya cepat membuka pesan dokter tersebut. Saat ia membaca pesan itu. Hatinya kembali bergetar. Bahkan ia menggigit bibir bawahnya sambil tersenyum membaca pesan yang begitu panjang.
"Hhh... Bismillah. Mudah-mudahan ada keberanian buat bicara sama Mama dan Papa. Dan mulai malam ini aku juga harus memantapkan hati agar nanti aku pun sudah yakin dengan keputusan ku jika papa dan Mama juga sama keputusannya." Ucap Qiya dalam hatinya.
Ia lelah terus menerus di kejar Hilman. Belum lagi terus menerus di kirimi pesan cinta entah dari siapa baik di email atau pun di medsos logo hijau maupun biru dan ungu.
Ia pun cepat membalas. Karena tak ingin dianggap tak merespon sehingga dianggap main-main dengan ucapannya tadi tentang keinginan agar dokter pembimbingnya menemui orang tuanya untuk melamar dirinya.
[Alhamdulilah.Baru sampai dirumah. Insyallah secepatnya saya beri kabar dok. Bantu doa agar diberi kemudahan menyampaikan maksud baik dokter. Jodoh itu seperti memancing, jika ingin ikan laut maka tentu kita akan memancing di laut. Jika ingin ikan sungai kita pun harus memancing di sungai. Semoga jika memang berjodoh, Allah memberikan keberkahan dalam rumah tangga kita sehingga bernilai ibadah.]
.
.
.
.
__ADS_1
Qiya tampak menenangkan hatinya yang berdebar-debar.
Kembali ia mengirimkan pesan.
[Semoga dokter kelak bisa menjadi Sayyidina Ali yang tak pernah menduakan Sayyidah Fatimah Az-zahra selama pernikahan mereka. Walau orang tua ku bukan lah Nabi, tapi setidaknya mereka tak akan memandang kekayaan dalam memilih menantunya, Tak akan hanya memilih Ketampanan dan kecerdasan tetapi juga pertimbangan rasa di hati putri mereka. Semoga dokter pun mendapatkan jawaban Ahlan wa Sahlan dari orang tua ku.]
Kini Qiya cepat menyimpan ponselnya. Ia tak ingin kembarannya yang usil akan kembali merebut ponselnya. Bisa habis dia menjadi bahan godaan sang kakak.
Ammar membuka pintu mobil karena melihat adiknya masih di dalam.
"Masih memikirkan dokter tadi hingga tak mau keluar?" Goda Ammar.
Jika dari tadi bungsu Ayra itu hanya diam saja karena ada Alan di dalam mobil, kini ia segera membalas godaan sang kakak.
"Katakan, besok jika kakak menikah. Aku akan menganggu istri kakak sama seperti kakak menggoda ku. Dulu aku masih ingat sekali, kakak akan bilang. 'Qiya, jangan jadi gadis yang manja. Tidak ada lelaki yang suka gadis manja' Sekarang kulihat Kak Arumi dari wajahnya dia orang yang manja." Ucap Qiya sambi memencet hidung Ammar.
Dua kakak beradik itu tertawa karena sang kakak pun memencet hidung adiknya.
"Besok kalau sudah menikah kakak tidak tahu berani ga memencet hidung mu yang mancung ini." Ucap Ammar.
Ya, Bu Ratih membaca pesan yang dikirim Qiya ke ponsel anaknya.
"Alhamdulilah, Mulai malam ini. Aku akan ikut bermunajat untuk kemudahan kalian menuju hubungan yang halal, yang diridhoi Allah. Semoga kisah pahit tentang rasa cinta tak kembali kamu rasakan Ge." Ucap Bu Ratih sambil membenarkan posisi selimut sang anak. Ia mematikan lampu kamar anaknya dan menghidupkan lampu tidur.
Ia pun meninggalkan kamar Gede.
~~
Di dalam rumah,Ayra yang sedari tadi menunggu Putrinya pulang, menyambut Qiya.
"Alhamdulilah... kenapa lama Qiy?" Tanya Ayra saat menerima tangan putrinya yang mencium punggung tangannya dengan takhdim.
"Sepertinya Mama harus siap-siap." Ucap Ammar.
__ADS_1
Qiya sudah melotot ke arah Ammar.
"Uuppsss.... Biar yang punya hajat saja yang menyampaikan biar surprise ya dokter Qiya." Ucap Ammar sambil menekan kata dokter.
Qiya tahu maksud sang kakak. Ia pun memeluk Ayra, sosok manja putri Ayra itu hanya ia tunjukkan dihadapan kedua orang tuanya dan dua saudara kandungnya.
"Sudah makan?" Tanya Ayra.
Belum juga menjawab, Ammar kembali menggoda adiknya.
"Sudah kenyang Ma. Bukan Sudah makan apa belum." Ucap Ammar.
Ayra menundukkan kepalanya dan menatap ke arah Ammar sambil membenarkan posisi kacamatanya.
"Ada rahasia apa?" Lalu perempuan tiga anak itu menoleh ke arah Qiya.
"Mama, Kak Ammar kan memang begitu. Kapan dia tidak menganggu ku. Qiya istirahat ya Ma. Qiya sudah makan tadi kok Ma. Papa Mana?" Tanya Qiya.
"Papa ada di ruang kerja." Ucap Ayra
Saat akan melangkah ke arah kamarnya. Lirikan mata Qiya membuat Ammar terkekeh. Ia senang melihat rona wajah adiknya berubah. Karena kembarannya itu nyaris susah sekali ditebak isi hatinya.
"Heh. Aku pastikan kamu menyukai dokter itu Qiy. Kakak tak ingin kamu kembali disakiti. Kita lihat apa dia berani kemari menemui Papa. Dan jika berani apa yang ia bawa untuk melamar mu." Ucap Ammar dalam hatinya.
Ayra mengamati interaksi dua anaknya dan bahasa tubuh mereka.
"Apa yang mereka rahasiakan. Apakah anak gadisku juga akan sold out?" Batin Ayra melihat bahasa tubuh dua anaknya.
Ayra bukan orang tua yang sibuk memaksa anaknya untuk bercerita. Ia tahu jika usia anak-anaknya telah dewasa. Ia lebih memilih menunggu anak-anaknya membuka sendiri apa yang menjadi masalah, atau isi hati mereka. Karena ia sudah mulai belajar agar kelak jika anak-anak berumah tangga pun ia tak akan masuk terlalu jauh mencampuri urusan rumah tangga anak-anaknya.
Ia hanya bisa mengawasi dan menasehati sang anak. Ia melihat putrinya berbelok ke arah ruang kerja suaminya. Ia pun mengikuti putrinya. Karena suaminya tak akan berhenti bekerja jika tak diingatkan jika waktu sudah larut malam.
Ammar pun menahan langkah Ayra ketika ia bertanya.
__ADS_1
"Papa sudah memutuskan Ma?" tanya Ammar pelan saat Ayra akan berbalik.
Ibu Ammar itu pun melangkah dan duduk disisi putranya.