
Qiya begitu kesulitan untuk berjalan, hanya satu atau dua langkah ia berjalan kearah pintu. Saat sudah berhasil keluar dari kamar mandi. Gede yang tampak duduk bermain ponsel cepat meletakkan benda canggih tersebut di atas meja ketika melihat Qiya telah keluar dari kamar mandi.
"Loh... loh....kenapa ga bilang kalau sudah selesai?"Tanya Gede.
Menantu ke dua Bram itu cepat menggendong istrinya. Ia dudukan di atas kursi yang berada di depan meja rias. Bahkan ia begitu manis memperlakukan istrinya seperti seorang putri. Tangannya cepat memegang handuk yang ada dia tas rambut Qiya. Ia mengeringkan rambut tersebut.
"Biar aku lakukan sendiri mas. Mas buruan mandi. Khawatir terlambat jama'ah di mushola." Pinta Qiya pada sang istri.
"Sudah mas pesankan online saleb dan juga pil pereda nyeri. Kamu shalat di kamar saja ya?" Ucap Gede masih fokus dengan rambut istrinya yang basah.
"Mas... sebentar lagi adzan Maghrib." Tangan Qiya memegang pergelangan tangannya.
"Y sudah mana head dryer nya?" Tanya Gede.
Qiya pun membuka laci di depannya. Gede menghubungkan benda itu ke aliran listrik.Ia baru meninggalkan istrinya untuk mandi.
Beberapa menit membersihkan tubuhnya. Gede keluar dari kamar dan melihat kebutuhannya sudah disiapkan oleh Qiya. Ia merasa sangat senang sekali. Jika Gede merasa bahagia mendapatkan perhatian dan dilayani dengan baik. Baju ganti yang telah disiapkan diatas tempat tidur.
Kembaran istrinya justru dengan sabar mencari sendiri baju gantinya. Ia bahkan terlewatkan shalat ashar. Istrinya tak membangunkan dirinya yang tertidur di karpet bludru yang berada di sisi kanan pintu balkon.
Arumi hanya diam membisu. Ia tidur dengan posisi miring menatap tembok. Ammar bahkan mengingatkan istirnya untuk mandi setelah berganti pakaian.
"Ar... Sudah sore. Biasanya dirumah ini shalatnya berjamaah sama semua pekerja juga anggota keluarga di mushola keluarga." Ucap Ammar yang duduk ditepi tempat tidur.
Arumi masih diam. Ia bingung, andai ada Ifah mungkin ia bisa bercengkrama dan bermain bersama balita yang sudah ia anggap seperti anak sendiri. Tapi Melisa membawa pulang putrinya bersama sang baby sitter karena tak ingin Arumi menyia-nyiakan waktu untuk mendekatkan diri bersama keluarga Ammar juga memberikan waktu Arumi berdua dengan suaminya. Ia tahu sudah berapa malam, sepasang pengantin baru itu tidur bersama Ifah. Maka hal itu membuat Melisa semakin curiga tentang ada sesuatu yang terjadi diantara Ammar dan Arumi.
"Ar.... kamu juga belum makan. Kamu mau makan apa? aku ambilkan sesuatu ya?" Tanya Ammar.
Masih diam, Arumi masih diam. Ammar pun melirik jam di dinding kamarnya. Ia bergegas mengambil sajadah dalam lemarinya. Ia shalat Ashar di sela-sela waktu hampir menjelang Maghrib. Ammar betul-betul harus memulai hidup baru tanpa alarm Ayra. Jika dulu sang ibu akan membangunkan atau menanyakan sudah shalat belum pada dirinya saat akan tidur. Maka saat ini, Ayra tak bertanya apapun. Ia yang berpikiran sudah ada istrinya yang mengingatkan. Ibu tiga anak itu tidak tahu bahwa tidak ada cinta, tidak ada kehangatan dalam rumah tangga Ammar.
Setelah shalat shalat Maghrib. Ammar bahagia melihat adiknya berjalan cukup pelan ketika akan menaiki anak tangga. Gede terlihat berjalan pelan mengimbangi langkah sang adik.
"Setidaknya Gede punya cinta yang luar biasa buat kamu Qiy. Kalian harus bahagia." Batin Ammar saat berjalan di belakang sang adik.
Saat Ayra menepuk punggung anaknya. Ammar menoleh.
"Mama.... ngagetin aja."
"Arumi masih tak enak badan?" Tanya Ayra karena tak melihat menantunya itu keluar dari kamar.
"Iya Ma. Dia juga belum makan apapun. Tidak selera katanya." Ucap Ammar berkilah agar sang Mama tak berpikir macam-macam.
"Sudah di bujuk?" Tanya Ayra sambil melangkah.
"Sudah Ma. Tapi menantu mama itu, manis manja. Susah ngerayunya." ucap Ammar sambil merangkul ibunya dan melangkahkan kaki menuju rumah.
__ADS_1
"Ya sudah nanti coba Mama lihat kondisinya." ucap Ayra pelan.
Ammar pun mengangguk. Ia cepat bergegas ke kamar. Ia melihat kamarnya masih terlihat tak tapi. Sedari siang tadi bekas rokok, sepatu pengantin dan gaun pengantin istrinya masih tergeletak di meja rias yang Ayra siapkan di kamar itu untuk menyambut menantunya. Arumi hanya mendengus kesal karena melihat Ammar yang terlihat pontang panting merapikan kamarnya.
Ia tak ingin harga diri istrinya jatuh di mata sang ibu. Ia tak ingin ibunya merasa sedih karena ia salah pilih istri. Ia tahu persis seperti apa Mamanya sebagai istri. Sepatu, mahkota, jilbab, gaun pengantin, ia masukkan kedalam lemari tanpa ia rapikan. ia kunci lemari itu dan ia simpan kedalam kantong celananya.
Ammar pun menghidupkan aromaterapi di kamarnya.
"Matikan. Aku sengaja mematikannya. Aku tak suka baunya." Ucap Arumi masih dengan mode dingin dan ketus.
"Ar. semua ini Mama siapkan karena Mama tahu kita pengantin baru. Dan aku tak ingin kamu dianggap istri yang tak pandai merawat suami jika kamar dalam keadaan berantakan dan tak nyaman di huni." Ucap Ammar pelan sambil mengembalikan guling dan bantal ke atas kasur bekas ia tertidur sore tadi.
"Kenapa tidak pilih ustadzah saja dulu! kenapa pilih aku. Sudah tahu aku ini buta akan agama! buta akan banyak hal!" Ucap Arumi yang merasa tersinggung.
"Ar... aku tak bermaksud menyinggung mu. Aku hanya ingin kamu tetap baik dimata keluarga ku atau siapapun itu. Seperti kamu buta akan cintamu pada masalalu mu. Begitupun aku. Aku buta akan cinta ku pada mu. Dan buta nya cinta ku, membuat aku menerima semua kelebihan dan kekurangan mu, Ar...." Ucap Ammar pelan.
Bar saja Arumi akan menjawab lagi. Pintu Kamar diketuk.
"Tok.tok.tok."
"Am... Mama boleh masuk nak?" Tanya Ayra.
"Tolong Ar. Kamu sudah komitmen tadi. Aku hanya minta berpura-puralah menjadi istriku yang baik, seolah kita tak ada masalah apapun. Aku tak akan pernah bisa melihat Mama ku terluka atau bersedih. Aku mohon. Mama tadi tanta kamu. Aku bilang kamu masih tak enak badan." Ucap Ammar.
Arumi hanya diam. Ia bukan perempuan yang mencla mencle. Gengsinya juga tinggi. Maka ia pun dengan rasa kesal cepat menyembunyikan tubuhnya di balik selimut dan menempelkan telapak tangannya di pipi sambil memejamkan matanya.
"Mama bawa makanan." ucap Ayra sambil melangkah ke kamar putranya.
Ammar menerima nampan yang berisi satu piring nasi dan lauk pauknya dari asisten yang berdiri di belakang Ayra.
"Arumi masih pusing ma katanya. Dia juga masih datang bulan." Ucap Ammar pada Ayra.
"Maafkan Ammar Ma... Kali ini Ammar tahu kenapa banyak anak lelaki yang terbagi cintanya pada ibu setelah menikah. Betul-betul satu hari akan sulit memilih. Tapi Ammar tak akan menjadikan Mama atau Arumi yang pertama atau kedua. Kalian sama-sama perempuan nomor satu di hati Ammar." Ucap Ammar dalam hatinya karena ia merasa bersalah. Kali pertama berbohong pada perempuan yang telah melahirkan dirinya, demi menutupi aib istrinya.
Ayra duduk di sisi Arumi.
"Arumi... kamu belum makan apapun nak. Bangun dulu. Makan dulu nanti baru istirahat lagi." Ucap Ayra khawatir. Ia mengusap rambut yang menghalangi wajahnya.
Ammar melangkah dan berdehem. Arumi pun dengan kesal pura-pura terbangun.
"Ma... maaf. aku tidak selera makan Ma. mulutnya pahit." Ucap Arumi untuk menutupi kebohongan dirinya yang hanya menangis sepanjang sore ini.
"Mama lihat matanya sembab begitu. Apa setiap perempuan yang haid sakitnya minta ampun Ma? Dari tadi menantu Mama ini menangis karena sakit perut katanya." Ucap Ammar khawatir.
Ammar kembali berbohong karena Ayra menatap mata Arumi yang sembab. Arumi melirik kearah Ammar.
__ADS_1
"Sebegitu cinta nya kamu dengan Mama mu. Sampai begitu pintar kamu berbohong." Ucap Arumi dalam hatinya yang sedang tidak haid tapi dikatakan sedang haid.
"Oh... biasa itu. Sekarang makan dulu ya..."Ucap Ayra menyerahkan satu piring nasi yang ia bawa tadi.
"Mulutnya masih pahit Ma. Nanti saja." Ucap Arumi pelan.
"No... no... Ayo duduk. Mama suap. Sedikit saja. Harus dijaga tubuhnya Ar. Setidaknya hak tubuh kita harus tetap kita beri. Ayo duduk. Mama suap." Ucap Ayra pelan dan tangannya sibuk memasukan nasi dan lauk ke dalam sendok untuk ia suapkan ke Arumi.
Ammar tersenyum puas.
"Kamu setidaknya akan merasakan cinta Mama. Paling tidak kamu mampu berpura-pura untuk baik-baik saja di hadapan Mama." Ucap Ammar yang sudah tahu jika Mama nya tidak akan meninggalkan anggota keluarganya yang sedang sakit saat belum makan berapa suap pun.
Dan saat ini, mau tidak mau Arumi bangun dan bersandar di head board tempat tidur. Ayra mengarahkan sendok ke mulut Arumi. Kembaran Mayang pun membuka mulutnya. Ia mengunyah pelan makanannya.
"Nanti Mama buatkan jamu ya biar tidak sakit perutnya. Pinggangnya juga sakit?" Tanya Ayra.
Arumi justru merasa sulit menelan Nasi yang telah ia kunyah. Ia ingat sosok ibunya yang dulu juga sering membuatkan dirinya jamu saat sedang haid.
"Kenapa? sakit lagi?" Tanya Ayra yang tertunda memberikan suapan yang berikutnya, ia melihat di sudut mata menantunya ada butiran yang tertahan untuk keluar.
Arumi menunduk, ia pejamkan matanya agar butiran bening itu tak jatuh.
"Aku rindu Ibu." Ucap Arumi.
Ayra memberikan piring yang ada di pangkuannya pada Ammar yang dari tadi berdiri di belakang Ayra. Mertua Arumi itu pun memeluk Arumi dan mengusap punggung istri Sulungnya.
"Jangan pernah merasa sendiri Nak. Apakah Mama terlihat menyeramkan sampai kamu harus merasa rindu dengan Ibu mu disaat kamu sudah mendapatkan ibu dari suami mu? Atau kamu merasa Mama ini mertua mu bukan Ibu Mu? Peluklah Mama, panggil Mama kapan pun kamu butuh Mama. Jangan anggap Mama orang asing. Karena tugas Mama sekarang ada pada mu." Ucap Ayra pelan.
Arumi diam membisu. Pelukan Ayra begitu hangat. Ia menikmati ketulusan ibu mertua yang anaknya selalu membuat hatinya kesal dan jengkel saat ia memandangi suaminya.
Ayra melerai pelukannya. Ia mengusap air mata Arumi.
"Jika dulu Mama berpikir dan berjuang bagaimana Putra Mama bahagia, dan bisa menjadi lelaki yang bisa membahagiakan istrinya nanti. Kini sudah ada kamu Ar. Sekarang Mama punya partner agar putra Mama ini lebih bahagia lagi menjalani hidupnya."
Ucapan Ayra barusan menohok hari Arumi. Harapan ibu mertuanya yang sulit di berikan oleh Arumi.
"Membahagiakan putra Mama. Membahagiakan diriku sendiri pun masih tak mampu Ma..." Batin Arumi.
Akhirnya Ayra kembali menyuapi menantunya hingga habis satu piring itu. Ammar yang duduk di sisi Arumi sambil bermain ponsel pun mengambil sebuah qoutes dari salah satu pendakwah yang sedang digandrungi banyak perempuan karena kecerdasannya dan keromantisannya dengan sang suami.
..."Tidak peduli seberapa dalam anda mencintai seseorang, bagaimana anda diperlakukan itu jauh lebih penting. Tidak peduli seberapa dalam anda mencintai seseorang, cara anda dalam mencintai mereka itu jauh lebih penting."...
...(Ning Imaz Fatimah Zahro)...
Setelah memposting qoutes tersebut ia tersenyum.
__ADS_1
"Inggih Ning, Saya akan memperlakukan istri saya dengan baik, dan mencintai istri saya hingga tumbuh benih-benih cinta dihatinya untuk saya." Ucap Ammar sambil tersenyum menatap status di medsosnya yang berlogo hijau dengan foto pernikahannya bersama Arumi dan Qoutes dari Ning Imaz Fatimah Zahra, salah satu ulama perempuan yang cerdas, cantik, rendah hati dan paham akan fiqh kewanitaan.