
Ammar berlari ke arah Pak Subroto. Ia menarik lengan ayah mertuanya.
"Pa... " ucap Ammar seraya menghadang ayah Arumi itu karena semua mata tertuju ke mereka. Belum lagi Pak Rendra yang sudah terlihat berdaaarah di pipi dan bibirnya. Sudut matanya tampak juga mengeluarkan cairan merah.
"Biar dia tahu rasa Am. Dia masih mau mencari kamu. Dengar. Papa tidak akan pernah merestui kamu memberikan sumsum tulang belakang kamu." Ucap Pak Subroto.
Pak Rendra berdiri. Ia mendekati Ammar.
"Saya mohon... Tolonglah saya Am." Ucap Pak Rendra yang menangkupkan kedua tangannya.
"Maafkan saya, istri saya sedang koma. Bagi saya restu orang tua dan mertua saya sangat saya butuhkan." Ucap Ammar pelan.
Bram menatap Pak Rendra tajam. Ia berdiri dihadapan Lelaki itu.
"Anda tahu Pak Rendra. Aku sudah dari dulu ingin sekali memberikan anda pelajaran. Tapi karena rasa hormat saya pada Pak Toha membaut saya sangat tidak berani untuk membalas rasa sakit saya. Dan hari ini, semua terjawab sudah. Anda membayar apa yang anda ambil dari kami. Rasa sakit anda lebih sakit dari saat istri saya kehilangan anak dan sekaligus rahimnya!" Bentak Bram.
Ayra yang melihat dari kejauhan, ia segera mendekati Bram. Ia khawatir suaminya akan melakukan hal-hal yang tidak menyenangkan pada Pak Rendra. Betul saja, baru Bram akan menarik kerah baju Pak Rendra. Satu tangan menahan lengan Bram yang sudah terangkat.
"Mas.... Istighfar mas..." ucap Ayra pelan.
__ADS_1
Bram menoleh dan menatap Ayra. Istri yang selalu menahan dirinya untuk bertindak keras pada orang-orang yang telah menyakiti dirinya.
"Anda lihat. Bahkan perempuan ini, masih melarang saya untuk menyakiti anda. Bagiamana bisa anda mau mengambil sebagian dari tubuh anak kami. Disaat sudah banyak sekali luka yang anda berikan untuk perempuan ini. Apa salah Istriku? Apa salah Ayra hingga harus bertubi-tubi kau torehkan luka?! Aku pun tak akan mengizinkan putra ku melakukan operasi transplantasi itu!" Ucap Bram.
Wajah putra sulung Pak Erlangga Pradipta itu terlihat merah padam. Bahkan sorot mata nya sangat tajam menatap Pak Rendra.
Lelaki yang dulu merasa tersaingi karena hadirnya Ayra hingga ia terpilih sebagai kandidat untuk calon wakil walikota. Membuat ia pergi dari partai itu. Banyak kebijakan yang Ayra buat membuat bisnis-bisnis ilegalnya merugi. Belum lagi, kehadiran Ibrahim pada salah satu divisi yang memiliki bukti kuat bahwa ia salah salah satu koruptor terbesar di tanah air. Ia tak tahu jika agen zero yang dimaksud oleh rombongannya yang khawatir bukti itu sampai pada tim KaPeKa. Maka mereka mencari celah menghabiskan seluruh anggota tim divisi yang tertinggal agen Zero. Yang ternyata bungsu Ayra.
Pak Subroto pun sudah geram. Ia yang tahu bahwa penyuplai dana dari orang yang menyuruh ledakan itu adalah Pak Rendra dengan keempat teman lainnya.
"Dan kamu, pagi ini saya sudah melaporkan kebusukan kamu kepada pihak yang berwajib! Ada banyak nyawa yang melayang karena ulah mu! Termasuk putri ku! kamu tahu sakitnya aku merasa bersalah! bahkan aku hampir mencelakai lelaki yang sama sekali tak bersalah saat itu!" Teriak Pak Subroto.
Pak Rendra terduduk lemah. Air mata membasahi pipinya. Masalah datang bertubi-tubi. Rumah tangga yang mulai tak harmonis. Putranya yang sedang berjuang antara hidup dan mati. Ayah yang marah dan kecewa padanya. Kondisi partai yang mendesak ia untuk turun dari ketua umum. Belum lagi kini ia harus berhadapan dengan hukum.
"Mas..." Panggil seseorang.
Pak Rendra menoleh kearah suara yang ia kenali. Perempuan itu tak hadir sendiri. Ia bersama lelaki yang begitu menyayanginya sedari kecil.
"Papa...." Ucap Rendra lirih.
__ADS_1
"Sampai kapan kamu terus berharap pada manusia Rendra... Sampai kapan kamu meminta bantuan pada manusia? Dari dulu, dari kecil. Inilah yang selalu membedakan kamu dengan kakak-kakak juga adik mu. Kamu tidak pernah mau mendengarkan nasihat orang tua. Kamu tidak pernah menghormati orang tua mu. Bahkan saat ini, nasihat ku masih tak kau hiraukan?" Ucap Pak Toha yang menatap putranya.
Pak Toha mengatakan hal itu karena ia masih tak percaya. Bagaiamana Rendra begitu berbeda dari anak-anaknya yang lain. Mungkin secara ekonomi hidup Rendra jauh lebih bahagia. Tetapi untuk kebahagiaan, nyaris Rendra tak pernah mendapatkannya. Merasa pintar, merasa hebat. Ia melupakan ada sebuah ridho untuk keberkahan dalam hidup.
"Bagaimana Allah akan ridho pada mu Mas. Saat Papa dan Mama selalu kamu abaikan. Pernahkah dalam hidup mu kamu mencoba meraih ridho papa dan Mama? kamu selalu bilang. 'Mama dan Papa ngerti apa? Sudah diam saja!'. Kata-kata itu asal kamu tahu selalu membuat Mama menangis, lalu. Apakah kamu tahu mas. Hari ini aku kemari bersama Papa. Aku mewakili anak-anak Mama dan Papa yang lain. Kami memaafkan kamu mas...." Ucap Adik Pak Rendra yang sudah banjir air mata di kedua pipinya.
Rendra menatap adiknya.
"Aku tak pernah salah apa-apa sama kalian. Apa salah ku?" Ucap Rendra.
Kini adik Rendra itu dihadapan banyak orang ia berbicara dengan nada tinggi.
"Itulah salah satu kesalahan kamu mas! Kamu menyakiti orang lain, keluarga, orang tua, guru tanpa kamu sadari dan kamu merasa kamu orang baik. Padahal banyak hati yang menangis, banyak hati yang terluka karena ucapan kamu, tingkah laku kamu!?" Ucap Adik Rendra itu lagi. Dadanya terlihat naik turun. Jilbab yang ia kenakan pun tampak basah.
Ia kembali meluapkan rasa dihatinya.
"Coba kamu ingat, coba kamu ingat Mas.... Hiks.. darimana kamu mendapatkan semua kekayaan dan kepopuleran mu saat ini mas...hiks... Ingat mas.. ingat mas..." Ucap Perempuan itu terduduk di sisi kursi roda Pak Toha.
Seketika Rendra terhenyak. Ia duduk terkulai lemas. Seketika bayangan masalalu kembali hadir. Ia seperti menonton sebuah layar bioskop. Semua tampak nyata di lamunan Pak Rendra.
__ADS_1
Flashback On.
"Pokoknya bagaiamana caranya saya mau ikut seleksi sekolah intelegen itu! Titik!" Suara seorang anak lelaki yang tengah membentak ibunya.