
Arumi terdiam memandang Udah yang ada diperlukannya. Berharap Ammar akan mundur dengan syarat yang diajukan namun pilihan justru jatuh di tangannya. Ia berharap Ammar tak jadi melamar dirinya.
Melisa menggenggam tangan Arumi.
"Bagaimana Ar?" Tanya Melisa pada Arumi.
"Saya tidak tahu Ma. Saya bingung. Beberapa waktu lalu saya bahkan menutupi tubuh saya hingga hanya kedua mata saya yang terlihat. Tetapi setelah saya melihat di ponsel. Hampir di memori saya, saya tidak mengenal agama saya sendiri, diri saya sendiri. Saya cuma tidak tahu apakah harus menerima atau menolak." Ucap Arumi menatap Melisa.
Ayra menatap Arumi. Ia bisa melihat dari gesture Arumi bahwa ia perempuan yang lembut. Satu tangannya yang terus mengusap punggung tangan Ifah.
"Apakah yang membuat Nak Arumi ragu pada Ammar? " Tanya Ayra.
Arumi menatap Ayra.
"Saya tidak ragu pada Mr. Ammar. Tapi pada diri saya sendiri. Saya khawatir saat saya kembali ingat siapa saya dan karakter asli saya. Dan itu tak bisa diterima Mr Ammar. Apakah tidak akan jadi masalah?" Tanya Arumi sambil menoleh ke arah Ammar.
Ammar menghela napasnya pelan.
"Selagi kamu melakukan shalat lima waktu. Kamu menutupi aurat mu saat keluar dari rumah. Maka itu sudah cukup bagi ku. Aku akan berusaha tidak menuntut banyak. Aku pun memiliki kekurangan yang mungkin belum kamu ketahui. Dan aku harap kamu pun bisa bersabar menerima kekurangan ku." Ucap Ammar penuh keyakinan.
Ia sudah terlanjur jatuh hati pada Arumi. Ia rasa sulit untuk melupakan wajah cantik Arumi. Memang akhlak adalah salah satu pilihan terbaik. Namun kedua mata lebih dulu memandang sehingga hati sudah berlabuh pada Arumi.
"Berarti aku perlu berdandan untuk menjadi istri mu?" Tanya Arumi penasaran karena Ammar masih membahas perkara hijab.
Ammar terkekeh, Sulung Ayra itu menoleh ke arah Ibunya.
__ADS_1
"Ma. Ammar rasa yang harus menjelaskan ini Mama. Karena Mama perempuan." Ucap Ammar.
Ayra pun tersenyum kearah Melisa dan Arumi.
"Perempuan itu adalah perhiasan di dunia ini Nak. Dan bagi lelaki kenikmatan dalam dunia ini adalah perempuan. Di Islam bukan berarti kita perempuan tak boleh bersolek tetapi lebih ke tak boleh berlebihan. Berhias yang baik tanpa harus merugikan atau merendahkan martabat kita sebagai perempuan. Berhijab bukan berarti tampil kolot, tampil dengan membuat mata yang memandang tak sedap memandang nya tetapi tetap tak memancing syahwat."
Ayra juga menambahkan juga berhias yang paling penting tetap menjaga aurat agar tak terekspos terhadap lawan jenis.
"Seandainya di sebuah pesta lalu kita pergi bersama. Aku tampil rapi dan tampan. Sedangkan kamu tampil dengan baju daster dan bau yang tak sedap. Itu bukan yang aku maksud menutup aurat. Sekarang apakah Mama ku saat ini terlihat jelek, kolot ketika beliau berjilbab? " Ammar ikut menimpali setelah melihat Ayra selesai dengan penjelasannya.
Arumi menatap Ammar. Lelaki itu cepat membuang pandangannya. Ia ingin halal menikmati Arumi. Jika ia menuruti mata dan hatinya untuk menatap gadis cantik itu. Ia sudah tahu jawabannya yaitu berdosa.
"Lantas berikan aku alasan kenapa Mr. Ingin menikah dengan ku?Miss Allyne bilang Mr tak ingin bersentuhan atau berduaan dengan perempuan selama ini. Itu juga alasan Mr bertukar posisi dengan Mr. Marvin Bukan?" Tanya Arumi penasaran.
Bram dan Ayra mendelik ke arah putra mereka. Ammar hanya tersenyum merasa bersalah. Namun ia cepat menjawab pertanyaan Arumi.
Pak Broto dan Melisa merasa betul-betul kagum akan sosok Ammar. Pak Broto cepat memberikan pertimbangan pada Arumi.
"Papa cukup lama di dunia usaha Ar. Banyak lelaki dan anak muda yang Papa temui tapi rasanya alasan Ammar cukup langka kamu temui di lelaki lain." Ucap Pak Broto.
Arumi terlihat menempelkan pipinya di dahi Ifah. Ia memikirkan apa yang harus ia putuskan. Hingga bibirnya berucap satu permintaan sekaligus satu jawaban.
"Aku satu tahun lebih hidup tersiksa lahir dan batin. Aku bersedia menikah dengan Mr. Ammar. Tetapi, aku mohon jangan perlakukan aku dengan kasar. Bahkan bentakan mu kemarin masih membekas sampai hari ini." Ucap Arumi memandang cangkir minuman yang ada diatas meja.
Ayra menaikkan alisnya. Ia butuh penjelasan dari anaknya. Arumi merasa sakit hati di bentak oleh sang anak. Ia merasa aneh, Sulungnya nyaris tak pernah meninggikan suaranya di hadapan dirinya atau Qiya.
__ADS_1
"Jangan ucapkan apapun Nak. Sekarang Arumi menerima lamaran mu. Tugas mu adalah membuktikan apa yang kamu ucapkan hari ini." Ucap Ayra saat Ammar baru akan menjawab kembali perkataan Arumi.
Ya, lamaran Ammar diterima oleh Arumi. Dua keluarga merasa bahagia dan senang. Dua pemilik hati yang juga merasakan kebahagiaan tak berani lagi saling pandang. Mereka sudah cukup berjuang menenangkan hati mereka. Namun Bram terlihat sedikit kurang bahagia akan kabar bahagia itu. Entah kenapa ia yang mungkin telah memiliki menantu Nur, merasa jika Arumi berbeda dari perempuan-perempuan yang ada di dalam hidupnya. Menantu pertamanya pun sudah menempati hatinya sendiri.
"Semoga kamu tak salah pilih." Pinta Bram dalam hatinya.
Disaat Bram dan keluarga akan pulang. Mereka justru tertahan karena ada beberapa lelaki yang dimana Bram mengenal satu dari mereka. Lelaki itu pun menyapa Bram.
"Pak Bram... "
".... " Bram sedikit lupa nama lelaki itu.
Namun lelaki itu cepat menjabat tangan Bram.
"Kebetulan anda ada disini. Saya tidak perlu repot-repot kerumah anda." Bisik lelaki itu.
Bram mengerutkan dahinya.
"Pak Nicholas." Sapa Pak Broto pada tamunya.
Lelaki itu penasaran apa yang membuat devisi ketua ahli pengintaian itu berada di kediamannya. Ia khawatir jika ada sesuatu.
"Maaf Pak Subroto sepertinya saya datang di waktu tidak tepat. Tetapi ada yang harus saya bicarakan pada anda dan kebetulan sepertinya kita akan berbicara bertiga bersama Pak Bramantyo." Ucap Pak Nicholas.
Lelaki itu adalah ketua tim dari divisi Ibrahim bertugas. Ia datang ke kediaman Pak Subroto karena menemukan sinyal GPS terakhir dari agen zero tim nya di kapal pesiar milik Pak Subroto.
__ADS_1
Maka ia datang kesana bertujuan membawa surat interogasi untuk Pak Subroto. Takdir seakan ingin dua keluarga tersebut bertemu.
"Terkait apa?" Tanya Ammar pada lelaki itu.