
"Tidak. Tidak Pa. Ibrahim dan Ammar sama-sama anak kita. Maka alasan menunda hajat Ammar karena satu anak yang lain sama saja kita tak bijak. Kamu tak ingin menentukan dulu perasaan Arumi padamu? Mama khawatir jika langsung melamar dan ternyata Arumi tak punya perasaan apapun padamu, lamaran mu di tolak? Apakah putra Mama ini tidak akan malu atau patah semangat bahkan sakit hati pada Arumi dan keluarganya?" Ayra kembali meyakinkan anaknya agar tidak kecewa jika jawaban dari Arumi tak sesuai yang di harapkan.
"Bagaimana dengan para sahabat Rasulullah yang ketika melamar Sayyidah Fatimah dan di tolak oleh Fatimah. Mereka bahkan mendorong Sayidina Ali untuk maju melamar Sayyidah Fatimah hingga ternyata Sayidina Ali lah yang ditunggu oleh Fatimah dan Rasulullah." Jawab Ammar masih ia selalu memetik pelajaran dari kisah-kisah yang sering diceritakan Ayra pada putranya.
"Dan Mama harap kamu pun bisa mencintai istri mu tanpa meminta ia sempurna." Ucap Ayra pada Ammar. Ayra pun kembai melanjutkan nasihatnya pada Ammar
"Mama hanya berpesan. Jika memang lamaran mu diterima oleh Arumi, maka apapun yang disediakan istrimu maka nikmati, jangan menanyakan dan mencari yang tak dihidangkan istrimu. Maka kesabaran mu, ridho mu dan cinta mu akan membawa yang tidak ada tadi menjadi ada jika kamu dan istri mu masih terus belajar menuntut ilmu, tetap mencari ilmu dari seorang ulama yang bisa membimbing mu dan istri mu agar kelak raumah tangga mu sakinah mawadah warahmah." Pesan Ayra pda Ammar.
Ayra sebagai perempuan, ia bisa melihat dari cerita Ammar sang calon menantu sepertinya bukan orang yang oaham akan agama. Ia khawatir, sosok nya yang selalu menjadi idola, yang menjadi patokan baginya seorang istri dan ibu. Akan kaget ketika melihat sang istri yang tak terlalu paham agama akan membuat sang anak kaget atau kecewa dan menyebabkan cinta berkurang dan hilang. Karena bagi Ayra cinta adalah salah satu yang penting dalam biduk rumah tangga, jika itu berkurang atau hilang maka akan sulit hubungan harmonis tercipta.
Ammar pun menghubungi Marvin agar bisa keesokan harinya mengantarkan Bram dan Ayra ke kediaman Arumi. Ammar pun akan ikut serta. Kabar bahagia itu pun telah di dengar Nur. Ia ikut senang dan berharap lamaran sang kakak akan diterima.
Walau ia masih dirundung kesedihan karena belum adanya kabar sang suami. Tetapi cinta, perhatian dari Ayra dan keluarga membuat Nur merasa baik. Belum lagi Ayra selalu mengingatkan untuk dirinya untuk tidak merasa sedih atau menangis. Karena akan berdampak pada janin ketika lahir. Emosi ibu hamil yang tak stabil bisa mempengaruhi sang anak.
Qiya pun merasa bahagia mendengar kabar bahwa kakaknya akan melamar seorang perempuan esok pagi. Saat ia senyum-senyum melihat ponselnya. Cita yang penasaran segera berdiri disamping sahabatnya.
"Bahagia amat. ada kabar apa Qiy?" Tanya Cita.
"Kak Ammar besok pagi mau melamar gadis.Semoga lamarannya diterima." Ucap Qiya sambil menoleh sekilas ke arah Cita.
Cita terlihat menggaruk kepalanya.
__ADS_1
"Lah perasaan Kak Ammar ga pernah terlihat sama perempuan ya Qiy. Pasti ga mungkin di tolak lah Qiy. Gila aja kalau ada yang nolak. Secara, tampan, mapan, keluarga baik-baik. Ibarat kata nih. Bebet, bobot,bibit semuanya nilai sempurna." Ucap Cita sambil membayangkan wajah tanpam Ammar.
"Hehe... ya ga gitu juga Cit, Setiap orang kadang punya kriteria sendiri dalam memilih pasangan hidup. Tak mesti, kesempurnaan justru membuat orang tadi tak terpilih saat hati seseorang telah jatuh ke lain hati." Jelas Qiya.
"Lalu hati kamu sendiri? Apakah sudah jatuh ke sebuah hati apa belum? Khawatir nih,, sih Hilman itu melamar mu lagi. Soalnya ku lihat di medsos mu dia hampir setiap status mu selalu hadir dengan live versi hatinya." Goda Cita yang mengamati medsos sahabatnya.
Qiya hanya menanggapi apa yang dikatakan oleh oleh Cita hanya dengan sebuah senyum.
"Hati ini sudah kecewa dengan mas Hilman...." Ucap Qiya dalam hatinya.
Ia tahu bagaimana Hilman dalam bersikap. Ia tak begitu fokua untuk mencari pasangan yang sama-sama dari pesantren. Nyatanya Hilman lama berada di pesantren namu pola pikir lelaki itu justru tak sejalan dengan apa yang telah di pelajari di pondok. Maka jika memang sebuah hubungan rumah tangga akan dibina, Qiya berharap lelaki yang penyayang, tetapi bijaksana juga sabar.
Ia memang cukup lama di pondok tetapi ketika waktu libur, ia terbiasa di manja dan diperhatikan oleh para lelaki yang bertanggung-jawab atas dirinya. Malam itu entah kenapa putri Ayra itu pun berharap agar segera bertemu jodohnya karena ia rasa usianya sudah matang. Ia juga khawatir rasanya sulit mengendalikan hati saat matanya memandang dokter Gede yang ukuran perempuan normal dokter pembimbingnya itu tampan.
Dari nuansa kamar yang dilihat penuh warna hijau, perpaduan putih. Diatas meja yang ada tepat disisi jendela kamar saudari kembarnya itu terdapat sebuah laptop. Saat ia membuka laptop tersebut laptop tersebut memindai wajahnya. Belum sempat ia melihat isi laptop tersebut. Tangannya reflek menutup layar laptop tersebut. Miss Allyne masuk ke kamarnya dengan terburu-buru.
"Arumi..." Ucapnya pelan karena melihat si kecil Ifah berbaring di tempat tidur sedang menikmati botol dotnya.
"Ada apa Miss?" Tanya Arumi setengah berbisik.
"Ada kabar membahagiakan untui dirimu." ucap Miss Allyne sambil menyodorkan ponselnya.
__ADS_1
..."Besok orang tua Mr Ammar akan menemui orang tua Arumi. Mereka akan melamar Arumi untuk Mr. Ammar. Aku memberitahukan hal ini agar Arumi bisa bersiap-siap. Bos ku tak memiliki nomor kontak Arumi dan orang tuanya."...
Sebuah pesan yang dikirim Marvin pada ponsel Miss Allyne.
Seketika Arumi pun hanya diam terpaku menatap layar ponsel Miss Allyne.
"Kemarin dia begitu benci. Bahkan sekedar menatap ku saja ia tak mau. Lalu kenapa ia ingin melamar ku...." Ucap Arumi bingung.
"Dia bukan membenci mu kalau kata Marvin. Tetapi dia menghormati mu. Jika aku jadi kamu, aku akan jual mahal karena dia telah telah memandang mu remeh. Seperti yang aku lakukan saat ini. Marvin sengaja aku buat cuek. Biar dia merasakan terksiksa karena cinta tapi tak bisa memiliki." ucap Miss Allyne sambil menahan rasa sakit dihatinya.
Ia sebenarnya juga tersiksa mengacuhkan Marvin. Tetapi rasa sakit dibohongi, membuat ia melakukan itu. Ia mengabaikan rasa cinta.
"Apa alasannya melamar ku... Aku sendiri belum tahu siapa aku. Bagaimana aku memulai hidup baru lagi, sedangkan aku baru menjadi Arumi. Untuk hidup sebagai Alisha kemarin begitu membekas dalam hidup. Namun kini belum tahu aku ini seperti apa, haruskah aku menerima lelaki untuk hidup bersama. Sedang aku sendiri tak mengenal siapa aku." Ucap Arumi menatap kaca di hadapannya.
"Ya. Yang aku tak habis pikir betapa bodohnya kamu Arumi. Kamu menggunakan baju seperti layaknya orang muslim tapi kamu bilang kamu bahkan tak tahu cara shalat. Lantas apa fungsi pakaian yang tertutup kamu kenakan itu?" Ucap Miss Allyne ceplas-ceplos.
Ya selama hidup bersama Alex, Arumi bahkan tak tahu apa itu ibadah shalat. Yang ja tahu, ia merawat Ifah. Mengurus kebutuhan pakaian dan makan Alex lalu akan bersembunyi di kamar ketika ada teman atau tamu lelaki dari alex. Anehnya lagi akan terbiasa dengan Alkohol.
Arumi pun baru ingin kembali membuka laptop tersebut namun tangannya kembali berhenti karena Ifah terbangun.
Saat Arumi mengusap-usap punggung Ifah. Perempuan itu justru tidak memikirkan dirinya.
__ADS_1
"Siapapun aku, aku tak ingin berpisah dari mu Ifah. Jika aku harus menikah atau menjalin rumah tangga. Maka ia pun harus menerima mu. Aku sudah menganggap mu putriku." Ucap Arumi penuh harap. Ia pun mengecup dahi Ifah cukup lama.
Cintanya pada gadis mungil itu sudah begitu besar. Ia sudah sangat mencintai Ifah yang dimana sebenarnya bukan putrinya tetapi putri Alisha asli. Ia pun menerima hasil pemeriksaan Pak Broto bahwa Ifah bukan anaknya. Karena ia berharap jika tidak dipisahkan dari Ifah, pak Broto pun mengiyakan karena ia tak ingin kembali berdebat dengan putrinya dan berujung sang putri pergi dari rumah.