Pesona The Twins

Pesona The Twins
111 "I love you Arumi."


__ADS_3

Flashback On.


"Arumi dimana Am?"


"Di Palembang Ma. Tapi sepertinya malah di pedesaan nya." Ucap Ammar.


"Susulah Arumi, ingat setiap orang tidak ada yang sempurna. Termasuk pasangan mu. Arumi masih banyak belajar. Itu tugas mu sebagai suaminya untuk membimbing istrimu Am. Kamu paham tulang rusuk itu tidak lurus bukan?" Ucap Ayra saat Ammar menyiapkan baju untuk ia bawa menyusul istrinya.


Ammar pun berjanji tidak akan marah pada istrinya.


Saat Pak Subroto ingin menyusul putrinya. Namun Melisa melarang. Ia sudah mengira jika Arumi pulang ke rumah dimana masa kecilnya pernah di ukir disana. Maka pasti ia rindu ibunya. Ia merasa sakit akan sesuatu. Dan ada seorang nenek yang bisa memberikan dirinya ketenangan yaitu Nenek Syaripah.


Flashback off


Ammar sudah duduk di ruang tamu. Sebuah ruangan yang semua terbuat dari kayu. Baik tiang lantai, dinding. Semua terbuat dari kayu. Rumah yang ditempati Arumi saat ini adalah rumah ibunya yang dimana rumah itu biasa disebut rumah panggung di desa tapi bagi banyak warga Sumatera Selatan, rumah itu biasa disebut Rumah Cara Gudang.


Sumatera Selatan sendiri memiliki 7 Rumah Adat.


Ammar melihat Arumi mengintip dari balik tirai berwarna merah. Ia keluar dengan rambut terurai dan sebuah daster lengan pendek. Ammar menoleh di sekitar ruangan. Sungguh berani istrinya itu berpakaian seperti itu pikir Ammar disaat semua pintu jendela rumah panggung itu terbuka.


"Anak ini siapa?" Tanya Nenek Syaripah penasaran.


Namun ketika melihat Arumi datang dan menghampiri Ammar juga menjulurkan tangannya Nenek Syaripah paham.


"Oh... Jadi kamu sudah menikah. Jadi ini suami mu? Rumi... Rumi... Jadi kamu kesini karena bertengkar?" Ucap sang Nenek lagi.


Arumi diam. Ia menunduk.


"Sana buatkan minum untuk suami mu." Ucap Nek Syaripah.


Arumi pun bergegas kebelakang. Rumah Cara Gudang dibangun dengan kayu tembesu itu membuat Ammar bisa mendengar langkah kaki istrinya yang pergi ke arah dapur. Rumah itu terdapat lima ruangan. Dua kamar tidur dan ruang tamu, ruang tengah yang kini dijadikan Nenek Syaripah untuk shalat atau mengaji. Dan ruangan dapur yang langsung menyatu dengan ruang makan.


Tak lama Arumi muncul dengan kopi hitam. Aroma kopi itu khas. Ammar yang memang lelah cepat menyeruput kopi itu. Sepiring pisang goreng yang masih hangat pun di persilahkan oleh Nek Syaripah untuk Ammar.


"Istirahatlah malam ini. Rumi, layani suami mu dengan baik. Nenek malam ini akan bermalam di rumah Maryam. Sekarang nenek mau mandi dulu." Ucap Nek Syaripah yang berjalan menggunakan tongkat kayu.


Ammar yang melihat Nek Syaripah berjalan menggunakan tongkat ia berjalan ke arah nenek itu bermaksud menuntun nenek itu yang akan menuruni anak tangga. Didalam rumah itu ada anak tangga yang menghubungi rumah bagian bawah.


"Tidak usah. Sana istirahatlah. Maryam,tolong bawakan inang Nenek kebawah." Perintah Nenek Syaripah pada Maryam yang sedang bermain kucing.


Gadi kecil itu naik ke lantai atas dan mengambil sebuah kotak terbuat dari Kuningan. Kotak itu berisi pinang, kapur sirih, daun sirih dan getah pinang. Juga Tembakau. Orang biasa mengenal nya dengan 'Peliman'. Dimana alat-alat dan bahan untuk menikmati surih atau 'nginang' ada di dalam kotak Kuningan itu.


Ammar yang melihat Arumi duduk di seberang nya menepuk kursi yang ia duduki. Ada kerinduan Dimata Ammar untuk Arumi. Begitu pun Arumi sebenarnya.


"Sini... Duduk sini." Ucap Ammar.


Arumi pun duduk di sebelah Ammar. Satu tangan Ammar memeluk pinggang Arumi. Satu tangan lainnya menikmati pisang goreng yang tadi di goreng sendiri oleh Arumi. Habis satu buah pisang goreng, Ammar menikmati kopi asli khas Sumatera Selatan itu.


"Kenapa pergi sejauh ini? Marah?" Tanya Ammar.


Arumi diam.


"Baiklah, nanti saja kalau masih marah. Aku mau istirahat Ar. Pinggang ku sakit, jauh sekali kamu merajuk sampai ke desa ini." Ucap Ammar yang memang merasakan sakit pada pinggangnya. Arumi pun membawa tas Ammar. Ammar seolah tak ingin kehilangan Arumi lagi. Ia memegang tangan Arumi.


Tiba di sebuah kamar yang sangat sederhana. Bahkan di kamar itu tidak ada ranjang. Sebuah kasur kapuk dan terdapat kelambu berwarna hijau. Ammar penasaran. Ia pun berdiri di sisi jendela. Arumi sedang menyusun pakaian suaminya di lemari.


Arumi juga tampak mengganti Sarung bantal dengan yang baru. Beruntung pagi tadi ia baru saja mengganti seprainya dengan yang baru.


"Mas mau mandi dulu ?" Tanya Arumi.


Ammar melirik jam masih lama waktu Maghrib.


Ia membuka kemejanya. Ia mengganti dengan kaos yang diberikan Arumi padanya. Ia yang lelah berbaring di kasur itu. Kembali Ammar meminta istrinya berada disisinya.


"Sini. Kamu harus diinterogasi dulu." Ucap Ammar.


Arumi menutup pintu kamar. Ia pun duduk di sisi Ammar. Ia peluk tubuh istrinya dari arah belakang. Ia gigit pelan pundak Arumi.

__ADS_1


"Awwwhh..."


"Ssssstttt.. Nanti di dengar orang." Ucap Ammar mendengar istrinya berteriak. Ia malu jika sampai di dengar Nenek tadi yang berada di lantai bawah.


"Sakit!" Ucap Arumi kesal karena pundaknya di gigit Ammar.


"Itu hukuman untuk pergi kemari tidak bilang-bilang. Kamu ga kasihan aku. Aku nyariin kamu kemana-mana Arumi." Ucap Ammar meletakkan dagunya di pundak sang istri. Ammar memejamkan matanya.


"Mas juga ga kasihan dengan aku yang menunggu Mas sampai kelaparan hampir dua jam aku menunggu tapi Mas malah ketiduran di sisi Bilqis." Ucap Arumi yang tak lagi bisa menahan rasa cemburu, rasa kesal pada Ammar.


Ammar pun melepaskan pelukannya. Ia membalik paksa tubuh istrinya.


"Jadi kamu marah karena itu? Kenapa ga langsung marah? Kemarin di Australia diam aja. Kenapa sampai Indonesia baru marah?" Tanya Ammar heran.


"Istri mana yang tidak marah. Suaminya janji akan ajak makan malam dan pulang larut malam dan ternyata ketiduran di rumah perempuan lain." Ucap Arumi


"Dia sepupu ku Ar."


"Tapi dia perempuan!" Ucap Arumi dengan mata yang sudah merah menahan air mata.


Arumi menarik napas dalam Ia ingat pesan Ayra. Untuk diam jika istrinya sedang emosi. Ia pun menutup bibirnya rapat. Kedua tangannya masih ia lingkarkan di pinggang Arumi.


"Marahlah, aku akan diam dan mendengarkan." Ucap Ammar.


Namun suasana kamar hening tak ada suara yang keluar dari bibir Arumi.


"Aku kangen kamu Ar." Ucap Ammar karena tak mendengar suara istrinya.


Arumi diam. Dia tidak menjawab.


"Kamu masih marah?"


"Mas tidak akan membiarkan aku menunggu lagi? Mas bisa menjaga diri mas untuk aku saat diluar? Aku tidak suka Mas dekat Perempuan manapun, Bisa?" Tanya Arumi.


"Bisa."


"Janji."


"Kalau di ingkari aku akan pergi sejauh-jauhnya dari hidup mu." Ucap Arumi.


"Jangan pergi lagi Arumi... Please.... Kamu boleh marah, kamu boleh ngomelin aku tapi tidak pergi dari aku. Oke " Ucap Ammar sambil mengeratkan pelukannya.


Aroma tubuh Ammar menguar memasuki rongga hidung Arumi. Jantung Arumi berdegup kencang saat Ammar memegangi pipinya.


"Tidak ada manusia yang sempurna. Aku bisa mengerti kamu pergi tentu ada sebabnya. Dan suami mu yang bodoh ini tidak pernah sekolah menjadi suami yang baik. Tapi aku akan mencoba menjadi teman hidup yang baik untuk mu Ar." Ucap Ammar.


Ketika bibir Ammar sudah begitu dekat dengan bibir istrinya. Suara Maryam dari lantai bawah mengagetkan Arumi.


"Yuk Arumi... Kito sore ini nak makan apo Yuk?" Teriak Maryam dari lantai bawah.


[Kak Arumi kita sore ini makan sama lauk apa?]


"O... Dak sopan Maryam... Ayuk lagi Ado lakinyo." Ingat Nek Syaripah.


[Tidak sopan Maryam. Kakak mu lagi ada suaminya.]


Ammar mengusap tengkuknya.


Arumi pun tersenyum.


"Aku masak dulu untuk makan malam. Istirahatlah." ucap Arumi.


"Masak?"


Arumi yang menguncir rambutnya menoleh ke arah Ammar.


"Ini bukan dunia mu Mas. Dimana punya banyak uang berjuta-juta dan bisa keliling dunia. Ini dunia ku dulu." Ucap Arumi.

__ADS_1


Ammar yang penasaran dengan kata masak. Membuat ia bangkit dari tidurnya.


"Ar... Arumi..." Panggil Ammar. Arumi keluar dari arah dapur.


"Ada apa Mas?"


"Aku mau lihat kamu masak." Ucap Ammar sambil tersenyum.


Arumi menghela napas pelan. Ia pikir ada apa. Ia pun kembali ke dapur. Tiba di dapur. Ammar dibuat terperangah dengan istrinya yang ia anggap manja, kekanakan karena pergi dari rumah. Ia melihat sisi lain istrinya dan membuat ia justru bertambah kagum.


Arumi terlihat meniup satu kayu yang terlihat seperti dari bambu. Ketika benda itu di tiup maka tampak api di kayu bakar mulai hidup. Lalu setelah api hidup Ammar justru khawatir.


"Itu ga kebakaran Ar?" Tanya Ammar. Ia melihat dinding dan lantai itu dari kayu.


"Tidak. Dibawahnya itu tanah." Ucap Arumi.


"Itu wajannya?" Tanya Ammar lagi.


"Suami ku tercinta duduk saja dulu. Biar urusan istrimu yang memasak." Ucap Arumi sambil mengupas bawang.


Ammar pun terasa hangat di hatinya. Kata sayang dari Arumi barusan membuat Ammar sadar. Istrinya bukan tipe perempuan yang romantis. Hingga butuh perjuangan untuk dipanggil sayang saja harus selama ini.


Arumi membersihkan terong yang begitu segar. Dan terdapat ikan sungai yang sudah di bersihkan oleh Arumi. Ammar tak menyangka istrinya begitu lincah di dapur.


"Kenapa kamu tidak pernah masak dirumah Ar?" Tanya Ammar.


"Apa guna pembantu yang begitu banyak dirumah kalau aku masak." Ucap Arumi.


Ammar tertawa mendengar jawaban spontan istrinya.


Sore itu Ammar bertambah cinta pada Arumi. Masakan istrinya walau dimasak di dapur sederhana, bahan seadanya tapi rasanya enak dan segar. Ketika tiba waktu Maghrib. Ammar bertambah bahagia. Saat shalat Maghrib ia melihat Arumi juga siap dengan mukenahnya dan duduk di sebelah Maryam dan Nek Syaripah.


Hari hujan deras. Membuat langgar tak mengumandangkan adzan. Desa yang hanya tersisa 30KK itu pun bisa dipastikan tak ada yang berangkat ke langgar kecuali marbot masjid yang kebetulan bisu. Maka hanya beduk Maghrib yang dibunyikan.


Ammar mengimami shalat Maghrib sampai tiba waktu Isya. Saat hujan agar reda. Anak nenek Syaripah yang menjemput Maryam juga mengajak Nenek Syaripah. Sang nenek berpesan pada Arumi saat akan pergi ke kediaman anaknya.


"Selesaikan masalahmu dengan suami baik-baik. Nenek senang kamu berjodoh dengan lelaki baik-baik." Ucap Nek Syaripah sesaat sebelum naik motor anaknya di sela-sela hujan gerimis.


Saat pintu kamar ditutup, Arumi tampak bingung. Ammar membuka selimutnya.


"Sini." Pinta Ammar.


"Hhhhh.. dia suami mu Arumi. Dia memang berhak akan dirimu."


Arumi bukan gadis bodoh. Sedari saat akan shalat Maghrib. Suaminya itu menatap dirinya bahagia. Ia tahu maksud tatapan lelaki yang memang sedari Australia menanti dirinya suci dari haid.


Arumi pun membuka hijabnya. Ia sudah menyiapkan hal ini. Ia sudah mengenakan sebuah lingerie yang memang ia bawa dari Jakarta. Ia memang berharap Ammar menemukannya tapi ia pikir nanti di kediaman Pak Subroto. Ketika Arumi mendekati Ammar. Lelaki itu tak berkedip.


"Mas lelah?" Tanya Arumi sambil tersenyum.


Ammar sumringah.


"Tidak jika istriku meminta untuk dihujani malam ini." Ucap Ammar pelan.


Malam itu Ammar menikmati Paripurna kenikmatan yang begitu indah. Suami mana yang tak bahagia. Rasa kesal, rasa marah, rasa lelah kini hilang karena disuguhkan sebuah kegiatan yang akan berujung pahala. Ammar bukan Bramantyo Pradipta yang masih bisa menahan hingga bisa memilihkan tempat untuk menikmati surga dunia bersama sang istri.


Bagi Ammar, halalnya waktu, halalnya istri. Bersedianya sang istri,itu sudah tak punya alasan untuk menahan apalagi menunda. Siapa sangka penerus CEO MIKEL Group justru menikmati malam pertamanya di tempat yang amat sederhana. Bahkan di daerah yang ia sendiri tak mengerti bahasanya.


"Terimakasih Ar... Jangan pernah pergi lagi." ucap Ammar kala keringat telah membasahi tubuh dan selimut di dinginnya malam.


Arumi menitikkan airmatanya.


Baginya Ammar tulus. Dengan datangnya ia ketempat itu. Bahkan tak ada raut marah di wajah sang suami membuat Arumi malu sendiri.


"Cukup menjadi istri mu hingga akhir nafasku. Itu yang aku harapkan mas." Ucap Arumi yang memejamkan matanya di dada Suaminya yang masih dibasahi keringat.


Itulah Pernikahan. Tidak hanya ada kata memiliki tapi juga harus ada kata maaf, harus ada kata toleransi, harus ada kata saling mengerti, berbagi, dan rasa untuk saling membahagiakan. Itulah kunci pernikahan The Twins menuju till Jannah.

__ADS_1


__ADS_2