Pesona The Twins

Pesona The Twins
93 Ijab Gede dan Qiya


__ADS_3

Pagi itu mau tidak mau, Arumi mengenakan gaun pengantinnya dengan cadar. Ammar ternyata tak terburu-buru mengedepankan nafsunya. Ia lebih memilih meraih hati istrinya lebih dulu daripada tubuh sang istri yang memang terlihat begitu seksi karena rajin berolahraga. Ammar bahkan bisa melihat lengan Arumi yang kencang saat malam pertama ia berada di kamar Arumi.


Ammar dan Arumi masuk kedalam mobil yang merupakan sebuah mas kawin yang Ammar berikan untuk sang istri. Sebuah mobil matic yang cocok untuk perempuan. Namun setelah kejadian tadi Ammar tersenyum simpul di dalam mobil itu. Marvin yang jomblo pun sempat merinding mendengar sepintas obrolan pengantin baru di kursi belakang.


"Arumi sayang, aku seharusnya kemarin tidak memberikan kamu mobil ini. Harusnya mobil gardan 4 yang cocok untuk mu. Mobil ini terlalu feminim dengan karakter mu yang begitu ganas tadi pagi. Leher ku bahkan sampai merah." Ucap Ammar pelan namun sampai ke telinga Arumi dan Marvin.


Arumi tak menjawab. Ia cemberut di balik cadarnya. Sedangkan Marvin bergidik dan tak berani menoleh ke belakang.


"Apakah itu Nona Arumi begitu buas? Kelihatannya dia kalem. Apalagi Miss Allyne jika Arumi saja bisa membuat leher Bos merah. Hi... bodoh kenapa pula aku membayangkan hal yang panas begini, masih pagi Marvin, Miss Allyne juga masih marah padamu." Ucap Marvin dalam hatinya.


Disaat Pak Subroto dan rombongan pengantin telah meninggalkan kediaman Pak Subroto menuju kediaman Bram. Di kediaman CEO MIKEL Group itu sedang berlangsung proses penyambutan besan yang merupakan dari Bali.


Gede sudah tiba di kediaman Ayra. Kini ia duduk di depan pak penghulu. Sebuah mas kawin cincin berlian sudah ia siapkan sebagai mas kawinnya pada hari itu. Seluruh keluarga besarnya telah berkumpul. Niang Ayu sudah memberitahu anggota keluarga yang ikut mengantar jika nanti mereka akan bertemu mantan calon besan yang tak lain pak Subroto. Niang Ayu berharap agar keluarga tak kaget dan tak kembali mengingat kisah yang telah berlalu.


Ratih pun sudah menyiapkan mentalnya. Ia cukup gugup karena harus bertemu calon besan tidak jadi juga kemungkinan tamu Ayra yang tak lain adalah Pak Rendra juga hadir pada hari itu.


Gede di dampingi Niang Ayu dan Ibunya. Ia mencoba menghilangkan kegugupannya dengan berkali-kali membuang napasnya pelan. Saksi dari pihak Ayra adalah seseorang suami dari mantan Ibu menteri pertanian yang tak lain adalah Bapak Ahmad Anwar. Ia adalah sahabat karib dari Kyai Rohim.


Umi Laila sendiri yang meminta itu karena dulu ketika 5 anaknya menikah, Kyai Rohim berharap sahabatnya bisa menjadi saksi salah satu saja dari kelimanya. Dikarenakan pengusaha yang telah sepuh itu pun berada di Indonesia. Ia diminta langsung oleh Bram dan Furqon yang menemui Pak Ahmad Anwar pesan dari Umi Laila. Karena ketika Bram menanyakan perihal saksi. Umi Laila teringat dua orang yang berjuang membantu ia berdakwah di kali Bening.


Ingin Pak Toha menjadi saksi bukan hal bijak. Karena menolak Hilman tentu sudah melukai hati pak Toha. Maka Umi Laila meminta Pak Ahmad Anwar alias Mukidi yang menjadi saksi dari pihak Qiya. Lelaki itu kini menetap di Malaysia karena dirinya membuka usaha di luar negeri.

__ADS_1


"Bagaimana, bisa kita mulai? Tanya pak Penghulu pada Gede dan para saksi."


Semua menjawab bisa tanpa menunggu lagi. Bram juga sudah menelpon Ammar. Sulung Ayra itu mengatakan jangan menunggu dirinya. Akibat insident kompetisi dadakan tadi ia sedikit terlambat karena ia harus memasangkan sendiri gaun istrinya. Dan hal itu berlangsung cukup alot dengan karakter Arumi yang masih belum bisa menerima dirinya.


Gedepun merasa cukup pede dan siap. Ia bukan percaya diri karena ketampanannya, kegagahan dirinya. Melainkan ia sudah mempersiapkan dirinya. Ia sempat sowan ke Kyai nya yang tak lain Gus Imam. Guru beliau memberikan dua buah kitab, sebuah kitab yang berisikan penjelasan mengenai hukum-hukum nikah, syara dan rukun juga hak-hak dalam pernikahan. Yaitu yang berjudul Dhau’ al-Misbah Fi Bayani Ahkam an-Nikah. Karya dari Hadratus Syaikh KH. Hasyim Asy’ari.


Dan satu Kitab lainnya yang juga telah diterjemahkan oleh ahli bahasa atau kitab dan santri ke dalam bahasa Indonesia yang berjudul Nasehat Pernikahan Sang Kyai–Bekal Utama untuk Menghiasi Bahtera Rumah Tangga yang diterjemahkan oleh Yusuf Suharto dan diterbitkan awal pada Januari 2015.


Pesan sang guru dan membaca buku yang diberikan oleh gurunya maka menjadi kemantapan Gede untuk menjadi seorang suami dari dr Shidqia Nafisah. Putri kedua dari pasangan Bramantyo Pradipta dan Ayra Khairunnisa. Seorang gadis dengan Trah keturunan Kyai besar dan pengusaha sukses juga politikus yang terkenal bersih dan berprinsip dari ibunya. Maka Gede merasa Ia akan berusaha menjadi suami yang baik untuk gadis itu.


Saat ijab Qobul telah diucapkan. Qiya tak meminta Suaminya membaca taklik nikah yang tertera pada buku nikah. Maka acara langsung ke proses penyerahan mas kawin. Maka mempelai perempuan pun harus dihadirkan. Qiya pun hadir di ruang ijab qobul tersebut di dampingi Cita. Dan juga Sepupunya. Tiba di sisi Gede ragu-ragu putri Bram itu menerima tangan dari Gede. Bahkan ketika ia diminta untuk menahan posisi hidungnya yang menempel di punggung tangan Gede karena fotografer akan mengambil gambar momen indah tersebut. Tangan Qiya justru gemetar. Gede mencoba menahan tangan istrinya yang gemetar agar tak terlihat orang namun para saksi dan fotografer juga hadirin yang hadir di ruangan itu tertawa melihat tangan putri Ayra itu gemetaran.


Bahkan Gede yang gemas ketika akan memakaikan cincin mas kawin ke tanah Qiya. Tangan istrinya itu terus saja gemetar. Kalau bahasa jawanya 'ngewel', sangking gemasnya Gede karena tak berhasil beberapa kali memasukan cincin itu ke jari lentik Qiya. Ia pun reflek memukul pelan ujung jari tangan Qiya agar berhenti gemetar. Sontak hal itu mengundang gelak tawa para tamu undangan.


Bajak saksi yang berasal dari pihak Qiya ikut mengomentari kejadian unik nan langkah itu. Pak Ahmad Anwar alias Mukidi cepat mengomentari sambil tertawa terbahak-bahak.


"Wah... Belum, belum sudah KDRT ini... Piye Iki... Wes angel angel..." Ucap Pak Anwar yang paham sekali ada kegugupan dari sepasang pengantin baru itu.


Pengantin Lelaki juga cukup tegang dari tadi baru bisa tersenyum dan sedikit tertawa karena digoda pak Ahmad Anwar. Bram dan Ayra pun ikut tersenyum karena tingkah anak dan menantunya itu. Ayra pun maklum, dua orang yang belum pernah berhubungan dengan yang namanya pacaran. Bahkan bersentuhan pun belum pernah. Maka wajar jika saat baru Sah, rasa malu-malu kucing, rasa gemetar dan bingung cara mengatasi gugup yang hadir membuat gerakan reflek dari Gede. Qiya pun tampak tersipu malu.


"Dipegang pergelangan tangannya Le. Jangan dipukul jarinya. Ya tambah ngewel..." Seloroh Pak Ahmad Anwar lagi.

__ADS_1


Alhasil Gede pun reflek menarik pergelangan tangan Qiya dan menahannya lalu satu tangannya memasukan cinci ke ajari istrinya.


"Nah... ngunu... Jan... gitu aja minta diajarin. Apalagi yang lain." Ucap Furqon sambil mengusap punggung Gede dari belakang.


Pakde Qiya turut bahagia. Lelaki yang menikahi keponakannya ternyata lelaki yang baik.


Saat Qiya dan Gede diiring untuk duduk di atas singgasananya. Sebuah pemberitahuan dari protokol acara bahwa Keluarga Pak Subroto telah hadir ditengah-tengah acara dan akan memasuki tenda. Gede dan Qiya telah duduk tepat di depan karpet merah yang terbentang untuk menyambut pengantin yang akan naik ke panggung. Gede pun tak terlalu nervous karena Qiya mengatakan jika itu Arumi Mayang Dahayu bukan Kalila Mayang Dahayu.


Qiya pun menatap karpet merah yang ada dihadapannya. Ia menanti kakaknya yang juga sedang berbahagia. Ia tak menyangka jika ia akan berbahagia diwaktu yang sama dengan kembarannya.


Arumi yang berdiri disisi Ammar, ia menggampit lengan Ammar. Masih menanti MC menyambut mereka untuk melangkah ke karpet merah yang masih di halangi Ayra dan Bram. Ayra masih memegang teguh adat dan tradisi. Manut, ia manut konsep yang dibuatkan untuk acara hari itu. Arumi setengah berbisik ke Ammar. Karena saat ini hatinya masih kesal karena pagi tadi di curangi oleh Ammar yang mengaitkan bajunya di pin kasur. Jika tidak, maka ialah yang menjadi pemenang kompetisi pagi tadi.


"Katakan kenapa kamu masih saja memperlakukan aku dengan baik?" Tanya Arumi.


Ayra dan Bram tersenyum melihat Ammar sedikit mengarahkan telinganya ke arah Arumi. Obrolan biasa bagi sepasang pengantin baru di moment seperti itu bagi Ayra dan Bram. Sepasang suami istri itu tak tahu jika anak dan menantunya masih terlibat perang dingin.


"Karena Guru ku pernah dawuh,bisa jadi watak atau sikap istri yang tak di sukai justru membawa suami pada satu kebaikan."Ucap Ammar.


Saat MC meminta Ammar dan rombongan memasuki tenda pernikahan yang di dahului Bram dan Ayra. Ammar memeluk pinggang Arumi erat.


"Menangislah jika ingin menangis. Pundak ini akan selalu ada untuk mu Ar..."

__ADS_1


__ADS_2