Pesona The Twins

Pesona The Twins
151 Semua karena Cinta


__ADS_3

(halo Readers jangan lupa votenya buat The Twins ya. Terimakasih. )


"Mas..."Ucap Qiya saat menatap pesan yang dikirim cita di ponselnya.


Gede sedang mengemasi beberapa barang. Hari ini ia mengambil cuti. Karena Qiya sudah berhasil mendapatkan surat internship. Gede pun membaca tautan pesan yang dikirim sahabat cita.


"Innalilahi... " Gede cukup kaget.


Ia membaca berita bahwa harta-harta Pak Rendra selama menjabat di sita. Karena ketika beliau menjabat menjadi wakil rakyat, ada beberapa kasus cukup besar yang disana Pak Rendra merupakan salah satu dari beberapa anggota yang terlibat.


Hilman masih berada dirumah sakit. Lelaki itu masih menjalani perawatan untuk pemeriksaan. Gede pun berusaha menelpon Ibunya. Ketika panggilan tersebut berhasil tersambung, Gede pun meminta izin pada ibunya.


"Boleh Gede bantu Hilman Bu. Ini di beberapa pesan, sepertinya Ibu Hilman, kesulitan biaya pemulihan Hilman." ucap Gede.


"Silahkan Nak. Bagaimanapun, Hilman adalah saudara mu. Dia juga tak bersalah. Jangan libatkan mereka yang tak bersalah menerima akibat nya karena kesalahan orang tua nya di masa lalu." Ucap ibu Ratih.


Gede pun merasa nyaman setelah menelpon ibunya. Ia tak mau, niat hati membantu Hilman justru ibunya tak ridho. Ternyata ibunya sama dengan dirinya. Kondisi keuangan yang sedang terpuruk membuat Hilman yang masih harus di rawat dirumah sakit kesulitan biaya yang tidak sedikit.


"Bicara dulu mas. Coba lihat dulu kondisi Hilman. Bicara sama Bu Ratih. Khawatir nanti menyinggung perasaan beliau. Kadang kita mau bantu tapi yang di bantu merasa kurang berkenan." Ucap Qiya mengingatkan.


"Baiklah. Nanti sekalian kita ke Obgyn ya." Ucap Gede seraya mengusap perut sang istri.


"Jangan sering-sering di usap. Geli..." Qiya yang menyunggingkan senyumnya.


Janin di dalam perutnya memang sudah cukup aktif. Ia akan merespon setiap usapan pada bagian perutnya.


"Dek, besok mau lahiran dimana?" Tanya Gede mengingat sang istri tiga bulan lagi di prediksi dokter Obgyn akan melahirkan.


"Ga tahu, pengennya dirumah Mama." Ucap Qiya pelan.


"Tapi kalau Kak Arumi juga melahirkan disana? apa tidak bareng-bareng nantinya. Kasihan Mama."Kata Gede yang sudah menurunkan koper yang berisi pakaiannya.


Hari ini mereka akan pulang ke Jakarta. Esok hari kelahiran Ayra. Ketiga anak dan menantu ingin memberikan kejutan di hari tersebut. Ibrahim lebih dulu sudah tiba di kediaman Ayra. Arumi dan Ammar sudah memesan tumpeng untuk Ibunya di hari esok. Saat sore hari, Qiya dan Gede sudah tiba di kediaman Bram.


Tampak Arumi dan Ammar Serdang bermain bersama buah hati Ibrahim dan Nur.


"Ih... Gemes. Sam... tambah gembul aja ini pipi." Celoteh Qiya yang gemes melihat putra Nur dan Ibrahim yang diberikan nama Abrisam Mannaf.


"Mana Nur dan Ibrahim?" tanya Qiya.


"Tadi lagi keluar sebentar. Nyari yang buat besok." Ucap Arumi.


"Kenapa tidak di panggil Abri saja.. " protes Gede.


"Terus nanti anak kalian kasih nama dokter, anak ku polisi?" Ucap Ammar yang membuat seisi ruangan tersebut tertawa.


Qiya memeluk Arumi dan tampak mereka bercakap-cakap di ruang depan. Sedangkan Gede pun berbicara bersama Ammar. di sofa seberang tempat istri mereka duduk sambil menggoda Sam yang memiliki bola mata mirip Ibrahim dan hidung mirip Nur.


"Sudah dengar kabar dari Hilman?" Ucap Ammar.


"Sudah Kak. Rencana lusa aku akan menemui Bu Ratih. Karena mau lewat telpon kurang sopan. Sekalian membesuk Hilman." Ucap Gede.

__ADS_1


"Kirim nomor rekening mu. Aku ingin bantu Hilman. Ada rasa bersalah juga aku, saat tak jadi menolongnya kala itu. Tapi manusia, hatinya cepat sekali berubah." Ucap Ammar.


"Tidak apa-apa Kak. Kebetulan saya kemarin sempat ikut investasi. Dan saya bisa bantu dari uang itu." ucap Gede.


Ammar menepuk pundak adik iparnya.


"Masih lama cutinya?" Tanya Ammar.


"Masih, aku ambil satu bulan. Aku juga rencana setelah Dek Qiya melahirkan, akan melanjutkan pendidikan. Rencana mau ambil spesialis." Ucap Gede.


"Setuju. Kemarin Papa sempat berbicara dengan aku dan Ibrahim. Papa kan sudah lama itu punya saham di beberapa rumah sakit. Nah ada satu rumah sakit yang sepertinya manejemen nya tak bagus. Rencana papa sebagai pemilik saham paling banyak. Papa ingin kamu disana. Tapi aku yang melarang. Karena kondisi Qiya lagi hamil besar." Ucap Ammar.


Gede pun hanya diam. Dia hanya tak berpikir kesana. Tetapi jika itu permintaan Bram. Maka ia tak berani menolaknya.


"Jangan berpikir sungkan. Bantu aku adik ipar. Jika aku diminta mengurus rumah sakit . Otomatis yang kupikirkan bagaiamana menghasilkan uang sebanyak-banyaknya. Karena aku sarjana pertambangan. Tapi kamu, kamu bidang kesehatan. Sesuatu itu jika di pegang ahlinya akan baik, insyaallah." Ucap Ammar.


Gede mengangguk kecil.


Setelah mereka beristirahat. Saat hari mulai laru malam. Tampak Arumi yang sedang mencari buah di dapur. Tiba-tiba ia dipeluk dari belakang. Namun niat hati sang suami ingin mengangetkan tak berhasil.


"Apa sih mas... Ga kaget. Aku masih lapar..." ucap nya.


"Kenapa tidak membangun mas." ucap Ammar protes.


Ia terjaga karena merasa yang ia peluk tak ada disisi tempat tidur. Sehingga lelaki itu terjaga.


"Aku hanya ingin makan buah. Lalu harus menganggu suami ku ini yang sedang mendengkur?" Ucap Arumi yang juga sebenarnya terjaga kala mendengar suara dengkuran Ammar.


Ammar pun mengusap tengkuknya pelan. Ia mengambil gelas dan menuangkan air kedalamnya. Ia berikan pada sang istri.


"Ndak boleh di cedal-cedalkan. Harus jelas ngomongnya. Nanti anaknya begitu ngomongin." Ucap Ammar sambil makan apel yang ada dihadapannya.


"Sini aku buatkan." Ucap Arumi saat Ammar berjalan ke arah kompor dan memegang toples Kopi.


Ammar pun melarangnya.


"Biar mas saja. Kamu katanya tadi lapar." Ucap Ammar.


Arumi tersenyum, ia pun duduk dan menikmati buah pir yang semenjak hamil menjadi makanan favorit dirinya.


"Mas. Kenapa sama Gede kayaknya akrab sekali. Padahal kalian jarang ketemu." Ucap Arumi yang dari semalam melihat dan bisa mendengar pembicaraan sang suami dengan mantan pacarnya.


"Karena kamu sudah tidak melirik dia seperti dulu. Karena dia adik ipar ku. Jika aku baik, akrab, maka ia akan sungkan untuk menyakiti adik ku. Qiya manusia biasa, ia bukan orang sempurna. Kadang rasa sungkan karena diperlakukan baik oleh keluarga seseorang membuat kita sungkan melakukan tindakan menyakitkan atau melukai orang tersebut." Ucap Ammar yang sudah duduk di sisi Arumi.


"Aduh.... makin cinta sama Mas Ammar.... " Goda Arumi pada sang suami.


"Kan kalau di ajak ngobrol serius becanda. Nanti kalau mas yang becanda ini hidung kembang kempis..." Protes Ammar sambil menoleh pipi sang istri. Lelaki itu tampak menikmati kopinya.


"Terimakasih mau berjuang untuk cinta mu mas." ucap Arumi yang bersandar pada lengan suaminya.


"Terimakasih sudah mau menaruh aku dihatimu. Terimakasih karena mau bermetamorfosis menjadi istri yang begitu pandai membahagiakan suami mu ini...." Ucap Ammar seraya menyenggol pipi Arumi dengan pipinya.

__ADS_1


"Ih... Malu...." Ucap Arumi pelan. Ia paham maksud ucapan sang suami.


Karena jika dulu harus berbulan-bulan menikmati sofa. Maka saat ini, Arumi sendiri yang selalu menawarkan diri untuk sang suami. Bukan karena hormon ibu hamil. Tetapi ia hanya ingin ada ketenangan sang suami ketika di luaran sana. Suaminya dikelilingi perempuan yang tidak hanya cantik dan seksi. Tapi mungkin ada yang dengan sengaja menggoda sang suami.


Hal itu Ammar rasakan sendiri, ia tak pernah tergiur apalagi terpancing hanya karena pakaian seksi. Kebutuhan biologis yang tercukupi membuat ia tak sedikit pun tergoda. Paham juga arti selingkuh itu pasti akan membuat ia sendiri susah dan sang istri tersakiti, sedangkan menyakiti istri akan membuat rezeki tak mengalir deras. Maka ia juga selalu memperlakukan Arumi dengan baik dan selalu berusaha membahagiakan sang istri.


"Ya sudah, aku mau berbaring lagi Mas..." Ucap Arumi.


"Nanti mas menyusul. Mas mau merokok dulu ya." Ucap Ammar.


"Jangan lama-lama ya mas. Dingin..." Cicit Arumi seraya mengerlingkan matanya.


Ammar tersenyum seraya membuat kode oke dengan tangannya. Karena kedua bibirnya sudah terlanjur ia letakkan sebatang rokok. Saat baru dua hisapan ia menikmati rokok tersebut. Ammar dikagetkan saat satu kepala bersandar di punggungnya.


"Hiks..." Suara tangis perempuan yang dikenal oleh Ammar.


Ammar mematikan rokok tersebut.


"Qiya... Kenapa? Ada apa?" Ucap Ammar.


Qiya meraih tangan Ammar. Ia m3nciuum punggung tangan suami Arumi.


"Jadi... ini alasan kenapa kak Arumi di awal pernikahan tiba-tiba menggunakan Niqab? jadi ini alasan airmata dihari pernikahan Kakak? Apakah saat itu aku adalah alasan Kakak bertahan. Seperti apakah rasanya sakit menahan rasa cinta disaat pasangan kakak mencintai orang lain?" Ucap Qiya pada sang Kakak.


Ammar terdiam. Ia tak menyangka jika sang adik ada di dapur saat ia dan istrinya bernostalgia masa-masa awal mereka menikah. Arumi bahkan menggoda Ammar karena sering frustasi kala itu. Belum lagi Ammar. Ia akan menirukan gaya jutek dan marahnya Arumi kala itu. Tak disangka candaan mereka malah didengar sang adik.


Ammar mengusap air mata di pipi Qiya.


"Tidak Qiy... karena Kakak memang mencintai Arumi. Maka Kakak berjuang untuk cinta kakak. Bukan karena kamu, atau Gede." Ucap Ammar.


Qiya memeluk Ammar. Ia mencubit dada kakaknya pelan.


"Terserah, tapi aku mengucapkan terimakasih untuk semua cinta kakak pada ku. Semoga kakak bahagia bersama kak Arumi. Dan tak ada airmata di pernikahan kalian. Maaf aku tadi tak sengaja mendengar pembicaraan kalian. Sungguh beruntung Kak Arumi dicintai suaminya begitu besar." ucap Qiya.


Ammar melerai pelukannya.


"Gede tidak mencintai kamu?" ucap Ammar.


Qiya memencet hidung mancung sang kakak.


"Kakak pikir aku bisa sebahagia ini jika tidak di cintai dengan baik oleh Mas Gede." Ucap Qiya cepat.


"Alhamdulilah jika Cinta nya Lebih Gede dari namanya. Mas mohon cukup kamu yang tahu." Ucap Ammar. Namun Qiya memegang tangan Ammar.


"Apakah pernikahan kalian sah kak? Bukankah dia Mayang?" Tanya Qiya khawatir.


Satu sentilan mendarat di dahi adiknya.


"Kamu pikir Mama mendidik ku sembarangan walau aku tidak di pondok pesantren? Aku tahu hukumnya nikah. Aku menikahi Arumi bukan Mayang. Dan dulu mereka itu sempat bertukar posisi. Jadi intinya masalalu Gede itu Arumi. Dan Aku menikahi Arumi. Dan sekarang, Arumi mencintai aku. Aku mencintai dia. Seolah-olah kamu Bu dokter. Sudah kakak mau ke atas. Dan jangan sering-sering menangis tak baik untuk dedek bayinya." Ucap Ammar.


Qiya menyunggingkan senyumnya. Selepas Ammar berlalu. Qiya duduk diatas tempat duduk sang Kakak.

__ADS_1


"Sungguh kamu betul-betul mempesona kak. Aku yang harus berjuang dengan mendengarkan Mas Gede dulu mengigau saja, rasanya betul-betul masyaallah. Apalagi kakak yang betul-betul berjuang dengan rasa yang masih ada. Sungguh takdir tidak ada yang tahu." Batin Qiya yang tak menyangka bahwa perempuan yang menganggu tidur suaminya di awal-awal pernikahan adalah kakak iparnya sendiri.


Alih-alih ia takut atau khawatir. Justru dirinya merasa sedih, ia bisa merasakan perjuangan sang kakak di awal pernikahan. Ia baru bisa menarik benang merah tepat di hari pernikahan Ammar. Kenapa tiba-tiba kakak iparnya memakai Niqab. Airmata dan raut wajah tegang di hari pernikahan itu. Malam ini semua terjawab. Saat itu Qiya ingin bertanya. Tetapi ia menahannya, karena ia paham ada satu pertanyaan yang kadang mampu di jawab oleh waktu. Dan hari ini, waktu dimana ia diberikan jawaban atas pertanyaan nya pada saat itu.


__ADS_2