Pesona The Twins

Pesona The Twins
89 Hati Ammar dan Arumi


__ADS_3

(Aku nulis ini sambil denger lagu T3rluka K@rena Cinta ini, asli mewek sampe suami ga berani ganggu takut feelnya dan moodnya hilang. Maafkan aku ya Readers. ini buat munculin sisi pesona tokoh protagonisnya. Kalian boleh berhenti baca kalau kecewa dan ga suka dengan alur cerita yang aku buat.)


Sesaat sebelum acara Ijab Qabul. Arumi yang telah tampil cantik dengan sebuah gaun pernikahan yang disiapkan oleh Melisa. Dengan sebuah mahkota di atas kepalanya. Ia tampil sempurna di hari itu. Ia betul-betul menjadi ratu di hari pengantinnya. Bisa dipastikan jika mata yang memandang Arumi hari itu akan mengatakan ia cantik.


Jika saja ada Barbie berjilbab maka mungkin ia adalah salah satunya. Kiasan film kartun yang banyak disukai banyak anak perempuan karena cantik dan imutnya film kartun itu. Maka Arumi tampil nyaris seperti Barbie berhijab. Bulu mata lentik, hiasan yang tak terlalu tebal namun mampu mengeluarkan rona kecantikan sedari lahir, mampu menyihir mempelai lelaki ketika memandang dirinya dan aurat yang tertutup.


Arumi yang tiba-tiba merasa harus ke toilet. Cukup sulit bagi seorang pengantin yang keb3let untuk ketoilet ketika sudah mengenakan gaun. Para penata rias dan beberapa pengiring pengantin pun membantu Arumi ke toilet. Saat telah berada di toilet, salah satu penata rias menyarankan agar Arumi menerima sarannya dari pertama untuk mengenakan diaper.


Akhirnya Arumi menerima hal itu, akan tetapi putri Subroto itu sedikit terburu-buru kala ia selesai mengenakan diaper itu. Beberapa orang yang telah keluar dari kamarnya, mereka tidak tahu jika kamar Arumi akan mengunci otomatis dan akan terbuka hanya dari dalam ketika pintu kamar itu tertutup. Hal itu dilakukan Subroto demi keamanan di kediamannya.


Arumi yang terburu-buru tatkala beberapa orang memanggil namanya, ia terbentur siku meja riasnya.


"Duuukk!"


"Awwwwhhhhhh...."


Saat di lantai bawah ijab qobul sedang di ucapkan oleh Ammar dan dinyatakan sah oleh para saksi, pengantin wanita justru jatuh tersungkur. Dahinya berdarah walau tak banyak darah yang keluar, namun benturan itu mampu membuat kepalanya terasa sakit dan nyeri.


Dalam keadaan tengkurap di lantai. Ia justru mengingat jelas, bayangan masalalu dirinya. Dirinya mengingat sebuah kisah, sebuah wajah, sesosok lelaki yang tampan dan begitu menyayangi dirinya. Semua memori masa lalunya telah kembali.Bayangan demi bayangan kebersamaan dengan sang mantan tunangan terlihat jelas.


"Gege....." Ucap Arumi.


Ia menangisi tiap memori yang muncul dalam ingatannya.


"Aku sangat mencintai mu Mayang."


"Maukah kamu menikah dengan ku wahai bidadari ku?" Ucap lelaki yang tampak memegang kotak cincin yang dalam keadaan terbuka. Terlihat mereka sedang berada di tepi pantai Kuta.

__ADS_1


"Hhhhh..... siapa lelaki itu. Gege... Gede." Ucap Arumi yang berlinang airmata. Ia bergegas mencari sesuatu di meja riasnya. Satu persatu laci di meja itu ia buka dan ia bongkar. Tak menemukan apa yang ia cari, Istri Ammar itu segera berlari ke arah lemari. Satu laci ia buka. Ia menemukan satu kotak dan tangannya gemetar memegang kotak itu. Tubuhnya seolah tak ada tenaga.


Ia terduduk di atas lantai dengan isak tangis dan memeluk kotak itu. ia tahu isi kotak itu adalah sebuah kalung dengan bentuk Love. Arumi menangis terisak, berkali-kali ia memeluk kotak itu. Sedangkan di luar terdengar suara Ammar mengetuk pintu dan memanggil namanya.


"Ar.... Arumi, ini aku." Suara Ammar yang berada di luar kamar.


Arumi menyapu pelan air mata yang membasahi pipinya. Betapa dirinya begitu merasa tersakiti akan apa yang ditakdirkan untuk dirinya. Ketika kalung bentuk love tersebut ia buka, ada foto dirinya dan Gede. My Heart. Tulisan juga foto dirinya yang berada di sisi lelaki lain saat dirinya justru sedang dalam menit menuju janji sakral, janji sehidup semati bersama Arumi. Putri Subroto tersebut tidak tahu jika saat ini ia telah sah menjadi istri dari Ammar.


Ammar yang berada di balik kamar mulai gelisah, ia segera meminta asisten rumah tangga di kediaman Arumi untuk membuka pintu bagaiamana caranya. Tak lama muncul seorang lelaki ber jas hitam membawa sebuah kartu untuk membuka kunci pintu kamar itu tersebut.


"Buka cepat!" Ucap Ammar dengan nada cemas.


Saat pintu berhasil di buka, Ammar melarang orang-orang ikut masuk. Ia khawatir istrinya dalam keadaan tak berhijab.


"Tidak ada yang boleh masuk kedalam!" Ucap Ammar.


"Arumi, ada apa? Katakanlah. Kita sudah sah menjadi suami istri. Berbagilah padaku ..."Ucap Ammar pelan. Sambil satu tangan ingin ia raih pundak Arumi.


"Jangan mendekat!" Bentak Arumi.


Suara isak tangis Arumi menyayat hati suami yang baru beberapa menit itu, bahu yang berguncang seakan membuat hati Ammar makin tersakiti. Ia tak tahu apa yang menyakiti istrinya. Tapi melihat kondisi dan mendengar tangis Arumi membuat Ammar kembali mencoba melangkah.


"Aku bilang jangan mendekat!"


Ammar terdiam, ia mematung di tempat yang tak jauh dari Arumi. Ammar melihat satu kalung yang tergeletak di lantai. Ia duduk berjongkok. Ia raih kalung itu, saat ia buka kalung yang tertutup tadi. Hatinya seketika merasakan sakit, saki, sakit sekali hati Ammar,. Rasa cemburu, rasa panas, rasa sakit hati, membuat ia ingin meluapkan emosinya. Ia hanya mampu beristighfar sambil menggenggam erat kalung tersebut dan tetap terbuka. Hati suami mana yang tak cemburu.


Sekali pun belum pernah memeluk istrinya dengan begitu mesra, begitu dekat dengan kondisi cinta bukan karena accident. Tapi di foto itu terlihat Arumi tak mengenakan hijab, ia begitu mesra di sisi lelaki yang tersenyum lebar, Pipi bertemu pipi. Tampan dan cantik membuat mereka betul-betul menjadi pasangan yang nyaris sempurna. Namun bukan itu yang membuat Ammar ikut terduduk di lantai dan bersandar di ujung tempat tidur yang telah di hiasi bunga melati. Tangannya masih menggenggam kalung tersebut. Netranya masih menatap Arumi yang berada di depannya.

__ADS_1


"Apakah kamu telah mengingat masalalu mu? Apa hubungan mu dengan lelaki itu?" Ucap Ammar dengan suara parau.


Andai ia seorang perempuan, ia tentu akan menangis dan menunjukkan emosi dan perasaannya saat itu. Ia lelaki, yang terbiasa di didik untuk menahan emosi dan berusaha untuk tak menjatuhkan air mata untuk urusan dunia.


"Hik....Hiks,... ceraikan aku! Aku tidak pantas untuk kamu Mr. Ammar. Aku bukan gadis yang baik.  Dan... Dan... Dihatiku ada lelaki lain, aku mencintai dia. aku mencintai tunangan ku Gede Ardhana."


Arumi merasa rendah diri. Ia tahu bagaimana suaminya begitu menjaga dirinya. Jangankan memeluk atau duduk berdekatan juga berdua, memandangnya saja, Ammar nyaris tak pernah. Tapi tiga tahun pura-pura menjadi Mayang dan Cinta yang hadir untuk Gede adalah cinta Arumi untuk Gede bukan Mayang. Walau sang kekasih tak tahu. Hingga ia harus pergi dimana ia bertengkar hebat dengan Mayang kala ia diberi tahu semuanya. Ia sebenarnya dimanfaatkan oleh Arumi dan mereka juga ternyata kakak dan adik. Dia adalah putri yang terbuang, anak yang terbuang. Malam di hari pernikahannya. Arumi pergi dari rumah. Sedangkan Mayang yang sedang menjalankan misi tak bisa dihubungi.


Karena saat itu, Mayang menjadi Arumi. Arumi menjadi Mayang.


Gertak rahang Ammar terdengar. Hati lelaki mana yang tak sakit, tepat di hari pernikahannya, ia begitu mencintai perempuan itu. Tapi hari itu justru dari bibir yang ingin sekali ia rasakan s3nsasinya, justru mengucapkan bahwa hatinya mencintai lelaki lain, semakin perih dan tersayat hati Ammar adalah, lelaki itu calon adik iparnya. Dimana lima hari lagi akan dilangsungkan pernikahan Qiya dan Gede dia cara ngunduh mantu.


Ammar menundukkan kepalanya. ia menitikkan air matanya. Ia biarkan air mata itu menjatuhi lantai kamar, kamar pengantin yang harusnya mendengar suara manja atau canda sang pengantin baru dan keromantisan pengantin di malam pertama mereka,  justru hari itu mejadi saksi air mata pengantin, dua pengantin sedang menangisi cinta dihati mereka. Sebuah lagu yang mungkin bisa mewakil dua hati itu adalah Terluka karena Cinta.


"Kamu bukan lagi gadis Arumi, Kamu istri ku. Istri Muhammad Ammar Shidqi. Aku tak akan menceraikan kamu! Kamu pikir pernikahan adalah sesuatu yang bisa di batalkan sesuka hati! Hanya karena sesuatu terjadi dengan tidak diharapkan! Janji ku bukan hanya pada orang tua dan saksi nikah kita, tapi juga pada malaikat. bahkan Arsy berguncang kala ku ucap Ijab Qobul!"


Arumi menata Ammar tajam. Tatapan yang seharusnya memandang suami penuh cinta, penuh kasih, penuh hormat. Karena harus meraih ridho sang suami untuk mendapatkan ridho gusti Allah. Namun Arumi yang terbiasa bekerja di intelejen, ia yang bertukar posisi dengan Mayang, sudah pernah merasa kecewa kala Mayang meminta ia menjadi Mayang hampir beberapa tahun kala ia merasa tak suka dengan Gede.


Lelaki yang pernah menyelamatkan Mayang itu berusaha mendekati dirinya. Karena saat itu ia sedang menjalani misi tentang obat-obat ilegal yang diselundupkan dari luar negeri. saat misi selesai, Mayang pusing karena Gede betul-betul menyukai dirinya. Maka Arumi yang menggantikannya. Mayang yang memiliki watak keras sama seperti Pak Subroto, maka Arumi yang merasa tak tega dengan temannya. Ia saat itu bum tahu jika mereka saudara kandung.


Ammar keluar dari kamar. Ia kembali lagi dengan sebuah Niqab.


"Mulai hari ini. Pakailah ini. Kita harus turun. Semua orang menanti kita. Terlepas kamu mencintai aku atau tidak. Terlepas kamu mengingat masa lalu mu. Kamu telah menjadi istri ku! Setidaknya berusahalah untuk pura-pura bahagia di bawah nanti. Ku mohon Arumi. Aku tak mungkin mempermalukan kedua orang tua ku," Ucap Ammar sambil duduk dan menyerahkan benda itu.


Sosok Ayra, Qiya, Eyang Lukis dan Mbah Uti Laila melintas di ingatan Arumi. Ada perasaan tak tega menyakiti perempuan yang baru ia kenal dan begitu punya kehangatan. Bahkan Ayra segera menjenguk Ifah kala mendengar Ifah terjatuh.


"Cepatlah. Kita tak mungkin keluar sendiri-sendiri." Ucap Ammar sambil membuka gorden kamar Arumi. Ia berharap sesak di dadanya sedikit lega saat bisa menghirup udara segar.

__ADS_1


Namun saat matanya terpejam, Dadanya bergerak karena menghirup udara. Air mata lelaki itu jatuh membasahi pipinya. Ia tak ingin air mata itu jatuh ketika berada di depan. Ia hanya ingin air mata itu jatuh ketika ia seorang diri.


__ADS_2