
Tiba di kediamannya, dokter Gede yang disambut oleh Ibunya dengan cepat memeluk sang Ibu. Menikah di usia 20 tahun membuat Ibu Ratih terlihat muda dengan anaknya satu-satunya.
"Wah. Bau-baunya ada kabar bahagia." Tanya Ibu Ratih pura-pura.
Ia tahu dari Cita yang mengirim gambar ketika Qiya dan anaknya berada di parkiran. Ia bisa menyimpulkan bahwa ada kemajuan untuk hubungan putranya dengan dokter Iship itu. Tetapi kabar yang di bawa pulang dokter Gede diluar prediksi. Ia pikir, putranya akan menjalin hubungan pacaran seperti dulu dengan Mayang.
"Coba ibu tebak. Kabar apa?" Tanya Gede seraya merangkul sang ibu.
Mereka berjalan masuk kedalam rumah.
"Kamu jadian sama dokter Qiya?" Tanya Bu Ratih.
"Lebih dari itu Bu. Dia minta aku segera menemui kedua orang tuanya." Ucap dokter Gede.
Bu Ratih menutup kedua bibirnya tak percaya. Ia tak menyangka jika cinta sang anak tak bertepuk sebelah tangan. Beruntung ia cepat memberikan semangat pada putranya, jika tidak maka mungkin sang pujaan hati terlanjur jatuh hati atau menerima lamaran orang lain.
"Sungguh? Jadi kapan kita bisa menemui orang tua dokter Qiya." Tanya Bu Ratih antusias.
"Tunggu kabar dokter Qiya dulu Bu. Malam ini dia dijemput kakaknya. Nanti diberi kabar." ucap Gede.
"Ya sudah makan dulu." Ucap Bu Ratih.
"Ga selera Bu. Udah kenyang." Ucap Dokter Gede yang memang tak merasa lapar.
Rasa bahagianya membuat ia tak merasakan lapar atau lelah. Malam itu ia bahkan tak mampu memejamkan kedua matanya. Hatinya berbunga-bunga. Ia menatap layar ponselnya. Ia bahkan Screenshot layar ponsel yang berisi chat dirinya dengan Qiya. Ia menyimpan hasil screenshot tersebut ke Drive. Ia tak ingin itu hilang, itu adalah moment bersejarah bagi dirinya.
Namun seketika ia penasaran dengan nama Bramantyo Pradipta.
"Sepertinya aku tidak asing nama itu."
Kecepatan mencari informasi, dan keakuratan data informasi bisa dicari di internet hanya mengetik kata kunci yang akan kita cari. Itulah yang membuat dokter Gede mencari sosok nama yang disebut Ammar tadi.
{Search}
{Siapa Bramantyo Paradipta}
__ADS_1
Tak perlu waktu lama. Hasil pencarian dalam hitungan detik muncul. Ibu jari dokter Gede men klik bagian 'Gambar'. Dan muncul gambar lelaki yang hampir disetiap foto tersebut mengenakan jas dan terkesan rapi, dingin, tegas dan angkuh.
Dokter Gede menelan salivanya. Penasaran apakah itu yang dimaksud oleh calon kakak ipar. Dokter Gede kembali mengetik di kolom pencarian.
{Potret Gambar Keluarga Bramantyo Pradipta}
Tiba-tiba kedua mata dokter Gede tertuju pada satu gambar, ibu jarinya menyentuh gambar tersebut. Gambar Dimana gadis bernama Shidqia Nafisah itu bersama beberapa Keluarganya.
"Jadi kamu betul-betul putri pengusaha terkenal ini." Ucap Dokter Gede.
Kedua netranya melihat satu sosok yang di kagumi dan sempat pernah ia diajak berbicara oleh Niang Ayu tentang sosok perempuan itu. Dokter Gede mencoba menutup matanya. Ia mencoba mengingat dimana dan kapan serta apa yang dibahas tentang perempuan yang disana dijelaskan ibu dari gadis pujaan hatinya.
"Oh... Iya. Kalau tidak salah ini adalah salah satu mantan wakil walikota yang dikagumi Niang."
Kembali penasaran. Dokter Gede mencari informasi melalui benda tipis yang ada di genggamannya.
{Siapa istri Bramantyo Pradipta}
Kedua mata dokter Gede terbuka sempurna. Ia melihat Ayra mengenakan baju seperti seorang pejabat daerah. Dengan tanda atau ciri khas khusus di baju jika ia wakil walikota. Dan artikel tersebut ia baca sampai selesai. Ia tak salah, Ayra Khairunnisa adalah mantan walikota yang mengundurkan diri setelah dua tahun menjabat menjadi wakil walikota.
Seketika mengingat Kyai Ahmad Rohim. Dahi dokter Gede berkerut.
"Apa Kyai Rohim ini yang dibilang Kyai Imam? Gurunya beliau? Tunggu, Niang juga pernah bilang kalau tidak salah orang tua Bu Ayra ini dulu cukup akrab dengan Niang dan Dong Wayan?" Kembali dokter Gede bermonolog sendiri.
Kyai Imam adalah guru dimana tempat ia belajar tentang agama. Ia bahkan sering mengikuti majelis yang diadakan Gus Imam
Kembali penasaran sosok gadis pujaan hatinya yang menurut dirinya jauh dari kata glamor. Ia bahkan tak menyangka jika Qiya anak dari orang cukup kaya dan terpandang. Mengingat keseharian dokter itu terkesan santai, sederhana dan gaya berbicara dan berbusana sangat biasa walau tetap menunjukkan pesona kecantikannya.
Saat berselancar di kolom gambar potret keluarga Bramantyo CEO MIKEL Group. Ibu Jari Gede berhenti mengusap layar itu. Ia menatap sebuah potret. Ia klik dan sedikit ia cubit potret Gambar itu sehingga terlihat membesar.
Foto dimana acara lamaran antara Hilman dan keluarga besar. Artikel tersebut berjudul 'Putra Pimpinan partai besar meminang putri politikus Ayra Khairunnisa '. Tak nampak foto Qiya di beberapa artikel yang berjudul mirip. Hanya ada foto Hilman dan orang tuanya dan ada juga foto Ayra dan seorang lelaki yang mungkin berusia lebih tua dari Ayra.
Kedua mata dokter Gede seketika berubah menjadi merah. Gerahamnya mengeras. Ia menggenggam erat tangannya. Ingin sekali ia melempar ponsel itu atau memukul dan menghajar sosok lelaki tua itu. Namun ia cepat melemahkan genggamannya. Ia tak ingin mengikuti hawa nafsunya. Rasa bencinya cepat ia tepis. Ia meletakkan ponselnya di meja sebelah tempat tidurnya.
"Jadi Hilman itu putranya. Setidaknya didikan lelaki itu sama persis seperti dirinya. Aku tidak akan membiarkan putra mu mengukir sejarah di gadis sebaik Qiya. Walau aku mungkin tak bukan seorang santri" Ucap dokter Gede.
__ADS_1
Jika dari tadi ia ragu untuk mengirim pesan. Kali ini jari-jari tangannya begitu lincah. Ia membuka media chat Qiya. Ia mengirimkan pesan secepatnya pada Qiya.
[Dokter sudah sampai?]
.
.
.
[Dokter Qiya. Maafkan saya. Bukan maksud hati mendesak atau mengejar dokter. Namun salah seorang guru pernah berkata pada saya, niat yang baik harus disegerakan. Maka saya rasa niat saya untuk melamar dokter adalah niat yang baik. Walau belum tahu jawabannya apa sesuai yang di harapkan.]
[Saya harap, Saya bisa sesegera mungkin menemui orang tua dokter. Insyaallah apapun keputusan dan hasilnya, Saya akan menerimanya. Saya memang bukan orang yang baik atau pun kaya seperti orang tua dokter. Tapi insyaallah saya akan menjalani kewajiban saya sebagai suami sesuai apa yang Rasulullah ajarkan pada umatnya, selamat istirahat dokter. Semoga kita ditakdirkan duduk bersanding di hadapan penghulu.]
Dokter Gede menghela napasnya pelan. Ia pun kembali meletakkan ponselnya ke atas meja. Ia mengatur napasnya yang turun naik. Ia beristighfar berkali-kali.
"Astaghfirullah.... Astaghfirullah.... Semoga aku bukan termasuk orang pendendam. Aku tidak ada niat untuk balas dendam. Aku hanya menyukai dokter Qiya. Dia gadis yang baik,aku akan berusaha menjadi suami yang baik jika berjodoh dengannya." Ucap Dokter Gede yang memiringkan tubuhnya ke kanan.
Ia merasa hatinya sangat panas. Tak ada airmata untuk lelaki itu. Ia sudah lupa kapan kali terakhir ia menitikkan air mata karena dihina nama di akte tak ada nama ayahnya. Lelaki yang tak pernah mengakui dirinya darah dagingnya. Lelaki yang meninggalkan ibunya dan menikah lagi dengan perempuan yang bisa membuat dirinya lebih sukses. Ia memaksa memejam kedua matanya. Hampir dua puluh menit Dokter Gede menutup matanya dan ia berhasil terlelap.
Ibu Ratih yang lupa mengatakan jika besok pagi ia akan pulang.Ia ingin memberikan kabar bahagia pada Niang Ayu. Saat ia mengetuk dan tak ada jawaban. Ia membuka pintu kamar yang tak dikunci. Melihat sebuah ponsel yang terlihat menyala, Bu Ratih pun berniat mematikan layar ponsel yang menyala dan menampilkan iklan pop up tersebut.
Namu ketika ia menyentuh tombol X. Sebuah gambar perempuan dan lelaki paruh baya muncul. Lelaki yang meninggalkan luka amat dalam di hati Bu Ratih. Ia bahkan bersumpah tak ingin bertemu lelaki itu lagi seumur hidupnya. Dan kini ia melihat foto yang ia sendiri sudah lama sekali tak memiliki dan memandang lelaki itu.
Lelaki yang membuat putranya harus memiliki nama anak ibu di akte bukan anak namanya sebagai ayah biologisnya. Jelas betul bahwa mereka menikah sah secara agama namun tak ada bukti secara fisik dan catatan dari pemerintah karena mereka menikah tidak sepengatahuan pemerintah membuat Bu Ratih terbuang juga Gede ketika sang ibu berjuang untuk membubuhkan nama lelaki itu untuk bin anaknya.
Ia bahkan sering sekali di bilang anak haram oleh tetangga karena gosip yang beredar di lingkungan Niang Ayu bahwa ia adalah anak hasil diluar nikah. Padahal lelaki yang menghamili ibunya dulu menikahi sang ibu walau hanya secara agama tanpa tercatat di pemerintahan.
"Mas Rendra...." Ucap Bu Ratih lirih.
Judul di artikel itu membuat kedua mata Bu Ratih terbuka lebar. Kini giliran ibu dokter Gede berselancar. Jika selama ini ia tak mau tahu. Kali ini ia justru ingin tahu kenapa ada foto lelaki itu di sisi mantan wakil walikota salah satu kota terbersih di provinsi sebelah.
"Jadi dia pernah hampir jadi calon mertua dokter Qiya.... Tapi kenapa akhirnya batal menikah." Kini giliran sang ibu yang penasaran.
Hampir beberapa puluh menit ia duduk di sisi dokter Gede dan berselancar menggunakan ponsel sang anak untuk mencari informasi tentang Lelaki yang pernah meninggalkan luka dalam hidupnya. Dan juga tentang keluarga Qiya.
__ADS_1
"Apa kali ini kamu akan kembali di tolak nak... " Ucap Bu Ratih setelah puas berselancar di jejaring internet. Ia mengusap lembut kepala dokter Gede.