
Disebuah kamar, Ammar menemani Gede. Dokter itu, sudah berganti baju. Ia mengenakan baju pasien dari rumah sakit tersebut. Ammar duduk di sisi Gede. Dua lelaki itu terlihat kaku. Sedangkan Arumi, ia tak berani masuk. Ia duduk di koridor rumah sakit.
"Ehm.... " Ammar berusaha untuk memecah keheningan.
Gede menoleh ke arah Ammar. Suami Qiya itu tak menyangka jika Ammar sudah tahu semuanya. Karena selama menikah, Ammar dan Arumi tak pernah terlihat punya masalah. Ia masih merasa kesal pada Arumi. Luka lama seperti terbuka lagi.
"Terimakasih sudah menyelamatkan istri ku. Arumi sudah menceritakannya semua. Hari ini, aku sebagai suami nya. Aku mohon maafkan kesalahan Arumi di masa lalu padamu." Ucap Ammar dengan menatap Gede.
Nafas Gede seakan terhenti. Ia tak menyangka jika Ammar tahu semuanya. Ia tatap wajah Ammar. Lelaki pertama yang mendukung dirinya untuk mendapatkan sang pujaan hati.
"Maksud Kak Ammar? " tanya Gede kembali untuk memastikan yang di bicarakan sang kakak.
"Maksudku, Kamu pasti paham. Tetapi kamu harus tahu, semua adalah kejadian dimana kita tak mungkin menyalahkan seseorang yang sudah tiada di duni ini. Terlepas dari masa lalu mu dan Arumi. Kini kami saling mencintai. Dan ku harap kamu pun begitu dengan Qiya. " Ucap Ammar.
Gede membenarkan posisinya. Ia berusaha duduk, Ammar membantunya.
"Sejak kapan kakak tahu jika Arumi adalah Mayang? " Tanya Gede khawatir.
"Sejak aku menjadi suaminya. Mohon maafkan istri ku. Aku bisa merasakan apa yang kamu rasakan jika di posisi mu dulu." Ucap Ammar.
__ADS_1
"Tapi kakak terlihat baik-baik saja selama ini." Ucap Gede.
"Aku akui. Aku menikahi Istriku karena kecantikannya. Aku di didik untuk bertangungjawab atas setiap keputusanku. Aku menikahi Arumi, maka aku siap menerima segala kelebihan dan kekurangannya. Dan satu hal, dan tidak lucu saat nanti di hari akhir kamu menuntut Kakak ipar mu karena di dunia ini, kamu merasa disakiti oleh nya. Kamu tega membiarkan aku bersedih karena istriku mendapatkan balasannya di hari akhir nanti?" Ucap Ammar seraya memukul pelan lengan Gede.
Lelaki yang sudah pernah trauma itu menatap Ammar, Ia begitu kagum pada sosok kakak iparnya. Jika orang melihat penampilan Ammar. Mungkin orang akan menganggap ia lelaki yang sombong. Namun dalam menjalani kehidupannya, lelaki itu begitu membawa ilmu dalam hidupnya.
"Dulu, aku dan Arumi sudah sepakat untuk tidak menceritakan semua ini, pada siapapun. Tetapi karena kamu sudah tahu semuanya, Istriku dari tadi menangis tak berhenti-henti. Kamu tahu, yang ia khawatirkan terjadi. Kamu masih merasa sakit hati padanya. Dan itu yang membuat nya menangis. Aku sempat berpikir tadi ketika ia menelepon ku. Ku pikir ia masih punya rasa untuk mu. Namun ternyata tangisnya, tangis yang membuat aku bangga memiliki istri Arumi." Ucap Ammar seraya menoleh ke arah pintu.
Gede terdiam, ia merenung kembali. Ia mengingat masa-masa dulu saat bersama Arumi. Namun ia justru menitikkan air mata. Rasa sesal di hatinya, rasa kesal pada Arumi justru berganti pada rasa sukur. Rasa sakit hati berganti dengan rasa terimakasih. Ammar menautkan alisnya. Ia tak tahu apa yang membuat adiknya menangis.
"Apa yang membuat mu menangis? " Tanya Ammar.
Gede menghapus air matanya dengan ujung ibu jari dan telunjuknya.
Ia sadar, sejak kejadian itu. Gede menjadi sering hadir di majelis-majelis yang diadakan Gus Imam. Ia juga tak menjalankan syariat agama lebih baik sejak kejadian itu. Dan yang paling Gede syukuri, ia bertemu Qiya. Bagi putra Ratih itu. Ia merasa bahagia menikah dengan Qiya. Apalagi pesona istrinya itu ketika di awal-awal menikah. Istri mana yang bisa baik-baik saja, saat sang suami menyebut nama perempuan lain di setiap tidurnya. Hanya istri yang punya pesona yang mampu tenang tanpa riak emosi menghadapi keadaan itu.
Jodoh, rezeki dan maut. Hanya Allah yang tahu. Gede yang begitu mencintai Mayang alias Arumi, begitu pun sebaliknya. Ternyata mereka tak bisa bersama karena bukan jodoh. Karena konsepnya, baik menurut manusia belum tentu baik bagi Allah. Bayangkan bagaimana rumah tangga Gede dan Arumi jika mereka saat itu tetap menikah. Karakter yang keras, tanpa di landasi ilmu agama. Tentu kembali membuat Gede harus menerima pil kesabaran karena dimana akan ditemukan ketenangan dalam rumah tangga jika salah satu pasangan punya karakter keras jika yang satunya tak sabar. Tetapi apakah Gede akan bersabar dengan tanpa Ilmu.
Maka Allah lebih tahu yang terbaik bagi Gede dan Arumi. Termasuk perihal jodoh. Sehingga di awal pernikahan, Arumi mencoba menentang takdir bahwa jodohnya Ammar. Namun Arumi belum tahu, jika Ammar lah yang terbaik baginya, bukan Gede. Begitupun Gede, Arumi pergi di hari pernikahannya, ada Allah yang menggerakkan hatinya. Karena Allah sedang menyiapkan yang terbaik untuk Gede. Tinggal apakah Gede mau memantaskan diri untuk jodohnya yang memiliki sejuta pesona. Gede yang berhasil memaknai dawuh Syaikhona KH. Mbah Maimoen Zubair bahwa 'kesenangan dan kesusahan yang kita terima di dunia ini adalah kesengajaan dari Allah agar kita mendekatkan diri kepada Nya.'
__ADS_1
"Sungguh betul apa yang di dawuh kan Syaikhona mbah Maimoen. Bahwa karena kesenangan atau kesusahan yang kita terima, agar kita lebih mendekat ke Allah. Aku pun bisa jauh lebih mengenal syariat ku, agama ku, rasul ku. Semenjak gagalnya aku menikah dengan Arumi." Ucap Gede dengan tulus.
Ammar menepuk pundak adiknya.
"Yang lalu biarlah berlalu. Jadi kamu memaafkan Istriku?" Tanya Ammar.
Sudut bibir Gede tertarik. Ia betul-betul bahagia bisa menjadi bagian keluarga yang memiliki pesona. Pesona kembaran istrinya itu juga membuat dirinya kagum. Suami mana yang mau meminta maaf akan kesalahan istrinya. Suami mana yang mampu bertahan disaat sang istri masih memendam rasa untuk lelaki lain. Semua itu tentu saja bukan pesona, melainkan pendidikan, tirakat yang di berikan orang tua juga guru. Setiap Ilmu yang cukup, akhlak yang baik membuat hal itu mempesona bagi setiap yang dekat, yang memandang.
Satu pukulan ringan pada lengan Ammar membuyarkan lamunan nya.
"Itu pukulan dari ku sebagai kakak ipar mu. Jangan lagi kamu pandang wajah Kakak ipar mu. Kalau tidak mau aku pukul lebih keras dari ini? Hehe.... " Goda Ammar.
Gede tertawa dan mengusap lengannya. Ia bersyukur karena hubungan ia dan Arumi selama ini tak pernah terlalu jauh. Itu karena didikan Bu Ratih dan Niang Ayu.
"Katakan, kenapa kakak justru bertahan saat mungkin orang lain pergi meninggalkan. " Ucap Gede.
Satu alis Ammar naik dengan sendirinya. Ia menarik kursinya agar lebih mendekat ke arah Gede.
"Ketika aku menikahi Arumi. Maka baik buruknya, aku harus terima. Karena aku tidak menikah dengan Rita Suguarto. Yang tak butuh emas dan berlian... Hehe... " Ucap Ammar.
__ADS_1
Gede meringis kesakitan karena ia tertawa dan itu membuat bagian perutnya sakit. Karena ada beberapa jahitan di bagian perut.
"Assalamualaikum.... " Ucap seseorang seraya pintu kamar pasien Gede terbuka.