Pesona The Twins

Pesona The Twins
126 Kemuliaan Versi Gede dan Qiya


__ADS_3

Pagi hari Gede sudah siap dengan pakaian santai untuk berangkat ke Jakarta. Qiya tampak merapikan koper yang akan di bawa suaminya. Gede memeluk istrinya dari belakang. Namun tangan istrinya itu masih sibuk dengan koper suaminya.


"Mas...Geli." Ucap Qiya karena suaminya sibuk di area leher istrinya.


"Nanti lihat kondisi. Kalau masih mual, ga usah nyusul ya." Ucap Gede.


Qiya berbalik dan menatap suaminya.


"Iya. Mas baik-baik disana. Tapi, Qiya boleh tanya sesuatu?" Tanya Qiya hati-hati.


"Apa?"


"Mas semalam mimpi apa? Semalam Mas mengigau, keringat juga banyak keluar. Mas seperti takut dan sedih." Ucap Qiya.


Gede mengerutkan dahinya. Ia sedikit memegang dahinya dengan ujung jari.


"Mimpi apa ya... ga ada Dek. Emang mas ga ngomong apa-apa pas nginggau?" Tanya Gede. Ia khawatir kalau-kalau penyakitnya yang lama kambuh lagi. Ia mengingat atau menyebutkan nama Mayang.


"Tenang, mas ga nyebut nama siapa-siapa kok. Tapi sepertinya mas ketakutan... Itu sampai kayak menggigil... Benar ga ada yang mas pikirin? Kan dokter Wahyu bilang go boleh memendam masalah... Apa ada hal yang memang istri mas ini tidak boleh tahu?" Tanya Qiya.


Gede duduk di ujung kasur. Ia menarik tangan istrinya agar duduk di sisinya. Ia genggam tangan istri yang sebentar lagi aka n memberikan mereka anak.


"Hhh....." Gede membuang napasnya dengan berat. Ia menatap lurus ke depan. Sehingga ia dapat menatap wajah cantik Qiya dan rambut yang selalu terurai ketika hanya ada mereka berdua.


"Kemarin ayahnya Hilman mengirimkan pesan ke Mas." Ucap Gede.

__ADS_1


Qiya menanti cerita dari sang suami. Gede pun melanjutkan apa yang menjadi ganjalannya.


"Dia ingin bertemu dengan Mas, Ada apa dan mau apa. Mas juga tidak tahu dek. Tapi mas tidak mau bertemu dia. Cukup sudah, mengingat nama dia saja. Rasanya sakit sekali. Mas ingat airmatanya Ibu selama membesarkan mas belum lagi kisah masa-masa pahit Ibu. Mas ga mau berhubungan dengan dia." Ucap Gede pelan.


Qiya menyadarkan kepalanya di pundak suaminya. Ia menatap wajah tampan Gede. Suaminya itu lebih tampan dari Hilman. Kulitnya yang sedikit putih dan hidung yang lebih mancung karena lebih mirip dengan Pak Rendra sebenarnya namun karakter mereka jauh berbeda.


"Mas dendam sama Pak Rendra?" Tanya Qiya hati-hati.


"Ga sampai ke tahap itu sih Dek. Tapi lebih ke sakit hati iya." Ucap Gede yang terlihat berwajah sendu.


Manusiawi jika Gede merasa sakit hati. Apalagi ia termasuk anak yang begitu mencintai ibunya.


"Rasulullah SAW adalah seorang pema’af Mas...." Ucap Qiya sambil meng3cup punggung tangan suaminya. Gede menatap istrinya masih melalui pantulan kaca yang ada dihadapannya.


Ya, Gede dan Bu Ratih Mayanti sebenarnya bukan memiliki dendam pada Pak Rendra. Walau dendam memang berasal dari hati yang terluka, hati yang tersakiti, atau bahkan teraniaya. Karena selama ini Ibu dan anak itu tak berusaha membalas apa yang dilakukan oleh Pak Rendra pada hidup mereka. Karena jika dendam, sudah pasti ibu dan anak itu akan mencari jalan mencemarkan nama baik Pak Rendra atau bahkan sampai mencelakakan Pak Rendra. Bahkan Bu Ratih pun tak merasa bahagia mendengar putra yang diakui Pak Rendra sebagai putranya sedang sakit parah.


Tidak seperti Pak Rendra yang memang memiliki sifat dendam. Terutama dendam pada Ayra. Tanpa Pak Rendra sadari rasa sakit hati karen gagal maju sebagai wakil walikota belum lagi beberapa usaha ilegalnya yang ia bangun kala itu harus jatuh karena beberapa kebijakan yang di tetapkan Ayra selaku walikota. Rasa sakit hati itu membuat ia mengambil hak Ayra, mengambil kebahagiaan Ayra. Rasa sakit hati yang berujung ingin melihat orang yang menyakiti nya sengsara, dan bahagia saat orang yang menyakiti hatinya menderita, itulah yang dikatakan dendam.


Dan tanpa disadari Pak Rendra terlena karena rayuan setan tersebut. Karena sudah menjadi tabiat manusia akan sakit hati ketika disakiti. Namun jika manusia itu menjadikan Rasulullah sebagai tauladan dalam menjalani kehidupan dimuka bumi ini. Ia tak akan memiliki sifat dendam. Begitulah Gede dan Bu Ratih. Mereka tersakit tapi tak mendendam. Tapi rasa sakit pada manusia sulit memang untuk di obati. Hanya yang tersakiti itu sendiri yang bisa mengobati luka mereka. Memaafkan orang yang menyakiti hati mereka.


Pak Rendra tak tahu jika doa orang yang di dzalimi itu benar-benar mustajab. Karena saat orang merasa di dzalimi maka saat itu terbuka peluang sebuah doa terijabah. Dan beruntung sebenarnya, Ibu Ratih nyaris tak pernah mendoakan Pak Rendra tertimpa musibah atau merasakan apa yang ia rasakan. Setiap doanya Bu Ratih hanya berdoa untuk kebahagiaan putranya yang telah banyak menderita. Ia hanya berdoa untuk kesuksesan anaknya. Berdoa untuk kekuatan dirinya selama membesarkan dan mendidik putranya. Dan doanya saat merasa di dzolimi itu betul di ijabah.


Kini Gede sudah mendapatkan kesuksesan, kebahagiaan. Ia sempat gagal menikah dengan Mayang alias Arumi. Tentu tak akan bahagia karena karakter asli Arumi. Dan Berjodohnya Gede dengan Qiya seolah menjawab setiap doa ibu Ratih.


Gede mengusap rambut panjang istrinya.

__ADS_1


"Rasulullah memang pribadi yang berhati bersih Dek. Beliau tak pernah mendendam, ujub, bahkan saat dihina, di caci bahkan di fitnah pun beliau tidak sedikit pun mendendam. Mas tidak dendam. Tapi mas masih sakit hati jika berurusan dengan Ayah Hilman itu." Ucap Gede.


"Itu juga alasan Mas kemarin kenapa aku tak boleh membesuk Mas Hilman?" Tanya Qiya.


"Ya. Salah satunya itu." Ucap Gede seraya mendaratkan k3xupan di kepala sang istri.


"Ya sudah, yang penting hati-hati mas, karena dendam adalah salah satu hal yang akan membawa seseorang ke panasnya api neraka. Aku ingin kita berkumpul di surga... Hati ini tempatnya setan paling senang bermain-main disini." Ingat Qiya sambil mengusap dada Gede.


"Tenanglah, mas saat dulu gagal menikah. Mas banyak belajar. Salah satunya sama Gus Imam. Beliau sering mengingatkan bahwa setiap orang beriman itu bersaudara. Setidaknya alasan itu bisa sedikit menahan hati untuk membalas rasa sakit. Lalu mungkin Allah sedang ingin menaikkan derajat mas sebagai orang beriman. Dan betul saja. Mas tidak mendendam pada Mayang tapi sakit hati iya. Dan Alhamdulillah, buah kesabaran mas diberi hadiah kamu. Istri Sholehah, cantik, cerdas, dan yang paling penting kamu pandai membahagiakan mas...." Ucap Gede sambil memeluk erat istrinya.


Ya saat ditinggal Mayang pun Gede memang sempat marah, patah hati, sakit hati namun. ia mampu mengendalikan kemarahan dan rasa sakit hatinya. Sehingga tak ada rasa ingin membalas atau bahkan bahagia saat Mayang dinyatakan meninggal dunia. Walau ia memang tak datang di acara pemakaman Mayang.


"Betul. Kita tidak akan rugi ketika kita disakiti, dihina atau di caci. Karena pada akhirnya, orang akan melihat siapa yang difitnah dan siapa yang memfitnah. Dan Allah akan memuliakan orang yang bersabar dan pandai mengolah hati. Allah tidak akan menghinakan hambanya karena hinaan orang lain Mas. Tapi kita akan hina karena sikap kita sendiri, tingkah laku kita sendiri dan isi hati kita mempengaruhi itu." Ucap Qiya yang melingkarkan kedua tangannya di pinggang suaminya.


"Mas tahu satu kunci kemuliaan yang Rasulullah berikan contoh pada kita?" Tanya Qiya masih menikmati pelukan Gede serta usapan pada punggungnya.


"Apa Dek?" Tanya Gede yang tidak pernah bosan memanjakan istrinya dengan sentuhan usapan dan pelukan yang setiap hari sebenarnya menjadi c@ndu baginya.


"Membalas keburukan orang lain dengan cara yang baik. Mengasihani orang yang menyakiti atau membenci kita. Dan mintalah berkah dari mereka yang menyakiti kita. Bisa lewat doa. Itu juga salah satu kemuliaan... " Ucap Qiya yang sebenarnya juga sering menyelipkan doa untuk Pak Rendra dan keluarganya kala kabar Hilman sakit parah terdengar olehnya.


"Hhhh... Kamu sering mendoakan Hilman?" Tanya Gede sambil melerai pelukannya.


"Berdoa agar saudara kandung mu diberikan keberkahan, diberikan kekuatan dan kesabaran dalam menghadapi penyakitnya. Kabar yang aku dengar Mas Hilman sakit parah." Ucap Qiya menundukkan kepalanya. Ia tak berani menatap suaminya.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2