
Hari berganti hari, bulan pun berganti tahun. Hitamnya rambut akan ikut memutih seiring usia yang juga bertambah. Namun seorang anak akan tetap menjadi anak walau ia telah memiliki cucu. Dan bakti itu akan tetap dijalankan agar bisa dikatakan anak sholeh. Dan salah satu bentuk wujud baktinya anak kepada kedua orang tua adalah menjaga silaturahim, merawatnya ketika sakit dan mengurus jenazahnya serta menziarahi makamnya. Surga memiliki banyak pintu yang dapat kita masuki. Selain menjadi istri yang sholehah. Menjadi anak yang sholeh pun adalah salah satu jalan menuju surga dibalik banyak nya amalan untuk mengantar setiap hamba ke surganya Allah.
Seperti Ayra, pribadi yang begitu sholeh kepada kedua orang tuanya. Begitu tawadhu kepada suaminya. Ia juga sosok ibu yang begitu sholehah bagi putra putrinya. Di mulai dari masa muda yang ia habiskan waktunya untuk bersungguh-sungguh belajar. Waktu untuk mengabdi pada orang tua sekaligus guru, dan selalu melibatkan Allah dalam kehidupannya, menjadikan panutan perempuan-perempuan hebat yang pernah ada dalam sejarah Kisah-kisah nabi. Sehingga Ayra mampu mendidik ketiga buah hatinya menjadi pribadi yang sama seperti dia. Sama-sama memiliki pesona yang memancarkan kasih sayang untuk sang istri, suami dan keluarga juga saat ia sudah bertambah keturunan dari ketiga anaknya.
Syam, Zahra, Zia dan Akhtar dan Gaffi. Kelima cucu Ayra itu tumbuh menjadi anak-anak yang masih menunjukkan pesona dari Trah hasil didikan Kyai Rohim dan Umi Laila. Seperti Umi Laila, ia perempuan biasa. Ibu dan ayahnya bukanlah seorang ulama atau kyai. Bu Salamah dan Abah Ucup. Mereka adalah orang biasa. Begitupun Kyai Rohim. Ia bukan dilahirkan oleh ulama besar atau kyai terkenal. Tetapi Pasangan Kyai Rohim dan Umi Laila kala masih muda, mereka betul-betul meluruskan niat mencari ilmu atau tholabul ilmi juga begitu menjaga adab kepada guru mereka. Seorang santri akan terlihat bahwa ia adalah santri yang ilmunya bermanfaat bagi orang banyak ketika terjun ke masyarakat. Itu dibuktikan oleh Kyai Rohim dan Umi Laila.
Sungguh dunia ini, kedudukan, pangkat, jabatan, pujian oleh makhluk, tak menyilaukan mata dan hati Kyai Rohim dan Umi Laila. Maka sepasang suami istri yang terlahir dari kalangan bias aini membuktikan, tak harus jadi anak kyai agar bisa menjadi makhluk yang bermanfaat di dunia ini. Tak perlu terlihat cantik menawan nan anggun untuk melahirkan generasi yang memiliki pesona. Seperti Umi Laila yang nyatanya lebih cantik Waroh, kakak kandungnya. Tetapi, niat dan kesungguhan belajar ketika di pondok pesantren agar kelak ketika ia memiliki anak, anak-anak itu menjadi begitu berakhlak baik bukan saja berilmu. Dan sungguh Allah mengangkat derajat orang-orang yang berilmu dan memiliki niat tulus, ikhlas bukan untuk sebuah kepopuleran atau untuk mencari uang sebanyak-banyaknya dengan ilmu yang ia miliki Bersama sang suami.
Allah menitipkan banyak santri kepada sepasang suami istri itu, hingga mereka membuat keturunan mereka menjadi pribadi yang betul-betul mencontoh apa yang Rasulullah bawa ketika di dunia. Yaitu agama yang Rahmatan lil alamin. Sungguh Ayra, Furqon dan Umi Siti juga ke empat putrinya yang lain hinga ke Lima cucu Ayra dikenal sebagai anak putu Kyai Rohim Kali Bening.
Saat mungkin sudah puluhan tahun, Kyai Rohim dan umi Laila Kembali kemana mereka berasal. Maka saat itu, sungguh amal jariah bagi mereka semua orang tua kita yang telah meninggal kala anak keturunan melakukan amal kebaikan apalagi membaca kalam-kalam Allah. Seperti sore itu. Ayra tampak sudah tak mampu berjalan tanpa bantuan tongkat. Seluruh cucunya sedang berkumpul karena sedang libur kuliah. Maka Ayra akan duduk di kelilingi Cucu-cucunya. Akhtar dan Gaffi tampak merekam nenek mereka menggunakan kamera. Mereka melakukan streaming melalui channel mereka yang dikenal dengan Triple Twins Channel.
Tampak Syam, Zahra duduk di sisi sang nenek. Mereka semua di taman itu sedang menyimak bacaan Zia. Putri Ammar yang baru saja pulang dan mengatakan pada sang nenek, bahwa ia kemarin baru saja di tasmi oleh Gus Damar dan Umi Ayu. Putri Ammar itu sedang mengikuti program penghapal Qur'an. Disalah satu pondok pesantren salafiyah,yang disarankan oleh Gus Furqon. Sebuah pondok yang masih jauh dari hiruk pikuk kota. Yang di dirikan dan diasuh oleh Alumni Kali Bening, yaitu Ayu dan Gus Damar. Ayu adalah santri pertama Umi Laila dan Kyai Rohim kala mereka belum memiliki pesantren. Ia menikah dengan anak seorang Kyai.
Tasmi’ adalah kegiatan kelulusan Tahfidz dalam Menghafal Qur’an dan ditandai dengan memperdengarkan bacaan Al Quran tanpa kesalahan di hadapan para penguji di pesantren Gus Damar dan Ayu. Dimana metode tasmi’ ini adalah membaca Al-Qur’an yang diselesaikan dalam satu hari dan disaksikan oleh guru penguji bersama santri.
Ayra yang ingin melihat dan memberikan apresiasi. Ia menyimak bacaan cucunya yang baru hapal 29 juz.
“Shadaqallahul azhim.”
__ADS_1
“Alhamdulilah… Masyaallah… Nenek senang dan bangga sekali. Cucu-cucu nenek belajar dengan baik.” Ucap Ayra seraya memberikan sebuah hadiah yang begitu diinginkan sang cucu. Sebuah ponsel yang bergambar buah yang telah di gigit di belakang nya.
Itulah Ayra, ia masih memiliki pesona saat tubuhnya makin lemah, disaat ubannya telah menunjukkan bahwa ia sudah tak lagi muda. Ia bisa memberikan hadiah-hadiah yang begitu diinginkan oleh cucunya. Sebagai sebuah apresiasi atau penyemangat cucunya, agar bertambah semangat. Karena dimasa-masa cucunya, untuk mereka masih mau mondok, masih mau belajar apalagi menghapal Al-Quran bukan untuk di banggakan. Itu akan sulit sekali. Karena Anak-anak Ammar dan Arumi, taka ada nada yang percaya jika Akhtar dan Gaffi telah menghapal Al-Quran dan siap di simak. Namun Zia, Ia yang bertubuh ringkih. Ia sering sakit-sakitan maka sedikit berbeda kemampuannya dalam menghapal. Begitupun Zahra dan Syam yang bahkan tak ingin pulang ketika mondok. Seperti hari itu mereka harus pulang demi Neneknya yang sudah lansia.
Ayra memang telah menjadi Lansia, namun yanag menumbuhkan rasa kagum dari kelima cucunya, Ayra tak akan lupa waktu shalat. Bahkan dalam mata terpejam ia akan cepat mengoreksi bacaan cucunya jika ada yang kurang pas.
“Nenek mau makan dulu, tapi nenek sudah makan belum ya?” Tanya Ayra pada cucu nya.
“Nenek baru saja makan satu jam yang lalu. Kalau nenek terasa lapar. Aku ambilkan biscuit.” Ucap Zahra seraya membuka toples biscuit yang memang disediakan untuk Ayra.
Ayra menikmati biscuit itu. Ia melihat Akhtar dan Gaffi sibuk di depan laptop mereka. Sepasang kembar itu sudah begitu mahir membuat aplikasi dan beberapa metode membobol akun-akun media sosial. Bahkan untuk membobol password media sosial pun bagi dua lelaki tampan itu bukan hal yang sulit.
Saat kedua netra Ayra melihat ke arah jam dinding, ia pun meminta diantarkan ke kamar. DI jam seperti itu, Bram biasanya akan pulang bekerja dan ia harus bersiap menyambut suaminya pulang dari bekerja dengan penampilannya yang menyenangkan sang suami.
“Nek, nenek lupa? Kakek sedang pergi. Belum pulang hari ini.” Ucap Syam.
“O…. Nenek lupa…” Ucap Ayra yang membenarkan kacamatanya.
Ayra begitu mencintai Bram, tapi tak membuatnya lupa akan cinta pada Rasulullah dan Allah pencipta alam semesta. Itu dibuktikan dengan kondisinya saat ini. Ia tak lupa hapalannya tentang Al Quran. Ia tak lupa jumlah rakaat shalat, bacaan shalat, bahkan amalan-amalannya yang sering ia lakukan masih ia jalani di senjanya usia.
__ADS_1
Itulah wujud cinta disaat ia lupa akan dunia. Karena Ayra akan lupa jika bertemu teman-teman lamanya, ia akan lupa bertemu Aisah atau Raffi. Ia juga kadang lupa sudah makan atau belum. Namun yang membuat ia terbiasa dari muda hingga kini saat usia tua, daya ingat kian lemah. Ia tak melupakan kewajibannya.
Bahkan saat Ramdhan tiba, dimana anak-anaknya betul-betul menjadi anak yang berbakti kepada dirinya. Karena dulu ia mendidik anaknya sesuai yang Allah inginkan.
“Ma….” Ucap Arumi saat Ayra makan supnya dengan kuah sup tersebut membasahi meja makan.
Arumi dan Ammar tak mengasingkan ibu untuk makan sendiri. Mereka makan satu meja walau Ayra akan makan dengan sangat berantakan. Tetapi itu tak membuat Arumi yang selama Ayra menua, ia hanya di rumah. Ia menemani sang ibu yang kadang sering lupa atau demensia.
Arumi mengelap tangan dan mulut Ayra. Lalu Ammar membantu mendorong kursi roda Ayra.
“Maaf.. merepotkan kalian terus mama…” Ucap Ayra lirih.
“Mama… Justru Arumi dan Mas Ammar minta maaf. Apakah selama merawat Mama, kami ada kurangnya.”
Ayra menggenggam tangan Arumi.
“Kamu, Nur, Gede adalah menantu terbaik Mama. Kalian begitu membuat mama Bahagia.” Ucap Ayra seraya tersenyum. Namun hatinya malam itu gelisah.
“Am… Apakah Papa mu besok masih tidak pulang? Kapan Papa mu pulang? Mama sudah rindu dengan Papa mu.” Ucap Ayra seraya menahan air matanya.
__ADS_1
Bukan hanya Ayra yang menahan air mata. Arumi dan Ammar pun merasakan hal yang sama. Tenggorakan sepasang suami istri itu tercekat. Bibir mereka tertutup rapat. Ammar me nge cup punggung tangan ibunya.
“Besok, setelah shalat Ashar. Kita ziarah ke makam Kakek, Ya Ma.” Ucap Ammar seraya menahan rasa sesak di dadanya.