
Hilman menoleh ke arah dokter Gede. Ada rasa tak suka ia menatap sang dokter. Qiya melepaskan genggaman Hilman di tangannya.
"Tolong jangan ikut campur!" Ucap Hilman menatap dokter Gede sinis.
"Saya harus ikut campur. Dia dibawah bimbingan saya, dan dia perempuan. Dimana lelaki itu harusnya melindungi perempuan bukan menyakiti." Ucap dokter Gede yang kini sudah berada di depan Hilman.
"Pergilah dok. Biar saya yang melayani lelaki ini." Ucap dokter Gede.
Kala Qiya baru mau melangkah ke arah parkiran. Hilman mencoba mengikuti namun tubuh Gede bergeser menghadangnya. Hal itu membuat Hilman menarik napas dalam dan menatap tajam lelaki itu.
"Saya bilang ini bukan urusan anda!" Bentak Hilman mulai emosi.
Dokter Gede tertawa.
"Hehe... Sabar Bung. Toh dokter Qiya juga tak ingin bersama anda disini." Ucap Dokter Gede.
Hilman mendorong dokter Gede dengan dua tangannya. Tubuh dokter Gede sedikit mundur. Qiya yang baru melangkah beberapa langkah kedepan. Ia berhenti, ia khawatir akan terjadi baku hantam seperti beberapa waktu lalu.
Maka ia pun kembali ke tempat dua lelaki yang sedang terlibat saling tatap. Namun langkahnya terhenti kala telinganya mendengar sesuatu yang membuat jantungnya terasa berhenti.
"Saya sedang ada urusan dengan orang yang saya sukai. Dan saya harap anda tidak menghalangi." Ucap Hilman menahan emosinya.
"Saya pun sedang menghalangi anda menganggu orang yang saya sukai. Maka disini saya punya hak untuk ikut campur." Kali ini dokter Gede mengibaskan jas putih miliknya tanda ia sedang menunjukkan bahwa ia bukan lelaki pengecut yang akan mundur ketika di bentak atau di intimidasi.
Tanpa dokter Gede sadari ucapannya barusan didengar jelas oleh Qiya. Perempuan itu tak mampu melangkah. Ia berhenti. Jantungnya berdetak lebih cepat. Bahkan ketika Hilman meminangnya pun hatinya tak berdebar-debar seperti saat ini. Tapi kini hati gadis Ayra itu berdetak tak karuan, ada rasa suka, rasa bahagia dan takut. Takut jatuh cinta disaat belum terikat hubungan.
Di kejauhan si Upin alias Cita sedang berdiri di balik mobil. Ia yang hari itu sempat berbalas pesan dengan Bu Ratih. Dokter yang bercita-cita bimbang ingin menjadi dokter spesialis anak atau gigi itu memiliki ide karena melihat situasi dimana si Hilman masih terus tak menyerah mendekati Ipin alias Qiya. Ia juga mendengar permintaan Bu Ratih agar dokter Cita bisa membantu putranya untuk PDKT dengan Qiya. Karena putranya pernah gagal menikah dan baru bisa move on ketika bertemu Qiya.
Maka bagi Cita, ini kesempatan emas buat ia menjalankan misi yang diharapkan Bu Ratih. Sama-sama pencinta tokoh pewayangan, mereka berharap kisah cinta dua orang itu layaknya kisah cinta Rama dan Sinta.
"Kesempatan emas ini. Tidak boleh dilewatkan. Daripada kamu diuber-uber sama si Hilman itu. Mending aku rela melakukan apapun biar kamu bahagia Bestie." Ucap Cita sambil menatap ke arah motor maticnya.
Dokter Iship itu tersenyum sambil mengeluarkan gunting kuku dan m3 nu suk ban depan dan ban belakang motor maticnya. Alhasil ban motor maticnya dua-duanya kempes.
"Sip. Rama akan mengantar Sinta pulang Bu Ratih.... Semoga Tuhan mereka merestui mereka bersatu. Aku tak rela si Qiya sama Rahwana itu." Ucap Cita tersenyum lebar. Ia melihat Qiya berjalan kearahnya.
__ADS_1
Namun tak jauh dari area parkir, Hilman merasa kesal dengan ucapan dokter Gede. Dia menarik kerah baju dokter Gede. Hal yang sama pun dilakukan dokter Gede.
"Br3ngsek! anda pikir anda pantas bersanding dengan Qiya?" Ucap Hilman.
"Siapapun pantas, sebuah pernikahan itu harus dilandasi dengan kesamaan visi misi, dan ada rasa suka untuk menjalaninya." Ucap Qiya dari arah belakang dokter Gede.
Hilman melepaskan cengkeramannya. Ia melongo tak percaya. Ia tak menyangka Qiya justru membela dokter Gede. Perempuan yang ia anggap Sholehah justru seolah-olah sedang mengungkapkan cintanya atau memberikan harapan pada lelaki.
"Wow. Cepat sekali kamu berubah Qiy. Apakah karena dekat dengan dokter ini. Lantas harga dirimu sebagai salah satu cucu kebanggaan Kali Bening bisa merendahkan dirinya di hadapan lelaki bukan mahramnya." Ucap Hilman penuh penekanan sambil menatap dokter Gede.
Qiya memasukan tangannya di saku jasnya.
"Cinta adalah fitrah manusia Mas Hilman. Maka ketika orang mencintai seseorang itu bukan kesalahan. Tetapi yang menjadi salah adalah ketika ia menyikapi rasa cintanya. Bahkan dalam agama kita pun ada kisah Sayyidah Khadijah dan Sayyidah Fatimah Az-zahra. Tinggal tergantung mau memilih jalan yang mana. Dan point' pentingnya sebuah cinta itu jika serius ia akan mengajak yang dicintai menempuh jalan yang menjadi landasan beribadah dan membuat pahala lewat hubungan halal. Sedangkan cinta karena mengikuti hawa nafsu adalah cinta yang tidak ada keseriusan di dalamnya, ia hanya bersenang-senang dengan orang yang dicintai tanpa mengajaknya untuk menjalin ikatan yang halal." Jelas Qiya.
Ia tak ingin terus menerus Hilman menilai seseorang hanya berdasarkan pemahamannya. Seolah semua yang tak sepaham ia anggap salah. Maksudnya ingin mematahkan omongan Hilman. Hati dokter Gede justru berbunga-bunga. Ia seolah mendapatkan lampu hijau dari sang dokter Iship.
"Bukankah aku akan melamar mu lagi Qiy." Ucap Hilman.
"Jangan lupa Bung. Untuk menikah harus suka sama suka. Rasulullah saja ketika Sayyidah Fatimah banyak yang meminang masih meminta jawaban dari putrinya. Dan menolak beberapa sahabat karena air mata hangat putrinya yang menandakan bahwa putrinya tak menerima lamaran itu. Bagaimana anda yang sepertinya lebih paham agama dari saya mau memaksakan anak gadis orang menerima anda. Apakah anda tidak pernah mendengar kisah cinta Sayyidah Fatimah." Kali ini dokter Gede yang menjawab pertanyaan Hilman.
Rasulullah hanya menyentuh air mata itu karena putrinya tak memberikan jawaban atas pertanyaan Rasulullah jika ada sahabat yang melamarnya. Maka air mata yang terasa hangat itu membuat Rasulullah menolak lamaran tersebut.
"Masyaallah... perasaan apa ini. Semoga aku tak menyukai dokter Gede. Ayolah Qiy... jangan main-main dengan hati. Jaga hati mu. Bagaimana jika dokter Gede bukan jodoh mu. Jaga hati mu untuk kekasih halal mu nanti." Qiya mencoba menenangkan hatinya.
Hilman terlihat kesal. Ia pun berkali-kali mengurai rambutnya yang tersisir rapi. Ia merasa frustasi.
"Qiy, saya permisi. Saya akan berbicara lagi tentang kita dilain waktu. Dan anda? Jangan bermimpi untuk terbang jika tak punya sayap." Ucap Hilman sambil berlalu.
"Lalu bagaimana dengan ular Chrysopelea paradisi yang hidup di hutan hujan Asia Tenggara? mereka tak bersayap tapi bisa terbang. Tapi tenang saja mereka tak berbahaya untuk manusia." Dokter Gede tersenyum smirk. Ia tak akan mundur karena ia mulai melihat bahwa setidaknya perempuan yang ia sukai tak menyukai lelaki bernama Hilman itu.
Selepas kepergian Hilman Dua orang itu terlihat kikuk. Qiya yang merasa salah tingkah. Dokter Gede yang merasa mendapatkan lampu hijau. Mereka sama-sama mencoba menenangkan hati.
"Dokter belum pulang?" Tanya Dokter Gede.
"Lagi menunggu Cita dok." Ucap Qiya.
__ADS_1
"Saya ucapkan terimakasih. Maaf kembali merepotkan dokter dan membuat dokter terlibat debat lagi dengan Mas Hilman." ucap Qiya.
Dokter Gede tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Qiya yang tak ingin dokter itu tahu isi hatinya segera berpamitan.
"Saya permisi dulu dok." Ucap Qiya. Dokter Gede pun menganggukkan kepalanya.
Cita yang melihat Qiya berjalan ke arahnya, cepat-cepat ia duduk di depan ban motornya. Seolah-olah ia merutuki ban yang pecah.
"Ada apa Cit?" Tanya Qiya pelan.
"Ban nya bisa pecah dua-duanya Qiy." Ucap Cita sambil memegangi ban depan motornya.
Qiya pun ikut duduk di dekat Cita dan melihat ban motornya.
"Bisa kempes begini ya Cit. Kita pulangnya gimana?" Tanya Qiya.
Namun dokter Gede yang sedang menuju mobilnya menoleh karena mendengar suara Cita.
"Ya Tuhannn Siapa sih tega sekali memecahkan ban motor ku. Aku bagaiamana mau pulang? andai disini ada taksi online mungkin hidup kami tak akan seribet ini... kirimkanlah Arjuna ata Rama untuk mengantar kami pulang....!" Ucap Cita dengan suaranya yang sengaja ia keraskan.
Dokter Gede mendengar rintihan Cita tersenyum dan melangkah ke arah dua gadis itu.
"Saya akan mengucapkan terimakasih pada mu dokter Cita jika aku dan Qiya berjodoh." Batin dokter Gede karena ia tahu Cita sengaja melakukan itu agar ia mendengar.
"Ada apa dok?" Tanya dokter Gede.
"Aduuuhhhh... Sakit Qiy." Ucap Cita sambil meringis karena satu cubitan kecil mendarat ke pinggang ramping sahabatnya.
Dua gadis itu sama-sama berdiri. Qiya berusaha menata hatinya agar wajah nya tak merona. Hal itu berhasil ia lakukan karena Cita yang melirik ke arahnya merasa heran.
"Ini orang suka apa ga sih sama dokter Gede. Kosnlet apa hatinya bisa ga ada rasa sama dokter sebaik dan setampan ini. Kalo seiman aja aku mau ngantri... Mau yang kek gimana lagi si Qiy..." Ucap Cita sambil mengamati wajah Qiya.
Yang diamati sebenarnya sedang berjuang keras menahan mimik wajahnya agar tak terlihat merona, disaat hatinya terasa berdebar-debar seperti akan melewati ujian."
"Astaghfirullah.... Astaghfirullah.... Jaga hati Qiy... Ini Cita minta dikasih les privat nih... Bikin malu aja." Batin Qiya yang sekuat tenaga menahan rasa di hatinya.
__ADS_1