Pesona The Twins

Pesona The Twins
137 Arumi Koma


__ADS_3

Ammar dan Pak Subroto cepat berlari ke arah Arumi. Ammar menggendong Arumi dan membawanya ke dalam rumah. Tiba di ruang yang terdapat sofa. Ia pun meletakkan tubuh Arumi di atas sofa.


"Ar, Arumi... kamu kenapa?" Tanya Ammar.


"Geser sedikit Am. Biar Mama periksa." Ucap Melisa.


Melisa mencoba memeriksa denyut nadi Arumi.


"Bawa ke kamar saja Am. Buka jilbabnya. Sepertinya dia kelelahan. Tapi denyut nadinya begitu cepat." Ucap Bu Melisa dengan dahi sedikit berkerut.


"Baik Ma." Ammar membawa istrinya ke kamar dan masih diikuti kedua orang tua Arumi.


Tiba di kamar, Arumi ia baringkan di kasur. Melisa membuka jendela agar udara segar masuk. Ia mematikan pendingin ruangan. Ammar pun membuka jilbab istrinya. Pak Subroto sangat khawatir. Ia duduk di sisi Arumi dan menggenggam tangan Arumi.


"Longgarkan bajunya Am. Agar dia bisa bernafas dengan baik." ucap Melisa. Namun Ammar bingung.


Arumi menggeleng. ia cepat berjalan ke arah tubuh Arumi. Ia buka resleting di belakang tubuh Arumi. Ia melonggarkan underweaaaar Arumi. Lalu Bu Melisa membuka kaos kaki Arumi. Dan betapa kagetnya Melisa saat ia melihat di bagian betis sebelah kiri Arumi terlihat bercak darah dan sedikit bengkak..


Ia menari baju Arumi sedikit ke atas dan kedua netra Bu Melisa melihat jelas dua titik seperti bekas patokan ular.


"Astaghfirullah... Mas.... Sepertinya Arumi di gigit Ular." ucap Arumi.


Pak Subroto pindah duduk di sisi Arumi. Ia juga melihat luka pada betis Arumi.


"Arumi..." Ucap Pak Subroto yang melihat luka itu.


"Tinggikan posisi kepalanya Am." Perintah Pak Subroto.

__ADS_1


Ammar pun cepat beringsut ke arah istrinya. Ia mengambil bantal dan ia tinggikan posisi kepala sang istri. Sehingga posisi kepala lebih tinggi dari kaki. Ammar yang jarang menangis. Tanpa ia sadari, mendengar kata digigit ular. Ia sudah meneteskan airmata.


Pak Subroto yang juga mantan intelegen meminta Ammar memposisikan tubuh Arumi yang terkena gigitan lebih rendah daripada letak jantung. Agar bisa memperlambat racun menyebar ke tubuh.


Bu Melisa sudah berlari ke arah luar kamar, tak lama perempuan itu sudah kembali dengan dua baskom dan satu lap juga nampak sabun. Ia membersihkan luka gigitan itu dengan air bersih dan sabun. Lalu ia bilas dan keringkan. Kemudian Pak Subroto tampak keluar kamar sambil menelepon seseorang. Ia pun juga kembali dengan membawa kain kasa juga plester dan ia serahkan ke Bu Melisa. Lalu Pak Subroto tampak mengikat kencang betis Arumi agar racun tertahan di area kaki.


Bu Melisa menutup luka bekas gigitan ular pada betis Arumi.


"Helikopter akan tiba beberapa waktu lagi. Nanti bawa Arumi dengan posisi seperti ini Am. Kepalanya harus lebih tinggi dari kaki. dan usahakan jangan banyak bergerak agar racun tak cepat menyebar. Sial. Kita tidak tahu jenis ular yang menggigit Arumi " Ucap Pak Subroto kesal.


Mengetahui jenis ular yang menggigit seseorang amat penting sebenarnya. Namun sayang Pak Subroto dan yang lainnya tak tahu jika Arumi di gigit ular yang racunnya cukup mematikan.


Ammar justru bingung bagaimana Bu Melisa dan Pak Subroto bisa dengan tenang dan terlihat santai. Ammar tidak tahu jika Pa Subroto juga mantan intelejen.


"Kenapa tidak di hisap saja Pa?" Tanya Ammar.


Pak Subroto melihat raut wajah Ammar dan melihat airmata yang tertahan di sudut mata menantunya.


Ammar hanya diam mendengar penjelasan Pak Subroto.


Tak lama helikopter pun tiba. Ammar menggendong tubuh Arumi. Lima belas menit berlalu. Heli yang ia tumpangi tiba di sebuah rumah sakit militer. Arumi sudah ditunggu oleh beberapa orang di rooftoop rumah sakit tersebut.


Ammar tampak mengikuti beberapa perawat dan dokter yang membawa tubuh istrinya. Pak Subroto tak lama juga menyusul tiba di rumah sakit tersebut.


Hampir tiga puluh menit Arumi berada di dalam ruangan penanganan unit gawat darurat. Saat ada seorang dokter keluar dari ruangan tersebut. Ia pun langsung menuju Pak Subroto.


"Sepertinya tekanan darah korban turun drastis Pak Broto. Kondisi Pasien sepertinya juga mengalami syok sampai menghentikan kerja jantungnya tadi." Ucap dokter lelaki itu.

__ADS_1


Dokter tersebut membuka jas nya dan melanjutkan penjelasannya.


"Saya juga sudah meminta pasien di CT scan. Saya khawatir terjadi pendarahan di paru-paru atau otak pasien. Kita tunggu hasilnya satu jam lagi ya." ucap Dokter tersebut dan berlalu.


Pak Subroto yang dari tadi terlihat tenang. Kali ini ia terduduk lemah di depan rumah sakit. Ia bisa tahu jika sudah menyerang saraf otak, mungkin putrinya akan lumpuh. Jika saraf pernapasan maka Arumi akan semakin sulit bernafas dan tentu saja berujung kematian. Belum lagi tekanan darah yang terjepit, hal itu bisa membuat putrinya akan sulit bernafas karena kekurangan oksigen.


Pak Subroto juga paham bahwa banyak kematian akibat di gigit ular untuk daerah yang cukup tropis.


"Pa. Apa maksud dokter tadi?" Tanya Ammar khawatir.


"Tunggulah Am. Dokter masih akan melanjutkan pemeriksaan pada Arumi." Ucap Bu Melisa.


Ammar menahan gerahamnya. Ada rasa bersalah karena membawa istrinya ketempat itu. Namun bukan berarti dia lupa bahwa ujian yang kembali datang menimpanya dan Arumi tentu untuk menambah keimanannya pada Allah. Ia pun masih mengikuti Pak Subroto dan Bu Melisa. Saat pemeriksaan selesai. Ammar diminta menemani Arumi di ruang rawat inap pasien.


Ammar melihat selang oksigen yang menempel pada tubuh istrinya. Ia betul-betul khawatir dan tak bisa berpikir, apa yang terjadi. Apakah istrinya digigit ular sangat berbisa.


Dan yang di khawatirkan Ammar betul-betul terjadi. Arumi betul-betul digigit ular berbisa. Bahkan bisanya bisa memaaatikan korbannya.


Fisik yang bugar juga penangan awal yang tepat membuat Arumi mengalami koma dan kesulitan bernafas. Tubuh Arumi sedang berjuang melawan racun yang perlahan mulai menyebar. Dan Pihak medis telah membantu menghentikan laju racun ke dalam aliran darah Arumi.


Saat Ammar tak henti-hentinya mengecuup punggung tangan istrinya. Ia juga mendoakan sang istri agar baik-baik saja.


Dan di ruangan Dokter. Pak Subroto dan Bu Melisa mendapatkan kabar dari dokter.


"Sepertinya bisa ular tersebut sangat beracun dan cukup langka Pak Broto." Ucap Dokter Iwan biasa disapa Pak Subroto.


"Lalu bagaimana. Apa yang harus kita lakukan." Ucap Pak Subroto.

__ADS_1


"Saya baru saja menghubungi rekan di beberapa negara. Dan teman yang ada di Australia mengatakan mereka punya satu anti bisa yang terlihat berhasil di negara mereka untuk gigitan Ular. Anda bisa membawa Arumi kesana. Karena membawa obatnya kemari, itu anda tahu sendiri bukan?" Tanya Pak dokter Iwan.


Pak Subroto pun meminta Melisa menyiapkan baju untuk mereka. Malam itu juga mereka akan berangkat ke Australia.


__ADS_2