Pesona The Twins

Pesona The Twins
125 Kehamilan Anak dan Menantu Ayra


__ADS_3

[Selamat pagi. Bisakah kita bertemu. Ada yang ingin saya bicarakan. Rendra, ayah Hilman.]


Pesan singkat yang masuk ke ponsel Gede Ardhana itu membuat suami Qiya yang sedang merasa senang akhirnya mau tidak mau sedikit terusik karena pesan itu dikirim oleh lelaki yang ia tak sukai. Ia bahkan sangat tidak ingin bertemu dengan lelaki itu. Bahkan istrinya saja yang berniat mengunjungi Hilman. Tak ia perbolehkan, bukan lebih ke cemburu tapi lebih ke rasa sakit jika kembali bertemu Hilman dan ayahnya.


Gede menutup ponselnya kembali. Ia asyik membaca satu majalah tentang kedokteran.


"Mas, besok aku ditemani Cita aja ya..." Ucap Qiya karena sang suami besok akan mengikuti seminar di Jakarta.


"Kamu izin saja gimana? kita ke Jakarta sekalian kita membesuk Nur." Ucap Gede.


"Ga enak mas... Masa' izin terus. Ga apa-apa nanti kan tiga hari lagi aku libur. Aku nyusul mas sekalian kita besuk Nur." Ucap Qiya pada sang suami.


Namun sebuah panggilan masuk. Gede yang tadi meletakkan ponselnya dengan posisi layar tertutup, ia tak bergeming untuk mengangkat panggilan telepon itu.


"Mas. Ada yang nelpon..."


"Biarin saja nomor tidak di kenal." Ucap Gede.


Qiya menautkan alisnya.


"Aku angkat ya?" Tanya Qiya.


"Ga usah biarin aja." Ucap Gede.


"Siapa tahu penting Mas?" Ucap Qiya.


Gede pun melirik istrinya. Daripada istrinya yang menerima panggilan itu akhirnya ia meraih ponselnya. Ternyata panggilan dari Bu Ratih atau ibu Gede.


"Assalamualaikum... Ge."


"Walaikumsalam Bu. Ada apa, kok suaranya kayak habis nangis?" Tanya Gede.


"Kamu besok jadi ke Jakarta?" Tanya Bu Ratih.


"Insyaallah jadi Bu. Satu Minggu." Jawab Gede.


"Ya sudah sore ini Ibu berangkat ketempat kalian. Nanti malam jemput ya." Ucap Ibu Gede.


"Loh... ibu kenapa mendadak?" tanya Gede.


Qiya mendekatkan diri pada suaminya. Ia mengangkat satu tangan Gede dan masuk dalam rangkulan suaminya.


"Ibu kangen Qiya... Ibu kepikiran Qiya. Khawatir dia seperti ibu pas hamil kamu. Kamu bilang Qiya belum libur." Ucap Bu Ratih.


"Ibu ini... anak sendiri ga di kangenin. Tapi ada Cita Bu." ucap Gede.


"Ga pokoknya ibu kesana ya. Ibu cuma mau kamu jemput di bandara kotanya."


"Ya sudah, nanti malam Gede jemput." Ucap Gede.


Panggilan berkahir. Gede meng3cup dahi istrinya.


"Sudah buruan ganti bajunya. Kita berangkat..Nanti terlambat. Habis di goda sama Cita lagi kamu." Ucap Gede.


Qiya memberikan k3cup@n di pipi suaminya.


"Siap. Tapi gendong..." Ucap Qiya manja dengan kedua tangan telah merangkul leher suaminya.


Gede memencet hidung mancung suaminya.

__ADS_1


"Manjaa banget sih sekarang.... " Gede pun menggendong istrinya menuju kamar.


"Mas, aku bahagia sekali." Ucap Qiya sambil menempelkan hidungnya di leher suaminya.


"Geli Dek... Bahagia kenapa?" Tanya Gede.


"Dari kecil aku terbiasa dimanja, di perhatikan oleh Papa dan Kak Ammar. Dan sekarang Mas juga begitu perhatian, sayang sama manjain aku." Ucap Qiya.


"Mas juga beruntung. Mas dari dulu punya Ibu dan Niang. Tapi menikah dengan kamu. Membuat mas merasakan cinta dan kasih sayang tulus. Bukan cuma dari kamu tapi juga dari Papa, Mama, dan Kak Ammar juga Ibrahim." Ucap Gede.


"Alhamdulillah, bener kata mama. Saat lagi belajar cukup fokus dengan ilmu dan terus perbaiki diri. Maka nanti jodoh itu akan datang disaat kita sama-sama pantas untuk jodoh kita sendiri. Termasuk kisah kita yang gagal menikah mungkin Allah sedang sama-sama memantaskan kita untuk bertemu disaat yang tepat dan sama-sama pantas." Ucap Qiya.


Tiba di kamar, Gede mendudukkan sang istri di depan meja Rias.


"Dan terimakasih karena kamu juga menyayangi ibu tulus." Ucap Gede.


"Sudah aku ganti baju dulu." Ucap Qiya.


"Mau digantiin?" Goda Gede.


"No! Bahaya bisa tambah terlambat...." Ucap Qiya tersenyum karena sudah paham maksud godaan suaminya.


"Ya sudah mas mas kunci pintu dan jendela dulu." Ucap Gede yang keluar dari kamar.


Gede pun keluar dari kamar. Ia mengunci pintu dapur, dan jendela yang ada dirumah mereka. Mereka tidak ada pembantu, karena Qiya begitu menolak. Ia sebenarnya hanya ingin menikmati waktu berdua, ia malu jika ada orang lain dirumah itu namun ia menggunakan baju pendek. Maka Gede juga menyetujui tanpa asisten rumah tangga.


Disaat Gede dan Qiya merasakan cinta yang kian hari bertambah besar, Arumi juga merasakan hal itu. Dulu ia sangat tidak suka dengan suaminya. Bahkan berkali-kali ingin minta diceraikan. Justru fase kehamilan di tri semester pertama membuat hatinya begitu cepat tersulut. Belum selesai ia dengan rasa kesal karena Ammar begitu baik karena menunda pintu lift terbuka juga tersenyum manis untuk perempuan lain.


Saat akan pulang dari rumah sakit. Di parkiran, ia melihat seorang perempuan yang berkali-kali menghidupkan sepeda motornya dengan cara di engkol. Namun berkali-kali perempuan itu mencobanya namun motor matic itu tak juga hidup. Ammar yang memang tak tega melihat perempuan kesusahan cepat ke arah perempuan yang memarkir motor di seberang mobilnya. Satu kali saja Ammar mencoba menghidupkan motor itu dengan cara di engkol, motor itu langsung menyala.


Perempuan tadi juga mengucapkan terimakasih karena telah di bantu.


"Sama-sama Mbak..." Ucap Ammar.


Arumi yang sudah berada di dalam mobil tadi justru bisa melihat jelas senyum manis suaminya untuk perempuan lain.


Wajahnya sudah cemberut. Namun Niqabnya membuat Ammar tak dapat melihat bahwa istrinya sedang cemberut.


"Langsung pulang atau mau kemana?" Tanya Ammar.


"Ya pulang." ucap Arumi agak ketus.


"Kenapa? ada yang salah?"


"Ga." Ucap Arumi sambil memainkan ponselnya.


"Ya sudah, mas kekantor dulu ya sudah mengantar kamu." Ucap Ammar masih fokus ke setir kemudinya.


Arumi hanya berdehem. Tiba dirumahnya, Ammar masih belum peka. Saat Pintu mobil ia buka, pintu kamar ia buka untuk sang istri. Arumi berkali-kali mengucapkan kata terima kasih.


"Terimakasih Mas...." Ucap Arumi.


Dan saat Arumi juga keluar dari kamar mandi dan sudah berganti pakaian dengan pakaian lengan pendeknya. Ammar pun meng3cup dahi istrinya dan berpamitan. Kalimat yang sama kembali terdengar dengan mimik wajah di buat-buat.


"Terimakasih Mas...."


Ammar menautkan kedua alisnya. Ia memencet hidung Arumi.


"Kamu kenapa sayang? Mas salah apa?" Tanya Ammar heran.

__ADS_1


"Terimakasih Mas..." Ucap Arumi.


"Arumi sayang.... Mas salah apa?" Tanya Ammar lagi sambil memegang kedua pipi Arumi.


Seketika air mata Arumi mengalir dari sudut matanya. Ammar justru bertambah bingung. Ia mengusap air mata itu dengan jarinya.


"Ada apa Ar... Mas salah apa? bilang dong. Kamu tahu kan tadi Mama bilang apa? kamu harus bahagia disaat-saat seperti ini. Dedeknya juga merasakan apa yang kamu rasakan." Ucap Ammar.


"Hiks... Hiks.... aku ga tahu. Tapi aku ga suka kamu bantu perempuan lain apalagi sampai baik dan sampai senyum-senyum segala...." Ucap Arumi yang menundukkan kepalanya namun entah kenapa ia sendiri heran. Airmata seakan mudah sekali jatuh dari pelupuk matanya.


Ia sendiri merasa dirinya seperti bukan dirinya.


Ammar ingin sekali tertawa namun ia menahan rasa gelinya karena sang istri sedang cemburu.


"Oh... jadi terimakasih Mas. itu karena tadi? cuma bantu perempuan di lift dan di parkiran bisa bikin kamu nangis?" Tanya Ammar.


"Kok cuma... kamu memang mau tebar pesona...." Ucap Arumi kesal.


Ammar berkali-kali mendaratkan k3cup@n di dahi, pipi dan kedua mata istrinya. Dan cukup lama di bagian bibir.


"Asin Ar.... " Ucap Ammar.


Seketika Arumi sedikit tertawa. Ammar suami yang pandai membuat sang istri cepat berubah moodnya karena sering ia bercanda.


"Sini peluk." Ucap Ammar sambil memeluk istrinya.


Ia mengusap punggung Arumi dan membenamkan kepala sang istri di di dadanya.


"Ok. Mas minta maaf. Mulai sekarang... Senyum mas ini tidak untuk semua orang. Apalagi hati mas...Mas juga akan minta izin dulu sama istri mas ini kalau mau bantu orang. Ok?" Ucap Ammar sambil melerai pelukannya.


"Janji?" Ucap Arumi yang mengangkat jari telunjuknya.


"Janji Arumi sayang...." Ucap Ammar sambil sedikit menggigit ujung jari istrinya.


"Sakit...." Ucap Arumi.


"Sakit? tapi merengek manja. Atau mau sakit yang lain?." Goda Ammar yang sudah tersenyum smirk.


"What? No. Dokter bilang tadi apa. Tidak boleh sering-sering." Ucap Arumi memukul dada Ammar..


"Tapi boleh..." Ucap Ammar yang tertawa terkekeh.


"Boleh tapi ga boleh sering... " Ucap Arumi sewot..


Ammar akhirnya tertawa senang karena istrinya tak lagi marah dan cemburu. Ia sudah diberikan pesan oleh Ayra saat akan pulang dari rumah sakit. Ibu Ammar itu bisa merasakan jika menantunya tidak seperti biasanya. Sehingga ia bertanya pada Ammar apakah mereka bertengkar. Dan Ammar mengatakan jika tidak. Dan tiba dirumah Ammar baru tahu maksudnya nasihat Mamanya.


"Ammar. Arumi sepertinya sedang mengalami proses ngidam. Setiap perempuan berbeda-beda. Kamu harus peka sebagai suami. Dan sabar, dalam kitab Khasyiatul Bujairomi alal Khatib diterangkan 'sebaiknya suami menuruti selera perempuan hamil yang dikenal dengan ngidam seperti halnya ketika menginginkan yang asam-asam sebagaimana yang menjadi adat kebiasaan.'." Ingat Ayra pada Ammar saat putranya sudah akan pergi dari ruangan Nur.


Ia bisa melihat lirikan mata dan sorot mata Arumi pada Ammar seperti menahan kesal.


[Mama benar. Arumi lagi cemburu Ma. Cuma karena aku membantu perempuan lain]


Pesan Ammar kirim kan pada sang Ibu yang memang sepertinya curiga. Ayra memang khawatir jika nanti putra sulungnya itu kaget dengan perubahan sikap istrinya. Apalagi Arumi memang memiliki karakter yang keras sama seperti Ammar. Maka ia hanya ingin putranya bisa bersabar. Namun ternyata Arumi justru lebih posesif bukan keras kepala selama ia hamil.


[Am, Memang tidak ada dalil yang mewajibkan seorang suami memenuhi permintaan istri yang sedang ngidam, namun tidak adanya pelarangan untuk memenuhinya pula. Tapi sebagai pertimbangan tentang betapa payahnya, lelah, belum lagi mood berubah-rubah saat perempuan yang hamil, maka pemenuhan keinginan istri selagi ngidam bisa diturutin selagi tidak bertentangan dengan syariat Islam. Dan amat penting juga untuk bisa menjadi dukungan moral tersendiri bagi istri yang sedng hamil. Karena suasana hati ibu hamil ikut bisa dirasakan janin. Tetap sabar, ngalah kalau Arumi sedikit berbeda ya Nak...]


Alih-alih Ayra merasa tak suka jika Menantu nya berubah. Ia justru khawatir dengan anaknya sendiri. Ia khawatir kalau-kalau anaknya yang juga punya karakter keras juga tidak sabar menghadapi perubahan sikap istrinya yang sedang hamil.


"Mama benar... Aku dan adik-adikku bisa sepintar ini, sesehat ini tentu akan kesabaran Papa dan Mama juga ikhtiar mereka. Maka kenapa aku juga tidak bisa belajar. Ayo Ammar jadilah Papa siaga..." Batin Ammar sambil mengendarai mobilnya menuju kantor.

__ADS_1


__ADS_2