
Selama perjalanan Cita selalu mencoba mengorek informasi apakah dokter Gede sudah menyatakan cintanya? Namun sang dokter seolah paham calon istri yang sedang ia incar bukan orang yang suka mengumbar semua yang terjadi dengan dirinya agar orang tahu ia sedang bahagia.
Status medsos putri Ayra itu lebih sering tentang quotes para ulama, atau penggalan, penggalan syair. Juga video tentang agama. Bukan Cita jika tidak usil, dengan santainya saat ia yang kembali dari toilet. Ia memotret
dokter Gede dengan tampilan kasualnya. Maka ketampanan bertambah terpancar dari cara dokter itu berpakaian saat itu. Ibu jari tangan Cita begitu cepat mengusap benda pipih di genggamannya. Ia langsung menekan layar yang ada tulisan Send ke nomor sahabatnya.
Gadis yang menerima gambar itu pun tersenyum tersipu. Ia melihat potret dokter Gede. Seorang lelaki dengan kulit bersih, jambang kebiruan dan ada sedikit rambut di dagunya. Tak bisa dipungkiri hati putri Ayra itu pun berdebar ketika menerima gambar itu. Tak ingin jika sang kakak kembali berulah, ia menyimpan foto itu ke drive, lalu ia hapus di galeri ponselnya.
[Kamu satu pesawat dengan dokter Gede? Sampai kapan mau jadi Hanoman? Ga mau nyari jodoh mu sendiri?]
(Iya Qiy. Dokter Gede mau pulkam. Qiy, kalian udah jadian belum? Besok pulangnya bareng ya.)
[Ya, aku ga tahu Cit. Sepertinya hari ini akan ada acara lamaran.]
(What's? Serius? Siapa yang lamar kamu? Hilman lagi? atau orang baru?)
[Ga tahu. Ya sudah hati-hati semoga selamat sampai tujuan. Love You Cita sayang....]
Tanda cinta yang baru saja ia berikan sebenarnya ucapan terimakasih karena hati yang sedang kasmaran begitu terobati melihat foto sang dambaan hati. Namun karena malu. Ia pun menggunakan bahasa yang bagi Cita biasa.
Bukan Cita jika tidak heboh dan cepat mengambil kesimpulan. Selama penerbangan, ia yang stress memikirkan siapa yang akan melamar Qiya. Hingga saat tiba di bandara. Ia menahan langkahnya dan kembali ke tempat dokter Gede yang masih menunggu pesawat transit.
"Dok. Dokter beneran yang bukan akan lamar Qiya?" Tanya Cita.
Dokter Gede bingung menjawab. Ia pun akhirnya mengatakan jika ia masih menunggu kabar dari Qiya.
"Dok, hari ini dirumah Qiya sedang akan ada lamaran." Ucap Cita.
Dokter Gede tersenyum. Ia tak percaya, ia sudah percaya dengan Qiya. Gadis jujur dan baik hati itu tak mungkin membohongi dirinya.
"Tidak mungkin. Dokter Qiya akan memberikan kabar pada ku." Ucap dokter Gede.
Cita pun meninggalkan dokter itu, ia turun dari pesawat. Alangkah kagetnya ketika ia tiba di lobi bandara. Ia melihat Hilman sedang menunggu seseorang. Terlihat seorang lelaki mengenakan kursi roda di dorong lelaki muda. Hilman menyambut lelaki di kursi Roda tersebut. Betapa kaget Cita. Matanya seakan mau keluar. Jiwanya sebagai Hanoman untuk kisah cinta Qiya betul-betul mendidih.
"Kek, Bagaiamana kalau sore ini kek. Aku khawatir kabar yang beredar benar bahwa nanti malam akan ada yang melamar Qiya. Aku tak ingin keduluan orang kek. Kakek tahu jika perempuan sudah dilamar maka aku tak mungkin bisa melamar Qiya, sampai ia menolak lamaran itu."
"Baiklah sekarang saja. Sudah itu langsung bawa kakek menemui Papa mu."
Ketika dua orang itu berlalu. Cita seketika menghentikan langkah Alam.
"Alam!" teriak Cita melihat Alam yang bersiap pulang.
"Apa Cit." Suara Alam kaget.
ponsel dan dompet yang berada ditangan Alam ia masukan kedalam bajunya tepat di bagian d@da.
__ADS_1
"Gila! Balikin ga! Apa-apaan sih Kiting!" Bentak Alam marah.
Cita justru membusungkan d@danya. Alam jelas tak berani mengambil benda yang kini bersembunyi di balik kaos dokter itu.
"Ambil kalau berani. Gue teriak ni klo Lo berani ambil." Tantang Cita.
"Cita, Cicit, Kiting. Mau kamu apa? Please. Gue lelah. Balikin!"
"Ada syaratnya." cita tersenyum nakal.
"Ya tuhan. Jangan bilang elo mau minta gue k@w!nin ya. Ga sudih Gue." Ucap Alam penuh emosi.
"C!h. Saya juga ga sudih. Tapi ini demi cinta Rama dan Sinta. Maka elo juga harus bantu gue baru gue balikin ini dompet plus handphone Lo." Ucap Cita.
Alam mendengus kesal. Ia pun menatap Cita penuh emosi.
"Rama, Sinta siapa? Cepat katakan! gue ga punya banyak waktu. Taksi gue udah nunggu" Gerutu Alam.
Cita akhirnya tersenyum senang.
"Lo lihat lelaki yang dorong tuh kakek-kakek pakek kursi roda,"
"Ya."
Ia tak ingin jika harus berurusan dengan si cerewet dan si sewot Cita. Akhirnya ia bergegas berjalan menuju arah Hilman. Ia sengaja membuka air mineral nya dan ia berlari seolah-olah menabrak Hilman dan sang kakek. Air itu tumpah mengenai Pak Toha yang berada di Kursi roda.
Alam kaget, ia tak bermaksud jika akan mengenai kepala dan membasahi tubuh Pak Toha. Namun nasi sudah menjadi bubur. Sedangkan Cita menghubungi bagian administrasi meminta menghubungi dokter Gede dengan Alasan Ponsel dan Dompet nya terbawa oleh Cita. Maka pramugari di pesawat meminta Gede untuk turun.
Tiba di hadapan Cita. Tangan lelaki itu di seret Cita paksa.
"Dokter...."
"Udah diem dok. Ikut saja. Ini gaswat. Rahwana sedang akan menculik Sinta. Ayo buruan." Ucap Cita tak memperdulikan dokter Gede.
"Tas saya masih ada di pesawat." Protes dokter Gede.
"Ya elah. Tas sama isinya bisa beli lagi. Ini Qiya kalau dilamar orang dan nikah. Dokter ga bakal bisa nikah sama dia! bisa-bisanya mikir tas dibanding Qiya. Cinta ga sih sama Qiya!" Bentak Cita yang kepalanya sudah mau pecah. Entah kemana rasa hormat dan sungkan pada dokter pembimbing itu.
Mungkin kenapa ia begitu tak menyukai Hilman. Ia merasa sakit hati ketika mendengar cerita bahwa pernikahan mereka dibatalkan sepihak hanya karena kabar yang belum jelas. Sehingga sahabat sejatinya menjadi bahan gunjingan dan gosip terhangat di kalangan alumni seangkatan mereka.
Maka ia orang yang pertama yang berusaha agar Hilman tak meminang apalagi menikah dengan Qiya saat itu. Ia tak tega jika sahabatnya kembali dipinang lelaki tak berpendirian itu.
Dokter Gede hanya pasrah ketika tiba di depan bandara. Ia pun masuk kedalam sebuah taksi mengikuti Cita. Didalam mobil dia hanya melongo tak percaya ketika Cita mengeluarkan ponsel dan Dompet dari dalam kaosnya. Gadis itu menyimpan dua benda itu kedalam tas ranselnya.
"Kemana mbak?" Tanya sopir taksi.
__ADS_1
Cita menunjukkan alamat Qiya. Sopir pun mengangguk.
"Siapa yang mau melamar Dokter Qiya?" tanya Dokter Gede penasaran.
"Si Rahwana dokter.... Pokoknya dokter harus lebih dulu sampai sana." Saat akan masuk jalan tol. Cita melihat jam, ini waktu paling macet jika lewat tol.
Ia meminta sopir taksi itu ke alamat baru yang tak lain rumahnya.
Tiba di sebuah rumah. Lelaki paruh baya yang baru mencuci motor matic anak gadisnya nya kaget karena putrinya pulang dengan seorang lelaki dan ia cepat cipika dan cipiki pada ayahnya.
"Ayah, STNK nya di jok motor kan?" Tanya Cita to the points.
"Iya. Ini siapa? Kamu mau kemana?" Tanya Sang Ayah.
Saat Cita sudah duduk diatas motor dan menggunakan helm, ia tak lupa menyerahkan satu helm ke dokter Gede.
"Pakek Dok." Ucap Cita.
"Ini Yah. Qiya lagi mau diculik Rahwana. Aku harus antar Rama untuk segera sampai ke tempat Qiya." Ucap Cita semangat.
Sang ayah yang satu server pun segera mendekati dokter Gede.
"Selamat uji nyali. Jangan berani peluk anak saya dari belakang kalau tidak mau saya suruh k@w!nin sama anak saya satu-satunya." Ucap Ayah Cita.
Dokter Gede menelan salivanya. Cita sudah menghidupkan motor maticnya. Ia tinggal menunggu dokter Gede naik ke atas motornya.
"Saya aja yang nyetir dok." Ucap Dokter Gede malu.
"Ya Ela. Valentino Rossi juga kalah Dok kalau balap lawan saya lewat jalur tikus. Udah buruan naik. Itu ransel biar sini saya pakai, kalau haram nyentuh saya!" Protes Cita.
Sang ayah pun memberikan ransel milik cita pada punggung putrinya. Ia tak rela jika lelaki yang entah siapa namanya dan apa hubungannya harus menyentuh tubuh putrinya, dengan jarak yang amat dekat. Sang anak pasti akan sangat ngebut mengendarai maticnya. Ia tahu betul, karena kebiasaan sering kesiangan menjadikan ia bak Valentino Rossi di jalanan ibu kota saat ada jam kuliah pagi.
"Ayo dok! Ya dia kl3m@r kl3mer. Keduluan Si Maman alias Rahwana era digital ini!" Teriak Cita.
Dokter Gede yang mendengar nama Hilman. Ia tak pikir panjang, ia tak menghiraukan rasa malu di bonceng perempuan. Ia pun pasrah. Demi Sinta alias Qiya yang mungkin sedang diincar Rahwana alias Hilman, ia rela duduk di belakang ransel Cita dan dibonceng gadis yang benar-benarmengendarai motor maticnya di atas rata-rata. Bahkan ketika melewati gang sempit, polisi tidur ditabrak saja tanpa menarik rem. Maka perut dokter Gede terasa bak di kocok.
Pinggang dan perut sakit, belum lagi ia harus menahan tubuhnya agar tak maju kedepan sehingga memeluk tubuh gadis itu dari belakang. Ia pun berpegang pada jok belakang motor Cita. Mungkin saat itu orang-orang yang melihat itu sedang tertawa.
"Ya Allah Qiya, Jika bukan demi kamu. Aku tidak akan mau di bonceng perempuan kayak gini. Lewat gang sempit pula. Daripada kamu dilamar duluan Hilman. Tolong ya Allah. Izinkan saya lebih dulu sampai dibandingkan Hilman." doa Dokter Gede.
Tak lama di kediaman Bram, keluarga itu di kejutkan dengan tamu yang mengatakan ingin bertemu Bram dan Ayra.
"Siapa?" Tanya Ayra pada asisten rumah tangga, ia yang sedang sibuk membantu Nur dan Qiya membungkus oleh-oleh untuk di bawa kerumah Arumi nanti malam.
"Anu Bu... Anu.... " ucap asisten itu sedikit ragu.
__ADS_1