Pesona The Twins

Pesona The Twins
24 Kedatangan Ayra dan Bram


__ADS_3

Pagi sesaat sebelum Cita pulang ke kontrakan mereka. Ia harus menunggu pergantian shift. Qiya pun menelpon Ayra karena bagaimanapun ia tak mungkin merepotkan Cita yang sedang juga menjalankan internship.


Putri Bram itu menyentuh layar ponselnya lalu menempelkan benda pipih itu di telinganya. Tak lama suara perempuan yang telah melahirkan nya pun menjawab panggilan dari nya.


"Assalamu'alaikum."


"Walaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh... Ma...." Ucap Qiya.


Ada rasa bergetar saat ia memanggil sosok perempuan yang telah melahirkan dirinya itu. Bagaimana pun ia masih teringat kejadian yang membuat ia berujung harus beristirahat di tempat tidur pesakitan itu.


"Ada pa Qiy? Bagaimana liburannya?" Ayra di seberang memang tahu jika buah hatinya sedang libur bertugas.


"Ma... Qiya kangen Mama... Mama bisa ke wahana tempat Qiya Internship?" Tanya Qiya hati-hati.


"Hem.... Baiklah," Ucap Ayra sedikit berhenti.


"Siapa?" Suara lelaki yang tak lain adalah Bram.


"Qiya." Jawab Ayra cepat.


Ada rasa sakit di hati Qiya mendengar suara Bram. Namun ia menepis rasa itu kala sang ayah menanyakan kabarnya.


"Qiy... Kamu tidak ingat papa?" Protes Bram karena sudah beberapa hari ini Putrinya yang sering mengingatkan dirinya tentang asam lambung atau hanya mengirimkan stiker di ponsel CEO MIKEL Group itu.


"Qiya lagi sibuk kemarin Pa. Liburan juga Qiya harus prepare buat laporan dan catatan-catatan. Belum lagi masih harus tetap setoran sama Mbah Uti.... " Kilah Qiya.


"Mas, Qiya ingin kita ke Wahana nya internship " Ucap Ayra di seberang dan terdengar oleh Qiya.


"Oke. Papa ikut sekalian...." Ucapan Bram terputus karena sang istri melebarkan pupil matanya dan membuat ucapannya terhenti. Qiya tak bisa melihat interaksi itu karena ia melakukan panggilan itu vya telpon bukan video.


"Mama saja Pa.. " Ucap Qiya pelan.


Hatinya masih harus ditenangkan, ia tak tahu apakah mampu bertemu Bram. Saat ini bahkan hatinya berbisik untuk tak merespon lelaki yang mencari nafkah untuk Ayra dan mereka anak-anaknya. Namun apa yang diajarkan guru-gurunya. Serta didikan sang ibu untuk tetap memperlakukan orang lain sebaik mungkin karena bukan orang yang alim jika ia tak bisa berbuat pada semua makhluk Allah.


Maka Qiya masih dalam nada bicaranya menunjukkan kesopanan pada sang ayah. Padahal prasangka dalam hatinya sudah sedemikian besar. Hati anak mana yang terima melihat ibunya di khianati. Terlebih sang ibu di mata sang anak nyaris tak memiliki kekurangan hingga di geser atau bahkan di ganti oleh perempuan lain. Qiya memiliki prinsip yang sama. Ia tak sepaham dengan poligami.

__ADS_1


Walau agama memperbolehkan. Namun bagi dokter yang sedang menjalani internship itu, jika sang suami ingin menjalankan Sunnah Rasulullah. Ia lebih ridho untuk Sunnah-Sunnah yang lain. Seperti Rasulullah yang shalat malam hingga kakinya bengkak.


Sambungan telepon pun berakhir dengan Bram ikut mengunjungi Qiya. Ia yang merasa tak ada jadwal penting di perusahaan membuat dirinya meminta sang Aspri untuk segera mengantar dirinya dan Ayra pergi ke tempat Qiya.


Setibanya di rumah sakit. Saat mereka baru tiba di rumah sakit itu. Cita yang berada di IGD dan dari tadi memang menanti dua orang yang ia sudah anggap seperti Tante dan om nya.


"Tante!" Teriak Cita yang setengah berlari ke arah Ayra.


Perempuan itu sudah biasa karena sering bersama Qiya. Ia mencium punggung tangan Ayra layaknya ia bertemu orang tuanya.


"Qiya mana Cit?" Tanya Ayra karena ia tak melihat sosok Putrinya yang meminta dirinya untuk kesana.


"Ada Tan. Dia di ruangannya. Saya antar Tan." Ucap Cita.


Ayra dan Bram mengira jika anaknya berada di ruangan kerja bukan ruangan pasien. Karena sungguh putrinya sedari sekolah selalu berusaha untuk tak membuat kedua orang tuanya khawatir. Prinsip Qiya adalah ketika ia belum bisa membahagiakan kedua orang tuanya, paling tidak ia tidak menyusahkan kedua orang tuanya.


Tiba di depan ruangan pasien, Ayra dan Bram saling pandang.


"Dia lagi periksa pasien?" Tanya Bram cepat melihat Cita yang baru akan membuka pintu kamar pasien itu.


"Tidak Om. Maaf ya Tante... Cita ga bisa jaga Qiya. Dia lagi sakit..." Ucap Cita sambil sedikit tertunduk dan mengusap tengkuknya.


"Tante masuk saja ya. Saya mau kembali ke IGD." Ucap Cita sambil membuka pintu kamar Qiya.


Saat pintu terbuka. Qiya melihat sosok yang sangat ia cintai. Ayra setengah berlari mendekati putrinya. Tiba di sisi sang anak, ia mengusap dahi putrinya. Ia mengecup dahi sang anak.


"Kamu kenapa Qiy?? Kenapa tidak beri tahu Mama?" Ucap Ayra yang khawatir.


"Kan ini Qiya sudah beritahu Mama." Ucap Qiya pelan.


Ayra melihat bibir anaknya terlihat kering, mata yang sedikit sembab dan cekung.


"Sakit Apa Qiy?" Tanya Ayra sambil duduk di kursi yang ditarik oleh Bram untuk istrinya.


Bram pun duduk di sisi kiri anaknya. Ia duduk tepat di sisi betis Qiya. Lelaki itu memegang lutut putrinya yang terbungkus selimut.

__ADS_1


"Kamu kelelahan Qiy? bibir mu pucat sekali nak..." Ucap Bram sambil menatap Qiya.


Qiya pun menatap bola mata Bram. Ia mencoba mencari sesuatu yang berbeda dari tatapan sang ayah, namun ia tak menemukan itu. Ia melihat tatapan Bram masih sama. Tak ada yang berubah. Bahkan body language Bram kepada sang istri pun terlihat masih sama.


Dari cara dirinya menarik kursi dan ketika baru masuk keruangan itu. Qiya pun berusaha menarik sudut bibirnya.


"Maafkan Qiya Ma, Pa. Qiya kurang hati-hati kemarin. Qiya di patuk ular." Ucap Qiya sambil menggenggam tangan Ayra.


Hati ibu mana yang bisa tak bersedih mendengar bahwa putrinya di patuk ular. Walau sang anak masih selamat namun ada air mata yang tak bisa diminta untuk tak mengalir. Ayra pun menitikkan air mata. Ia tak percaya jika sang anak mendapatkan musibah itu.


"Alhamdulilah, Allah masih melindungi kamu Nak... Doa mama selalu untuk keselamatan dan kebahagiaan kalian anak-anak Mama...." Ucap Ayra sambil menahan rasa sesaknya.


"Walau bibir mu tak berucap bahwa engkau patah hati karena batal menikah, Mama bisa merasakan kepergian mu ke tempat ini adalah untuk mencoba tak merasakan rasa sakit dan kecewa. Namun kembali Allah beri kamu cobaan." Batin Ayra ketika berkali-kali ia usapkan telapak tangan sang anak di satu pipinya.


"Kamu sudah makan?" Tanya Ayra untuk menghilangkan rasa sedihnya.


"Sudah Ma. Cita tadi yang suapkan." Ucap Qiya pelan.


"Wait. Cita. Kalian tidak punya hubungan khusus kan sayang? Kenapa Papa lihat Si Cita itu begitu perhatian pada putri Papa ini?" Goda Bram yang berusaha mendengar suara tawa sang anak.


Dan godaan Bram berhasil membuat Qiya sedikit menahan tawa.


"Papa... Nanti orangnya dengar, Papa suka sekali melihat wajah Cita yang sudah cemberut karena sering Papa Goda." Ucap Ayra.


"Papa sekarang sudah pintar menggoda ya Ma. Semoga hanya kita yang di goda." Ucap Qiya sambil tersenyum dan memandang wajah Bram. Ia berharap wajah sang ayah berubah karena bahasa satire yang ia berikan. Namun wajah itu tak berubah sama sekali.


"Papa bahkan biasa saja. Papa tak merasa bersalah. Siapa perempuan bernama Nur itu Rabb... " Batin Qiya yang berusaha mencari kebenaran lewat body language sang Papa dan interaksi Bram pada Ayra pun nyaris tak berubah.


Saat keluarga itu sedang mencoba mencari berbincang. Seorang dokter yang akan memeriksa kondisi Qiya masuk keruangan. Bram yang seorang lelaki mengamati sang dokter. Ia melihat bagaimana lelaki itu berusaha untuk tidak memandang wajah putrinya.


"Bagaimana kabarnya siang ini dok?" Tanya Dokter Gede pada Qiya sambil mencatat sesuatu di kertas yang ada ditangannya.


Ia lalu melihat bibir Qiya yang kering. Ia meminta sang pasien untuk membuka mulutnya. Ia memeriksa bagian dalam mulut Qiya. Tubuh dokter Gede pun sedikit menunduk.


Hal itu membuat dada dokter itu berdetak tak karuan. Namun saat sang dokter memeriksa mata pasiennya. Ia sedikit tertegun, bahkan ia sedikit gemetar kala matanya menatap kedua netra Qiya.

__ADS_1


Dan deheman dari Bram membuat Pen Light yang ada ditangan dokter Gede terjatuh.


"Ehem.... ehem...."


__ADS_2