
Nicholas menoleh kearah Ammar. Ia tampak cuek. Pak Broto pun meminta Nicholas keruang kerjanya. Bram pun ikut serta karena Nicholas menginginkannya. Ammar hanya diam ketika satu kode kedipan mata diberikan oleh Bram.
Ammar hanya kembali duduk. Ia bingung apa maksud lelaki itu datang dan seolah mengenal Papanya. Saat Bram pergi ke ruang kerja Pak Broto. Ayra justru tertarik mendekati calon menantu yang satu minggu lagi akan dilamar secara resmi oleh Bram dan keluarga besarnya.
Istri Bramantyo itu duduk di sisi Arumi.
"Boleh Mama gendong?" Ucap Ayra lembut.
Arumi mengangguk pelan. Bocah kecil itu memandangi wajah Ayra ketika dua tangan Ayra di buka menandakan ia ingin menggendong dirinya. Entah kenapa balita itu ikut menjulurkan kedua tangannya sehingga Ayra menggendongnya.
Pipi Ifah di cium bolak balik oleh Ayra. Ammar melihat apa yang dilakukan Ayra merasa lega. Keputusannya tidak mengecewakan Mamanya. Walau menantunya seorang gadis, tapi hadirnya Ifah tentu akan menjadi banyak tanda tanya keluarga besar juga juga beberapa relasi bisnis.
Arumi merasakan jika apa yang Ayra tunjukkan adalah satu tindakan yang tidak dibuat-buat hanya untuk meraih perhatian tetapi tulus dari hatinya. Ammar pun permisi untuk menikmati rokok. Ia keluar menemui Marvin yang menunggu di teras depan.
Ayra menoleh ke arah Miss Allyne.
"Katakan, apa yang anak saya lakukan pada anda hingga membuat anda tidak nyaman?" Tanya Ayra pada Miss Allyne sambil memeluk Ifah.
"Anda bayangkan. Mereka bertukar posisi. Marvin jadi Ammar dan Ammar jadi Marvin. Bagaimana saya tidak merasa di bodohi. Saya bertemu Marvin dan mereka akting seolah-olah semua nyata." Ucap Miss Allyne kesal.
"Saya mohon maafkan putra saya."Ucap Ayra pelan.
"Hhhuh... Saya memaafkannya. Tetapi rasa kesal saya lebih besar untuk Marvin. Dia pandai sekali berpura-pura." Ucap Miss Allyne kesal karena mengingat gaya Marvin ketika bersama dirinya dan berperan sebagai Ammar.
Ayra setengah menggeleng kepalanya.
"Dan kamu, maafkan jika Ammar membentak mu. Jika memang Minggu depan kami jadi melamar mu secara resmi. Besok Mama ingin kamu ikut Mama untuk membeli hantaran." Ucap Ayra pada Arumi.
Entah kenapa Arumi hanya mampu mengangguk. Ada keteduhan memandang wajah perempuan paruh baya yang sebentar lagi akan menjadi ibu mertuanya. Ponsel Ayra berbunyi tanda pesan di grub keluarga masuk. Ayra membukanya, dan ternyata dari Qiya. Putrinya menanyakan perihal lamaran Ammar. Ayra membalas dan mengatakan jika lamarannya di terima.
Qiya pun meminta dikirimkan foto calon kakak iparnya. Ayra pun dengan sopan meminta izin pada Arumi.
__ADS_1
"Ar, Qiya ingin melihat calon kakak iparnya. Bagaimana kalau kita mengirimkan foto bersama." Ucap Ayra.
Gerakan tubuh Arumi yang mendekat ke arah Ayra membuat Ayra merangkul tubuh Arumi. Ifah juga ikut dalam gambar itu. Beberapa detik foto pun terkirim ke Qiya. Arumi pun diperlihatkan oleh Ayra foto kembaran Ammar. Ia tak menyangka jika Ammar memiliki kembaran perempuan. Dan ia pun akhirnya memaklumi jika Ammar begitu ingin jika kelak ia menjadi istri Ammar untuk mengenakan hijab. Ia melihat Ayra, Qiya dan foto Nur yang juga mengenakan jilbab. Disana ia melihat perempuan-perempuan di dalam kehidupan Ammar begitu rapi, santun, tertutup tapi tetap cantik. Di dalam ruangan Pak Broto, Bram justru dihadapkan dengan sebuah rasa kesal terhadap Pak Broto.
"Anda sudah keterlaluan Pak Broto. Apakah anda tidak tahu jika putra saya juga memiliki keluarga. Istri saya bahkan selama berapa bulan ini bahkan nyaris setiap malamnya dia selalu terbangun karena mengkhawatirkan kondisi putranya?!" Ucap Bram menahan emosinya.
Nicholas memastikan jika agennya ada di kediaman Pak Broto. Bram merasa kesal karena selama ini ia meminta orang-orang untuk mencari keberadaaan putranya.
"Sabar Pak Bram. Anda harus tahu dua alasan saya menyembunyikan lelaki yang ternyata putra anda. Pertama tepat dimana ledakan itu terjadi. Tubuhnya berada di sisi putri saya. Dan semua foto putra anda ada di beberapa berkas putri saya. Kedua, ada kelompok lain yang juga memburu putra anda. Bahkan saat membawa putra anda kemari kami sempat baku tembak dengan beberapa orang yang juga berniat menghabisi putra anda." Ucap Pak Broto berusaha meyakini Bram.
Ia tak ingin rencana lamaran putrinya dengan Sulung Bram di gagalkan dengan alasan kesalahannya menyembunyikan Ibrahim. Walau di awal-awal ia memang merasa kesal karena Ibrahim Putrinya meninggal dunia. Nicholas pun membenarkan hal itu. Ibrahim memiliki bukti dan ia saksi kunci mafia migas yang membuat harga minyak tidak stabis di tanah air, bahkan harga bahan minyak tadi sengaja dibuat semurah mungkin di petani.
Bram masih duduk dengan melipat satu kakinya diatas kaki yang lain. Ia mengusap dagunya berkali-kali.
"Sekarang dimana putera ku?" Tanya Bram.
"Ada, Saya a-"
Bram menghela napasnya dengan kasar.
"Tidak! Hari ini juga saya akan membuat surat pengunduran diri putra saya. Dendanya juga akan saya urus hari ini juga!" Bram tak tega jika harus melihat air mata dua orang perempuan yang terus mengalir disetiap malam hanya untuk bermunajat agar ada keajaiban.
Dan ketika ia bertemu dengan keajaiban itu. Ia tak ingin kehilangan anaknya kedua kalinya. Disaat sang anak tak ingat siapa dirinya. Itu adalah saat dimana ia bisa mengambil hak sebagai walinya untuk mengambil jalan hidup yang ditempuh.
Nicholas menatap Bram tak percaya.
"Tapi pak, Ibra adalah agent terbaik dan prestasinya di lembaga kami begitu baik." Ucap Nicholas karena ia tak ingin kehilangan agen terbaiknya dan memiliki bukti untuk sebuah kasus besar namun belum sempat diserahkan kepada tim divisinya.
Bram sudah bulat. ia menelpon beberapa anak buahnnya untuk meyusul membawa satu mobil lainnya. Ia pun bahkan mengatakan pada Pak Broto meminta waktu selama 10 hari untuk memikirkan akan meneruskan hubungan Ammar dan Arumi ke jenjang pernikahan atau tidak.
Tiba di satu kamar dimana terdapa lelaki yang terlihat seperti orang albino karena luka bakar di sekujur tubuhnya, lelaki itu menatap Bram waspada. Bram mendekat dan ingin memeluk putranya namun Ibrahim mundur berapa langkah.
__ADS_1
"Aku Papa mu," Ucap Bram.
Ibrahim hanya menatap Bram, Ia merasa tak asing dengan satu benda yang di pakai Bram. Sebuah Pin berwarna perak di saku kemejanya. Pin itu adalah milik Ibrahim ketika ia berhasil mendapatkan gelar sebagai siswa dengan nilai tertinggi di sekolahnya.
Satu pelukan dari Bram membuat ia merasa hangat. Ia merasa seperti tanaman yang layu dan mendapatkan pupuk disaat yang tepat. Bram pun mengajak putranya untuk pulang bersama. Di lantai bawah Ayra dan Ammar cukup kaget melihat Marvin masuk ditemani beberapa orang yang biasa menemani Bram ketika CEO MIKEL group itu membutuhkan pengawalan. Tak lama Bram turun bersama Ibrahim dan Nicholas juga Pak Broto. Melisa menatap wajah suaminya. Ia bingung bagaiamana suaminya membiarkan lelaki itu bersama calon besannya.
Ayra adalah ibu yang selalu menggunakan hatinya. Lama di pondok pesantren bukan berarti ia tak mengenali gesture sang anak bungsu. Dari cara berjalan, cara lelaki itu menatap mereka di bawah, membuat Ayra segera menyerahkan Ifah pada Arumi. Ia berdiri dan setengah berlari ke arah lelaki yang terlihat mengenakan kaos putih dengan kulit bekas luka bakar yang belum terlalu sembuh di beberapa bagian.
Tanpa bertanya, melihat suaminya merangkul lelaki itu membuat Ayra segera memeluk Ibrahim. Postur tubuh yang tak terlalu jauh berbeda membuat Ayra melabuhkan di dada sang anak.
"Alhamdulilah ya Allah... Terimakasih masih melindungi putraku dan memberikan kami kesempatan untuk masih bisa bersama... Mama selalu yakin jika kamu baik-baik saja Nak..." Ucap Ayra penuh isak tangis.
Ammar mendengar jelas ucapan ibunya. Ia masih berpikir bagaiamana Ibrahim ada di kediaman Pak Broto. Bram pun mengajak keluarganya pulang. Ayra pun seolah tak ingin berpisah dengan putranya. Dari keluar kediaman Pak Broto, ia masih terus menggenggam tangan Ibrahim. Bahkan di dalam mobil ia masih ingin bersama putranya. Ia bersandar di lengan Ibrahim dan duduk di bangu yang sama. Ammar yang ingin mengalah untuk naik mobil berbeda bersama Marvin, di cegah oleh Bram. Ia meminta putranya yang mengemudikan mobilnya.
"Jika dalam menyelesaikan masalah ada jalan musyawarah dan Istikharah. Maka aku ingin besok kita ke Kali Bening. Sebelum memutuskan apakah Ammar dan Arumi akan terus atau tidak."Ucap Bram.
Ammar menoleh ke arah Bram dan Ayra merenggangkan pelukannya pada sang anak. Paham lagi di jalan, Ammar dan Ayra hanya diam tak berani berkomentar. Mereka paham Bram adalah kepala keluarga mereka. Maka mereka akan menunggu penjelasan Bram.
"Ada apa lagi ini? Sesulit inikah untuk menghalalkan orang yang di cintai?" Batin Ammar masih fokus mengemudikan mobil.
"Apakah ada masalah, apa terkait Ibrahim? Jika memang dibutuhkan istikharah, maka aku akan meminta para ahlinya." Batin Ayra.
Ayra memang terbiasa melakukan hal itu, termasuk ketika ia akan terjun ke kancah dunia politik. Ia bahkan ditemani Umi Laila ke beberapa Kyai Sepuh yang merupakan guru Ayra dan Kyai Rohim. Ayra tak berani hanya mengandalkan istikharahnya saja. Ia yang bukan ahli menafsirkan istikharah itu sendiri, ia berharap bisa meminta pendapat ahlinya dalam hal ini. Karena ingat betul bagaimana salah satu kisah Furqon dulu ketika melamar seorang gadis dan di tolak hanya karena Istikharah gadis itu dan ia salah menafsirkan. Dan ketika Furqon telah melamar gadis lain, keluarga perempuan itu memberikan klarifikasi untuk menerima karena setelah beberapa sesepuh guru gadis tersebut justru melihat hasil yang baik namun nasi sudah menjadi bubur. Furqon sudah melamar gadis lain, gadis itu mendapatkan simbol jika menikah dengan Furqon akan susah. Hidupnya akan berliku-liku dan terjal.
Namun sayangnya perempuan itu tak bertanya dulu, karena bagi Furqon dan Kyai Rohim hanya tertawa untuk guyonan menghibur hati yang kecewa.
"***Lah ya berliku-liku wong kita tinggal di desa yang jalanannya aspal yang banyak berlubang. Seandainya dia sudah kemari dia harusnya tahu arti mimpinya bahwa besok kalau menikah sama kamu dan akan di bawa kemari. Jalannya ya berliku-liku dan tak semulus di kota*****."**
Semenjak saat itu Ayra mendapatkan pelajaran bahwa istikharah adalah sesuatu yang dibutuhkan ilmu dan pelaku istikharah itu sendiri kualitas ibadahnya atau pemahamannya sendiri dalam menafsir jawaban dari istikharahnya sendiri, agar tak salah menafsirkan. Maka Bram pun berniat untuk urusan kali ini ia akan meminta bantuan sulung dari Kyai Rohim dan Umi Laila yang Bram anggap adalah guru bagi dirinya.
Ya, Furqon adalah Guru pertama Bram mengenal agamanya. Tiba dirumah Bram, Nur yang mendengar mobil mertuanya telah kembali. Ia bergegas menyambut mertua dan kakak iparnya. Ketika di ruang depan, Ia terpaku menatap seorang lelaki yang berdiri di apit oleh Ammar dan Ayra.
__ADS_1
"Mas... Ibra..." Ucap Nur yang berdiri memegang pinggiran tangga. Air matanya mengalir deras. Penampilan yang berubah tak membuat Nur lupa jika lelaki di depannya adalah sang suami. Ibrahim tak mampu mengingat apapun.