
Ammar bersama Marvin telah berada di butik yang menjadi tempat Ayra memesan baju anak-anaknya dan keluarga besar untuk acara pernikahan Qiya dan Ngunduh mantu.
Arumi datang bersama Miss Allyne. Perempuan keturunan Indonesia itu ingin bertemu Marvin. Ada hal yang ingin ia tuntaskan dengan lelaki itu. Ia merasa kesal karena pasca kebohongan Ammar. Lelaki itu tak pernah membahas apa hubungan mereka. Sehingga ia pun tersiksa sendiri karena sikap lelaki itu yang tampak biasa saja.
Arumi yang memberikan saran pada Miss Allyne agar kali ini, dirinya yang harus berinisiatif mengambil lebih dulu untuk menanyakan dan memastikan tentang perasaan dan hubungan mereka.
Tiba di butik itu, Marvin masih menunduk tak berani menatap Miss Allyne. Arumi dan Ammar saling pandang. Ammar pun yang mengerti jika Arumi meminta agar ditemani ke dalam. Akhirnya Miss Allyne dan Marvin berada di depan ruang fitting baju.
"Saya tinggal ya Miss." Ucap Arumi pada sang sahabat baru dalam hidupnya.
Anggukan dari Miss Allyne membuat Arumi pun menghilang dari balik pintu diikuti Ammar.
Tiba di dalam ruangan itu. Ammar pun sibuk dengan ponselnya.
[Sudah sampai mana Qiy?]
[Sebentar lagi kak. Cita mabuk. Seperti biasa]
[Kenapa ga Bawak mobil bak aja tadi, Cita suruh duduk di belakang 🤪]
[Tega kakak. Kak Arumi sudah fitting?]
[Masih di dalam.]
[Kirim ya kak fotonya]
[Limited Edition. Bukan untuk kalangan umum😂]
[🙄🙄🙄 Semoga kak Arumi punya stok sabar besok punya suami seperti kakak, suka bikin kesel]
Ammar tersenyum menatap layar ponselnya. Ia paling suka sekali mengganggu adiknya. Tiba-tiba pintu di sisi Ammar terbuka. Ayra telah datang bersama Nur.
"Mama, Nur.. Kapan sampai?" Tanya Ammar.
"Baru pagi tadi Kak."
"Dan kamu kenapa disini?" Ucap Ayra sambil menundukkan kepalanya sehingga ia menatap putranya dari atas bagian kacamata bukan dari balik kacamatanya.
Ammar mengusap tengkuknya. Ia merasa malu.
__ADS_1
"Cuma mau lihat bajunya cocok apa ga sama Arumi Ma." Kilah Ammar.
"Alasan.... Biar Mama yang urus kalau soal Pesona nya Arumi. Sana keluar, Ndak tambah galau nanti menunggu ijab." Ucap Ayra.
Ammar dengan berat hati cepat keluar dari ruang fitting itu. Saat ia keluar, Arumi justru muncul dari balik pintu kamar ganti.
"Cantik...."
"Masyaallah... Untuk putra Mama sudah keluar, kalau tidak bisa susah tidur dia Ar." ucap Ayra.
Seketika Nur teringat seseorang saat Ayra memanggil nama Arumi dengan Ar.
"Terimakasih Ma. Arumi justru merasa terharu karena Gaunnya betul-betul bagus." Ucap Arumi yang terlihat menggunakan sebuah gaun pernikahan yang berwarna putih. Ada sebuah mahkota kecil di atas kepala sang calon menantu.
"Kenapa suaranya juga mirip Ar... Apakah... Ah tidak mungkin...." Ucap Nur dalam hatinya mengamati Arumi.
Kini giliran Nur yang juga mencoba baju yang telah Ayra pesan untuk acara ngunduh mantu besok.
"Alhamdulilah, saya puas sekali dengan konsep yang saat minta sesuai sekali dengan hasilnya." Ucap Ayra pada designer yang menangani gaun pengantin 3 anaknya.
Sesaat Arumi pun yang baru berganti baju semula. Ia mendapatkan telpon jika Ifah terjatuh dari rumah tempat tidur. Balita itu terus memanggil nama Arumi. Ia ingin bersama Arumi. Baby sitter yang bingung pun bersama Melisa cepat menghubungi Arumi agar segera kembali.
Ayra dan Nur akhirnya menanti Qiya, Gede dan Cita.
Saat sudah berada di dalam mobil, Marvin telah menyalakan mobilnya. Melihat Gede keluar dari dalam mobil. Membuat Ammar menelpon Gede.
"Halo."
"Kenapa kak Ammar pergi. Kami baru tiba." Ucap Gede karena melihat mobil di yang baru saja lewat di depan dirinya.
"Putrinya Arumi terjatuh, dia menangis tak mau diam. Aku harus segera mengantar Arumi karena Miss Allyne yang tadi bersamanya telah pulang. Ada Mama di dalam." Ucap Ammar.
Gede pun mengiyakan.
"Apakah calon istri kak Ammar Janda Qiy?" Tanya Gede penasaran ketika berjalan ke a rah Lobby butik mewah tersebut.
"Limited Edition. Dia gadis yang berhati ibu. Dia merawat seorang anak yatim dan sudah dianggap seperti anaknya sendiri." ucap Qiya.
"Benar-benar berhati besar ya." Komentar Gede.
__ADS_1
"Alhamdulilah, sepertinya Kak Arumi tidak hanya cantik parasnya tapi juga hatinya." Ucap Qiya sambil melangkah mencari keberadaan Ayra. Tiba di ruangan fitting. Gede merasa bingung karena ia sedikit kikuk .
Qiya pun mencoba gaun yang senada dengan milik Nur dan Arumi hanya saja, Gaun Qiya lebih simpel tak terlalu banyak mutiaranya. Jika dikenakan tak terlalu berat. Ayra sudah berpesan jika putrinya itu lebih suka ke yang elegan tapi tak terlalu menunjukkan kemewahan. Gaun Arumi yang paling banyak mutiara. Bahkan jika ditimbang maka gaun tersebut yang paling berat diantara ketiga gaun di hari ngunduh mantu besok.
"Bagaimana Qiy? Nyaman?" Tanya Ayra, Qiya pun tersenyum puas.
"Mama selalu tahu apa yang terbaik untuk anak-anak Mama." Ucap Qiya.
Cita pun tak lepas dari kebahagiaan, Ayra juga meminta satu kebaya untuk sahabat karib Qiya. Bahkan Ayah Cita pun mendapatkan batik seragam di acara ijab Qiya. Bagi Ayra dan Bram. Cita adalah teman putrinya yang memberikan warna sendiri dalam keluarga mereka. Karena dari ketiga anaknya. Hanya Qiya yang memiliki sahabat sampai bisa begitu dekat dengan keluarga.
"Wah Tante, begini berasa saya jadi harus nyiapin ponsel baru biar tambah keren pas selfie besok." ucap Cita yang mencoba kebayanya.
"Qiy, Mama dari sini langsung kerumah Arumi ya. Mama mau lihat kondisi Ifah. Kamu langsung pulang saja sama Gede ya?" Ucap Ayra.
"Nur pulang saja sama kita Ma. Kan baru sampai pagi tadi. Kasihan Bumil udah harus pergi jauh." Ucap Qiya pada Nur.
Nur pun mengangguk. Ia setuju ikut Qiya pulang. Setelah fitting baju. Gede pun mengantar Qiya kerumahnya. Cita juga berhenti disana karena sahabatnya meminta.
"Terimakasih ya Dok. Hati-hati dijalan. Sampaikan salam untuk Ibu dan Niang." Ucap Qiya sambil menyerahkan paper bag yang sebenarnya sudah ia siapkan di dalam tasnya. Sebuah brownies dan jamu yang biasa diminum oleh Umi Laila.
"Terimakasih." Masih berdiri di depan pintu mobil. Ia pun menunggu Qiya masuk kedalam rumah.
"Apa harus tunggu halal dulu baru boleh panggil mas?" tanya Gede penasaran.
Qiya tertunduk malu. Ia pun sedikit tersenyum.
"Ndak sopan kalau saya masuk Mas Gede belum pergi." Ucap Qiya yang paham jika dokter pembimbing yang akan menjadi suaminya itu menuntut dirinya di panggil 'Mas'. Selama di wahana Internship pun, mereka saling memanggil dokter. Tak berani memanggil Dek atau Mas.
Gede tersenyum senang mendengar panggilan 'Mas' dari Qiya.
"Semoga acara Kak Ammar di permudah dan dilancarkan sampai ke acar ijab kita ya Dek. Mas pulang dulu, mungkin nanti malam baru aktif ponselnya. Assalamualaikum." Ucap Gede.
"Walaikumsalam." ucap Qiya masih menunduk.
Gede pun masuk kedalam mobil dan melajukan kendaraan yang ia sewa menuju bandara. Ia akan terbang ke Bali. Satu Minggu lagi, ia Bu Ratih juga Niang Ayu akan menghadiri acara pernikahan Ammar.
Saat Gede sudah berada di pesawat. Gede mematikan ponselnya. Namun Ibu Ratih justru berkali-kali menghubungi putranya dan mengirim pesan. Ia berharap Gede membaca pesannya, Bu Ratih baru saja mendapatkan undangan dari keluarga Bram dan Ayra di mana tertulis acara pernikahan Putra sulung calon besannya yaitu di kediaman Pak Subroto yang tak lain mantan calon besannya. Ia berharap jika Gede masih berada disana. Gede bisa membicarakan pada Qiya terkait masalalu dirinya dengan Mayang.
Ia khawatir akan menjadi masalah jika Ammar atau Qiya tahu bahwa ia dan Mayang pernah menjalin hubungan bahkan hampir menikah.
__ADS_1
"Hhhhh... Mayang itu perempuan tidak benar. Katanya Bu Ayra, dia baru bertemu Ammar. Tapi dulu bukannya di lari di hari pernikahan karena lelaki lain? Apa aku telpon Bu Ayra saja ya?" Ucap Bu Ratih yang dari tadi menatap layar ponselnya. Berharap Gede membaca pesannya.