Pesona The Twins

Pesona The Twins
35 Keresahan Hati Ammar


__ADS_3

Tiga hari telah berlalu dari peristiwa penyelamatan Ammar terhadap perempuan yang penuh luka di tubuhnya. Ia belum diperbolehkan oleh Ayra untuk kembali terbang ke negara kangguru itu. Ia hanya memantau pekerjaan nya lewat email. Sebenarnya Ia menanti kabar dari orang yang diminta menyelidiki kasus hilangnya Ibrahim. Namun sampai hari ketiga belum ada kabar dari orang-orang yang ia suruh.


Pagi itu di kediaman Miss Allyne. Seorang CEO muda nan cantik juga anggun dibuat bingung. Hari ketiga ia bersama perempuan yang berada di kamar tamunya. Perempuan itu telah sadar. Namun yang membuat Miss Allyne bingung. Komunikasi hanya terjadi satu arah. Pertanyaan nya hanya di jawab sekedarnya oleh perempuan itu. Interaksi mereka sangat kaku. Perempuan itu hanya terlihat ceria ketiak bersama balita bernama Hanifah. Gadis mungil itu sering dipanggil Ifah oleh Alisha.


Miss Allyne masuk ke kamar Alisha. Ia menyapa tamu yang telah tiga hari menginap di kediamannya.


"Pagi Alisha. Bagaimana kondisi mu pagi ini?" Tanya Miss Allyne sambil menggoda Hanifah. Ia memegang pipi chubby balita itu.


"Alhamdulillah baik." Ucap nya.


"....." Miss Allyne bingung apa yang harus ia bicarakan lagi. Karena Alisha selalu diam saat ia mengajaknya bicara. Tatapan nya seperti orang ketakutan. Ia bahkan tak berani menatap lawan bicaranya.


"Katakan pada ku, apa yang bisa aku lakukan untuk dirimu dan Gadis mungil ini. Terus terang aku tak tega melihat apa yang lelaki itu lakukan padamu. Siapa lelaki itu? Suami mu?" Tanya Miss Allyne.


Alisha menundukkan kepalanya. Ia tak berani menjawab. Ia ingat bagaimana setengah bulan lalu ia mencoba kabur dari lelaki yang kemarin menyiksanya. Namun usahanya sia-sia. Ketika ia di bandara, ia tak bisa melanjutkan rencananya. Ia ingin pulang, ia pun tak tahu akan pulang kemana. Yang ia tahu ia memiliki orang tua di Indonesia. Namun ia tak tahu dimana alamat nya. Ia hanya sering berkomunikasi dengan ibunya lewat ponsel.


Ia tak memiliki ponsel dan juga tak memiliki uang.


"Aku seperti tawanan dalam mahligai pernikahan... Hiks... Hiks... Entahlah. Ia bilang aku adalah istrinya. Tetapi aku tak mengingat apapun tentang kisah aku dan dia. Bahkan aku tak tahu bagaimana raut perempuan yang sering menelpon ku. Yang sering aku panggil Umi." Ucap Alisha dengan suara tangisnya.


Miss Allyne seakan tertarik dengan Kisah hidup Alisha. Ia pun mendekati Alisha. Ia memeluknya dengan pelan. Jari lentiknya mengusap punggung Alisha.


"Ceritakanlah.. Agar aku bisa membantu mu... Terus terang aku sangat prihatin melihat kondisi mu. Dan bagaimana mungkin kau mengatakan kau tak tahu tentang dirimu sendiri sedangkan tadi kau mengatakan kau dan lelaki itu terikat pernikahan." Ucap Miss Allyne pelan dan mengusap punggung Alisha.


Hanifah yang melihat Alisha menangis. Ia seperti sering melihat kondisi seperti itu. Ia mendekati perempuan yang ia panggil Umi itu.


"Mi... Umm.... mi....na.. Nanan... nanis...."


[Mi... umi jangan nangis]


Alisha pun melerai pelukannya. Ia memeluk balita itu. Tangan balita itu pun memainkan jilbab Alisha.


Alisha menceritakan kisahnya pada Miss Allyne.


Ia hanya mengingat apa yang terjadi setelah ia sadar dari komanya. Ia saat itu terbaring di rumah sakit. Ia tak bisa berjalan karena kecelakaan. Ketika ia membuka kedua matanya. Ia telah melihat seorang lelaki. Karena ia tak mengingat apapun. Lelaki itu mengatakan jika dirinya adalah suaminya. Namanya Alex.


Alex mengatakan jika dirinya koma Karena kecelakaan. Mereka telah memiliki seorang anak yang berumur 4 bulan. Satu bulan setelah ia sadar dan sudah bisa berjalan kembali. Ia pun kembali ke sebuah apartemen. Apartemen itu aneh karena tak memiliki satu pun foto mereka. Bahkan sebuah pasport pun tak boleh di lihat oleh Alisha. Namun semakin Alisha banyak tanya semakin sering ia diperlakukan kasar.


Bahkan Alex akan sangat marah jika Alisha keluar dari rumah sendirian. Ia akan mencambuk bahkan mengurung Alisha di dalam kamar seharian kadang tak. diberi makan. Semakin hari, Alisha semakin terbiasa mendapatkan perlakuan suaminya. Ia selalu mengalah ketika suaminya bertindak semena-mena.

__ADS_1


"Kamu tidak pernah coba melawan?" Tanya Miss Allyne penasaran.


"Pernah, tapi berkahir Hanifah harus mendapatkan perlakuan kasar. Bahkan ia tak dibelikan susu." Ucap Alisha masih menitikkan air mata.


"Aku hanya bingung.... Apakah aku betul istrinya. Karena jika aku istrinya... Satu tahun aku menikah dengan dirinya... Dia tidak pernah memperlakukan aku dengan baik. Berbeda dengan orang-orang yang aku lihat. Suami istri saling menyayangi, tidak menyakiti. Sedangkan pernikahan aku dan Alex...." Ucapnya pelan. Ia tak sanggup meneruskan kalimatnya.


Sedangkan Miss Allyne mencoba mencari apa yang bisa berikan solusi untuk Alisha. Perempuan malang itu.


"Apakah kau masih mau kembali ke suami mu?" Tanya Miss Allyne.


Alisha menggeleng cepat. Ia pun langsung memegang punggung tangan Miss Allyne.


"Aku mohon....bantu aku... bantu aku untuk bebas dari lelaki itu. Bawa aku kemanapun Miss... Aku akan melakukan apapun untuk Miss jika Miss Allyne bisa menyelamatkan aku dari suami ku." Ucap Alisha sambil memelas dengan wajah penuh air mata.


Miss Allyne pun mengusap punggung tangannya.


"Sementara tinggallah disini. Jangan kemana-mana. Jika kamu butuh sesuatu. Kamu bisa memintanya pada asisten rumah tangga mu. Aku senang ada teman yang satu bahasa. Karena aku hampir tak pernah menggunakan bahasa ini diluar sana. Maka orang akan kaget ketika tahu aku bisa fasih berbicara bahasa Indonesia. Baiklah aku harus ke kantor. Istirahatlah. Ingat jangan pernah keluar dari kediaman ku. Kamu aman disini." Ucapnya.


Perempuan itu pun meninggalkan Alisha dan Hanifah di kamar mereka. Ia harus ke kantor untuk bekerja dan ia juga ada pertemuan dengan Ammar alias Marvin.


Disaat Ammar sedang mencari keberadaan Ayra, ia menemukan perempuan nomor satu di keluarganya itu sedang menyiapkan makan siang di temani Nur.


Ia belum melihat menu makan siang di atas meja.


"Nur yang masak. Dia masak sup cumi... Papa juga sudah lama tidak makan seafood." Ucap Ayra sambil meletakkan menu yang di bawah asisten rumah tangga ke meja makan.


"Baunya enak. Wah sepertinya aku dan Papa akan bertambah gemuk kalau semua perempuan dirumah ini pintar masak." Ucap Ammar membalikkan piring makannya.


Tiba-tiba ponselnya berdering. Ia mengeluarkan benda pipih dari kantongnya. Ternyata sebuah panggilan dari orang yang ia minta menyelidiki kasus Ibrahim juga perempuan yang bernama Alisha itu. Ammar bahkan belum mengetahui namanya.


"Halo..."


"Halo... Ya bagaimana." Ucap Ammar sambil berdiri dan menjauhi ruangan makan.


Ia berdiri di dekat pintu yang menghadap taman belakang. Namun ia masih bisa dilihat dari tempat Ayra dan Nur. Nur memperhatikan gerak bibir Ammar. Amat mudah bagi dirinya mendengar obrolan orang tanpa harus mendengarkan suara mereka. Ia berbekal pengalaman 4 tahun di lapangan sebagai tingkat dua ahli di lapangan, bisa dengan mudah membaca gerak bibir orang.


"Katakan ada berita apa?" Ucap Ammar.


"Kami sudah mendapatkan informasi perempuan yang kemarin anda minta Bos. Perempuan itu bernama Alisha. Dia istri dari Alek. Seorang lelaki pengusaha minyak dari Indonesia yang sedang membuka usaha di Australia." Jelas anak buah Ammar.

__ADS_1


Seketika Ammar langsung menutup panggilan itu. tak lama ponselnya berdering. Tanda pesan dari anak buahnya. Ia lihat email berisi biodata Alisha lengkap dengan foto perempuan bercadar.


"Hhhhhh... Astaghfirullah... Kenapa harus perempuan yang telah menikah dan istri orang Ammar... Ayolah Ammar..." Ucap Ammar.


"Istri Orang... Siapa yang Kak Ammar maksud. Apa ada hubungannya dengan Mas Ibra?" Batin Nur.


"Ammar... Ayo makan dulu. Nanti lagi mengurus pekerjaan." Panggil Ayra pada Ammar.


Sulung Ayra cepat bergegas berjalan ke arah meja makan. Ia yang tadi terlihat bersemangat, kini terlihat lesu. Ia bahkan mengambil nasi sedikit sekali. Tak ada percakapan setelah makan. Saat selesai makan, Ammar pun cepat ke kamarnya.


"Hhhhhh.... Semoga aku bisa melupakan dia. Tapi kalau lelaki itu suaminya. Suami macam apa yang memperlakukan istri dengan kejam begitu." Hati Ammar seakan menolak ketika otaknya meminta berhenti membayangkan atau memikirkan perempuan itu.


Satu hari itu putra sulung Ayra itu hilang gairah. Ia bahkan mengurung diri. Ayra yang melihat sore hari anaknya masih tak keluar kamar. Saat dari kamar Ibrahim. Ia pun mengetuk pintu ruangan kamar Putranya.


"Masuk Ma, tidak dikunci." Ucap Ammar.


Ayra mendekati anaknya. Ia melihat asbak yang begitu banyak puntung rokok. Saat anaknya akan mengeluarkan satu batang lagi rokok dari dalam tempatnya. Ayra menahan tangannya.


"Ada masalah apa?" Tanya Ayra.


"Andai cinta bisa memilih. Aku akan memilih gadis atau janda bukan istri orang Ma..." Ucap Ammar sambil memetik gitar yang berada dipangkuannya.


"Jadi dia istri orang?"


Ammar menganggukkan kepalanya.


"Tapi... di disiksa suaminya Ma."


"Mama pernah menceritakan dosa takhbib atau mengganggu istri orang Nak... Dosanya pun tidak akan gugur hanya dengan bertobat kepada Allah." Ucap Ayra sedikit melebarkan kedua matanya.


"Maafkan Ammar yang tidak bisa menjaga pandangan Ammar Ma." Ucap Ammar dengan penuh rasa penyesalan.


"Jauhi perempuan itu. Jangan mendekatinya lagi. Allah melaknat orang yang menganggu istri orang Nak. Kamu tahu arti terlaknat yang berarti jauh dari kasih sayang Allah, susah hidupnya, dan dimurkai Allah. Naudzubillah min dzalik.... " Ucap Ayra penuh penekanan pada anaknya.


Ammar menelan salivanya kasar. Suara ibunya terdengar sangat tegas. Dari kecil Ayra tak mentolerir anak-anak nya jika mereka melakukan kesalahan-kesalahan yang menyangkut syariat atau kewajiban anak-anaknya. Terlebih segala bentuk cara dan sikap ketika berhubungan dengan makhluk Allah yang bernama manusia. Tetapi ia akan memberikan penjelasan apa yang menjadi salah dan apa yang seharusnya dilakukan sesuai syariat agama.


"Ammar tidak akan menemui nya dan mendekati nya Ma. Ammar akan minta Marvin membantu dirinya atau mengembalikan dia ke keluarganya." Ucap Ammar.


Bibirnya mengatakan itu namun hatinya merasa perih. Seolah hati dan bibirnya tak sinkron.

__ADS_1


__ADS_2