
Tampak di kediaman Bu Ratih, Qiya berjalan mo dar mandir di teras bagian belakang rumah. Ia ditemani Ayra dan Bu Ratih. Bram dan Gede pergi untuk shalat jum'at.
"Istirahat dulu Qiy... " Ucap Bu Ratih.
Ia melihat keringat di dahi sang menantu cukup banyak. Istri Gede itu sudah hampir satu jam berjalan mondar mandir. Ia terus saja berjalan seraya berdzikir agar kontraksi teratur. Betul saja, saat sudah hampir satu jam lebih, Qiya mulai merasakan kontraksi teratur.
"Ma.... " Ucap Qiya yang sesekali mengelap keringat di dahinya.
Rasa sakit yang di akibatkan kontraksi mulai teratur, Lima menit sekali. Qiya sudah meminta di antar ke rumah sakit.
"Ke rumah sakit sekarang aja Ma." Ucap Qiya pelan.
Gede yang baru pulang shalat jum'at bergegas menyiapkan mobil.
Tiba di rumah sakit, Istri Gede Ardhana iru di bawa ke kamar bersalin. untuk diperiksa sudah pembukaan berapa. Cukup lama putri Ayra itu merasakan kontraksi.
"Baru pembukaan 4 Bu." Ucap sang dokter.
Bahkan suda keluar flek, sebenarnya sudah dari rumah Qiya tahu bahwa ia sudah mengeluarkan fleg d@rah. maka itu meminta diantar kerumah sakit. Bram begitu sigap. Disaat Gede menemani Qiya. Ayah tiga anak itu justru sudah selesai di bagian administrasi.
Tak lama Putri Ayra itu sudah berganti pakaian menjadi pakaian khas pasien di rumah sakit tersebut. Dan juga di beri obat penc@har. Dimana obat ini berfungsi untuk membersihkan kotoran dalam tubuh saat mengejan, tidak banyak mengeluarkan kotoran.
__ADS_1
Masih di dalam ruang kamar pasien dan di koridor, sampai naik turun tangga. Qiya tetap melakukan kegiatan berjalan untuk merangsang kontraksi.
"Kamu tidak capek Nak... " Ucap Bram yang tak tega melihat putrinya mondar mandir dari tadi. Di kamar juga Qiya masih berjalan seraya memegang pinggangnya. Sesekali terlihat perempuan yang akan melahirkan itu menggigit bibir bawahnya.
Bram merasakan sangat khawatir. Dulu Ayra tak sampai harus berjalan-jalan seperti sang anak. Ibunya lebih banyak miring ke kiri.
"Ini merangsang kontraksi Pa.... " Ucap Qiya pelan.
Gede terlihat mendampingi Gede. Bram di buat heran, sang menantu tak terlihat khawatir.
"Papa lebih tenang saat Mama mu akan lahiran." Ucap Bram yang melirik Ayra. Istri Bram itu pun merasakan hal yang sama. Andai bisa di pindah rasa sakit itu. Ia ingin rasa sakit itu berpindah ke dirinya. Ia tahu sakit yang dirasakan Anaknya.
"Istirahat lah Ge. Biar Mama yang menemani Qiya." Ucap Ayra.
Qiya mencoba istirahat di malam hari. Sesekali ia terjaga untuk ke kamar mandi. Sampai dokter tiba, sang dokter menyarankan in duk si dengan menggunakan infus. Kembali kesabaran, putri Bramantyo itu diuji. Proses pembukaan Qiya stuck di 5cm.
Bahkan sampai siang hari masih stuck. Qiya menci um punggung tangan ibunya.
"Sesakit ini kah rasa melahirkan Ma? Apakah ada hati yang aku sakiti. Apakah aku ada menyakiti mama dan Papa? " Ucap Qiya.
"Nak... Tidak semua kesusahan, kesakitan itu karena dosa kita. Tetapi mungkin Allah sedang ingin mendengar rintihan kita yang betul-betul keluar dari dalam hati. Allah rindu suara merdu kita dalam menyebut namanya. Bersabarlah, jangan negatif thinking. Semua orang akan berbeda-beda mengalami rasa kontraksi." Nasihat Ayra pada Qiya.
__ADS_1
Bagaimana putri Ayra itu tidak khawatir. Ia diprediksi kemarin sore lahiran. Sehebat dokter kandungan, ternyata Allah tetap punya kuasa. Dokter hanya mampu memprediksi, untuk proses dan hasil. Allah yang berkehendak.
Hari itu , Qiya masih banyak bergerak. Setelah bidan menyarankan Qiya saat malam tiba untuk kembali beristirahat. Tepat memasuki sepertiga malam, ada dorongan yang sangat keras. Qiya yang baru berjalan untuk ke kamar mandi karena terasa ingin buang air kecil. Namun tiba-tiba terdengar suara.
"Plop... "
Rasa nyeri begitu sangat maksimal yang dirasakan istri Gede itu.
"Ketubannya pecah Mas.... " Ucap Qiya.
Tanpa sadar, lengan Gede di genggam erat hingga kulit putih itu berubah merah. Beruntung putri Ayra itu sudah memotong kuku-kukunya, sehingga tak menimbulkan luka pada lengan suaminya.
Gede terlihat tidak fokus, jika kemarin ia begitu renang. Kata pecah kee tu ban membuat ia bingung. Qiya justru ikut buyar konsentrasinya. Disana peran orang tua. Ayra mengingatkan Putrinya untuk tetap mengatur napas. Rasa lelah menahan sakit beberapa hari bahkan membuat tubuh Qiya keringat dingin juga sampai menggigil.
Di dalam hati, Ibu dan mertua selalu bermunajat agar dipermudah proses melahirkan sang anak. Pembukaan berjalan cepat sekali setelah air ketuban pecah.
"Sabar Ya Dek... Jangan menge jan dulu."
Ucap Gede tetap mengusap punggung Qiya. Karena suami Qiya bisa melihat sang istri sudah berkali-kali menahan napas sedang ia begitu ingin sekali menghembuskan napasnya dengan cara mengejan.
Anggukan kecil ia berikan. Namun saat tangan Gede berhenti mengusap punggung. Qiya menarik tangan itu kembali ke posisi itu. Ayra, Bu Ratih bergantian dengan Gede. Satu malam itu, sang dokter yang baru melalui program Iship merasakan sakit yang berkurang saat pinggangnya di usap.
__ADS_1
Akhirnya pembukaan lengkap 10cm tepat jam 3 pagi. Saat sudah diruang bersalin. Tangan kiri Qiya menggenggam tangan Gede. Sedangkan tangan kanannya mengangkat kaki kanan. Sesuai arahan Obgyn yang begitu pro proses persalinan normal. Dengan posisi tubuh seperti orang sit up. Qiya tidak mengeluarkan suara dan berteriak ketika menge jan. Ia diberikan selama 10 hitungan. Hal itu ia lakukan saat kontraksi muncul.
Alhamdulillah 4 kali menge jan. Perjuangan Qiya menjadi ibu berbuah manis. 5 kali mengejan, lahir seorang bayi perempuan dengan bobot 3,2 tepat saat adzan subuh berkumandang di hari Ahad.