
Bu Ratih dan Niang Ayu tampak sibuk dengan beberapa asisten rumah tangga sedang mempersiapkan oleh-oleh untuk dibawa kerumah Bramantyo. Esok pagi mereka akan datang ke kediaman Ayra untuk meminang Shidqia Nafisah secara resmi. Nian Ayu rasanya sudah tidak sabar ingin bertemu Umi Laila. Sosok perempuan Islam yang mengerti ilmu agama, yang paham nilai-nilai agamanya dan tetap bisa hidup berteman dengan dirinya.
Bahkan saat Ramadhan pun kadang Dokte Ayu sapaan dirinya di Kali Bening itu akan ikut kecipratan takjil gratis dimana akan dilakukan oleh Umi Laila dan suaminya selama 4 kali selama Ramadhan. Dimana setiap yang lewat di depan masjid akan mendapatkan takjil itu. Termasuk Niang Ayu yang kadang baru pulang dari puskes karena ingin mandi, akan diberikan oleh pembagi takjil. Pada saat itu sempat terjadi gejolak. Banyak kebijakan dan pemberian pengertian oleh sepasang suami istri itu yang dipanggil Umi dan Abi karena tak ingin dipanggil ustadz.
"Memang nya Niang dulu sangat dekat dengan Eyang nya Qiya?" Ucap Gede sambil memetik satu anggur dan ia makan.
Ia sempat tersenyum karena tangannya ditepis sang ibu.
"Buat calon istri dan calon mertua main comot saja." Ucap Bu Ratih yang ditemani asisten rumah tangga Niang Ayu membungkus beberapa oleh-oleh.
"Cukup dekat. Yang paling dekat itu ya Nadong Mu dengan suaminya Umi Laila. Kalau lagi ada kenduri. Dadong mu itu bahkan akan mengobrol cukup lama dengan Abi Rohim.. Karena Dadong mu tak terlalu suka gaplek. Yang buat Dadong itu heran. Saat di acara orang hajatan kalau malam nya Abi Rohim itu ikut duduk menikmati kopi di dalam tenda. Tidak ada yang berani main gaplek pakai uang. Terus tidak ada yang mau minum miras. Tapi kalau Abi Rohim itu tidak ada disana. Sudah dipastikan akan santai para warga yang hobi judi itu main." Kenang Niang Ayu.
"Berarti beliau begitu di hormati ya Niang." Komentar Gede.
"Lah iya, wong beliau itu bijaksana. Arif. Makanya Niang sekarang bingung kalau beberapa ulama yang masih muda, katanya berilmu tapi ga bijaksana. Ngajaknya jama'ah itu malah punya kebencian pada sesama manusia. Lah Abi Rohim itu dulu jelas-jelas di fitnah bahkan hampir di usir dari kali Bening. Tapi malah beliau yang sibuk pontang panting dan marah sama warga karena punya rasa dendam. Niang bangga kamu bisa jadi salah satu bagian dari keluarga beliau. Jangan pernah sakiti keturunan mereka Ge." ucap Niang Ayu.
"Insyaallah. Bantu bimbing Gede ya Niang, Bu. Gede betul-betul merasakan bahwa cinta Gede untuk Qiya betul-betul besar dan beda dari sebelumnya. Mudah-mudahan Gede bisa membahagiakan Qiya."
"Aamiin.... Jangan pernah bentak istri mu Ge. Perempuan itu kadang kuat menghadapi cobaan. Tapi kalau sudah suami yang bentak atau berbuat kasar. Ia akan kecewa dan sakit hatinya." Ucap Bu Ratih.
Gede pun mengamini apa yang ia dengar dari Bu Ratih. Namun seketika wajahnya terlihat sendu. Ia teringat akan satu kejadian dulu saat Pak Subroto menolak dirinya mentah-mentah karena entah darimana ia mendapati informasi bahwa Gede anak haram. Tak jelas siapa ayahnya. Bahkan ada yang beredar bahwa ibunya adalah mantan wanita malam. Ada juga yang mengatakan ia dulu pernah menggoda Dokter Wayan. Itulah Bu Ratih, tinggal bersama Niang Ayu. Ia tak diperbolehkan menjelaskan kesana kemari.
Karena menurutku Niang Ayu dan Suami. Tak ada habisnya jika mengikuti para tetangga yang selalu mengomentari hidupnya. Diam lebih baik, karena ia bisa melihat sekelas Umi Laila dan Abi Rohim saja begitu santai dan tak sibuk klarifikasi kesana kemari saat banyak fitnah mengarah padanya. Hanya ia bawa ke dalam doanya agar suatu saat dibukakan sendiri tabir-tabir kebenaran yang tertutup. Agar diberikan kekuatan untuk bersabar menghadapi cercaan, hinaan, dan fitnah yang mengarah.
"Ada apa Ge?" tanya Niang Ayu melihat Gede memainkan buah Apel ditangannya.
"Menurut Niang dan Ibu, apa sebaiknya sebelum kesana Gede ceritakan dulu pada Qiya agar bisa menyampaikan pada keluarganya tentang Gede? Gede khawatir nanti Niang dan Ibu sudah kesana. Kejadian lama terulang kembali." ucap Gede.
__ADS_1
Wajah Bu Ratih seketika mendung. Ia merasa bersalah. Lagi, lagi masalalu nya menyakiti anaknya. Andai dulu ia menjadi gadis yang paling pintar, tak mau diajak menikah siri. Mungkin saat ini buah hatinya tak akan merasa pusing dengan nama yang tertera di akte.
"Maafkan Ibu ya Ge..." Suara Bu Ratih lirih.
"Bu... Gede tidak pernah menyesal terlahir dari rahim Ibu. Gede tidak pernah menyesali atas takdir yang Allah berikan pada Gede. Tapi Gede hanya tidak ingin besok atau entah kapan Niang Ayu dan Ibu kembali harus malu karena Gede batal Menikah." Ucap Gede sambil memeluk ibunya.
Bu Ratih bahagia, karena disaat banyak anak-anak lelaki sibuk dengan hobinya bersama teman-temannya. Gede bahkan nyaris jarang pergi keluar dengan teman-temannya. Putranya itu sedari SMP terbiasa menghabiskan waktu membantu ibunya. Bagi Gede ia beruntung karena memiliki ibu yang luar biasa hebat. Sang ibu sedari kecil mendidiknya menjadi pribadi yang rajin belajar, gigih dan disiplin tapi juga punya sifat yang baik untuk bersosialisasi.
Ibunya adalah wanita hebat, karena tak pernah mengeluh. Padahal ia bisa melihat bagaimana sang ibu berusaha tegar menjadi orang tua tunggal. Ia bahkan nyaris tidak pernah meminta bantuan Niang Ayu saat ia kesusahan untuk kebutuhan dirinya dan usahanya. Maka Gede sangat menyayangi Ibunya.
"Niang rasa tidak masalah Ratih... Gede ada benarnya. Toh kasihan juga Gede jika terjadi kembali. Pengalaman pahit dan kegagalan itu bisa kita jadikan pelajaran agar tidak kembali mengalaminya." Ucap Niang Ayu diatas kursi rodanya. Hari itu kakinya sedikit sakit. Karena kemarin terlalu semangat menyambut Hari raya Galungan.
Gede pun pergi ke kamar. Ingin sekali ia menelpon sang pujaan hati. Tapi ia khawatir ia malah tak mampu berucap. Mendengar suara Qiya saja sudah membuat jantungnya seolah berhenti berdetak.
Ia tatap gambar profil gadis pujaan hatinya. Sebuah gambar perempuan berkerudung hijau yang terlihat dari tampak belakang.
"Tuuuut..... Tuuuut... Tuuuutt..." Suara sambungan telpon yang masih belum diangkat.
Gede yang berharap bisa berbicara vya gelombang sinyal itu. Namun sang gadis yang berada di kamar hanya memegang dan menatap layar ponselnya. Jantungnya berdebar. Ia tak berani mengangkat telpon itu. Namun ia khawatir jika ada hal penting yang ingin disampaikan oleh dokter Gede.
Ibu jari gadis Ayra itu menyentuh tombol berwarna hijau.
"Halo, Assalamu'alaikum." Ucap Qiya pelan.
"Wa-wa- wa'alaikumussallam....Hhhhh..." lelaki itu memegang dadanya dan mencoba mengatur nafasnya.
"......" Qiya bisa mendengar jelas hembusan nafas dokter yang esok akan datang melamarnya. Ia pun tak berani kembali bersuara.
__ADS_1
"......" Gede bingung ingin mulai darimana pembicaraan ini. Kenapa dia merasa sulit sekali berbicara dengan gadis ini. Tidak sama seperti dulu ketika ia menyatakan cintanya pada sang mantan.
"Ada apa dok..." Ucap Qiya hati-hati dan sangat pelan.
"....." Gede masih mengatur napas.
"Begini. Em... sa-ya. A-da yang ingin di-san-paikan dok...." Suara gede terbata-bata.
Qiya yang mendengar suara terbata-bata dari Gede seketika merasa gelisah. Ia khawatir jika ada kabar buruk atau bahkan lelaki itu akan membatalkan lamarannya. Ia menunggu ucapan dokter Gede. Ia tak berani kembali bersuara.
"......." Qiya menunggu.
"......" Gede masih mengatur napasnya.
"....." Qiya masih menerka-nerka kabar apa yang ingin disampaikan lelaki yang berada di seberang.
"Lewat pesan saja ya." Akhirnya hanya kalimat itu yang mampu diucapkan Gede. Dadanya sesak, ia sekaan sulit bernafas. Suara lembut Qiya seolah hadir di pelupuk matanya dan sedang tersenyum manis atau tertawa ketika bercanda dengan Cita. Hal itu membuat Gede tak mampu berbicara dengan sang pujaan hati sekalipun lewat udara.
"Inggih dok..." ucap Qiya.
"Apa..." Ucap dokter Gede yang dia tidak tahu arti Inggih.
"Iya Ndak apa-apa lewat pesan jika memang berat menyampaikannya langsung." Suara Qiya terdengar seperti orang menangis.
"Dek Qiya menangis?" Ucap Gede.
"....." Gadis itu tak mampu berkata-kata. Ia justru bingung. Jantungnya berdebar-debar. Ia menangis karena khawatir kembali batal menikah saat hati sudah berlabuh. Ia juga kembali dibuat merona karena mendengar kata "Dek" dari sang dokter pembimbing yang di kagumi bahkan hampir seluruh perawat dan dokter yang masih lajang di wahana Internship nya.
__ADS_1
"Dek...." Pangil Gede lagi.