Pesona The Twins

Pesona The Twins
91 Malam Yang Dingin


__ADS_3

Arumi sesenggukan sampai pukul 9 malam. Ammar yang tadi sengaja duduk di luar bersama beberapa keluarga Arumi. Ia tak ingin terlihat sebagai lelaki yang kaku atau dingin bahkan sombong. Maka baginya duduk bersama keluarga Arumi juga salah satu cara untuk meraih cinta sang Istri. Ia juga tampak mengobrol dengan sang mertua laki-laki.


Pak Subroto tampak sangat senang. Ia bahagia karena ternyata Ammar sangat sempurna. Selain tampan, caranya berpikir begitu luas. Pengetahuan tentang bisnis pun sangat diacungkan jempol.


Melisa mengingatkan Ammar untuk istirahat.


"Ammar. Istirahatlah. Sudah larut malam. Arumi sepertinya dari tadi tidak ikut turun. Mungkin dia sedang menunggu mu." Ucap Melisa.


"Owh... Iya.. Papa sampai lupa..Ya sudah naik lah. Istirahat, kalau butuh apa-apa kamu cukup minta sesuatu lewat interkom yang ada di kamar." Ucap Pak Subroto.


Ammar juga sudah dikatakan jika sistem keamanan pintu sudah di non aktifkan. Maka ketika ia sudah berada di depan pintu. Ia cukup bingung harus bagaimana menghadapi Arumi. Bahkan tadi sore pun Arumi masih menangis, ia ingat bagaimana ketika sore hari tadi ia bermaksud menenangkan istrinya. Namun hanya mendapatkan ucapan ketua dari sang istri.


Ammar membuka pintu pelan. Saat itu Tutuk kembali, ia bisa melihat dan mendengar istrinya masih menangis dengan posisi duduk dan memeluk lututnya. Masih dengan gaun pernikahan mereka.


Ammar melangkah ke arah Arumi.


"Ar..." Ucap Ammar pelan saat tiba di ujung tempat tidur.


Tanpa melihat atau menoleh ke arah Ammar, Arumi bergegas berdiri dan masuk kamar mandi. Ammar hanya menghela napas nya pelan. Ia mematikan pendingin ruangan. Ia buka koper miliknya. Sedari tadi ia ingin merokok. Mulutnya sudah masam, bagi kaum adam rokok adalah teman kala sepi, teman di kala sumpek. Dan Ammar betul-betul menikmati rokok itu untuk menghilangkan rasa stres dan sesak didada.


Hampir satu jam Arumi tak kunjung keluar. Ia ketuk pintu kamar mandi, khawatir terjadi sesuatu dengan istrinya itu.


Tak ada jawaban. Namun seketika pintu terbuka. Dan betapa Ammar sebagai pria dewasa terbelalak melihat penampilan Arumi. Ia mengenakan sebuah gaun tidur yang berlengan pendek. Dan hanya sebatas lutut. Rambut yang masih basah pun terurai. Tetesan air dari ujung rambut Arumi membuat Ammar cepat menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


Arumi berlalu begitu saja dari hadapannya. Bahkan istrinya itu tanpa mengeringkan rambutnya, ia berbaring di balik selimut tebal dengan menjuntaikan rambut panjangnya.


"Astaghfirullah... Cobaan apalagi ini Ammar. Kamu tidak mungkin meminta hak mu, mengg@uli istri mu sedang ia merasa seperti tahanan di hubungan ini." Batin Ammar.


Ammar pun melangkah ketempat tidur. Ia mencoba istirahat. Ia hidupkan kembali pendingin ruangan tersebut. Masih ia dengan suara sesenggukan dari Arumi. Di S3ntuhnya pundak Arumi dari arah belakang Karena istrinya berbaring dengan posisi memunggunginya.


"Ar... Berhentilah menangis. Berhari-hari pun kamu menangis tak akan merubah takdir." Ucap Ammar.


"Bisa. Semua bisa berubah jika kamu menceraikan aku! Aku tidak tahu. Tapi yang aku tahu saat ini aku tidak ingin pernikahan ini ada. Dan aku tidak bahagia." Ucap Arumi.


Baru Ammar akan kembali membujuk istrinya agar bersabar kala menerima takdir yang tak sesuai keinginan kita. Allah lebih tahu yang terbaik untuk hambanya. Namun ucapan Arumi kembali membuat seorang suami terdiam.


"Dan satu lagi, jangan pernah sentuh aku! Jangan berharap kita akan menjadi suami istri sesungguhnya. Aku tak mungkin kabur kedua kalinya, dan aku tak mungkin bisa pergi disaat sudah menjadi istri orang." Ucap Arumi.


"Satu-satunya alasan aku bertahan karena. Ifah. Aku tak mau anak itu sendiri atau terlantar karena keegoisan ku. Maka jangan bermimpi kita akan menjadi satu. Dan kamu ada di hatiku!" Ucap Arumi masih diiringi Isak tangisnya.


"Baiklah, aku pun tak akan menyentuh kamu jika kita hanya berdua. Maaf telah menyakiti kamu karena hubungan ini. Satu lagi, pakailah pakaian yang tertutup di dalam kamar. Aku pria dewasa yang tak tahu sampai kapan aku bisa bersabar dan kuat melihat kamu yang memang halal aku sentuh dengan pakaian yang membuat aku sangat tergoda." Ucap Ammar.


"M3sum. Gede dulu bahkan sekalipun tak pernah aneh-aneh. Kami bahkan sering tertidur berdua." Batin Arumi yang kembali mengenang masalalunya.


Baginya, hanya Gede Ardhana. Lelaki baik hati, tampan, Sangat menyayangi dirinya. Ingin sekali ia berlari dan mencari mantan tunangannya untuk bersimpuh dan menjelaskan semuanya tentang dirinya dulu kenapa pergi tepat di hari pernikahannya. Ia tak mungkin menikah dengan Gede dengan Nama Kalila Mayang Dahayu. Dia Arumi bukan Mayang.


Arumi tak menoleh. Ammar membaringkan tubuhnya di sofa yang berada di sisi tempat tidur. Ammar justru tidur memandang rambut dan punggung Arumi.

__ADS_1


"Ternyata tak semua pernikahan itu bahagia. Ternyata tak semua istri cantik itu bisa membahagiakan suami walau kecantikan sebenarnya bisa menyenangkan hati suami. Semoga kamu suami yang sabar ya Ammar menghadapi istrimu yang sepertinya masih mengenang masalalunya. Cukup Kita yang tersakiti Arumi. Aku tak ingin Gede juga kembali sakit karena masalalu. Qiya pun harus berjuang pernikahannya." Batin Ammar sambil memandangi tubuh perempuan yang halal dia pandang namun belum mampu ia sentuh.


Malam itu, kamar pengantin yang begitu romantisnya menjadi saksi akan dua hati yang sama-sama sakit karena kebenaran. Sama-sama sakit karena Cinta. Sama-sama menjaga jarak karena berbeda alasan. Jika Arumi menjaga jarak karena tak ada cinta untuk Ammar.


Ammar justru menjaga jarak, karena baginya cinta sejati itu adalah ketika tak membalas ketika disakiti, dan mencintai tanpa menyakiti yang dicinta. Ia baru sadar, inilah konsekuensinya ketika memilih istri karena cantiknya. Bukan karena agamanya.


Karena jika sang istri ia pilih karena agama atau akhlaknya, tentu saat ini istrinya sedang menggunakan parfum, pakaian yang mampu membuat dirinya berg3lora sebagai seorang suami. M3layani suami, dimana bagi seorang istri adalah bisa menjadi sarana menjemput pahala.


Rasulullah bahkan pernah menasihati Fatimah untuk ikhlas dalam setiap melaksanakan kewajibannya. Karena dibalik segala kelelahan seorang istri dalam melayani suami dan anak-anaknya, akan ada ganjaran pahala yang melimpah dan surga adalah balasan terbesarnya.


Beruntung Sulung Ayra itu tak ingin berandai-andai. Ia tahu istrinya tak paham akan kewajiban seorang istri dan ganjaran nya ketika taat juga melayani suaminya dengan baik..Mencuci baju seorang suami saja sudah mendapatkan ganjaran pahala, tersenyum saja sudah mendapatkan ganjaran pahala apalagi melayani lewat sentuhan-sentuhan yang memang menjadi jalan ikhtiar memiliki keturunan.


"Aku ridho akan setiap kekurangan mu Arumi." Ucap Ammar sebelum ia menutup kedua matanya.


Tubuh dan hatinya cukup lelah. Ia tak ingin terlambat bangun esok pagi. Jika dirumah ada Ayra yang akan menjadi alarm dirinya. Disini ia harus berjuang sendiri. Bahkan Arumi dari Dzuhur hingga isya tadi tak ia lihat menjalankan shalat.


Bagi Ammar ia mengambil hikmah karena adanya cinta dihati untuk Arumi, ia di tuntut untuk sabar dalam membimbing istrinya dengan mungkin keterbatasan sang istri dalam agama. Setidaknya Arumi sudah menutup auratnya. Ia sudah mau mendengarkan Ammar dan menuruti untuk berhijab.


Ia bahkan menjelaskan kepada mertua dan orang tuanya tatkala alasan Arumi mengenakan cadar. Ia beralasan tak ridho jika kecantikan Arumi dinikmati lelaki lain.


Bahkan Ayra yang cerdas cukup menyelidiki hal itu. Ammar hanya beralasan bahwa dirinya egois. ia ingin kecantikan Arumi hanya miliknya. Padahal ia bermaksud setidaknya Gede nanti tak akan memandang wajah mantan tunangannya sehingga cinta lama tak bersemi kembali. Biar Arumi saja yang sibuk menata hati. Gede tak boleh. Gede hanya harus fokus membahagiakan adiknya. Itulah pemikiran Ammar dan usahanya agar pernikahan adiknya tidak seperti pernikahannya.


Arumi masih sibuk dengan pemikirannya. Ia tak tahu bahwa 5 hari lagi ia akan dipertemukan dengan orang yang ia rindukan.

__ADS_1


"Aku ingin ketemu kamu Ge... " Batin Arumi.


Malam pengantin yang menyedihkan. Dua pengantin yang memikirkan satu orang yang sama tapi tujuannya berbeda. Malam itu menjadi malam pertama yang dingin bagi Ammar. Ia tidur di sofa tanpa berbalut selimut. Ia hanya bersedekap untuk menahan dinginnya malam itu.


__ADS_2