Pesona The Twins

Pesona The Twins
65 Kala Lisan Tak Mampu Berucap


__ADS_3

Didalam hati, putri Ayra berharap Cita dan Alam segera kembali. Namun menit berganti menit dua anak manusia itu tak juga kembali pulang. Qiya masih belum menjawab. Jantungnya terasa lepas dari posisinya.


"Ehm.... Kalau begitu saya permisi dulu dok. Sepertinya sudah cukup larut. Tak enak dilihat tetangga kalau saya lama-lama disini." Ucap Dokter Gede.


Ia melihat Qiya hanya diam tak mampu menjawab. Ia juga tak ingin memburu dokter cantik itu untuk segera menjawab. Ia tahu bukan hal mudah mungkin bagi perempuan yang pernah gagal menikah untuk membuka hati.


Namun Qiya justru mengangguk pelan. Seolah lupa bahwa mobil masih di bawa Alam dan Cita. Ketika berdiri di depan rumah.Dua orang itu sekian detik saling pandang. Suara tawa dokter Gede terdengar. sedangkan Qiya tersipu malu. Dua orang yang sama-sama mengontrol hati mereka seolah menjadi bodoh karena tak sadar bahwa mobil masih di bawa Alam dan Cita entah kemana.


"Bisa lupa kalau mobilnya di bawa dokter Cita."Ucap dokter Gede mengusap tengkuknya karena malu.


Sedangkan Qiya memainkan ujung jarinya karena ikut malu mengiyakan ketika sang dokter pembimbing meminta izin pulang.


Akhirnya dua orang tadi duduk kembali di tempat semula. Tak ada percakapan hanya sibuk masing-masing menatap ponsel mereka dengan ibu jari mereka mengusap layar ponsel mereka masing-masing.


"Apa dokter Qiya tidak punya rasa padaku?" Batin dokter Gede.


Dokter Gede pun membuat status di medsosnya yang berlogo hijau.


..."Kalau tahun ini dilamar, siapkah kamu menikah?"...


Ia tak tahu haru melakukan apa. Ia sudah memulai bicara. Tapi Gede tidak tahu jika gadis yang dihadapinya kali ini tidak sama dengan kebanyakan gadis mungkin yang akan mudah menjawab ya atau tidak ketika menerima pernyataan cinta dari lelaki.


Saat ia dilamar Hilman pun, ia hanya memberikan jawabannya dengan Hilman datang kerumah dan Bram selalu ayahnya yang menjawab. Kejadian kemarin yang dimana ia memutuskan sendiri menerima atau menolak Hilman. Kali ini, ia tak ingin memutuskan sendiri. Terlebih ada rasa di hatinya kepada dokter pembimbingnya. Entah karena tampannya, entah karena cinta pada pandangan pertama. Tetapi hatinya selalu berdebar-debar ketika berada di dekat sang dokter. Ia bahkan harus berjuang untuk tak memunculkan rona merah dan rasa gugupnya ketika berdekatan.


Saat ibu jari dokter Gede berselancar di medsos berlogo Hijau, kedua matanya terbelalak ketika ia membuka status di medsos Qiya yang berwarna hijau. Tanpa ia membuka status tersebut, ia bisa melihat jelas tulisan itu.


..."Hati-hati dengan Hati. Mungkin hati jatuh hati pada hati yang rapuh, Jangan tertipu paras yang cantik. Karena menikah tak hanya butuh cantik untuk bahagia."...

__ADS_1


Dokter Gede melirik Qiya. Ia cepat membalas status itu. Karena status itu baru berapa detik di update.


[Mungkin kecantikan bukan modal untuk bahagia. Tetapi wanita bahagia dan dirindukan surga adalah yang bisa membahagiakan suaminya? Maka jika dokter berkenan saya ingin dokter menjadi perempuan bahagia itu. Saya ingin memandang wajah dokter dan itu bisa menjadi pahala untuk dokter. Dan saya akan menjadi suami yang bahagia memiliki istri yang hanya memberikan senyumnya dan kecantikannya untuk suaminya.]


Detik berganti detik, pesan yang dikirim dokter Gede telah berganti conteng biru dua. Tanda pesan telah di baca. Kedua netra dokter Gede menatap layar ponselnya. Jantungnya berdegup kencang menanti balasan sang dokter. Dua orang yang duduk hanya berjarak satu meter setengah. Melakukan komunikasi vya ponsel. Sungguh Qiya tak memiliki keberanian untuk membuka suara. Ia khawatir menangis atau gemetar untuk menjawab pertanyaan dotker Gede.


Namun rasa debaran dihati tak bisa ia pungkiri bahwa ia mengagumi dokter pembimbingnya. Ada kesamaan dalam menjalani hidup, rasa tenggang rasa, rasa kepedulian pada yang lemah juga selalu tak merasa lebih pandai, lebih baik dari orang lain. Ini menjadi pertimbangan Qiya merasa ada kecocokan dengan dokter itu. Walau baru dua bulan mengenal.


Kedua netra Dotker Gede terbuka kian lebar kala di layar ponselnya terlihat tulisan 'Dokter Qiya sedang mengetik'.


Cukup lama ia menanti apa yang akan dikirim dokter Qiya. Namun pesan yang ditunggu tak kunjung masuk.


Qiya justru berkali-kali menghapus pesannya. Ia malu, bingung menjawabnya. Akhirnya ia memberikan sebuah status lagi di medsosnya. Beberapa saat menunggu tak kunjung masuk pesan balasan dari dokter Qiya. Dokter Gede kembali berselancar di status logo hijau itu. Sekian detik ia terdiam. Ia membaca status itu.


..."Kalau Sudah Cinta dan Sayang, langsung lamar tidak perlu istikharah."...


Ia melirik Qiya yang masih tertunduk. Ia pun membalas status itu langsung ke pemilik status.


"Mungkin kamu bukan orang yang mudah mengucapkan sesuatu. Atau kamu juga punya rasa yang sama hingga untuk berbicara pun butuh menata hati terlebih dahulu?" Batin Gede.


Ia pun dengan cepat mengomentari status itu.


[Apakah ini jawaban untuk saya? Kalau saya langsung lamar ke Orang tua dokter. Boleh?]


(Boleh.)


Jantung dokter Gede terasa berhenti berdetak. Napasnya pun seakan-akan berhenti. Sudut bibirnya tertarik tanpa ia sadari. Cintanya tak bertepuk sebelah tangan. Ia cepat membalas chat dari Qiya.

__ADS_1


[Kapan boleh saya menemui orang tua dokter?]


(Tunggu, nanti saya beri kabar tapi tidak dalam minggu-minggu ini)


[Boleh saya tanya satu hal?]


(Boleh)


[Apakah dokter punya rasa cinta atau minimal suka pada saya?]


(Maafkan lisan yang tak mampu menjawab. Menanti kehadiran dokter kehadapan orang tua ku itu adalah bukti rasa suka ku tanpa harus aku jelaskan dan ungkapkan. Sedangkan rasa cinta. Hanya restu orang tua saya dan takdir kita berjodoh atau tidak, yang akan menjadi jawaban apakah saya mencintai dokter atau tidak. Karena Cinta adalah satu rasa yang hanya akan bernilai ibadah jika di tunjukkan dalam ikatan halal)


"Alhamdulilah.... Hhhhh.... " Ucap dokter Gede secara refleks mengusap wajahnya.


Ia merasa senang membaca balasan dari Qiya. Hatinya seperti ABG yang sedang bahagia kala pernyataan cintanya diterima. Ia tak menyangka jika perempuan yang ia sukai juga menyukai dirinya. Ia pikir jika Qiya menjaga jarak dari dirinya, berbicara seperlunya karena ingin menjauhi dirinya. Maka malam ini ia pastikan jika selama ini dokter Iship itu pun berjuang menata perasaannya. Kembali dokter tampan nan gagah itu mengirimkan pesan pada perempuan yang duduk di sebelahnya.


[Kapan saya bisa bertemu orang tua dokter]


(Beri saya waktu satu Minggu untuk membicarakan pada orang tua saya.)


"Alhamdulilah.... Semoga orang tuanya juga memberikan restu" Batin dokter Gede.


Qiya tak berani mengangkat kepalanya. Ia hanya memandangi ponselnya. Ia berharap ia tak salah, ia akan gunakan kesempatan untuk membicarakan ini pada orang tuanya terkait waktu ia akan pulang untuk menghadiri acara lamaran sang kakak.


"Ehm... Ehm...." Suara seorang lelaki yang dari tadi mengamati dua orang yang hanya menatap ponselnya.


Sang lelaki tersenyum dan tersipu malu. Dan yang perempuan justru hanya menunduk malu tak berani mengangkat kepalanya. Tanpa dua orang itu sadari jika sedari tadi mereka diamati sepasang mata. Qiya mengangkat kepalanya dan melihat sosok lelaki yang berdehem tadi.

__ADS_1


"Ehm... Ehmmm... " Kembali lelaki itu berdehem. Kali ini dokter Gede yang mengangkat kepalanya.


__ADS_2