Pesona The Twins

Pesona The Twins
55 Musyawarah Keluarga


__ADS_3

Malam hari setelah hampir pukul setengah sembilan. Ammar mengetuk pintu kedua orang tuanya. Ia berpikiran jika ia memang yang akan menjalani kisah rumah tangannya nanti. Tetapi ridho orang tua juga penting untuk nya dalam melangkah ke mahligai pernikahan. Belum lagi kegundahan hatinya yang ia anggap hanya sang ibulah tempat curhat terbaik untuk kegelisahan hatinya.


Setelah mengetuk pintu kamar Ayra. Pintu terbuka dan Ayra melihat Ammar berdiri di depan kamarnya.


"Ma... Maaf menganggu waktu istirahat Mama. Ammar boleh bicara dan minta waktu Mama dan Papa sebentar?" Tanya Ammar.


Bram yang telah berdiri di belakang Ayra pun sedikit keberatan.


"Tak bisakah ditunda besok Am? kamu baru pulang. Dan Mama mu juga hari ini kurang sehat." Ucap Bram.


"Ayra tidak sehat pagi tadi mas. Sejak Ammar pulang. Ayra merasa lebih baik." Ayra menoleh ke arah Bram. Ia menatap suaminya dengan wajah sendu berharap ia ingin memberikan waktu pada buah hatinya.


Bram pun memegang pundak Istrinya.


"Baiklah.. Disini saja." Ucap Bram.


Ayra pun membuka pintu kamarnya.


Ammar duduk di sofa yang berada tepat disisi jendela besar. Ia duduk tanpa bersandar. Ayra melihat kebiasaan anaknya yang akan menyandar jika duduk santai, ia memilih duduk di sebelah sang anak.


"Luka mu masih belum sembuh?" Tanya Ayra mengusap punggung anaknya.


Ammar tetsenyum dan menjawab bahwa ia baik-baik saja. Ia pun menyampaikan kegelisahan hatinya. Tetapi ia tak menceritakan penyekapan kemarin. Ia tak mau membuat kedua orang tuanya .


Ayra dan Bram mendengarkan dengan seksama isi hati sang anak.


"Papa tidak menyangka, Papa dan Mama sudah tidak muda lagi. Satu persatu kalian sudah dewasa dan tiba waktunya kalian menikah. Jika Papa lebih setuju kenapa tidak cari tahu apakah perempuan itu tertarik dengan kamu? jika memang 'iya'. Kita lamar dia. Bagi Papa, akan akan sulit bagi kamu ke depannya untuk pindah ke lain hati, sebelum kamu tahu bahwa rasa di hati kamu bertepuk sebelah tangan." Ucap Bram.


"Kalau Mama?" Tanya Ammar sambil menoleh ke arah Ayra.


Ayra terlihat mengusap-usap punggung tangan kirinya yang ia letakkan diatas perutnya.


"Niat mu Nak. Niat mu yang lebih penting. Sekarang sebelum masuk ke Arumi tidak berjilbab atau berjilbab. Mama tanya pada mu Nak. Jika ada perempuan yang cantik dan tidak menggunakan hijab. Dan kamu memandangi nya apakah haram?" Tanya Ayra.

__ADS_1


"Haram Ma. Karena bukan mahram. Dan itu yang membuat Ammar ingin segera melamar nya. Tetali kejadian ia yang tak menggunakan hijab kemarin membuat Ammar ragu." Ucap Ammar.


"Baik. Lalu jika ada perempuan cantik dan juga menggunakan hijab. Kamu juga memandanginya, apakah haram?" Kembali Ayra bertanya pada sang anak.


"Ya haram juga Ma kalau bukan mahram." Jawab Ammar.


Ayra menarik sudut bibirnya. Ia tak menyangka jika sang anak sudah dewasa dan akan menikah. Rasanya baru saja ia menikmati hari-hari indah bersama suami. Kini ia justru kembali akan memiliki menantu.


"Sekarang Mama tanya. Arumi siapa kamu saat ini?" Tanya Ayra.


Nada bicara Ayra mengatakan 'saat ini' ada penekanan. Ammar pun mengerti maksud Mamanya.


"Ammar bukan mahramnya. Dan bukan pula orang yang akan menanggung dosa dari Arumi karena ia tak menutupi auratnya Ma." Ucap Ammar tertunduk.


"Beragama itu jangan terlalu merasa kita ini orang paling suci, paling baik. Terlalu yakin kita ini penghuni surganya Allah. Ketika Ammar menanyai hukum jilbab dari sudut pandang lelaki. Maka bukan jilbabnya nak yang haram atau tidak tapi lebih ke kalian para lelaki bisa tidak menjaga pandangan kalian. Perempatan seksi pun jika kalian tak memandangnya maka tak akan jadi haram bagi kalian. Tetapi bagi perempuan tadi ya memang ada kewajiban. Namun


..." Ucap Ayra sambil merangkul putranya yang tertunduk.


"Mama tahu kamu menginginkan istri Sholehah. Tetapi ketika menentukan calon istri kembalikan ke niat.Karena Niat tadi adalah landasan orang tersebut dalam membina rumah tangganya." Ucap Ayra memberikan semangat pada anaknya.


Bram pun ikut menanggapi.


"Untuk posisi kamu sekarang, mungkin harta dan keturunan perempuan bukan menjadi pilihan. Papa bisa mendengar dari cerita mu. Bahwa kamu memilih dia karena ia berjilbab dan cantik. Beratti dari 4 kriteria memilih istri kamu memilih dua tadi dan kini tinggal satu. Sekarang papa tanya. Dizaman sekarang jilbab Papa lihat bukan lagi dianggap kewajiban bagi sebagian perempuan tetapi lebih ke fashion. Ini sudut pandang Papa loh Ma... " Ucap Bram yang melihat istrinya mengangkat kedua alisnya.


"Maksud Papa?" Tanya Ayra yang tidak setuju dengan statement suaminya.


"Sabar dulu Ummu Ammar." Ucap Bram sambil sedikit tertawa karena ia bisa melihat jelas ketika diskusi diskusi seperti ini wajah sang istri bisa mudah berubah karena sengaja di pancing oleh Bram.


"Jadi begini sayang. Dulu, dizaman Rasulullah perempuan itu bisa di lihat dari pakaiannya, yang menunjukkan dia itu mudah diajak dalam tanda kutip" ucap Bram mengangkat kedua jari tengah dan jempol nya memberikan kode tanda kutip.


Ia pun kembali melanjutkan pendapatnya.


"Kalau anak lelaki kita ini hanya terpaku jilbabnya bukan akhlaknya ya repot. Bagaimana jika Arumi menggunakan jilbab tapi akhlaknya tak baik?" Tanya Bram sambil menatap Ammar dan menaikan alisnya.

__ADS_1


"Sebenarnya jika Arumi bisa lebih menjadi wanita ideal di mata Ammar jika dia berjilbab dan berakhlak baik Pa." Ucap Ammar yang ia tahu sang Papa menanti jawabannya.


Ayra pun menjelaskan bahwa perempuan yang berjilbab idealnya jika dikombinasikan antara jilbab dengan hati atau perilaku yang juga diajarkan sesuai syariat agama Islam.


“Kembali ke niat mu untuk menikah. Kalau di ibaratkan. Perempuan adalah wadah, laki-laki adalah air. Maka jika air tadi kotor. Sebagus apapun air tadi rasanya tak ada artinya jika wadahnya kotor. Karena air akan ikut kotor. Begitu juga Jika Wadah yang bersih air kotor. Air tadi juga tak bisa dinikmati karena bercampur wadah yang kotor. Alangkah baiknya jika air kotor. Di suling dulu agar menjadi bersih atau jernih. Jika wadahnya yang kotor maka dicuci dulu wadah tadi."


"So? Ammar harus menunggu Arumi berjilbab dulu?"Tanya Ammar sambil menatap kedua orang tuanya secara bergantian.


"Justru kamu yang harus ditanyakan. Jika Arumi berjilbab atau tidaknya sanggupkah anak Mama ini membimbingnya? Sebuah rumah tangga yang sakinah mawadah warahmah juga tak bisa hanya menitikberatkan pada konteks istri Sholehah saja. Karena masih ada peran suami yang sholeh yang juga harus berkolaborasi untuk tujuan pernikahan tadi." Ayra kembali menyampaikan pendapatnya.


Bram mendekati Ammar. Ia pun merangkul putranya dari sisi kanan. Kini sulung Ayra itu diapit kedua orang tuanya.


"Kenapa tak istikharah Nak?" Tanya Bram pada sang anak.


Ammar pun masih menunduk karena malu menganggap dirinya lebih baik dan suci dari Arumi. Padahal ialah yang pertama tak bisa menjaga pandangan hingga menikmati kecantikan yang belum halal ia nikmati.


"Bukankah Mama pernah bilang. Dalam Islam kita diajarkan dua pendekatan untuk menghadapi setiap persoalan. Pertama musyawarah dan yang kedua adalah istikharah. Meski kedua-duanya penting. Ammar lebih memilih yang pertama. Ammar sadar diri, kualitas ibadah Ammar. Kualitas hati Ammar yang masih kotor ini."


Ayra tersenyum. Ia bahagia karena walaupun putranya dulu sering sekali banyak yang merendahkan karena penampilan dan gaya berbicara juga berpakaian terkesan seperti bukan buah hati Ayra. Namun Ayra tak pernah merendahkan anaknya, merasa kesal dengan Ammar. Karena Ayra sadar, sedikit saja ada rasa benci, kecewa dalam hati ia sebagai ibu dari Ammar justru itu akan membuat anaknya sendiri menjadi tertutup hatinya. Sulit nya sang anak menggapai cita-citanya.


Maka Ayra selalu menata hatinya agar seberapa sulit merawat dan mendidik Ammar yang sedikit berbeda dari dua anaknya yang lain.Hatinya betul-betul ia jaga agar selalu ridho akan Ammar. Dan kini ia melihat bahwa ia mulai panen. Sulungnya bahkan sangat bijaksana mengambil keputusan. Sulungnya bahkan masih menjadikan dirinya tempat bermusyawarah untuk memilih pasangan hidup. Dimana zaman sekarang banyak anak-anak tak melibatkan sama sekali orang tua dalam mencari jodoh dengan alasan merekalah yang akan menjalani. Padahal nanti ketika menikah akan terus bersinggungan.


"Mama jadi ingat Abi. Dulu Mbah Kung pernah dawuh untuk kita yang tidak memiliki kecakapan dalam beristikharah, tak cermat membaca tanda, atau memang krisis bekal spiritual dan intelektual, maka langkah terbaik yang harus ia ambil adalah bermusyawarah dengan orang-orang yang memiliki kapabilitas dalam pada persoalan yang kita hadapi." Ucap Ayra sambil menyandarkan kepalanya di pundak tegap sang sulung.


"Sebenarnya, Musyawarah dan Istikharah itu sama. yang membedakan seseorang yang tengah beristikharah adalah sedang bermusyawarah dengan Tuhan. Sedangkan, orang yang bermusyawarah adalah orang yang sedang mencari jalan terbaik (istikharah) bersama orang-orang yang dipercayainya." Ucap Bram.


Ammar pun menoleh ke arah Bram sambil satu tangannya menggenggam tangan Mamanya.


"Papa, Ammar minta tolong Papa dan Mama untuk melamar Arumi. Apapun jawabannya, Ammar insyaallah akan menerimanya. Setidaknya Ammar bisa berusaha melupakan Arumi jika dia menolak lamaran Ammar." Ucap Ammar mantap.


"Tidakkah menunggu Ibrahim ketemu dulu Nak?" Tanya Bram pada Ammar.


To be continued

__ADS_1


__ADS_2