
Malam hari sebelum menyiapkan beberapa perlengkapan dan baju ganti yang akan di bawa Ke Kudus menemani Umi Laila ziarah. Qiya teringat pesan yang tadi dikirim papanya. Ia melirik ke arah pintu kamar. Cepat ia kunci pintu kamarnya. Lalu ia duduk diatas tempat tidurnya. Ia membuka layar ponselnya, ia tatap cukup lama layar itu dan dengan melafadzkan basmalah ibu jarinya menyentuh tombol playing audio yang di kirim Bram. Terdengar suara lelaki yang sudah berhasil meraih separuh hatinya.
...{Saya mungkin memang tidak punya jabatan dan harta seperti bapak....
...Jika saya ingin membahagiakan Qiya dengan harta dan jabatan mungkin saya tidak mampu....
...Hal itu justru ia dapatkan sedari kecil dari Bapak yang cukup sukses karena memiliki dua hal itu....
...Saya hanya punya cinta yang akan saya usahakan untuk setia hanya pada Qiya jika kami menikah....
...Dan itu tetap butuh bimbingan bapak dan orang tua saya jika kamu berjodoh....
...Kedua saya mungkin tak bisa seperti bapak yang punya banyak harta tapi insyaallah, saya akan berusaha dengan hasil keringat saya sendiri untuk memberikan nafkah yang halal untuk istri dan anak saya....
...Ketiga, saya mungkin jika dibandingkan Qiya, saya tak secerdas putri Bapak....
...Tapi saya berharap jika kelak punya keturunan, istri yang cerdas dan berakhlak baik seperti putri bapak bisa melahirkan generasi-generasi yang bisa membahagiakan Rasulullah di hari akhir nanti}...
Air mata gadis Ayra menetes, ia merasa tersanjung. Maka ia bersyukur karena jatuh hati pada lelaki yang tepat. Malam itu entah berapa kali ponsel itu mengeluarkan suara yang sama dari headset yang menempel di telinga Qiya. Gadis itu bahkan tertidur mendengar suara lelaki yang baginya sudah memiliki separuh jiwanya. Ia yang tak pernah merasakan perasaan seperti itu merasakan apa yang teman-teman kampusnya sering katakan. Jatuh cinta itu berjuta rasanya.
Namun di kamar sulung Ayra. Putra Ayra tersebut tampak di ruang alat musiknya yang pintunya terhubung dengan kamarnya langsung. Ia tampak memegang gitar dan sesekali memetik senar gitar tersebut lalu pena yang ia selipkan di telinganya ia ambil dan ia torehkan note di bawah kata-kata yang ia rangkai. Kalimat demi kalimat yang ia rangkai dan ingin ia jadikan sebuah lagi untuk calon istrinya. Di kertas tersebut terlihat bagian paling atas tertulis 'I Will Always Love You'. Malam itu ia seolah menjadi seorang seniman yang sedang menciptakan sebuah karya.
Jika Ammar dan Qiya sedang di mabuk dengan rasa cinta pada makhluk Allah. Dikamar yang berada di sebelah kamar Ammar. Seorang istri yang merasakan pinggangnya sakit. Ia mencoba terlelap dan gelisah. Ibrahim yang baru saja keluar dari kamar mandi. Ia baru saja membentang sajadah. Namun melihat Nur cukup aneh malam itu. Perempuan yang katanya istri dirinya, tidak membentang sajadah di tempat biasa ia bentangkan kain sajadah.
"Apa dia sakit?" Tanya Ibrahim dalam hatinya.
Namun karena hati yang masih dingin. Ia pun kembali melanjutkan niat hatinya. Ia menikmati bermesraan dengan ayat-ayat yang ada dalam ingatannya.
Tatkala ia tiba pada Surat Al-Baqarah ayat 228. Bibirnya melafadzkan ayat tersebut. Namun seketika Allah membuka sebuah memori yang mungkin tertutup karena amnesianya. Ia bisa tahu arti dari kalimat tersebut dimana para istri memiliki hak yang sama sama sepeti kewajiban mereka.Ia seperti melihat pada satu tempat dimana ada Pakde nya Furqon di depan banyak santri. Dimana suara Furqon seakan nyata baginya.
"Rasulullah bahkan mencontohkan bahwa beliau selalu menampakkan kebahagiaan pada istri beliau, kadang bermain-main dengan istrinya, sayang dan bersikap halus. Jadi jangan sampai santri-santri disini besok kalau punya istri sudah seperti pembantu saja istri kita itu. Di beri uang belanja. Kita cuma sibuk sendiri. Hatinya tak dihangatkan dengan cinta dan perhatian kita sebagai suami." Suara Furqon yang terdengar di telinga Ibrahim.
Sebenarnya itu adalah salah satu memori ketika Ibrahim sedang belajar di Kali Bening. Dan Furqon sebagai guru pada saat itu.
Seketika butiran keringat sebesar jagung pun membasahi sekujur tubuh Ibrahim. Ia menutup Mushafnya. Ia menundukkan kepalanya. Ia menangis, ia pun menghapus air mata di pipinya. Ia menoleh ke arah Nur yang masih gelisah karena rasa tidak nyaman di perut dan Pinggangnya.
"Ya Allah... apa aku termasuk suami yang dzolim?" Batin Ibrahim. Ia merasakan beberapa hari bersama Nur. Istrinya selalu tersenyum, selalu melayani semua kebutuhan dirinya. Bahkan selalu mengingatkan untuk minum vitamin. Ia lipat sajadahnya. Ia sampirkan di sofa, dengan langkah gontai ia berjalan ke arah tempat tidur Nur.
Bibirnya terasa kelu. Ia bingung ingin berbicara apa. Tapi sebuah kilatan ingatan barusan saja, tidak hanya menyakiti kepalanya tetapi juga hatinya. Ia merasa ia seakan tersakiti ketika suara Furqon terngiang-ngiang di telinganya. Ia merasa menjadi lelaki egois, lelaki yang menyakiti. Ia merasa kemarin terlalu sibuk dengan aktivitasnya bersama Mushafnya.
Satu tangannya ia usapkan pada pinggang yang dari tadi di usap oleh Nur.
Nur terdiam, ia tak berani menoleh. Tapi bisa ia pastikan jika tangan yang mengusap pinggangnya adalah milik Ibrahim. Dadanya berdebar, ia seakan-akan merasakan rintik hujan turun kala kemarau telah lama menguasai hatinya. Kemarau akan belaian lembut suami. Kemarau akan cinta dan perhatian sang suami yang dulu begitu besar. Bahkan karena cinta dan perhatian Ibrahim pada sang istri membuat Nur Hasanah yang harusnya lebih dewasa 6 tahun dari Ibrahim justru sangat manja kepada sang suami yang umurnya tergolong muda.
"Sudah enakan?" Dua kata yang keluar dari bibir Ibrahim membuat Nur menitikkan air mata. Satu perhatian yang ia harapkan berhari-hari. Satu perhatian yang ia doakan setiap sujudnya agar sang suami kembali dengan cinta seperti dulu.
Ia hanya mengangguk pelan.
"Kenapa menangis? Sakit? Atau aku panggilkan Mama?" Tanya Ibrahim yang melihat sang istri justru menangis terisak.
__ADS_1
"Biar begini saja Mas... Tak usah panggil mama. Beliau pasti lelah." Ucap Nur cepat. Ia hanya ingin menikmati sentuhan dan perhatian suaminya yang telah lama tak ia dapatkan.
"Tidurlah, aku akan disini sampai kamu tertidur." ucap Ibrahim lembut.
Nur tak berani menoleh kebelakang. Ia menahan tangis bahagianya. Ia menikmati usapan lembut itu. Tangannya mengusap perut yang mulai membesar.
"Alhamdulilah... Terimakasih Ya Allah. Setidaknya hari ini, janin ini merasakan sentuhan dari Ayahnya." Batin Nur sambil mengusap perutnya.
"Kenapa seakan aku begitu nyaman mendengar dan melihat potongan gambar tadi?" Ucap Ibrahim penasaran.
Malam itu, Nur terlelap dengan rasa bahagia karena perlahan suaminya mulai berangsur berubah. Ia yang tak pernah protes pada sang suami. Ia lebih memilih pada Gusti Allah yang Maha Membolak-balikkan hati hambanya. Malam itu ia melihat sendiri doanya mulai dijawab dengan perhatian sang suami. Ibrahim bahkan malam itu tertidur dengan posisi duduk dan satu tangannya masih mengusap pinggang Nur.
Qiya baru saja pulang dari Kudus bersama Ammar. Mereka juga kemarin sempat menginap di kediaman Eyang Lukis. Saat baru masuk ruang tengah ia sudah di sambut oleh Bram. Bram cepat memberitahu pada putrinya agar Gede datang melamar dirinya bersama keluarga.
"Minta Gede kemari bersama keluarga nya. Lusa kamu sudah harus kembali internship bukan?" Ucap Bram.
Qiya yang baru duduk di sofa yang berada tepat disisi Bram.
"Maksud Papa, Papa dan Mama ingin Gede segera melamar kamu. Bukan kah kamu sudah ziarah. Papa Mama juga merestui kamu dengan Gede. Kamu juga suka bukan dengan Gede. Apa karena sudah ziarah dari Kudus kamu berubah ingin menerima Hilman?" Tanya Bram penasaran.
Putri Ayra itu reflek mencium punggung tangan Bram dan Ayra secara bergantian. Ia bergegas ke kamar. Dada nya berdetak tak karuan. Ia bingung untuk menyampaikan apa yang diminta oleh Papanya. Sedangkan tiga orang di ruang itu tergelak tertawa melihat ekspresi Qiya.
"Aku tidak kamu Salami Qiy?" Teriak Ammar yang melihat adiknya setengah berlari ke arah kamarnya.
"Ammar...." Ucap Ayra karena mengingatkan tentang sikapnya yang sering menggoda adiknya.
"Ampun ndoro...." Ucap Ammar.
__ADS_1
"Dan kamu, segera cari WO untuk pernikahan mu dengan Arumi. Papa ingin bulan depan kamu segera menikah. Papa tidak ingin kamu tersiksa karena mencintai anak gadis orang dan membayangkan yang tidak-tidak. Sekalian nanti ngunduh Mantunya acara ijab Qiya. Dan Papa akan adakan resepsi untuk kalian Bertiga." Ucap Bram pada Ammar.
Ia sudah berdiskusi pada Ayra. Dan sang istri menginginkan jika ada nya syukuran untuk tiga anaknya. Namun Bram ingin mengadakan resepsi di hari ijab Qiya. Sehingga Nur juga disambut menjadi menantu di keluarga mereka. Acara empat bulan ingin Ayra adakan untuk Nur sebelum ijab Qiya. Itu ingin ia adakan dirumah saja.
Ammar dan Qiya sama-sama tak menyangka jika prosesnya akan secepat itu. Kedua orang tua mereka hanya khawatir jika lama-lama. Karena anak kembar mereka telah jatuh hati lebih dulu sebelum menikah. Maka lebih baik mereka mempercepat pernikahan putra putri mereka.
Qiya berada di kamar dan mengirim pesan pada dokter Gede.
\[Assalamu'alaikum. Dok.\]
\[Walaikumsalam\]
\[Papa minta besok dokter kemari bersama Orang tua dokter\]
(Memangnya saya diterima dok?\]
\[Dawuhnya ***KH. Asrori Al-Ishaqi 'Ojo gampang nolak cinta, mundak angel jodoh mu***'. Alhamdulilah Papa dan saya tidak menolak cinta dokter\]
\[Alhamdulilah.... Allahuakbar.... Terimakasih dok. terimakasih... saya akan segera datang dengan Ibu saya. Terimakasih atas kepercayaan dan kesempatan yang dokter juga keluarga berikan.\]
\[Di niatkan untuk ibadah ya Dok.\]
\[Insyaallah.... Dek Qiya\]
"Hhhhhhh..... Masyaallah.... indahnya rasa yang Allah ciptakan di hati manusia." Ucap Qiya yang tersenyum bahagia membaca pesan terakhir yang dikirim dokter Gede. Dokter itu memanggilnya dengan kata 'Dek'.
__ADS_1
Dua hati dokter itu sedang berbunga-bunga.