
Pagi hari di kediaman Bram. Setelah matahari menunjukkan sinarnya. Maka biasanya keluarga Bramantyo itu menghabiskan waktunya untuk berolahraga. Pagi itu sepasang suami istri yang telah memiliki tiga buah hati itu tampak berjalan di taman belakang rumah mereka. Bak sepasang anak muda yang sedang berpacaran. Mereka bergandengan tangan sambil berjalan menghirup udara pagi di halaman belakang.
"Ay, tak terasa sebentar lagi kita akan memiliki cucu. Seolah hidup ini memang tempat bersusah-susah. Dulu di usia muda kita berjuang untuk menyelesaikan masalah yang ada dalam rumah tangga kita. Lalu berjuang membesarkan dan mendidik anak-anak kita. Mas pikir setelah mereka dewasa kita akan lebih ringan ternyata pikiran, tanggungjawab kita justru bertambah...." Ucap Bram sambil menggenggam erat tangan istrinya.
Ayra pun menyandarkan kepalanya di lengan sang suami sambil tetap melangkahkan kakinya.
"Jangan susah memikirkan anak-anak kita secara berlebihan Mas. Insyaallah, mereka akan mampu menyelesaikan masalah yang mereka hadapi. Kita hanya perlu hadir disisi mereka untuk menemani mereka melalui setiap proses mereka tanpa harus terlalu risau akan masa depan mereka. Anak-anak kita memiliki takdir masing-masing. Kita bisa hadir dalam setiap takdir mereka melalui doa kita Mas, keridhoan kita sebagai orang tua agar setiap langkah dan usaha mereka di berikan kemudahan dan keberkahan." Ucap Ayra.
Bram pun memeluk istrinya. Sambil terus melangkah ia mengecup dahinya.
"Rasanya melihat Qiya harus gagal kemarin, aku lebih sakit dari dia Ay. Tapi kamu berhasil mendidik anak-anak mu seperti dirimu selalu terlihat tegar menghadapi setiap masalah kehidupan walau nyatanya di hati mereka rapuh. Putri mu dan bungsu kita sangat pandai menyimpan rasa. Sedangkan putra sulung mu itu, ia selalu menceritakan apapun padamu. Kadang aku sering merasa apakah aku terlalu menyeramkan bagi ketiga anak kita?" Ucap Bram.
Ayra pun menceritakan bahwa semalam anak sulung mereka sedang dilanda jatuh cinta. Namun ia tak tahu siapa perempuan itu. Seperti itulah Ayra. Ia akan selalu hadir untuk anak-anaknya disaat anak-anak butuh dirinya. Ia akan melindungi ketiga anaknya dengan caranya. Bram pun akan mengetahui setiap perkembangan putra Putri nya dari sang istri. Namun walau anak-anak mereka tak pernah mencurahkan isi hati pada sang ayah, Bram sosok yang hangat dan akrab dengan ketiga anak mereka. Terlebih dengan Qiya, sedari kecil ia akan selalu menjadi penyelamat putrinya dari godaan dan kejahilan kakak sulungnya.
Bram melonggarkan pelukannya ia sedikit menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah Ayra.
"Bagaimana kalau janda Ay?" Ucap Bram. Ada rasa sedikit tak terima jika sulungnya menikah dengan Janda.
"Mas mau tahu jawaban Putra mu ketika Ayra tanyakan bagaimana jika perempuan itu Janda." Ucap Ayra membalas tatapan suaminya.
__ADS_1
"Bagaimana dengan kisah Jabir bin Abdillah yang lebih memilih menikahi janda Ma?" Pancing Ammar untuk berdalih jika perempuan yang ia sukai itu adalah janda nantinya.
"Tetapi sahabat menikahi janda untuk menciptakan kemaslahatan. Lantas apakah Putra Mama ini menikahi janda juga akan membawa kemaslahatan baginya atau bagi dirimu sendiri nak?" Tanya Ayra walau sebenarnya ia lebih tahu jawabannya. Akan tetapi ia harus menjadi figur pengingat disaat anak belum membuat keputusan.
Salah satu point' plus Ammar. Ia selalu menceritakan semuanya pada Ayra hingga tak heran ketika ada masalah, anak dan ibu itu akan terlihat seperti sahabat bukan anak dan ibu. Yang satu meminta pendapat satunya lagi memberikan pendapatnya dari sudut pandang nya sebagai ibu.
"Bagaimana jika dengan menikahi dirinya, Putra Mama justru memberikan kebahagiaan pada janda itu? Atau Aku memberikan nafkah untuk anaknya? Salah satu perempuan dinikahi yaitu karena kecantikan nya bukan? memang Agama yang pertama. Namun bagi ku dengan dia sudah mau berhijab itu sudah nilai lebih, Ma. Maka kemaslahatannya, putra Mama ini tak lagi membayangkan sesuatu yang tak halal ia bayangkan... " ucap Ammar membela diri.
"Anak Mama ini sangat pintar berargumen. Baiklah. Mama tak masalah mau janda atau gadis. Karena yang akan menjalani kamu. Tapi ingat. Jika sudah mengambil keputusan. Jalani kehidupan kamu dengan sebaik-baiknya sesuai syariat agama kita. Jangan pernah menyesali apa yang menjadi keputusan Mu. Sekarang cari tahu dulu siapa gadis itu dan statusnya." Pinta Ayra pada sang anak.
"Bukankah Menikah itu adalah Sunnah Ma. Menikahi gadis Sunnah, Rasulullah juga Menikahi gadis. Menikahi Janda pun juga Sunnah. Maka yang benar bukankah menjalani Sunnah itu sendiri, bukan menikahi gadis atau janda nya bukan?" Tanya Ammar.
Ya seorang sahabat yang bernama Jabir. Ia dahulu Memilih menikahi janda karena alasan ia yang memiliki banyak adik perempuan. Ia tak ingin menikahi gadis yang seumuran. Maka ia mencari yang lebih dewasa dari adik-adik perempuan nya. Bagi Jabir wanita yang bisa mengurus dan membuat adik-adiknya lebih baik. Sungguh mulia niat Jabir. Bahkan Rasulullah mendoakan Jabir. Sebuah doa yang melambangkan bahwa beliau setuju dan berharap kebaikan bagi sahabat nya.
Bram setelah mendengar cerita Ayra pun menimpali.
"Satu lagi Ay... " ucap Bram
Ayra mengernyitkan dahinya.
__ADS_1
"Asalkan tidak sesama jenis atau berbeda agama. Akhir zaman ini sangat marak sekali pergaulan sesama jenis." Ucap Bram sambil tertawa.
Sepasang suami istri itu kembali melanjutkan perjalanan mereka.
Tanpa disadari oleh Ayra dan Bram. Kemesraan mereka sedang diamati dan dinikmati oleh dua pasang perempuan. Satu diantaranya adalah Qiya. Gadis Ayra itu sedang menghirup udara pagi dari arah balkon kamarnya. Ia ingin menghirup udara di kediaman nya sebelum kembali ke wahana internship. Mau tidak mau ia harus segera kembali secepatnya ke tempat ia praktek selama satu tahun itu.
Karena ia telah cukup lama libur. Ia khawatir akan mempengaruhi proses penilaian terkait surat izin praktik yang akan diberikan oleh dokter pembimbing. Disisi lain, Nur yang juga menikmati pagi nya tanpa rasa mual sangat menikmati suasana pagi itu. Terlebih melihat kemesraan mertuanya.
"Terimakasih Ya Allah, telah memberikan aku keluarga yang begitu hangat. Bahkan kedua kakak ipar ku terlihat sangat bersahabat. Ku pikir mereka akan menolak ku. Tapi ternyata aku mendapatkan cinta begitu besar dari saudara dan keluarga mu mas. Kamu dimana Mas?" Ucap Nur sambil memegang kalung yang ia kenakan.
Sebuah mas kawin yang Ibrahim berikan untuk dirinya. Tiba-tiba pintu kamar Nur di ketuk. Seseorang meminta izin masuk. Nur pun menyambar hijabnya di sofa yang berada disisinya. Ia segera mengenakan benda itu. Saat pintu ia buka, ia sedikit kaget karena Ammar berdiri di depan kamarnya.
"Maaf menganggu. Ini ada ponsel, didalam sana semua nomor Keluarga kita ada. Dan sudah di pasang alat yang aman dari penyadap. Jadi pakai ponsel ini untuk menghubungi siapapun anggota di keluarga kita. Papa yang meminta. Dan jangan sungkan jika perlu bantuan. Anggap aku kakak mu. Aku sangat menyayangi Ibra. Jangan putus asa. Insyaallah Ibra akan kita temukan." Ucap Ammar sambil berlalu meninggalkan adik iparnya.
Baru Nur akan mengucapkan terimakasih tetapi lelaki itu lebih dulu berdiri di kamar yang ada di seberang kamar Ibra. Ia tampak mengetuk pintu yang di depan pintu itu terdapat tulisan "AQI". Nur pun menutup kembali kamar itu. Ia melihat di sekeliling kamar itu. Ia yang mantan intelejen merasa cukup aneh dengan satu lemari besar yang berada di sudut ruangan itu ketika ia baru saja akan mengambil sweater.
Nur memperhatikan lemari itu dengan seksama. Ia melihat tampak depan. Lalu ia meraba lemari itu hingga ke sisi kanan lemari itu. Ia memang mengundurkan diri dari intelegen tapi bukan berarti kemampuan ibu hamil muda itu juga hilang. Insting nya sebagai petugas lapangan ahli di jabatan terakhir nya masih ia miliki. Ia membuka lemari itu. Ia mengeluarkan semua baju, buku dan kardus yang tersusun rapi di lemari itu. Ia meraba lemari itu. Perempuan itu cukup terkejut.
"Sreeeettttt." Satu dinding bisa di geser oleh kedua tangan Nur.
__ADS_1
Nur melihat dan seakan tak percaya apa yang ada di hadapannya.