
Pagi itu Ammar telah sadar. Marvin yang hampir satu malam tidak tertidur, ia menanti bosnya sadar. Pagi itu, asisten pribadi Ammar itu tertidur dalam keadaan duduk di sisi bosnya. Ia membenamkan wajahnya di atas lengannya.
Ammar baru mencoba mengambil air minum di sisi tempat tidurnya. Baru ia akan meraih gelas yang berisi air putih tersebut, pintu kamar di buka. Ammar pun menoleh ke arah pintu. Kedua matanya tak berkedip sesaat ketika memandang perempuan yang mengenakan sebuah dress yang berwarna biru perpaduan warna putih yang tepat di atas lutut. Rambut panjang hitam tergerai.
Ammar langsung memalingkan wajahnya. Ada rasa kecewa di hatinya. Ia bisa mengingat jika wajah perempuan yang saat ini mengenakan dress itu adalah perempuan yang pernah ia selamatkan. Perempuan yang ia sukai, yang menganggu malam-malam sulung Ayra itu. Seketika ada rasa kecewa dan sakit dalam hati Ammar. Walau ia terpesona dengan kecantikan perempuan itu.
Arumi mendekati Ammar. Ia meraih gelas yang coba di gapai Ammar. Ia memegang gelas itu sambil menunggu Ammar bangun dan bersandar pada dashboard tempat tidur. Lelaki itu menatap lurus ke depan. Hatinya berdetak tak karuan, ingin ia kembali menikmati pemandangan di sisi nya. Namun rasa takut karena kemarin saat pertama ia jatuh hati pada perempuan itu adalah saat perempuan itu mengenakan hijab.
"Ini minumnya Mr. Ammar." Ucap Arumi yang masih belum tahu bahwa dia adalah Arumi.
Ammar meraih gelas itu tanpa menoleh ke Arumi.
"Kenapa dia seperti tidak suka dengan kehadiran ku. Miss Allyne bilang dia menyukai ku." Batin Arumi yang merasa di acuhkan Ammar.
"Terimakasih. Keluarlah." Pinta Ammar pada Arumi.
Arumi terpaku menatap lelaki yang semalam ia nikmati ketampanannya.
"Baiklah. Maaf jika mengganggu Mr. Ammar. Saya hanya ingin memastikan kondisi anda baik-baik saja. Saya juga ingin mengucapkan terimakasih." Ucap Arumi.
Perempuan itu pun melangkah keluar. Ammar memalingkan wajahnya. Ia pun penasaran.
"Katakan siapa kamu? Kemana kerudung mu?" Tanya Ammar pada Arumi.
Dia tak tahu jika Alisha menggunakan data Mayang ketika ke Indonesia.
Arumi berhenti. Ia ingin berbalik namun kembali ucapan Ammar membuat ada rasa sakit di hati Arumi.
"Jangan berbalik! Aku tidak ingin melihat wajahmu." Ucap Ammar ketika ia melirik Arumi yang baru akan membalikkan tubuhnya.
__ADS_1
"Aku... Aku pun tak tahu siapa aku. Apakah aku Alisha, apakah aku Mayang. Aku lebih ingin tahu siapa aku daripada orang-orang." Ucap Arumi sambil menahan air matanya.
Ia meninggalkan Ammar di kamar itu. Ammar pun mendengus kesal.
"Hah! Rasa apa ini. Kenapa dia jadi tidak berhijab. Kenapa aku yang kecewa dengan penampilan nya sekarang." Ucap Ammar frustasi.
Ia pun membangunkan Marvin. Ia bertanya dimana mereka. Dan apa yang terjadi. Marvin menceritakan apa yang sebenarnya terjadi pada Ammar. Sulung Ayra itu tidak mengkhawatirkan kondisinya yang masih terlilit infus. Ia justru memikirkan perempuan yang melahirkan dirinya. Ia yakin bahwa Mamanya akan khawatir.
Ammar dan kedua saudara kandungnya tak pernah pergi kemanapun tanpa berpamitan pada ibunya. Walau hanya lewat pesan atau telpon. Ia meminta Marvin menelpon. Namun tak ada sinyal.
Arumi yang kini tiba di kamarnya. Ia memeluk Ifah. Ia menangis sambil memeluk Ifah. Ada rasa sakit di hatinya karena di acuhkan Ammar. Ada rasa sakit karena di bentak Ammar. Miss Allyne yang penasaran bertanya.
"Apa Mr Ammar yang asli belum sadar?" Tanya Miss Allyne.
"Katakan Miss Allyne. Siapa aku?" Suara Arumi terisak.
"Aku tidak tahu, tapi yang aku tahu data yang anak buah ku temukan bahwa kamu adalah Kalila Mayang Dahayu. Dan kemungkinan kamu adalah putri orang yang menyekap kita. Ku lihat setelah ia melihat wajah mu. Kita diperlakukan bak Tamu. Kamu bahkan menerima pakaian yang semuanya terlihat sempurna mengekspos kecantikan mu." Ucap Miss Allyne.
"Lantas kenapa Mr Ammar seolah jijik pada ku?" Ucap Arumi sambil menatap Miss Allyne.
Miss Allyne melebarkan kedua pupil matanya. Ia pun menyunggingkan senyum.
"Wow. Kalian sungguh menggemaskan. Kau tahu, selama kau di tempat ku dan tak sadar. Tak ada satupun lelaki yang melihat kau tanpa hijab. Bahkan dirinya saja tak pernah mau melihat mu setelah kejadian di hotel saat itu. Apalagi kamu dengan pakaian mu sekarang?" Ucap Miss Allyne pelan.
Seketika Arumi terdiam. Ia mengingat moment pertama ia bertemu Ammar.
"Apakah sehina itu aku yang tak berhijab?" Gumam Arumi.
Miss Allyne yang merasa berapa hari ini tak mendapatkan perawatan pada kukunya. Ia sibuk memperhatikan kuku-kuku mungil dan cantik miliknya.
__ADS_1
"Entahlah, aku pun merasa marah padanya. Ia bahkan menukar posisi dirinya dengan Marvin hanya untuk menjauh dari para perempuan. Anehnya, ia setelah itu meminta maaf. Kalau dibilang dia tidak normal. Marvin saat menjadi Ammar mengatakan jika Ammar menyukai kamu. Bahkan ia mengatakan akan melamar mu jika kamu bukan istri orang." Ucap Miss Allyne.
Arumi masih diam. Ia tidak tahu, ada rasa sakit di acuhkan Ammar. Ada rasa bingung dan marah. Ia ingin tahu siapa dia. Ifah yang sibuk berceloteh membuat Arumi tersadar jika balita yang mengira dirinya adalah ibunya ingin minum susu.
Arumi pun menggendong Ifah keluar dari kamar. Ada rasa takut ketika menuruni anak tangga. Saat baru dua anak tangga yang ia lewati. Pak Broto yang baru akan naik kelantai dua, ia menatap Arumi yang menggunakan pakaian Mayang.
"Kalian sangat mirip.... Lana, anak-anak kita sangat cantik seperti mu. Tanpa polesan make up pun bisa membuat mereka tampil cantik dan mempesona." Ucap Broto dalam hatinya.
"Mau kemana Nak?" ucap Melisa pada Arumi.
"Sa-sa-saya..." ucap Arumi penuh takut. Ia sedikti khawatir dan takut. Rasa trauma hidup penuh kekerasan bersama Alex dalam waktu satu tahun lebih membekas dalam hidup Arumi.
Melisa menaiki anak tangga dan merangkul Arumi.
"Jangan takut. Katakan apa yang kamu perlukan. Tidak akan ada yang menyakiti kamu." Ucap Melisa.
Broto yang melihat di betis dan tangan putrinya terdapat banyak luka goresan.
"Melisa...." Ucap Broto yang terhenti. Ia tak ingin anaknya yang lupa ingatan menjadi tambah stress.
Melisa baru saja menjelaskan bahwa ada banyak luka lebam dan bekas sayatan pada tubuh putrinya. Arumi pun menoleh ke arah Melisa.
"Anak ku butuh susu. Dari semalam ia belum minum susu." Ucap Arumi.
Broto yang melihat anak di gendongan Arumi.
"Dia bukan anak mu Arumi.... Kamu sama persis seperti ibu mu." Batin Pak Broto yang melihat putrinya begitu penyayang.
Ia bahkan melihat semalam bagaimana Arumi memperhatikan Ammar di saat sulung Ayra itu tidak sadarkan diri.
__ADS_1