
Malam itu Melisa duduk termenung di balkon kamarnya. Ia memegang secangkir teh yang hangat. Sambil sesekali ia sesap teh itu untuk menghangatkan perutnya yang satu hari ini ia tak selera makan. Ia kembali terbayang masalalu, saat ia justru berteman baik dengan Broto dan istrinya, Ibu dari Broto justru ingin anak dan menantunya berpisah.
Flashback On
Malam dimana Istri Broto akan melahirkan, Ibu Broto mendatangi sebuah rumah sakit. Melisa yang merupakan sahabat dari sepasang suami istri itu tak sengaja melihat mobil Ibu Broto keluar di malam dengan cuaca hujan deras. Ia pun mengikuti mobil itu. Tiba di sebuah rumah sakit swasta, alangkah kagetnya ketika Melisa mendengar percakapan Ibu Broto pada seseorang di rumah sakit itu.
"Bawa bayi itu kemari sekarang juga, dan keluarkan surat pernyataan bayinya meninggal." Ucap Ibu Broto.
Ia tampak menyerahkan sebuah amplop yang dapat di pastikan oleh Melisa jika itu adalah uang.
Tak lama berselang, muncul seorang perempuan membawa bayi mungil yang terbungkus kain bedong berwarna hijau. Ibu Broto pun pergi dari rumah sakit itu sambil menggendong bayi mungil itu yang bahkan belum di lihat ibunya. Melisa menepikan tubuhnya pada tiang rumah sakit tersebut ketika Ibu Broto melewati dirinya. Ia tak menyangka apa yang ia lihat. Seorang ibu tega memisahkan Menantu dan anaknya hanya karena ia dari awal tak merestui pernikahan mereka. Bahkan malam itu seorang bayi yang baru dilahirkan dengan selamat dan tak kurang apapun harus di pisahkan dari ibunya.
Melisa membuntuti perempuan yang membawa bayi tadi, namun saat tiba disebuah ruang bersalin. Beberapa perawat dan dokter terlihat panik, 20 menit pasca istri Broto melahirkan. Kini Perempuan itu kembali melahirkan bayi perempuan. Ya, Broto memiliki bayi kembar. Namun sikap tidak bijaksana dan hati yang kotor dari seorang ibu mertua membuat nasib bayi itu terpisah dari ibu dan ayah mereka. Bahkan Broto hanya tahu istrinya meninggal dunia karena melahirkan bayi mereka.
Sejak malam itu, Istri Broto tak ingin kembali mengenal dan bertemu Ibu mertuanya. Cukuplah baginya hidup dengan putrinya. Ia dan putrinya tak tahu jika malam itu, ia melahirkan bayi kembar. Hanya Melisa yang tahu, ia saksi hidup tentang kisah yang dimulai malam itu. Sejak saat itu, ia selalu memberikan uang untuk kebutuhan mantan istri Broto untuk kebutuhannya dan sang anak. Bahkan ketika dewasa, ia mengutus orang untuk merekrut putri Broto yang terbuang itu menjadi agen. Karena ia tumbuh menjadi gadis yang pintar. Hal itu ia lakukan karena gaji dari agen yang cukup besar, Melisa berharap Putri Broto itu bisa hidup lebih baik. Karena Broto menganggap uang Cash yang kadang dalam jumlah jutaan sering di tarik oleh Melisa dianggap untuk sang istri bersenang-senang atau foya-foya. Padahal uang itu Melisa berikan pada sang sahabat untuk kebutuhan ia dan buah hatinya, Ia bahkan setuju menikah dengan Broto karena istri Broto tahu semasa kuliah pun Melisa memendam rasa, belum lagi ibu mertua yang selalu membandingkan dirinya dengan Melisa. Maka ketika meninggalnya Istri Broto, Melisa menikah dengan Broto.
Arumi Mayang Dahayu, tak pernah bertemu dengan Melisa. Namun ia sering berkirim kabar lewat email. Arumi hanya tahu jika ibunya memiliki sahabat yang baik hati hingga terus mensupportnya. Saat itu Melisa lah yang meminta Istri Broto agar memberikan nama yang sama dengan nama putri mereka yang ada bersama Broto.
Flashback Off
"Sejauh apapun kamu berlari dari kehidupan Broto, Jika takdir ingin kalian kembali. Maka saat ini takdir membawa putri kalian ke rumah ini, ia bertemu ayahnya. Semoga kamu tenang di sana Lana..." Gumam Melisa sambil memejam kedua matanya. Ia tak menyangka jika selama ini sahabatnya tak ingin kembali bertemu Broto, tak ingin kembali menjadi menantu dirumah itu.
Tak ingin anaknya bertemu ayahnya. Hari itu, takdir membawa Arumi Mayang Dahayu bertemu Subroto alias Broto.
"Oh,Jadi kamu sudah tahu jika Lana memiliki anak selain Mayang? Br3ngsek kamu Melisa! Tega kamu memisahkan aku dengan anak ku!" Ucap Broto penuh emosi.
Broto bermaksud ingin menanyakan perihal teman lelaki yang di periksa oleh Melisa siang tadi tetapi ia mendengar jelas gumamman Melisa tentang Mayang atau anak Lana.
Merasa bertahun-tahun bertahan hanya karena menjga janji suci pernikahan. Bertahan karena cinta pada suami. Bertahan menutupi semua kebusukan ibu dari Broto agar aib perempuan yang telah meninggal itu tetap tertutup. Malam itu Melisa mulai merasa lelah. Ia tak bisa lagi diam.
__ADS_1
Malam itu Broto seolah mengulangi kesalahannya di masa lalu. Mempercayai apa yang dikatakan Ibunya tanpa mencari tahu kebenarannya. Ia bahkan berkali-kali harus bertengkar dengan Broto kala ibu mertuanya masih hidup. Karena ia tak kunjung hamil. Namun karena melihat si kecil Mayang, Melisa tak tega meninggalkan rumah itu hanya karena merasa tak betah.
"Terus saja lakukan kesalahan yang sama Subroto Dirgantara! Aku tidak akan diam lagi. Jika memang kamu merasa ada yang memisahkan kamu dengan Lana, maka dia adalah ibu mu! Perempuan yang selalu bermuka manis di depan mu. Tetali busuk di belakang Mu!" Ucap melisa menahan tangis dan emosinya.
Ia berjalan ke sebuah lemari. Ia memberikan sebuah amplop dan is serahkan surat terakhir yang diberikan oleh Lana untuk dirinya. Isi surat itu ia minta agar Melisa menjaga rahasia putrinya. Ia tak ingin putrinya kembali kerumah dimana pemiliknya telah membuang dirinya.
Da satu surat yang menyatakan jika ibunya di ujung hari tuanya. Sebelum ia menjelang ajalnya. Ia meminta maaf pada Broto. Ia merasa karma dirinya telah memisahkan Lana dan Broto membuat ia dan Melisa tak bisa punya keturunan lagi.
"Jika saat itu aku tak ada disana! Maka hari ini kamu tak akan bisa masih melihat darah daging mu! Dan lihatlah jutaan uang yang aku tarik tunai ini!" Semua kwitansi pembayaran rumah sakit, kontrkaan juga rumah serta biaya sekolah Arumi yang dianggap oleh Arumi adalah beasiswa justru itu semua Melisa yang lakukan.
Ia tak pernah bertemu Arumi. Ia hanya berkomunikasi lewat email. Ia tak menyangka jika gadis itu bisa bak pinang dibelah dua dengan Mayang. Ia pikir anak Lana telah bahagia id Australia.
Melisa meninggalkan Broto sendirian. Lelaki itu membaca dua surat itu. Ia bahkan menangis sesenggukan di usianya yang sudah tua. Ia menangisi apa yang telah ibunya lakukan pada rumahtangga nya. Ia bersedih karena selama ini ia menganggap istrinya bukan perempuan yang baik-baik hingga tak sekalipun ia mengunjungi makam mantan istrinya itu.
Dan kesedihan mendalam, ia tak pernah membalas kasih sayang sang istri yang terus menemaninya hingga usia senja. Bahkan salah satu anaknya ia jaga dari tangan kotor ibunya. Bahkan di surat sang ibu, jika saat itu tidak ada Melisa mungkin Mayang sudah di titipkan di panti asuhan. Namun karena Melisa, Mayang pun tetap di bawa pulang oleh ibu Subroto.
Disaat Subroto menangis karena menyesal. Putrinya yang masih hidup pun sedang menangisi seorang pria. Lelaki itu suhu tubuhnya panas sekali. Ia terlihat sesekali mengigau. Selang infus yang terpasang di tangan Ammar masih terus mengaliri cairan untuk tumbuhnya. Tiba-tiba pintu kamar itu di buka.
"Kamu disini? Aku mencari mu di kamar mu. Hanya ada teman mu dan anaknya." Ucap Melisa yang berdiri di ujung pintu.
Arumi menoleh ke arah Melisa .
"Kenapa tubuhnya masih panas?" Tanya Arumi yang kembali menatap Ammar.
Marvin yang berada di sisi kanan bosnya hanya menatap Melisa heran. Siapa perempuan itu.
"Dia kekurangan cairan sepertinya dehidrasi, dan juga tubuhnya membutuhkan obat yang harus aku masukkan melalui suntikan. Tenanglah, besok ia akan sehat." Ucap Melisa yang kini telah berada disisi Arumi.
"Katakan kenapa kami di tahan disini! Apa salah kami?" Tanya Marvin.
__ADS_1
Ia bingung jika yang menahan adalah kelompok Alex, tetapi mereka diperlakukan dengan baik setelah Arumi bertemu Pak Broto. Mereka diberikan kamar yang layak dan jamuam makan yang mewah.
"Bukan aku yang layak menjawab. Dua hari lagi kita akan menemukan jawabannya. Sekarang istirahatlah. Oya jangan coba kabur karena kita ada di satu pulau sekarang. Maka kalian akan sia-sia." Ucap melisa sambil mengecek selang infus di tangan Ammar.
Melisa melirik ke arah Ammar dan Arumi.
"Apa dia pacarmu?" Tanya Melisa pada Arumi.
Arumi seketika menoleh ke arah Melisa.
"Bu-Bukan. Dia telah menyelamatkan nyawa ku dua kali. Aku berhutang nyawa padanya." Ucap Arumi sambil menatap Ammar.
Subroto yang baru akan masuk ke kamar Ammar karena ia mencari Arumi dilamarnya namun putrinya tak ada disana. Ia mendengar jelas apa yang diucapkan putrinya.
"Terimakasih Tuhan karena engkau mengirimkan orang-orang baik untuk anak ku. Maaf kan aku yang memiliki hati yang kotor ini. Maafkan aku Melisa, saat tersakiti pun kamu masih memperhatikan darah dagingku." Ucap Broto dalam hatinya.
Disast Broto merasa bahagia karena putrinya masih hidup walau satu putrinya telah meninggal dunia. Seorang Ibu justru sedang cemas menanti kepulangan Ammar.
"Mas, Ammar tidak pernah pergi menginap dimanapun tanpa memberi kabar atau meminta izin." Ucap Ayra yang berada di pelukan suaminya.
Hatinya gelisah. Ia sedar sore menanti anaknya pulang. Namun Ammar tak memberi kabar, no ponsel ia dan Marvin tak ada yang bisa dihubungi. Belum selesai masalah Ibrahim yang masih di cari keberadaan nya. Ia justru dibuat khawatir tentang si sulung.
"Tenanglah Ay... Ammar baik-baik saja." Ucap Bram.
Namun lelaki itu mencoba menenangkan hati istrinya. Beberapa orang yang di pekerjakan Marvin telah memberikan kabar bahwa putranya dan sang asisten di bawa sekelompok orang dan bersama dua perempuan dari Australia.
"Aku tak akan membiarkan anak-anak kita tersakit Ay."
"Tunggulah setelah 24 jam kita lapor polisi." Ucap Bram.
__ADS_1
Ayra masih menyadarkan kepalanya di dada sang suami. Berharap mundur dari kancah politik agar hidup tenag. Justru ia di uji lewat keluarga nya. Lewat anak-anaknya. Itulah kehidupan. Disaat banyak orang tak memiliki anak. Justru yang memiliki anak akan dipusingkan dengan semua urusan anak. Dunia ini memang tempatnya masalah dan berjuang menyelesaikannya dengan ilmu dan kesabaran.