Pesona The Twins

Pesona The Twins
72 Tamu tak diharapkan


__ADS_3

"Anu siapa Mbok?" Tanya Ayra pelan.


"Ada mantan tunangannya Mbak Qiya sama Kakeknya." Ucap asisten rumah tangga yang cukup lama bekerja di kediaman Ayra.


Ayra mengerutkan dahinya. Sedangkan Qiya, seketika melepaskan pita berwarna pink yang baru saja akan ia ikat di sebua kotak hantaran untuk oleh-oleh acara lamaran nanti malam.


Nur yang melihat ibu mertuanya cepat menoleh Qiya, ia segera merangkul Qiya. Ia memberikan ketenangan. Ia sudah mendengar kabar pembatalan pernikahan kakak iparnya H-14 pernikahan mereka.


"Ada apa Pak Toha kemari mendadak." Gumam Ayra yang baru akan menemui tamunya. Ia meminta asisten rumah tangga memanggil Bram di lantai atas. Ia sedang berbicara dengan Ammar. Ia tak mungkin memanggil suaminya. Karena tak ingin membuat tamunya berlama-lama menunggu tuan rumah menyambut.

__ADS_1


"Astaghfirullah... Kenapa perasaan ku jadi tidak tenang begini. Semoga Mas Hilman tidak kemari untuk melamar ku lagi. Biarkan dokter Gede dulu menemui Papa dan Mama. Setidaknya ia ada kesempatan jika dirinya lebih dulu melamar ku." Batin dan harap Qiya dalam hatinya.


"Sudah jangan dipusingkan. Aku tidak bisa membungkus ini Kak. Biar Papa dan Mama yang menemui mereka. Toh katanya tadi mereka ingin bertemu Papa dan Mama." Ucap Nur menenangkan hati Qiya. Ia memang tak ahli membungkus hantaran itu. Ia lebih baik diminta mengerjakan soal psikotes atau melakukan pengintaian di tempat yang banyak resiko dibandingkan harus membungkus kotak dengan pita-pita agar terlihat cantik.


Ayra menemui Pak Toha. Ia menyambut sahabat Abinya. Ia tak lupa akan setiap jasa-jasa Pak Toha selama menemani Abi Rohim dalam berdakwah. Namun ia akan punya prinsip jika harus kembali menjodohkan anaknya dengan cucu sahabat Abi nya. Apalagi ia sudah mengetahui bahwa hati sang anak telah berlabuh pada lelaki lain yang juga menaruh hati pada putrinya.


Bram pun menyambut tamunya dengan sopan walau dalam hatinya ada rasa tidak suka, rasa kurang berkenan karena kembali bertemu Hilman. Tetapi ia bukan Bramantyo yang di masa muda nya akan cepat naik pitam. Begitu besar rasa cintanya pada sang putri maka wajar jika ia memiliki rasa tak suka, dan sakit hati pada Hilman.


Akan tetapi lama hidup bersama Ayra mampu membuat ia bijaksana mengolah emosinya.

__ADS_1


Pak Toha yang melirik ke arah Hilman, ia menerima kode dari cucunya bahwa untuk segera menyampaikan apa maksud dan tujuannya. Ia tahu sejarah bahwa Kyai Rohim dulunya begitu sering ditolong dan di dukung oleh Pak Toha selama di Kali Bening. Bahkan hadirnya Kyai Rohim di desa itu adalah berkata permintaan Pak Toha. Maka ia sudah merasa sulit bagi Ayra sebagai orang tua dan trah darah biru dari Kyai besar Rohim untuk memutuskan atau menolak permintaan sahabat baik Abinya.


"Jadi begini tujuan saya dan Hilman kemari un-."


Belum selesai Pak Toha menyampaikan maksud dan tujuannya. Sebuah bunyi benturan cukup keras terdengar dari arah depan.


"Ciiiiiittttt.....! Braaaaakkkk!"


"Aduuuhhhh....." Suara perempuan berteriak dan dapat di dengar oleh semua yang ada diruang tamu.

__ADS_1


__ADS_2