
Ammar dan Arumi turun dari lantai dua. Tangan Arumi mengapit lengan kekar Ammar. Ammar pun tersenyum sangat manis. Ia setengah berbisik pada Arumi.
"Maafkan aku jika kamu tidak nyaman. Kita harus berpura-pura. Dan aku harap tidak ada yang boleh tahu jika kamu sudah pulih. Biar aku yang menjawab banyak pertanyaan setelah ini." Ucap Ammar setengah mendekatkan kepalanya di telinga Arumi.
Beberapa pasang mata justru heran dengan penampilan Arumi. Perempuan itu tiba-tiba bercadar. Pak Subroto dan Melisa pun saling pandang. Ayra dan Bram serta Qiya cukup terkejut. Kemarin saat fitting baju, calon menantunya belum mengenakan Cadar. Namun Ayra adalah orang yang selalu positif thinking.
"Mungkin Arumi tampil begitu cantik," ucap Ayra dalam hatinya.
Saat tiba di depan meja dimana ijab dan Qabul telah dilangsungkan. Ammar pun menarik satu kursi. Arumi duduk disana. Ammar memandang Arumi.
"Setidaknya kamu adalah Arumi. Dan aku menikahi kamu Arumi bukan Mayang. Aku akan menunggumu." Batin Ammar.
Mas Kawin yang merupakan sebuah Mobil keluaran terbaru menjadi mas kawin Ammar. Dimana platnya pun ia buat sesuai dengan tanggal lahir Arumi. 2811. Saat selesai menandatangani surat menyurat. Kedua pengantin itu melakukan sungkem pada dua orang tuanya. Saat berada di hadapan Pak Subroto. Jika pengantin wanita umumnya merasa bahagia. Arumi justru merasa benci pada Subroto. Lelaki yang telah membuang ia dan Ibunya.
Hanya airmata ketulusan yang ada untuk Melisa. Ia banyak tahu tentang Melissa dari surat yang ditinggalkan ibunya. Tiba ketika berada di hadapan Ayra. Benteng pertahanan Ammar runtuh. Ia menangis, usapan yang Ayra berikan pada punggungnya membuat ia merasa harus bertanggungjawab akan pernikahannya. Ia tak boleh menyerah. Ijab qobul baru saja terjadi, sebuah masalah dalam pernikahannya datang lebih cepat. Ia tak boleh mengeluh, ia tak boleh menyerah sebelum berjuang. Itu yang selalu Ayra pesankan untuk anak-anaknya. Berjuang dulu untuk semua mimpi, maka ketika gagal, jangan salahkan takdir karena tak berpihak sesuai keinginan. Melainkan ada yang terbaik atau hikmah yang lebih baik untuk diri kita.
"Semoga Sakinah mawadah warahmah. Jadilah suami yang membahagiakan istri kamu dan jadilah suami yang bahagia Nak." Ucap Ayra sambil memeluk dan mengusap punggung Ammar.
Arumi pun merasa bersalah. Ia tak tahu siapa yang salah. Namun kondisi saat ini membuat ia tak mungkin kembali pergi di hari pernikahan. Ia telah menjadi istri dari Ammar. Kehangatan cinta Keluarga Ayra juga telah merayapi hatinya. Namun banyaknya kenangan, lamanya hubungan bersama Gede yang ia lalui karena hubungan pacaran, membuat ia masih ada cinta. Karena ia pergi dari hidup Gede bukan karena tersakiti tetapi karena terpaksa.
__ADS_1
Tiba di atas panggung pernikahan yang begitu dibuat megah nan mewah. Beberapa pemain musik pun ada disudut panggung tersebut. MC meminta Ammar dan Arumi menyumbangkan sebuah lagu. Karena berdasarkan dari biodata yang di pegang oleh MC. Pengantin lelaki itu hobi dengan musik.
Ammar juga sebelum acara ijab telah berpesan dan menitipkan chord untuk para pemain musik tersebut. Ia akan membawakan lagu yang di ciptakan dirinya untuk Arumi. Dengan berat hati, pengantin lelaki itu kembali harus bersandiwara. Ia menerima Microphone dari MC. Ia pun duduk di sebuah kursi. Tak sanggup rasanya Ammar untuk berdiri. Ia duduk dan memegang gitar. Sebuah lagu ciptaanya yang berjudul '! Will Alw@ys Love You'.
Namun saat lagi yang bermakna isi hati Ammar yang betapa mencintai istrinya dan tak akan terganti juga tak akan ada yang kedua atau tak akan berpisah ditengah jalan itu selesai ia dendangkan. Ia meminta satu lagu lagi. Jika tadi ia bernyanyi berada di kejauhan. Kali ini ia duduk di singgasananya. Ia tahu nanti setelah ini bayangan hubungan seperti apa yang akan terjadi.
Duduk di sisi Arumi. Ia mengecup punggung tangan Arumi. Sebuah lagu Aku menunggu mu dari Chr!sy3. Membuat para penonton bertepuk tangan riuh. Mereka melihat keromantisan Ammar dan Arumi. Bahkan airmata Arumi yang terlihat keluar dari sudut matanya adalah air mata bahagia. Padahal airmata itu airmata kesedihan. Arumi belum pernah Bertemu Gede. Arumi belum tahu jika Gede Ardhana mantan tunangannya adalah calon iparnya.
"Bila rindu ini hanya untukmu. Harus berapa lama aku menunggu mu... aku menunggumu... " Penggalan lirik lagu tersebut membuat ia yang memang memiliki jiwa seni cukup kental diantara dua anak Ayra yang lain. Arumi hanya mampu menundukkan kepalanya. Ia tak berani memandang Ammar. Ia malu, ia benci dengan dirinya sendiri.
Ammar selesai dengan lagunya. Ia duduk di sisi Arumi. Ia minta kembali Arumi mengapit lengannya. Ia tak ingin orang menganggap ada masalah saat ia tak turun-turun saat dipanggil tadi.
"Semoga dihati Gede sudah tidak adalagi nama Arumi. Semoga kamu bahagia Qiy. Kakak akan membuat Gede tak tahu jika dia mencintai Gede. Biar kakak dan Arumi yang tersakiti karen cinta. Kamu jangan, adik ku." Batin Ammar.
"Tuhan... Takdir seperti apa yang aku akan jalani. Hidup bersama lelaki yang tak aku cintai. Tetapi dirinya begitu mencintai aku." Batin Arumi yang terus saja menangis. Air mata pengantin di hari bahagia namun merasa tak bahagia. Ia juga bisa mengingat jelas hari-hari yang telah ia lalui bersama Ifah.
Saat tiba dimana para tamu akan meninggalkan kediaman Pak Subroto. Band yang telah disewa untuk menghibur acara pernikahan tersebut melantunkan sebuah lagu. Dan disela-sela menyalami tamu yang akan pulang. Ammar pun berbisik pada Arumi dan dengan senyum manis agar setiap mata yang memandang itu adalah obrolan antar Pengantin baru yang sama-sama malu.
"Dengarkan lagu yang dinyanyikan ini. Sesuai dengan ungkapan hati ku." Ucap Ammar memiringkan kepalanya untuk berbicara pada Arumi.
__ADS_1
"Ku ak@n m3mbuktikan cint@ di h@iku. Ku Pin@ng dir!mu seb@gai tem@n h!dupku. Berj@njilah K@sih, seti@ bers@ma ku,"
"Aku tak akan menceraikan kamu. Kita akan jalani rumah tangga kita yang baru dimulai. Aku akan berjuang mendapatkan cintamu. Jika belum halal saja aku berjuang untuk cintaku. Apalagi cinta ini sudah ada dalam kehalalan suatu hubungan. Aku akan menghapus masalalu mu, akan aku ukir nama ku dihati mu. Hanya ada aku Arumi." Bisik Ammar pada Arumi.
Bak burung Pipit yang jatuh cinta dan berkata pada pujaan hatinya bahwa akan merobohkan istana Nabi Sulaiman sebagai bukti besarnya cinta yang ia miliki. Namun Nabi Sulaiman justru gemas kala mendengar alasan burung kecil itu. Dimana Nabi Sulaiman hanya memberikan nasihat pada burung Pipit yang sedang dimabuk cinta agar cukup Allah yang menjadi bukti. Besarnya cinta.
Namun Ammar, ia bukan berkata hanya untuk gombal. Ia berkata itu adalah satu alasan agar Arumi tak kembali berucap untuk meminta cerai pada dirinya. Ia akan betul-betul berjuang. Untuk meraih hati sang istri.
"Tenanglah Ammar. Hujani istrimu dengan masih sayang yang besar dan tulus. Tak akan ada yang tak luluh karena cinta dan kasih sayang. Baru yang besar saja bisa terkikis karena air yang terus menerus jatuh membasahinya. Apalagi hati Arumi. Jika merubah siang menjadi malam Allah mampu, maka buka perkara sulit merubah Hati Arumi berpaling dari Gede untuk dirimu. Berjuang dan berdoalah Ammar." Kembali pengantin lelaki itu di atas singgasananya, ia bermonolog sendiri.
Ia yang dikira merasa bahagia justru sedang berusaha untuk meraih bahagianya.
"Ini hikmahnya Gede tidak hadir hari ini. Allah tahu yang terbaik. Kala sesuatu buruk terjadi maka bukan berati Allah tak sayang padamu Ammar. Allah sedang ingin melihat apakah kamu bisa mempraktekkan sabar, ikhlas, tulus di kehidupan mu yang baru ini." Ucap Ammar.
"Kenapa tatapan kak Ammar seperti gelisah. Semoga kamu bahagia kak." Batin Qiya yang berada di pelukan Ammar karena pihak keluarga sudah harus pulang.
Lahir dari rahim yang sama dan waktu yang nyaris bersamaan membuat Qiya mampu merasakan keresahan hari sang kakak. Jika Ammar justru akan bisa merasakan kala adiknya tersakiti.
Tidak ada yang sempurna, tidak ada yang tahu tentang masa depan. Masa depan hanya milik Allah dan para malaikatnya. Manusia hanya mampu berusaha. Itu kenapa kita manusia tak bisa mengatakan pasti. Hanya bisa berucap 'insyaallah'.
__ADS_1