Pesona The Twins

Pesona The Twins
97 Munajat Cinta


__ADS_3

Malam kian larut. Tiga malam tidur di atas karpet bludru, membuat tubuh Ammar merasakan sakit pada punggungnya. Ia yang sudah satu bulan lebih tak berolahraga. Membuat tubuhnya sedikit manja.


"Ar, malam ini aku boleh tidur di kasur ya. Badan ku sakit semua." ucap Ammar sambil membuka baju kemejanya.


Arumi diam saja. Ia melihat Ammar tampak mencari baju ganti di lemarinya. Ia tidak tahu jika sudah menikah istri paling tidak ingin selalu melayani suaminya dalam hal apapun, dari segi pakaian, makanan dan minuman bahkan sampai waktu bersama. Tapi Ammar tak menuntut istrinya sesempurna itu. Ia biasa di didik mengerjakan apa-apa sendiri untuk kebutuhan pribadi walau dirumahnya ada banyak asisten rumah tangga.


"Aku ingin menjemput Ifah besok. Aku kesepian." Ucap Arumi yang justru tak merespon ucapan Ammar.


"Keluarlah dari kamar. Sampai kapan kamu akan di kamar terus. Aku tidak mungkin masih mengatakan kamu sakit. Tidak mungkin juga kamu akan makan terus di dalam kamar. Ayolah Ar. Hidup masih terus berlangsung. Gagal bukan berarti mati atau Bu Nuh diri." Ucap Ammar yang menutup jendela dan gorden kamarnya.


Arumi masih diam. Ammar pun naik ke atas tempat tidur. Ia menarik selimut sampai ke perutnya. Ia bukannya bisa tidur tapi aroma tubuh istrinya membuat pikirannya untuk memiliki Arumi seutuhnya begitu menggebu. Ia mencoba memiringkan tubuhnya agar tak mencium aroma tubuh istrinya. Namun masih saja tak karuan rasanya.


"Ar ....," Ucap Ammar pelan.


Tak ada jawaban.


Ammar membalikkan tubuhnya ke arah sang istri. Arumi masih memunggunginya. Ammar mencoba memasukan satu tangannya ke atas pinggang Arumi. Namun tangan lembut istrinya itu memegang erat pergelangan tangannya. Ammar menelan salivanya kasar.


"Kamu sudah berjanji untuk tidak menyentuh aku." Ucap Arumi.


Ammar terdiam. Ia bangkit dari tempat tidurnya. Ia duduk dan mengusap wajah serta kepalanya berkali-kali. Ada rasa pusing di kepala, rasa sesak di dada dan ada rasa panas di tubuhnya karena satu rasa yang baru ia rasakan. Ammar pun merasakan tak mungkin berada didekat istrinya dengan kondisi batinnya yang begitu ingin memiliki Arumi seutuhnya. Lelaki mana yang bisa menahan hasrat untuk menggauli istrinya.


Disaat tubuh molek, cantik dari istri selalu menarik matanya. Aroma tubuh karena parfum, sabun mandi bahkan shampoo yang sepertinya sengaja di siapkan oleh sang Mama di kamarnya membuat aroma tubuh Arumi begitu menggila masuk kedalam rongga paru-paru Ammar. Malam itu ia tak mampu untuk bertahan berada di dalam kamar. Ia pergi dari kamar itu, ia tak ingin menggauli istrinya dalam keadaan istrinya masih mencintai lelaki lain. Ia tak ingin egois. Dimana kenikmatan di balik selimut hanya dirinya yang merasa puncak kepuasan sedang pasangannya tersiksa batin.


Baginya sebuah benih yang akan ditanam di rahim istrinya harus memiliki wadah yang juga menginginkan rahim itu. Ia bahkan pernah mendengar beberapa ceramah dari Ulama favoritnya. Jika hubungan int!m suami istri sama-sama menggelora sama-sama tinggi h@sratnya. Maka benih yang ditanamkan tadi akan cerdas ketika menjadi anak.


Ia pun pergi meninggalkan kamar dan menuju kolam renang. Ammar pikir semua sudah terlelap di kamar mereka masing-masing. Sulung Ayra itu berenang tengah malam untuk mendinginkan h@sratnya. Ia tak menyadari saat ia keluar dari penyelaman nya. Ia menelungkup kan wajahnya di tepi kolam renang itu. Sepasang mata dari balik jendela kamarnya mengamati dirinya.


Ammar bahkan terlihat berkali-kali membenamkan tubuhnya ke dalam dasar kolam renang itu. Lalu sesekali muncul lagi. Ia berenang bolak-balik. Hampir satu jam sulung Ayra itu berenang di tengah malam. Tak lama ia pun memakai Bathrobe nya dan menuju kedalam rumah. Ayra tak tahan lagi ia bergegas turun dari kamarnya. Ia yang melahirkan dan membesarkan Ammar. Ia tahu sepeti apa putranya.


Saat menuruni anak tangga Ayra berada tepat di sudut ruangan yang memang gelap karena lampu di matikan. Ia duduk di sisi lemari yang cukup besar. Ia menanti putranya kembali ke kamar.

__ADS_1


"Ada masalah apa Nak...." batin Ayra menanti Ammar.


Saat Ammar masuk kedalam kamar. Ayra mendekatkan dirinya ke arah pintu kamar. Ammar yang melihat Arumi berada di karpet bludru yang ia tempati berapa malam terakhir.


"Ar... apa yang kamu lakukan. Naiklah ke atas tempat tidur. Biar aku yang tidur disana." Ucap Ammar pelan.


"Aku ingin kita tinggal terpisah tidak dirumah ku atau dirumah mu! biar kita tidak terus bersandiwara. Aku lelah bersandiwara seperti ini. Kamu tidak mau menceraikan aku. Dan kalau kamu lelah tidur di bawah. Biar aku malam ini yang tidur di bawah!" Ucap Arumi.


"Arumi.... please bisa tidak jangan kamu ucapkan terus kata cerai. Tidak bisakah kamu memberikan aku kesempatan. Bukalah hati mu sedikit saja untuk ku Ar... Tidak bisakah kamu melihat cinta ku yang begitu besar untuk mu?" Ucap Ammar yang duduk di ujung kaki Arumi.


Ayra terduduk di depan pintu kamar Ammar. Ia tak mampu berdiri. Ia tak bisa menahan air matanya. Rasanya ia lebih rela berjuang daripada anak-anaknya yang harus berjuang. Rasa kesal pada Arumi tidak lantas membuat Ayra menghardik atau menyumpah menantu yang telah menyakiti putranya. Malam itu Ayra yang terbangun dan melihat putranya berenang di tengah malam. Ia mengadu pada Rabbnya. Ia tak meminta sang menantu mendapatkan karma.


Ia meminta Allah memberikan hidayah pada Gusti Allah untuk melembutkan hati Arumi, memberikan hidayah pada Arumi. Ia pun berdoa agar pernikahan Ammar dan Arumi langgeng sampai maut memisahkan. Dan bahagia tidak hanya di dunia tapi hingga ke surga.


"Ya Allah, berikan kebahagiaan untuk Arumi dan putraku. Buka hati menantu ku untuk suaminya. Jadikanlah Arumi istri yang bisa membahagiakan putra ku. Dan semoga putra ku bisa bersabar menghadapi istrinya. Jangan ada perceraian diantara anak-anak hamba Rabb..." Ayra bahkan tertidur di atas sajadahnya. Masih berbalut mukenah, masih memegang tasbih kayu yang entah sudah berapa kali diganti talinya karena begitu cintanya Ayra pada benda yang setia menemani dirinya berdua-duaan dengan lisan dzikirnya.


Malam itu Ibu dan anak sama-sama tertidur di atas sajadah. Sama-sama memberikan hadiah bacaan Al-fatihah mereka untuk satu nama. Sama-sama menghadiahi bacaan Ya Latif, bacaan shalawat mereka untuk satu nama, Arumi Mayang Dahayu binti Bapak Subroto.


Sedangkan Arumi saat akan ke kamar mandi. Ia melihat suaminya tertidur dalam keadaan duduk seperti orang tahiyat akhir tapi dengan posisi kaki kiri yang dimasukan ke sela kaki kanan.


Pagi hari saat sarapan. Arumi mau tidak mau ia memaksakan diri untuk keluar. Ia memakai cadarnya. Tiba di meja makan, jantungnya berdebar tak karuan karena melihat Gede duduk disebelah Qiya. Terlihat sekali rona bahagia di wajah Gede dan Qiya. Adik Ammar itu cepat menyambut kakak iparnya yang tak boleh diperiksa oleh Ammar.


"Kak Arumi. Sudah sehat. Kak Ammar jahat. Aku mau periksa kakak. Tapi tidak boleh sama Kak Ammar." Ucap Qiya ramah.Ia bahkan duduk di sisi Arumi dan memegang telapak tangan Arumi.


Ayra mengamati Arumi dan Ammar pagi itu.


"Tidak apa-apa. Aku sudah sehat."


Semua anggot keluarga telah berada di meja makan. Semua sarapan penuh dengan hikmat. Saat selesai makan pagi. Bram bertanya pada Gede.


"Jadi kalian akan ke Bali Besok?" Ucap Bram.

__ADS_1


"Iya Pa. Ibu dan Niang sudah mempersiapkan untuk acar resepsi satu Minggu lagi. Dan setelah resepsi mungkin kita akan ke Wahana Internship Qiya." Jelas Gede.


Ammar pun menyampaikan Maksud hati ingin tinggal di apartemennya.


"Pa, Ma. Ammar mungkin sama Arumi akhir bulan ini di apartemen Ammar biar lebih dekat ke kantor." Ucap Ammar.


Ayra yang semalam mendengar jelas alasan sesungguhnya dari anak dan menantunya. Ia cepat menjawab.


"Am, Arumi. Mama mohon, Qiya akan kembali ke wahana internship. Ibrahim dan Nur diminta Umi Laila dan Pakde mu membantu di Kali Bening. Mama belum siap jika kalian semua pergi dalam waktu bersamaan. Mama mohon Arumi, tinggallah dulu disini sebulan atau dua bulan lagi. Atau sampai Mama sudah tidak merasa kaget karena anak-anak Mama sudah menikah." Pinta Ayra.


Qiya merasa sedih karena melihat ekspresi dan melihat wajah Mama nya.


"Betul Kak. Kasihan Mama. Nanti tunggu 4 bulan lagi Aku selesai internship biar aku menemani Mama. Toh Mas Gede juga belum bisa pindah ke tempat lain setelah aku selesai internship." Pinta Qiya sambil menggenggam tangan Arumi.


Ammar menatap Arumi.


"Am-" Baru Ammar ingin memberikan penjelasan lagi. Arumi justru menjawab cepat.


"Baiklah Ma. Tapi Ifah mau Arumi jemput hari ini. Aku tidak bisa jauh dari Ifah." ucap Arumi. Ayra pun cepat berdiri dan memeluk Arumi.


"Terimakasih ya Ar...."


Bram,Ammar dan Qiya malah gagal fokus dengan ekspresi Ayra. Nyonya rumah itu bukan wanita yang ekspresif. Namun baru saja Ibu tiga anak itu merasa bahagia sekali.


"Mama tak mungkin masuk kedalam rumah tangga kalian. Tapi Mama akan membantu agar kalian bisa menemukan ruang di hati pasangan kalian masing-masing."Ucap Ayra dalam hatinya. Ia hanya akan membantu anaknya mendapatkan cinta sang istri dalam diam. Dalam doanya.


Sedangkan Arumi memiliki rencana lain.


"Setidaknya aku tidak satu rumah dengan lelaki itu. Dan Ammar tidak akan macam-macam padaku karena satu rumah dengan orang tuanya." Pikir Arumi dalam hatinya.


"Hhhh... Semoga kamu bisa segera membuka hati mu untuk ku Ar." Ammar masih sibuk dengan munajat cinta nya.

__ADS_1


Semua bahagia pagi itu. Tanpa mereka sadari putri Ayra itu menyimpan rapat luka hatinya. Bahkan teman tidurnya pun tak tahu bahwa ia sedang terluka. Yang ia tahu, istrinya merasakan sakit setelah berhubungan. Bahkan menjelang dini hari tadi Hati putri Ayra itu kembali tersakiti karena bibir Gede yang kembali menyebut sebuah nama dalam tidurnya disaat mereka baru saja merasakan lelahnya menikmati surga dunia di kamar pengantin mereka.


"Apa yang terjadi dengan kamu mas. Aku lihat Dimata mu ada aku. Tapi kenapa disetiap tidur mu selalu ada wanita itu. Semoga aku bisa hadir didalam hatimu, mimpimu, tidak hanya dalam sadarmu" Ucap Qiya dalam hatinya saat sepasang suami istri itu saling pandang karena duduk bersebrangan.


__ADS_2