Pesona The Twins

Pesona The Twins
128 Ungkapan Hati Gede


__ADS_3

Gede sudah dua hari berada di Jakarta. Ia menginap di hotel yang telah disiapkan oleh panitia seminar. Setiap pagi sebelum pergi menuju seminar atau saat makan siang. Ia selalu menelpon istrinya. Siang itu ia menghubungi Qiya vya video call.


Tampak Qiya sedang berada di rumah sakit. Muka istrinya tampak sedikit pucat.


"Dek, muntah lagi?" Tanya Gede.


"Tadi ada pasien pakai parfum, ga tahu aromanya aku ga suka terus mual sampai sekarang." Ucap Qiya.


Tampak di layar ponsel milik Gede, Cita dari arah belakang membawa dua cup jus.


"Tuh sahabat sejati Dateng. Mas tutup dulu ya. Jangan terlalu lelah. Cit.... titip Qiya ya." Ucap Gede.


"Siap Pak dokter. Jangan lupa aja surat izin ku bulan depan... Hehehe...." Ucap Cita seraya duduk di sisi Qiya dan memberikan jus buah naga favorit Qiya selama ia hamil.


Gede mengakhiri panggilan teleponnya karena merasa sudah ada teman istrinya. Ia pun melanjutkan makan siang karena menu yang disiapkan oleh waiter telah di sajikan di mejanya. Karena merasa kurang suka menu yang disediakan panitia. Gede pergi ke sebuah restoran yang terdapat tak jauh dari lokasi hotel tempat seminar diadakan.


Saat baru beberapa suap Gede menikmati makan siangnya. Tiba-tiba ada seorang perempuan yang Gede tak terlalu kenal duduk dihadapannya. Gede mengangkat pandangannya dan perempuan itu tampak tersenyum padanya. Ia meletakkan sebuah tas kecil diatas meja makan.


Gede mengitari pemandangan di sekitar dia. Tampak beberapa meja makan di restoran itu masih kosong. Namun ia tak berpikir aneh. Ia baru akan melanjutkan makan siang nya.


"Kamu namanya Gede Ardhana?" Tanya perempuan yang ternyata adalah Ibu dari Hilman.


Gede kembali meletakkan sendoknya. Ia mengelap mulutnya dengan sapu tangan.


"Ya. Betul. Maaf Ibu siapa ya? Apakah kita pernah bertemu sebelumnya?" Tanya Gede penasaran.


"Saya.... Saya adalah Ibu Ratih. Saya ibu dari Hilman." Ucap Bu Ratih.


Gede membisu. Ia mengambil gelas yang ada di sisi kanannya. Ia meminum separuh isi gelas itu. Ia masih menanti penjelasan Bu Ratih.


"Kamu kenal Hilman?" Selidik Bu Ratih yang tak tahu jika suaminya sudah lebih dulu menghubungi Gede.

__ADS_1


"Ya, seorang anggota DPR, mantan tunangan istri saya." ucap Gede pelan.


Ia masih memandang perempuan itu. Ingin pergi dari sana. Tapi ia ingin mendengarkan apa maksud ibu Hilman itu menemui dirinya.


"Kamu hanya mengenal Hilman sebatas itu saja?" Suara Bu Ratih sudah terdengar lirih.


Air mata jelas terlihat di sudut matanya.


"Sebagai anak dari Bapak Rendra? Pemilik sebuah partai besar di negeri ini?" Kembali Gede belum mau membuka bahwa ia sudah tahu siapa Hilman.


"Dan apakah kamu hanya mengenal Pak Rendra sebatas saja?" Tanya Bu Ratih pelan.


Kali ini Gede sudah menggenggam tangannya. Ia bahkan tak sadar. Rasa sakit hati yang begitu besar karena mengingat nama lelaki itu. Maksud hati ingin mengambil gelas yang ada disisi kanannya. Ia ingin kembali minum. Namun gelas itu justru pecah di genggamannya. Ia pun bahkan kaget. Karena ia pun tak bermaksud menghancurkan gelas itu di genggamannya.


"Taaaarrrrr....!" Suara gelas itu pecah di genggaman Gede.


"Astaghfirullahalazhim...." Ucap Bu Ratih terkejut.


"Jangan sentuh." Ucap Gede pelan tapi penuh penekanan.


Gede tampak mengangkat kepingan kaca yang menancap itu.


"Anda lihat, luka ini lebih besar dari luka yang suami anda tinggalkan untuk saya dan ibu saya. Ssshhhttt..," Ucap Gede sambil menahan sakit karena ia mengambil satu keping kaca yang menancap di telapak tangannya.


Kembali Gede mengambil kepingan lainnya.


"Shhhht.... Seperti inilah rasa sakitnya. Sakit hati ibu saya selama memperjuangkan namanya agar ada di akte kelahiran saya."


"Seperti inilah sakitnya ketika diusir dari desa." Ucap Gede lagi.


Bu Ratih sudah menangis tersedu-sedu. Ia hanya melihat daaaarah terus mengalir dari tangan Gede.

__ADS_1


"Seperti inilah rasa sakit ibu saya saat di campakkan bahkan di ancam untuk memperjuangkan haknya." Ucap Gede lagi.


Bu Ratih tak mampu membuka mulutnya. Hanya airmata yang bisa mewakili Rassa sedih, rasa malu dan rasa bersalah. Ia bisa merasakan apa yang Gede rasakan.


"Dan apakah seperti ini yang ibu saya rasakan setiap kembali mengingat masalalu itu. Apalagi bertemu mereka yang terkait akan masalalu itu? Tidak... Tidak... Rasanya lebih sakit. Rasa sakit ini belum apa-apa. Hati ibu saya, hati saya lebih sakit dari luka ini. Luka ini akan ada obatnya. Tapi luka yang sudah suami anda torehkan di hati ibu saya.... Itu tak ada obatnya... Mau apalagi anda dan suami anda kembali hadir? Kembali mengusik hidup kami... Tak bisakah kamu bahagia dengan hidup kami... Hhhh... " ucap Gede yang sudah berlinang air mata.


"Maafkan saya.. maafkan suami saya.... " Ucap Bu Ratih diiringi penuh Isak tangis.


Gede mengingat semua masa-masa dimana ibunya merasa lelahnya, susahnya di buang, menjadi single parents.


"Saya mohon Nak Gede... Maafkanlah suami saya. Kesalahannya kini sudah terbalas. Ia sudah mendapatkan karmanya." ucap Bu Ratih.


"Di agama kita tidak ada Karma. Yang ada adalah sebuah ujian atau peringatan pada kita dari Allah. Tinggal bagaimana kita menyikapinya. Maaf saya permisi." Ucap Gede sambil berdiri.


Ibu Ratih langsung terduduk di lantai menghadang langkah kaki Gede. Suami Qiya itu melirik ke sekelilingnya. Ia merasa tak enak hati karena menjadi pusat perhatian.


"Berdirilah Bu... jangan memohon pada makhluk. Jangan merendahkan diri pada makhluk yang rendah seperti saya." Ucap Gede.


Ratih justru menangkupkan kedua tangannya. Ia memohon pada Gede.


"Saya mohon. Jika memang Nak Gede tak mampu memaafkan Suami saya, maka saya disini memohon sebagai ibu Hilman. Sebagai seorang ibu dimana sedang berjuang untuk kesembuhan anaknya. Bayangkan bagaimana jika ibu nak Gede di posisi saya?" Ucap Bu Ratih.


Gede menarik napas dalam. Ia memegang pundak Bu Ratih. Ia pun mengarahkan Bu Ratih pada kursinya yang tadi ia tempati.


"Tetapi ibu saya tidak pernah duduk bersimpuh di hadapan manusia. Ibu saya bahkan tak pernah bersimpuh dihadapan lelaki yang ia harapkan belas kasihnya. Dan saya yakin jika ibu saya di posisi anda. Ibu saya tidak akan berani menemui saya." ucap Gede pelan.


Bu Ratih mengangkat pandangannya.


"Saya mohon..... Bantulah Hilman... Ia butuh pendonor Tulang sumsum belakang. Ia terkena leukemia." ucap Bu Ratih sambil menatap Gede.


Gede terdiam. Ia tak bisa berkata-kata. Ia memejamkan matanya sesaat.

__ADS_1


"Maafkan saya Bu. Saya rasa saya tidak bisa melakukan itu. Saya pasti akan menyakiti ibu saya. Ibu saya juga tak akan mengizinkan jika Beliau tahu." ucap Gede yang berlalu pergi meninggalkan Bu Ratih yang semakin menjadi bersedih dan menangis.


__ADS_2