Pesona The Twins

Pesona The Twins
Berita Tentang Ibrahim


__ADS_3

Ammar yang mendengar suara Ayra cepat menoleh me belakang dan ia cepat melepaskan tangan Bram. Ia cepat memeluk ibunya. Namun hati ibu mana yang tak khawatir kala melihat d@rah dari tubuh sang anak.


"Tenanglah Mama.... Aku tidak apa-apa." Ucap Ammar sambil memeluk ibunya.


Lelaki itu bahkan sedikit membungkukkan tubuhnya karena memeluk sang ibu. Qiya pun cepat mendekati sang kakak. Ia menarik kemeja sang Kakak.


"Jangan katakan kamu di tikam orang kak?" Ucap Qiya.


Ayra pun baru ingin melepas pelukan anaknya. Namun sang anak semakin erat memeluk perempuan yang telah melahirkan dirinya itu.


"Qiya.... Aku bukan pasien mu. Apakah kamu kehilangan sopan santun sehingga sembarangan menarik baju kakak mu?" Protes Ammar sambil tetap memeluk Ayra namun kini telah berpindah posisi. Ia memeluk Ayra dari posisi belakang dan mengalungkan kedua tangannya pada sang ibu.


"Kamu berkelahi?" Tanya Ayra memegang pipi Ammar dari sisi depan sang anak.


"Hanya luka kecil Ma... " Ucap Ammar menenangkan hati Mamanya.


"Lukas kecil hingga hampir lebih 4 jahitan. Lantas seberapa Luka besar nya kak? Dokter mana yang mengizinkan pasien nya bisa berkeliaran dengan luka robek begitu?" Protes Qiya karena ia melihat luka kakaknya masih terlihat baru.


Ia pun segera pergi ke dalam kamarnya. Ia mengambil kota p3K miliknya. Bram berjalan mendekati Ammar.


"Katakan, apa yang terjadi Am? Apakah terkait...." Kalimat Bram terhenti.


Ia tak meneruskan kalimatnya karena keidpan dan kedua bibir Ammar yang ia katup rapat memberikan kode pada Bram untuk tak bercerita di hadapan Ayra.


"Kalian selalu saja sibuk merahasiakan sesuatu dari kami perempuan. Tetapi tidak kah para lelaki hebat ku ini tahu, bahwa kami pun akan merasakan atas setiap dampak dari keputusan yang kalian ambil?" Ucap Ayra yang mengusap lengan putranya yang masih bergelayut di tubuh mungilnya.


Ammar memang putra sulung. Tetapi jangan berharap ia akan terlihat cool atau dingin di hadapan ibunya. Semua penghuni rumah itu tahu jika sulung Ayra itu paling manja pada sang ibu. Jika Ammar begitu butuh Ayra untuk semua isi hatinya. Berbeda Dua anak lainnya yang selalu memendam apa yang mereka rasakan, khawatir kan.

__ADS_1


Qiya tela keluar dari kamarnya. Ia meminta sang kakak duduk di sofa. Ia ingin memeriksa luka jahit yang mengeluarkan d@rah.


"Tidak. Tidak. Aku tidak mau di jahit lagi Qiy. Ini hanya berd@rah saja." Protes Ammar saat sang adik meminta ia duduk di sofa.


"Ayolah Pak CEO, apakah kakak tidak khawatir jika luka itu infeksi. Maka akan membuat ketampanan kakak ku satu-satu nya itu berkurang ketika menikah nanti karena luka robek yang meninggalkan cidera." Protes Qiya yang memasang wajah cemberut yang ia buat seseram mungkin.


"Wow.... wow....Mama lihat mereka selalu mengeroyok putra mu Ma...." Protes Ammar saat Bram menarik tubuhnya untuk duduk di sofa sehingga Ayra terlepas dari pelukan sang anak.


Ammar pun pasrah. Ayra juga duduk di belakang Qiya. Bram berdiri di balik sofa. Qiya pun mengangkat kemeja sang kakak ke atas. Sambil menahan rasa sakit ketika kapas yang Qiya tempelkan pada luka di pinggangnya. Ammar pun bertanya entah pada siapa.


"Ok. Sekarang siapa yang bisa menjelaskan pada Ku. Siapa perempuan bernama Nur. Jika tadi adik dokter ku yang pintar ini mencoba menipu ku maka aku pastikan jika dia bukan istri Papa. Karena kalau dia istri Papa maka aku tak masalah melihat auratnya." Protes Ammar.


"Awwwhhh... Qiy... begini kah cara mu mengobati pasien mu?" Pekik Ammar karena Qiya sengaja menekan kapasnya.


"Yang harus menjelaskan itu, Kakak.Katakan dimana dan kenapa luka ini bisa ada di pinggang Kakak. Kali ini siapa yang disakiti dan menyakiti?" Selidik Qiya.


"Betul. Papa rasa ini yang harus dijelaskan lebih dulu." Ucap Bram sambil duduk di seberang Ammar dan memeluk bantal sofa. Ayra melihat tangan Qiya yang fokus pada luka jahit anaknya.


"Pelan-pelan Qiy..." Pinta Ayra.


"Mama... Ini sudah pelan kalau tidak pelan seperti ini."


"Aaaaarrrrggfhhh... Qiya... oh tuhan... Kenapa kamu bisa mendapatkan gelar dokter mu adik ku yang cantik...." Protes Ammar.


Tindakan adiknya yang sengaja agak kuat menekan lukanya membuat lelaki itu menoleh kebelakang. Bram tertawa melihat tingkah Ammar. Ia hanya heran dengan Sulungnya. Ia akan terlihat begitu berwibawa di kantor, di luar rumah. Tetapi ketika dirumah, ia akan sangat jahil dengan adiknya. Putra sulung Ayra itu akan sangat manja pada sang Mama.


Setelah selesai, Qiya menurunkan baju kemeja Ammar. Lelaki itu membenarkan posisinya. Namun cepat ia memeluk Qiya dengan satu lengannya. Ia merangkul leher sang adik.

__ADS_1


"Ayo minta maaf dulu... " Ucap Ammar dengan gemas. Ia bahkan mencubit pipi adiknya itu.


"Baiklah... Maafkan aku Kakak Ammar yang tampan nan tinggi sayang sekali rambut mu yang panjang itu menutupi pesona mu." Ucap Qiya sambil menyandarkan kepalanya di leher sang kakak.


"Jadi katakanlah siapa Nur itu?" Ucap Ammar sambil menoleh ke arah Bram dan Ayra bergantian.


Bram pun menoleh ke arah Ayra.


"Kita ke kamar Ibrahim saja. Biar Mama perkenalkan kalian. Kasihan Nur kalau harus turun naik tempat tidur. Ia sudah dari tadi muntah." Pinta Ayra.


Ammar dan Qiya pun menuruti kedua orang tua mereka ke dalam kamar. Tiba di kamar yang penuh nuansa putih itu pun Bram duduk di bantal sofa milik Ibrahim yang biasa digunakan bungsu Ayra duduk di depan komputer. Jangan berharap menemukan sofa atau kursi di kamar bungsu Ayra itu. Semua lesehan. Tempat tidur pun hanya ada kasur yang cukup muat untuk satu orang. Hanya ada kesan sederhana dan nyaman di kamar sang anak bungsu. Berbeda dengan design sekaligus nuansa di kamar sang sulung yang akan terkesan sekali masuk ke kamar anak band dan terkesan kata gaul begitu cukup sering di kalangan anak muda ketika semasa SMA.


Qiya pun duduk di sisi Nur begitupun Ayra. Bram duduk di dekat jendela dan setengah mengintip keluar kamar.


"Baiklah, Mama rada yang harus menjelaskan semua ini adalah Papa." Pinta Ayra.


Bram pun menghela napas.


"Qiya, Ammar. Nur adalah istri Ibrahim. Masalah kapan dan dimana mereka menikah itu bukan hal yang penting nak. Sekarang ada yang lebih penting dari apa yang kalian harus dengarkan." Ucap Bram sambil terlihat sesekali menghembuskan napasnya.


Bram pun menceritakan pada kedua buah hatinya jika Ibrahim sebenarnya masuk sekolah intelegen. Dan Ia sebenarnya sedang menjalani misi di Malaysia. Ammar terlihat begitu serius mendengarkan penjelasan Bram. Begitupun Qiya. Dua kakak dan adik itu tak menyangka jika sang bungsu justru terjun ke dunia seperti itu. Karena lelaki irit bicara itu juga terkesan cuek dengan olahraga tetapi justru ikut sekolah intelegen.


"Lalu bagaimana perkembangan penyelidikan di Australia?" Tanya Bram pada Ammar.


"Menurut orang-orang kita, Ibra masih hidup Pa. Entah itu dari pihak lembaga intelijen itu sendiri yang menyembunyikan atau ada pihak lain yang menyembunyikan Ibra. Yang jelas Saat kejadian Ibra betul-betul ada di lokasi. Untuk alasan kenapa ia disana itu yang belum di jelaskan." Jelas Ammar.


Bram dan Ayra juga Qiya ikut senang. Nur justru mengerutkan dahinya seketika. Ada rasa bahagia saat ia mendengar kabar suaminya selamat namun mendengar ada pihak lain. Maka hal itu membuat ia mengingat sesuatu yang membuat nya teringat akan satu kejadian satu hari sebelum Ibrahim mengatakan jika ia akan pergi menemani temannya ke luar kota dimana ia justru ke luar negeri bukan luar kota. Saat itu ia menerima pesan dari seorang perempuan.

__ADS_1


"Apa ada hubungannya dengan....." Ucap Nur dalam hati namun lamunannya terhenti ketika Qiya menjulurkan tangannya.


__ADS_2