
“Kakak aja dulu, Ini Zahra sudah mulai mengantuk, jam tidurnya.” Ucap Qiya seraya menenagkan sang putri.
“Sini Dek. Makan dulu. Biar mas yang gendong.” Ucap Gede yang mengambil Zahra dari gendongan Qiya. Putri mereka memang sedikit lebih susah untuk tidur siang. Maka Gede membuka jilbab putrinya.
“Dek, keringatnya banyak sekali ini. Buka aja ya jilbabnya?” Tanya Gede sebelum sang istri meninggalkan putrinya.
Anggukan dan sang istri membuat Gede membuka jilbab putrinya. Arumi yang melihat memberikan tisu pada Gede.
“Terimakasih Bu de… “ Ucap Gede seraya menggerakkan tubuh mungil Zahra yang berada dalam gendongannya. Arumi ternseyum dan menjawab ucapan Gede.
“Iya… Sama-sama.” Ucap Arumi.
Ammar yang berdiri di dekat ayunan menatap dari kejauhan interaksi istri dan mantannya. Ia bersyukur karena Allah betul-betul maha membolak balikan hati. Jika dulu sang istri sangat tidak suka pada dirinya, ingin bercerai. Kini Gede ARdhana bahkan tak mampu menarik anak mata sang istri untuk melirik ayah Zahra itu. Ammar sudah memenangkan hati Arumi. Sehingga Arumi pun tak canggung bersikap di hadapan Gede. Bahkan sejak kelahiran Zahra, Gede dan Qiya memanggil Ammar dan Arumi dengan panggilan Bu De dan Pak De. Adat jawa yang masih begitu kental di keluarga Ayra. Tak ada panggilan mewah diantara mereka kecuali hanya Mama dan Papa. Karena terbiasa kesederahanaan dan mencari kenyamanan. Maka mereka pun memanggil orang disekitarnya dengan panggilan yang nyaaman di bibir dan di dengar.
Bahkan beberapa kru merasa geli saat lelaki setampan Ammar di oanggil Pak De oleh Gede atau Qiya, Bahasa yang dibiasakan untuk mengajarkan buah hati mereka memanggil kakak mereka. Bahkan mata para kru-kru yang rata-rata anak mud aitu dibuat terpana. Sikap para penghuni rumah itu. Anak-anak Ayra walau sudah menjadi orang tua. Mereka masih membungkukan tubuh mereka Ketika lewat di depan Ayra atau Bram.
__ADS_1
“Betul-betul keluarga yang langka… hari gini masih ada orang yang kek gitu sama orang tua.” Ucap salah satu kru.
Beberapa kru tampak focus pada permintaan Ammar. Lelaki itu ingin mengabadikan foto dengan foto serba hitam. Ayra yang duduk di ujung ruang dapur mengamati anak dan menantu yang sibuk bak model yang pasrah mengikuti arahan fotografer agar tercipta foto yang apik. Bram yang menikmati kopi juga mengikuti arah pandangan sang istri.
“Anak itu, betul-betul ketemu jodoh yang satu frekuensi sama dia.” Ucap Bram.
Ayra menoleh dan tersenyum.
“TErima kasih sudah menjadi suami yang baik, ayah yang baik dan membawa pulang nafkah yang halal. Sehingga membuat anak-anak kita lebih seperti sekarang.” Cicit Ayra seraya merapatkan duduknya. Ia menempelkan kepalanya di lengan sang suami.
“Entahlaj, jika orang mengatakan rumah tangga itu tempatnya masalah, aku tak merasakan ada masalah berat dalam hidup ku selain kehilangan calon anak kita kala itu.” UCap Ayra.
“Mungkin karena kamu selalu sibuk, waktu mu sibuk untuk terus belajar, terus untuk membantu orang. Sibuk dengan kegiatan-kegiatan yang bermanfaat. Sehingga taka da lagi waktu untuk masalah datang pada kita. Atau masalah datang ke kita tapi kita tak merasakan masalah karena terlalu sibuk menyelesaikan masalah orang lain?” Tanya Bram.
Ayra mengusap lengan suaminya.
__ADS_1
“Abi dulu pernah dawuh mas, Allah sangat mencintai orang yang memberikan kebahagiaand dan pertolongan kepada orang lain. Apalgi orang tersebut betu-betul datang pada kita dna meminta bantuan. Ayra jadi ingat Almarhum pak Rendra… jadi…”
“Mas juga merasa menyesal Ketika beliau sudah taka da.” UCap Bram.
Bram menyesali kala Pak Rendra meminta bantuan putranya untuk menjadi pendonor sumsum tulang belakang sang anak, dan Bram melarang Ammar. Padahal dari sebuah hadist, ada banyak keutamaan menolong apalagi meringankan beban orang lain.
“Manusia yang paling di cintai Allah adalah yang paling banyak bermanfaat. Insyaallah , Suami ku ini memberikan banyak manfaat untuk mereka kaum duafa dengan hartanya. Entah berapa banyak yang sudah mas tolong Ketika mereka datang kepada mas utnuk meminta bantuan.” Ucap Ayra untuk menenangkan sang ssuami.
Ia bisa mengatakan itu, hampir semua keluarga yang dari Nyonya Lukis atau Pak ERlangga akan datang dari meminjam uang atau meminta bantuan beasiswa bagi anak-anak mereka. Bram selalu mengiyaakan. Prinsip Bram, jika membantu orang lain saja ia senang, kenapa membantu saudara dari ibu atau ayahnya ia tak mampu. Sungguh berungtung Bram karena Ketika ia menolong saudaranya, Allah sedang menuuliskan tujuh kebaikan setiap Langkahnya.
Orang banyak melihat keluarga Bram tampak taka da masalah atau bala yang datang. Tetapi tanpa mereka sadari, seringnya Bram dan Ayra menolong orang dan saudara membuat bala itu tak datang ke mereka. Karena dalam satu hadist juga dijelaskan jika sedekah dapat menolak tuju pintu bala dan pertolongan Allah itu ada tergantung Degnan pertolongan orang tersebut pada sesama manusia. Belum lagi Ammar, putra Ayra itu sedari masih single, ia sering memebrikan bantuan Ketika akan Ramadhan. Di h-1 ramadhan, sulung ayra itu akan memberikan bantuan sembako door to door. Dan tanpa orang tahu itu bantuan dari siapa. Karena Ammar akan meminta timnya untuk merahasiakannya.
Satu hal yang biasa dilakukan oleh Kyai Rohim kala ia mendidik Ayra, kini diwarisi oleh Ayra pada anak-anaknya. Maka tak heran jika jodoh Qiya adalah Gede ARdhana, seorang dokter yang juga akan sibuk diam-diam membantu pasien yang terbnetur masalah biaya untuk pengobatan atau oeperasi saat ia bertugas di tempat terpencil. Disaat mungkin ada banyak orang yang memiliki kemmapuan dan kesanggupan utnuk membantu tetapi tak mau memberikan bantuan dengan dalih, bukan urusannya. Bahkan di sekitar Gede, ia bisa melihat banyak teman yang memuiliki Sikap menolak memberikan bantuan disaat kita mampu dan bisa, sikap seperti itu masih minta diakui sebagai orang yang beriman.
Sesi pomotretan selesai, satu hari melelahkan. Anak dan cucu itu masih berkumpul di kediaman Bram. Malam hari, suasana yang paling di nantikan Ayra, kala menantunya Nur dan Qiya meminta sang ibu menyimak bacaannya. Tampak Qiya duduk di hadapan sang ibu seraya membaca hapalannya. Ayra juga menyimak bacaan putrinya. Arumi ikut duduk di antara ibu dan adiknya itu. Ia belum bisa menghapal Quran seperti Qiya dan Nur. Ia bahkan belum terlalu lanyah membaca quran dengan nada-nada. Ia masih focus pada tartil dan tajwidnya. Maka duduk seraya mendengarkan Qiya membaca kalam-kalam indah itu, membuat Arumi begitu termotivasi.
__ADS_1
Sungguh lingkungan yang positif membuat karakter seseorang akan positif juga. Seperti saat ini, karakter Arumi yang positif karena berada di keliling orang positif