
Hilman melotot tak percaya mendengar apa yang disampaikan oleh Ammar. Sedangkan Ammar seketika menunduk karena ditatap sang ibunda. Sedangkan Gede menatap Hilman. Ia tak menyangka jika Hilman menyangka dirinya non muslim. Sedangkan Ammar, Bram dan Ayra. Mereka sudah tahu jika Gede muslim.
Karena Qiya bukan putri yang tak paham akan trahnya sebagai salah satu keturunan Kyai Rohim. Dimana di guguh dan ditiru oleh beberapa santri. Walau ketiga anak Ayra tak ada yang mengikuti jejak cucu yang terlahir dari rahim Siti, yang mengabdi untuk maju dan berkembang nya pondok.
Tetapi Untuk Santri-santri Kali Bening dan warga kali Bening akan sangat menghormati Ayra dan anak-anaknya. Apalagi sedari duduk di bangku SD, Putri Ayra sudah mondok di Kali Bening.
Tak mungkin putri mereka jatuh hati atau meminta di lamar jika Gede adalah non muslim. Hilman tersenyum ke arah Gede. Ia senyum seolah tanda hormat. Namun di hati Gede bisa melihat tatapan persaingan.
"Jika memang kamu berjodoh dengan Qiya. Maka hari ini saya yakin ada perempuan yang lebih cocok dan telah disiapkan Allah untuk saya." batin Gede.
"Ya saya kemari memang bermaksud untuk melamar Qiya. Tetapi mohon maaf, saya muslim dari lahir. Mungkin nama saya terdengar seperti orang non muslim. Karena yang memberikan nama dan yang membesarkan saya mereka non muslim." ucap Gede mantap.
Namun Hilman mengepalkan tangannya. Terlihat binar kagum dalam kedua bola mata Ayra. Ia bisa melihat lelaki bernama Gede ini ada ketegasan. Ia justru terlihat tidak patah arah.
"Sepertinya mereka pernah bertemu sebelumnya. Apakah ini karena Cita kemari dengan keadaan terburu-buru." Batin Ayra yang mengamati dua lelaki yang sedang memperebutkan putri satu-satunya.
"Aku berharap Hari ini Rama mu menjadi Arjuna yang mendapatkan hati dari guru Drona alias Papa Bram." Ucap Cita yang membayangkan Dokter Gede seperti Arjuna yang berguru pada Guru Drona, sehingga seorang bernama Ekalaya ditolak menjadi muridnya.
Namun ketika akan berkompetisi, sang guru meminta cincin di ibu jari di tangan Ekalaya. Maka Arjuna menjadi pemenang dari kompetisi itu karena bagi pemanah bukan hal mudah memang tanpa ibu jari.
Dua orang gadis itu berada di antara tembok pembatas antara ruang depan dan ruang tengah yang biasa dijadikan untuk menyambut tamu dari pesantren atau keluarga dekat.
Kamu sebenarnya suka ga sih Qiy, sama dokter Gede. Ini kalau kalau ga suka. Terus orang tua kamu juga, ga suka. Bukan hanya dokter Gede yang terluka dan menangis tapi aku sebagai Hanoman di kisah cinta mu akan patah hati dan juga bisa merasakan sakit nya patah hati." Ucap Cita berbisik di dekat telinga sahabatnya.
Qiya diam membisu. Ia justru bukan khawatir dokter Gede ditolak. Tetapi ia khawatir Hilman lebih dulu melamar dirinya. Maka dokter Gede harus menunggu dulu.
"Diem dulu Cit. Ini malah ga bisa dengar yang diobrolin apa." pinta Qiya seolah-olah tak mendengar pertanyaan dan isi hati sahabatnya.
"Aku lapar dan haus Qiy.... Kaki ku juga sepetinya terkilir. Nanti aja ngintip Rahwana dan Rama nya." Bisik Cita lagi.
Qiya melihat kaki sahabatnya. Itulah yang membuat Cita mencintai sahabatnya. Walau mereka beda keyakinan dalam beragama. Tapi cari mereka saling mengasihi sebagai sesama manusia begitu indah dan manis. Qiya langsung berjongkok dan melihat kaki Cita. Seolah ia lupa rasa dihatinya tentang siapa yang akan lebih dulu melamar dirinya. Hari Putri Ayra itu terlalu lembut untuk lebih mementingkan dirinya sendiri disaat ada yang membutuhkan dirinya.
Hal itu kadang membuat Cita marah karena ia kadang suka mengibaratkan jika tak perlu menjadi lilin untuk membuat orang lain bahagia.
__ADS_1
"Kenapa ga bilang dari tadi. Yang duluan ndepipis di sini siapa?" Protes Qiya.
"Ye... siapa yang pipis..." protes Cita.
Qiya pun berdiri dan mengambil ransel di pundak sahabatnya. Ia mengaitkan di satu pundaknya. Satu lengannya menghimpit lengan Cita. Ia menuntun sahabatnya ke arah dimana Nur dan Ibrahim berada.
Di ruang depan Pak Toha pun dengan refleks mengucapkan hal yang sama pada Bram.
"Maaf Nak Bram dan Nak Ayra. Bapak kemari juga berniat melamar kembali Qiya." Ucap Pak Toha sambil memandangi Hilman, Gede bergantian.
"Siapa lelaki ini. Apa dia kakek ku? beliau ayah dari lelaki itu?" Tanya dokter Gede mengamati Pak Toha yang duduk di kursi roda otomatisnya. Tetapi ketika bersama anggota keluarga, para cucu dan anaknya lebih suka mendorong kursi tersebut..
Hilman adalah cucu kebanggaan Pak Toha. Ia cerdas, penurut dan juga sangat menyayangi dirinya. Walau banyak cucu yang lain tapi karena seringnya mereka bersama kala Hilman kecil membuat kontak batin mereka cukup kuat. Hingga Hilman terpisah dengannya saat sang istri sakit struk dan ia tak bisa merawat Hilman. Maka saat itu Pak Rendra memondokkan anaknya di pesantren. Agar ia tak khawatir kondisi anaknya jika seiring di tinggal mencari uang.
Belum lagi Pak Rendra nyaris selalu memandang rendah guru-guru sang anak. Ia beranggapan pesantren seperti tempat penitipan anak. Dimana ia membayar maka ia tak berpikir bahwa pentingnya orang tua sowan ke guru anak atau memiliki rasa hormat juga cinta pada guru yang telah mengajari dan membimbing anaknya.
Maka inilah jadinya mungkin Hilman. Lama di pondok, bisa cerdas membaca kitab tetapi niat pertama ketika dipondokkan yang tak sejalan dengan seharusnya para orang tua yang berharap anaknya menjadi anak Sholeh bukan agar sang anak tak salah pergaulan dan ia tak pusing memikirkan anaknya karena bisa bebas pergi kemana-mana menjalankan bisnis.
Baru saja Bram ingin menjawab satu tangan kanan Ayra seolah-olah satu jarinya berputar dua kali namun cukup cepat. Lalu jari telunjuk yang berputar tadi mendarat di ujung matanya seperti membersihkan kotoran yang ada dimatanya. Hal itu orang akan menganggap bahwa Ayra membersihkan matanya yang terasa terdapat kotoran. Padah putaran jari tersebut sebelum mendarat di ujung matanya merupakan bahasa tubuh yang hanya dimengerti oleh pasangan yang kini menua bersamanya.
"Ehm.... Begini sebelumnya. Pak Toha, Nak Gede. Kami ini nanti malam akan melamar seorang gadis untuk Ammar. Dan kami sudah memberikan kabar pada keluarga gadis tersebut. Maka saya mohon maaf, bagaimana jika besok sore Nak Hilman dan Nak Gede kemari lagi. Sekitar pukul 4 mungkin. Saya sudah dirumah saat itu. Saya mohon maaf sekali karena sekarang persiapan belum selesai untuk nanti malam. Kami menyambut baik apa yang menjadi hajat Pak Toha dan Nak Gede. Kami juga harus bertanya pada putri kami. Bagaimana pun dialah yang akan menjalaninya. Namun... " Ucapan Bram berhenti ia ragu akan melanjutkan ucapannya tidak.
Bram telah belajar banyak tentang adab selama menikah dengan Ayra. Terutama adab kepada sahabat orang tua atau mertuanya.
Namun ia pun harus menyentil sosok Hilman agar tak terlalu percaya diri.
"Namun kami juga sebagai orang tua ingin ikut andil dalam keputusan besar putri kami. Saya tidak ingin putri saya bersedih apalagi disakiti ketika menikah karena salah memilih teman hidup." ucap Bram tegas.
"Keren.... Skak mat. Kalau aku jadi Hilman. Aku tidak akan datang besok. Dalem banget itu kalimat Papa." Batin Ammar. Ia senang setidaknya dua lelaki itu tak bisa sembarangan kepada adiknya. Sosok bijaksana tapi juga tegas dari Bram membuat Ayra merasa lega.
Ia sebenarnya meminta waktu jika ingin menolak Hilman, jangan dihadapan Pak Toha. Rasa cinta pada Kyai Rohim dan Ayra pun banyak melihat juga mendengar kisah Abinya bagaimana sosok-sosok teman, tetangga yang selalu mensukseskan acara Abi, kegiatan pondok. Bahkan jika dipikir, Pak Toha adalah salah satu orang berjasa di pondok pesantren Kali Bening. Walau Pak Toha sendiri tak pernah membusungkan dadanya pada orang-orang atau anak keturunan Kyai Rohim.
Ayra paham rasa cinta Pak Toha pada Kyai Rohim, ia berharap bisa terus menjalin hubungan yang baik pada keluarganya. Dan mungkin berharap cucu nya bisa membahagiakan cucu dari sahabat juga Guru bagi Pak Toha.
__ADS_1
Ketiga Tamu Bram pun menikmati minuman dan hidangan yang telah di sediakan.
"Saya harap besok biar nak Hilman dan Nak Gede bisa kemari sendiri jadi biar bisa ngobrol dari hati ke hati. Saya juga bingung karena kalian datang bersamaan. Yang datang dulu Nak Hilman tapi yang lebih dulu menyampaikan hajatnya Nak Gede. Maka dari itu besok biar adil, sekalian saya juga mau tahu seperti apa kalian berdua." Jelas Bram kembali.
Pak Toha manggut-manggut. Hilman tersenyum senang. Ia tahu kemana arah pembicaraan Bram. Sedangkan Gede ia masih menahan rasa remuk tubuhnya dan berharap ia bisa mendapatkan jawaban yang sama dari orang tua Qiya. Bukan ia percaya diri. Tapi chating dengan Qiya terakhir kalinya, ia bisa pastikan jika ada rasa saling ketertarikan, saling merindukan untuk bersama di hati mereka. Namun sadar bahwa pujaan hati anak Sholehah, ia juga harus berjuang meraih hati orang tua sang gadis pujaan hati.
Maka siang itu Gede terpaksa menginap di hotel, membeli pakaian baru dan tak bisa menemani Niang Ayu. Ia justru melarang Ibu dan Niang Ayu menyusul. Ia hanya khawatir jika langsung bersama orang tua. Karena Gede berpikir, kesempatan dirinya diterima fifty fifty dengan kesempatan dirinya di tolak. Maka setidaknya jika ditolak, cukup dia yang merasakan malu dan sakitnya. Orang tua tak merasakan karena tak ikut hadir.
"Nanti saja Niang, kalau sudah positif diterima. Kita baru lamar secara resmi. Ini saya juga harus lewat seleksi dulu sepertinya." Ucap Gede pada Niang Ayu lewat videocall.
"Lah kok pakai seleksi. Memang nya lebih dari satu yang lamar Kiya?" Ucap Niang Ayu penasaran.
"Q. Q-I-Y-A. Qiya Niang." Ucap Gede.
"Qiya. Ya Qiya. Memangnya ada berapa yang melamar dia selain kamu?" Tanya Niang Ayu.
"Satu, itu juga mantan tunangannya." ucap Gede apa adanya.
"Ge..."
"Ya Niang."
"Pakailah ilmu Nadong mu. Menunduk lah Seperi padi. Kamu harus jujur tentang yang sempat menjadi sebab kamu dan Mayang kandas. Agar tak kembali jadi masalah di tengah jalan." ucap Niang Ayu..
Pembicaraan berakhir dengan Gede mohon doa restu dari Bu Ratih dan Niang Ayu untuk kemudahan ia esok hari.
Niang Ayu sebenarnya tahu dari Ratih jika Ayra putri dari kyai Rohim. Bisa saja ia hadir menemani sang cucuk berharap diterima lamarannya. Tetapi ia tak ingin hubungan sakral pernikahan di mulai hanya karena kesan tak enak hati menolak karena ia sahabat baik Umi Laila dan Kyai Rohim.
Walau jarang ke Kali Bening. Tapi Ayra juga akan mengingat sosok dokter dari Bali itu jika bertemu.
"Tuhan lebih tahu yang terbaik buat Gede. Kamu tidak boleh terlalu mengkhawatirkan nya Ratih...." ucap Niang Ayu kala ia melihat Bu Rati termenung.
Bu Ratih cepat menghapus airmata nya.
__ADS_1
"Semoga kali ini ia menang dalam persidangan di dunia ini Niang. Cukup sekali ia kala di persidangan hanya meminta satu nama agar ada di akte kelahirannya. Semoga Gede bisa menahan rasa sakitnya pada Mas Rendra dan meniatkan lamarannya bukan karena ingin mengalahkan putra mas Rendra. Tapi betul ingin menikah dengan Qiya." ucap Ratih terisak.