Pesona The Twins

Pesona The Twins
136 Kebahagiaan Pak Subroto


__ADS_3

Pagi itu Ammar dan Pak Subroto tampak sudah siap dengan pancing mereka masing-masing di depan danau yang tak jauh dari vila mereka. Arumi dan Bu Melisa tampak sedang menyiapkan bumbu dan peralatan untuk memasak tangkapan suami mereka.


Pak Subroto tampak sudah dua kali strike. Sedangkan Ammar masih belum mendapatkan satu pun ikan. Arumi yang melihat suaminya itu berkali-kali mencoba memindahkan pancingnya. Ia tersenyum melihat wajah frustasi suaminya.


"Ada apa Ar?" Tanya Melisa mendengar suara tawa Arumi.


"He... Mas Ammar sepertinya tidak biasa mancing di alam bebas." Ucap Arumi.


Ia membuka sarung tangannya yang ia gunakan untuk menghidupkan api di alat panggang ikan yang telah disiapkan oleh Pak Subroto.


Arumi mendekati suaminya.


"Sini biar aku coba." Ucap Arumi.


Ammar menoleh ke arah Arumi.


"Kamu lagi hamil...." Tolak Ammar.


"Yang penting jangan di release. Jangan menyakiti hewan. Mas tak biasa memancing di alam bebas. Cara mas memancing bisa digunakan jika di kolam pemancingan." Ucap Arumi.


"Berikanlah pada Arumi, Am. Berarti saat itu Papa kalah, kamu yang mengalahkan Papa?" Tanya Pak Subroto yang mengingat memori kala ia kalah dengan jumlah ikan saat memancing di laut lepas.


Arumi tersenyum ke arah Pak Subroto. Hubungan anak dan Ayah yang kemarin sempat terkesan ada jarak dan dingin. Hari ketiga mereka di vila tersebut. Mereka sudah tampak seperti ayah dan anak. Bahkan kesamaan hobi membuat mereka cepat akrab.


Arumi tampak duduk di bangku. Ia mengganti umpan yang di gunakan oleh suaminya. Ia juga mengganti mata pancing yang menurut Arumi tidak cocok untuk hasil yang ia harapkan. Arumi mengucapakan basmalah sebelum ia melemparkan pancingnya.


Setelah umpan dan mata kail tenggelam di danau tersebut. Tak butuh waktu lama. Pelampung dari pancing milik Arumi sudah ikut tenggelam dan senar pancingnya ikut terseret tanda umpannya di makan ikan.

__ADS_1


Ammar melihat Arumi cukup kuat menahan joran pancing yang sepanjang tubuh istrinya itu. Arumi juga tampak menggulung reel pancing berwarna biru yang berada di genggamannya. Tampak Reel tersebut terus mengikuti arah tangan Arumi yang menggulung senar pancing..


Ammar pun memeluk istrinya dari arah belakang. Kedua tangannya mengambil alih joran pancing yang sedang di kuasai sang istri. Melisa mengabadikan moment-moment itu dengan kamera ponselnya. Ia mengirimkan di status medsosnya dimana ia beri caption 'Teruslah bahagia hingga menua bersama'.


"Ayo mas... sedikit lagi... Ini pasti ikan Gurame... pasti lezat sekali gurame di danau lebih gurih daripada gurame yang di kolam biasa." Ucap Arumi menyemangati Ammar dan masih di dalam pelukan istrinya.


Pak Subroto merasakan kebahagiaan karena anaknya di cintai, di sayangi oleh menantunya. Ammar bukan tak memiliki adab karena memeluk Arumi di hadapan kedua mertuanya. Tetapi ia khawatir kondisi janin yang berada di dalam perut istirnya yang tampaknya masih saja tak sadar jika dia bukan lagi Arumi yang dulu bebas bergerak atau beraktifitas tanpa memikirkan janin mereka. Maka Ammar mengambil inisiatif agar ia yang akan menarik joran pancing yang terlihat cukup kuat di tarik oleh ikan yang sudah memakan umpan yang dilempar Arumi.


Dan tak lama berjuang dengan Joran dan Reel pancing tersebut. Ammar berhasil mendapatkan ikan Gurame yang cukup besar. Sekitar dua telapak tangan orang dewasa untuk besarnya. Pak Subroto tampak meraih senar yang telah terdapat ikan gurame itu. Ia membuka kail ikan tersebut.


Lalu dirinya membawa ikan hasil tangkapan anak dan menantunya ke arah Melisa. Ia membersihkan ikan tersebut. Namun sepasang suami istri yang belum lama menikah itu masih di tepi danau.


"Arumi, kamu lagi hamil. Nanti kalau sudah melahirkan. Anak kita sudah cukup besar. Aku akan mengajak mu nostalgia kemana pun kamu mau." Pinta Ammar.


Arumi tersenyum.


"Maaf... habisnya Mas lama sekali dapatnya." Ucap Arumi.


"Mass......" Ucap Arumi kesal dan sudah mencubit pinggang Ammar.


Interaksi mereka membuat Pak Subroto yang selesai dengan ikannya dan siap di panggang tersenyum bahagia. Ia menatap Melisa. Istrinya pun tersenyum dan mendekati dirinya.


"Alhamdulillah, kamu bahagia di sisa usia mu mas?" tanya Bu Melisa.


"Sebanyak apapun harta ku, segemilang apapun jabatan ku, tapi melihat anak ku hidup bahagia bersama suaminya membuat Akau lebih bahagia dari hari-hari sebelumnya. Semoga mereka selalu bahagia hingga menuanya usia mereka." Ucap Pak Subroto.


Ammar yang sudah mendekat. Ia membantu Pak Subroto memanggang tiga ekor ikan. Dua hasil tangkapan Pak Broto yaitu ikan troman dan satu lagi ikan Gurame hasil tangkapannya.

__ADS_1


"Hem..... Bau nya enak sekali Pa... Kenapa baunya sama seperti resep Ibu kalau membakar ikan?" tanya Arumi.


Melisa mengusap punggung tangan putrinya.


"Karena resep itu adalah resep ibumu dan dulu ketika kami mendaki gunung maka Ibu mu lah yang akan membuat bumbu hingga memanggangnya. Kamu tahu daya tarik atau pesona Ibu mu yang membuat Papa mu masih belum bisa move on. Itu Ibu mu begitu bisa memanjakan lidah Papa Mu."


Arumi memeluk Melisa. Ia menitikkan air mata. Ia bisa melihat ketulusan Cinta Melisa untuknya, ketulusan ucapan Melisa untuk ibunya. Mereka betul-betul sahabat. Hingga kini saat ia menjadi istri papanya pun. Ia tak berusaha mengganti Ibunya Arumi dari hidup Pak Subroto.


"Tapi Mama.... punya pesona sendiri dari Ibu. Mama mampu bertahan dengan lelaki yang puluhan tahun masih menyimpan rasa cintanya untuk Ibu... Ajari aku memiliki hati kuat dan sabar seperti Mama..." Ucap Arumi.


"Kamu tidak butuh itu. Cinta kalian saling melengkapi. Mama selama ini hanya fokus dengan Cinta Mama. Apa yang bisa Mama berikan untuk lelaki yang Mama cintai. Mama tak fokus dengan Papa mu. Maka Mama mampu bertahan walau kadang hati lelah Ar. Dan lihatlah sekarang, ketulusan cinta Mama. Penantian Mama tanpa menuntut untuk dicintai. Cinta Papa sendiri hadir dan datang pada Mama. Tanpa Mama meminta Papa mu melupakan Ibu Mu. Ibu ku selalu hidup dihati kami. Kamu adalah salah satu wujud ibumu dalam hidup kami." ucap Melisa yang juga memeluk sang anak.


"Aku titip Arumi, Am. Jangan sakiti dia. Dia adalah separuh jiwa ku." Ucap Pak Subroto merangkul Ammar.


Ammar pun menjawab sambil tetap fokus membalik ikan yang sedang ia panggang.


"Insyaallah Pa. Bantu terus berdoa. Karena Allah maha membolak-balikkan hati." Ucap Ammar.


Namun saat selesai dengan ikan-ikan hasil tangkapan mereka. Ammar memanggil Arumi yang tampak sedang ber swa foto bersama Melisa. Saat istri Ammar tersebut berjalan ke arah suaminya. Ia memijak seekor ular dan Ular yang merasa terganggu mematuk betis Arumi. Walau terhalang sebuah gamis, namun masih mampu membuat Ular tersebut mendaratkan patukannya di betis Arumi.


Arumi sedikit berteriak namun ia juga tak menyadari jika dirinya di patuk ular.


"Astaghfirullah... " Ucap Arumi yang reflek menoleh ke bawa. Namun ular tersebut cepat bersembunyi di bawah dedaunan yang sudah mengering.


Namun saat ia melihat tak ada apa-apa. Ia baru melanjutkan langkahnya. Saat langkah ke tiga. Ia jatuh ambruk di atas rerumputan.


Ammar dan Pak Subroto berteriak bersamaan.

__ADS_1


"Arumi!" Ucap Dua lelaki beda usia itu.


Melisa cepat mengangkat tubuh putrinya itu.


__ADS_2