
Semua keluarga Bramantyo Pradipta malam ini tampil diluar kebiasaan mereka. Seluruh anggota yang biasanya tampil sederhana apa adanya. Malam ini mereka tampil mengenakan seragam berwarna maroon.
Warna favorit sang Sulung. Sulung Ayra tampil gagah dan tampan. Ia juga tampil wangi dengan parfum yang dibawa oleh Umi Laila dari Kali Bening. Keluarga Ayra semaunya mengenakan parfum yang di jual oleh Toko Umi Laila. Hal itu karena mengambil keberkahan dari wangi itu sendiri dimana dulu sang Kakek alias Abi Rohim, ia meminta sanad langsung ke seorang Habib untuk membuka toko parfum.
Itulah Laila dan Rohim. Mereka melakukan apapun selalu meminta ijazah, mengambil sanadan terlebih dahulu. Tak berani seenak hati melakukan sesuatu. Maka tak heran jika Kyai Rohim sering sowan ke guru-guru beliau. Dan kini tradisi itu diteruskan oleh Furqon.
"Hem... Wangi nya baru..." ucap Qiya yang baru keluar dari kamar dan merangkul kakaknya. Umi Laila tertawa melihat putri Ayra itu sangat hapal masing-masing aroma parfum favorit kesukaan keluarganya.
"Itu kemarin baru datang. Pakde rasa cocok buat calon pengantin. Ya siapa tahu Arumi suka aroma nya yang ini." Ucap Furqon.
"Terimakasih Pakde. Jadi merepotkan pakde dan Bukde." ucap Ammar.
Siti tak bisa ikut. Ia harus tetap di pondok karena tak mungkin pergi bersama disaat pondok masih dalam jadwal aktif para santri nderas bacaan Qur'an mereka.
"Nginap kan Kang?" Tanya Ayra pada Furqon.
"Ndak bisa Ay. Mbak Siti juga lagi kurang sehat. Kasihan kalau tak tinggal lama-lama. Ini santri yang baru-baru, pola nya jaaannn... Kudu sering-sering ngelus dada." Ucap Furqon.
Malam itu seluruh keluarganya mereka berangkat. Tiba di satu rumah, Mobil yang langsung di kendarai Bram berhenti. Ia menjemput Nyonya Lukis. Dua besan yang sudah lama tak bertemu merasa bahagia bisa bertemu di moment pentin cucu mereka.
Hanya Beni dan Liona yang ikut di acara lamaran Ammar. Karena Bambang dan Rani sedang di kampung halaman Rani yaitu Sulawesi. Mereka mendapatkan kabar jika salah satu keluarga dari pihak Papa Rani meninggal dunia. Dua orang tua Rani yang sudah tak ada lagi membuat mereka masih tetap menjaga silahturahmi kepada keluarga kedua orang tuanya. Pagi tadi mereka berangkat.
"Loh tas nya mana Ma?" tanya Bram saat ibunya sudah di dalam mobil.
Nyonya Lukis berencana ingin menginap juga di kediaman Bram karena mendengar akan ada lelaki yang mau melamar Qiya dan juga ingin bercerita dengan Umi Laila. Besan sekaligus teman berbagi cerita kala masih muda.
"Di mobil Beni." Ucap Nyonya Lukis.
Bram pun mengendarai mobilnya. Dua orang lansia dibelakang pun bernostalgia dan saling mengenang pasangan mereka. Umi Laila menceritakan kebaikan dan pribadi Pak Pradipta, sedangkan Nyonya Lukis mengenang Kyai Rohim.
__ADS_1
Tiba di kediaman Arumi, suasana dekorasi terlihat mewah namun bernuansa simpel. Melisa yang mengerti calon besan adalah salah satu keturunan Kyai besar. Mereka pun memilih konsep religi dan simple. Warna putih ke emasan mendominasi setiap dekorasi malam itu. Arumi yang berada di dalam kamar tak diizinkan menyambut tamu.
Mereka memasrahkan pada EO yang mengurus acara pada hari itu. Pak Subroto merasa terkesan karena bisa dilihat dari Bawak an Bram untuk putrinya betul-betul menghormati sang anak. Tak ada satupun media yang diundang oleh Bram. Ia hanya membawa dua orang dokumentasi dari pihak dirinya. Seluruh keluarga yang hadir membuat Pak Subroto menilai besannya betul-betul memulai satu hubungan dengan baik. Bahkan dua sesepuh di keluarga mereka masih bisa ikut hadir di acara lamaran itu.
Umi Laila tak ingin duduk di kursi roda. Ia tetap berjalan walau sedikit membungkuk. Ia di tuntun Qiya.
"Wes mantep ati mu Nduk? Sok gantian, awakmu Yo seng bakal dilamar." Ucap Umi Laila yang dituntun Qiya.
[Sudah mantap hati mu Nduk? besok gantian, dirimu yang dilamar. ]
"Inggih Mbah Uti."
[Ya Mbah Uti]
Qiya tersenyum simpul karena berita ia akan dilamar sudah sampai ke telinga sang nenek sekaligus Guru nya.
Sebuah gamis maroon yang dipadu dengan jilbab yang senada. Yang membuat Ammar suka, hijab yang dikenakan tidak berada diatas dada.
"Sabar... Harus akad dulu baru bisa dinikmati." Goda Bram berbisik ditelinga Ammar. Ia bisa melihat putra sulungnya terpesona dengan kecantikan Putri pak Subroto tersebut.
Saat Arumi tiba di sisi Melisa dan Pak Subroto. Pembawa acara pun menyerahkan Microphone pada Arumi untuk menjawab langsung lamaran dari keluarga Bram.
"Bismillahirrahmanirrahim. Saya menerima lamaran Mr... Maksud saya Mas Ammar." Ucap Arumi.
Hampir saja ia memanggil Mr. Ia lebih terbiasa memanggil Ammar dengan panggilan tersebut. Namun Melisa mengingatkan Arumi untuk merubah panggilannya pada Ammar.
Ayra pun maju ke arah Arumi. Ayra tak mengizinkan anaknya seperti pada umumnya orang sekarang lamaran. Jika umumnya calon suami yang memasang cincin pada calon istrinya. Di lamaran Ammar. Ayra yang maju ke arah Arumi. Ia sebelumnya sudah meminta Umi Laila atau Nyonya Lukis untuk menyematkan cincin tersebut. Tapi dia orang ibu itu tak ingin. Mereka ingin kali pertama Ayra merasakan bagaimana suasana hati seorang Ibu ketika sebentar lagi perhatian, cinta putranya akan terbagi ke perempuan lain atau malah berpindah tak berbekas.
Semua tidak tahu kedepan seperti apa. Kadang se Soleh apapun lelaki itu ketika menikah akan cukup berat memilih jika sang istri menguasai dirinya hingga kadang lupa berbakti pada ibunya.
__ADS_1
Betul saja, malam itu ketika Ayra menyematkan cincin ke jari lentik Arumi. Ada rasa debaran di hati Ayra, rasa bahagia karena sebentar lagi ia menuntaskan separuh tugasnya sebagai orang tua. Dan sebagian rasa sedih karena anak lelakinya kedepan harus pandai berbagi rasa padanya tanpa meninggalkan kewajibannya sebagai seorang Suami. Tanpa menyakiti istrinya yang memang harus ia bahagiakan, harus ia sayangi, harus ia nafkahi.
Arumi mencium punggung tangan Ayra. Ayra pun cepat memeluk Arumi. Usapan lembut pada punggung Arumi membuat gadis yang masih lupa ingatan itu menitikkan air mata. Entah mengapa ia merasakan ada cinta tulus, ada kasih sayang yang hangat. Yang dibawa oleh Ammar sekeluarga. Termasuk perempuan yang sebentar lagi akan menjadi mertuanya.
Pak Subroto dan Melisa pun merasa tenang. Setidaknya Ayra dan Bram tampak menerima putri mereka. Tiba di acara foto bersama pun masih aneh bagi Melisa dan Pak Subtroto.
Ammar tampak menjaga jarak. Arumi melirik Ammar. Wajahnya sangat tegang. Sehingga terlihat seperti orang sedang tak senang.
"Apakah dia tidak bahagia di hari ini? Bukankah Dia yang kemarin begitu menginginkan aku menjadi istrinya. Dan meminta ku mengenakan hijab." Batin Arumi.
Tak ada pujian sama sekali yang keluar dari bibir Ammar untuk Arumi. Bahkan sampai saat makan malam pun Arumi yang memberikan nya sepotong puding, berharap sang calon suami memandang penuh cinta seperti film Drakor yahh akhir-akhir ini sering ia tonton bersama Miss Allyne.
Ammar hanya diam dan terlihat sulit bernapas. Lelaki itu tampak memandang ke arah yang tak jelas apa yang sedang ingin ia pandang.
"Ya Allah.... Semoga cepat kami dihalalkan. Rasanya tak tahan menahan rasa di hati ini. Kenapa kamu bertambah cantik Arumi. Kenapa kamu bertambah mempesona setelah berhijab. Apakah karena lama tak bertemu." ucap Ammar dalam hatinya. Ia berkali-kali menghembuskan napasnya dengan kasar.
Ia tak kuasa memandang Arumi. Polesan make up yang tipis namun mampu membuat kecantikan perempuan itu tampil sempurna dan mampu memporak-porandakan hati nya sebagai seorang lelaki. Andai hari itu adalah hari pernikahan mereka mungkin ia bisa berharap segera ke kamar untuk berduaan dengan istrinya. Namun ia masih haru menahan rasa cinta nya agar tak berubah menjadi nafsu. Ia lebih memilih tak memandang Arumi. Baginya terlalu suci seorang perempuan yang dicintai jika harus dibayangkan dengan pikiran kotornya menikm@ti ia sedang bermesraan dengan sang gadis.
Ia hanya ingin cintanya menjadi nafsu ketika memang halal nafsu itu ia salurkan agar tak menjadi tempat setan bersenang-senang di dalam hati dan pikirannya. Ia berjuang keras untuk tetap menjaga sucinya cinta yang ia miliki. Namun minimnya ilmu Arumi tentang bagaimana seorang lelaki yang memang senjata untuk selamat dari yang namanya perempuan. Adalah menjaga pandangan.
Dua orang yang sebentar lagi menikah justru sedang sibuk dengan perasaan masing-masing.
Sampai saat di mobil, Ammar baru bisa bernafas lega. Ia cepat mengetik sebuah kata dan ia kirim ke Arumi.
[Kamu Cantik sekali Arumi]
[Semoga Allah memudahkan urusan kita hingga sampai di hadapan Pak Penghulu]
"Hah... Ini ternyata yang dirasakan Qiya. Saat bibir tak mampu berucap. Mungkin Ibu jari bisa mewakili." Batin Ammar kembali menyimpan ponselnya.
__ADS_1