
Ammar membuka kedua matanya. Ia tak menyangka jika istrinya akan bertanya secepat itu tentang Chu by.
"Baik aku akan jawab... Chu by itu Bilqis. Bilqis itu adalah sepupu ku." Ucap Ammar.
Arumi masih memejamkan matanya. Ia justru salah sangka. Ia berpikir kali ini suaminya berbohong. Ia memang belum berkenalan dengan Rahmi. Yang ia tahu Bilqis adalah putri Furqon. Namun ia sudah berkenalan dengan anak Furqon itu. Tapi Ia mengira jika Bilqis adalah putri Rafi dan Aisha. Ia sempat melihat foto Bilqis dari medsos Qiya. Dimana kebetulan foto itu diambil saat hari jadi MIKEL Group.
"Bohong." Ucap Arumi masih dengan mata terpejam.
"Loh, betul. Besok aku kenalkan kalau kamu tidak percaya. Bilqis itu putri dari-"
"Pak Rafi dan Aisha. Mantan asisten yang sudah dianggap seperti saudara. Bahkan kalian dari kecil sudah bersahabat. Juga perempuan itu memang pernah magang di Qiyam dan sekarang dia juga sedang magang untuk kelar sarjana akuntansi nya. Masih mau bilang dia itu anak pakde Furqon? Aku bukan perempuan bodoh. Aku tahu." Ucap Arumi yang telah membuka kedua bola matanya.
Ammar baru ingin tertawa tapi ia tak jadi kedua mata yang melotot dari Arumi membuat ia menahan tawanya.
"Ya sudah kalau tidak percaya. Aku sudah jujur."
Baru Arumi mau menarik tangannya. Ammar cepat menahannya.
"Tadi kamu diam saja saat ku tarik tangan ini. Kenapa sekarang ditarik. Kalau cemburu bilang cemburu Ar. Besok aku kenalkan dengan si Chu by itu." Ucap Ammar.
Arumi yang terlanjur berasumsi Bilqis itu adalah putri Aisha bukan Rahmi. Maka Ammar tak ingin malam itu berdebat. Ia ingin menikmati malam pertamanya tidur satu ranjang dengan istrinya.
"Terserah." Ucap Arumi kesal. Ia memejamkan matanya lagi.
Ammar tersenyum karena ada peningkatan. Ia bisa tidur dengan beralaskan tangan Istrinya.
Tubuh yang lelah dan suasana yang dingin membuat Ammar begitu menikmati malamnya. Arumi justru tak bisa tertidur. Hatinya tak karuan rasanya. Dari marah, benci tapi ada rasa senang karena Ammar tak melepaskan tangannya. Ia membuka kedua matanya. Ia melihat lelaki yang telah menjadi imamnya. Selama tiga bulan selalu sabar. Selalu tak menuntut banyak hal.
Ia tatap lekat wajah Ammar.
"Hhhh.... Aku tidak tahu ini cinta apa tidak Am. Tapi aku senang kita bisa dekat seperti ini." Malam itu mata Arumi memandangi wajah tampan suaminya. Sampai kedua netra itu lelah sendiri. Akhirnya ia tertidur.
Pagi harinya, Ammar kaget karena pagi itu ia dibangunkan oleh Arumi.
"Am. Bangunlah. Kamu tidak mau shalat Shubuh?"
Waktu Australia menunjukkan pukul 3.30 AM. Waktu shalat Shubuh, karena matahari terbit pukul 4.40 di negara itu. Ammar pun stretching. Ia melirik Arumi yang sudah mandi. Ammar pun bergegas ke arah kamar mandi. Saat selesai mandi Ammar begitu merasakan kehangatan cinta seorang istri. Pakaian sudah siap. Bahkan kopi kesukaan Ammar sedang dimasak oleh Arumi menggunakan teko listrik.
Saat selesai shalat pun Ammar merasa senang. Arumi lebih dulu menjulurkan tangan ke arahnya. Arumi kaget saat Ammar menarik tangannya.
"Mulai sekarang aku minta kamu tidak kenakan hijab mu di kamar ini." Ucap Ammar seraya berbisik di telinga Arumi.
__ADS_1
Lelaki itu berdiri. ia melipat sajadahnya. Arumi merona merah. Entah kenapa ada rasa bahagia.
Arumi pun membuka mukenah nya. Ammar tak berkedip ketika rambut panjang istrinya itu terurai. Walau pagi itu sang istri memakai sweater dan juga piyama tidur yang cukup tebal.
"Pagi ini aku akan bertemu Miss Allyne. Ia mengajak ku untuk ke suatu tempat." Ucap Arumi.
"Kamu tidak ingin kenalan dengan Bilqis? Semalam kamu penasaran. Bilqis yang kamu-" Ucapan Ammar belum selesai. Arumi kembali memotong pembicaraannya.
"Aku tidak perduli. Jika kamu memang ingin mempertahankan hubungan ini. Kamu tahu harusnya bersikap. Aku sudah mau mempertahankan hubungan ini. Tapi terserah kamu jika kamu lelah. Aku juga tak menyalahkan kamu." Ucap Arumi.
Saat Arumi merapikan tempat tidurnya. Ammar berjalan mendekati Arumi.
"Bagaimana aku bisa lelah saat sebuah usaha menunjukkan hasil." Ucap Ammar.
Ia memberanikan diri memeluk istrinya dari belakang. Arumi yang memegang bantal pun terpaku beberapa saat. Ammar mencium harumnya rambut panjang istrinya.
"Kamu tahu Ar. Kenapa aku bisa sesabar ini menunggu kamu. Kenapa aku menunggu hati mu. Aku tak ingin hanya memiliki tubuh mu. Aku bisa mungkin memaksa mu untuk memberikan hak ku. Tapi tidak, aku ingin punya keturunan yang cerdas-cerdas. Sama seperti orang tuanya. Maka dibutuhkan cinta untuk menciptakan generasi yang cerdas." Ucap Ammar sambil memeluk sang istri.
Arumi tak berani bergerak. Ia tak tahu, rasanya ia pun ingin mencari tahu apakah ada suaminya di ruang paling dalam hatinya. Ia membiarkan kondisi itu beberapa menit.
"Ar...."
"Hem." Ucap perempuan yang masih memeluk bantal yang baru saja ia mau letakkan di tempatnya.
"....."
"....."
"....."
"Ar... Do you love Me?
"I don't know, I am still looking for you in my deepest heart."
[Aku tidak tahu. Aku masih mencari kamu di hati ku yang paling dalam.]
Ucap Arumi pelan. Ammar bisa merasakan detak jantung Arumi berdetak lebih cepat.
Ammar pun membalikkan tubuh istrinya.
"Closed your eyes and feel it." Ucap Ammar.
__ADS_1
[Tutup kedua mata mu dan rasakan]
Ammar mendaratkan k3xupan cukup lama di dahi sang istri. Arumi merasakan hatinya hangat.
"Am I there?" ucap Ammar.
[Apakah aku disana?]
Arumi hanya meneteskan airmata dengan dua mata yang terpejam.
Ammar juga memberikan sekilas k3xupan di bibir istrinya.
"Am I there?" ucap Ammar lagi.
[Apakah aku disana?]
Kali ini kedua mata Arumi terbuka. Ia menatap wajah Ammar begitu dekat dengan wajahnya.
Kali ini Arumi mengangguk. Ia meneteskan air matanya. Ia menangis karena ia merasa senang karena betul kata Ayra. Hanya hati yang bisa merasakan ada cinta atau tidak bukan Bibir. selama ini ia terlalu fokus pada Gede dan Masalalunya. Ternyata ketulusan suaminya, Kesabaran Ammar membuat Ammar sudah ada dihati Arumi. Dan itu butuh perjuangan untuk Arumi sendiri mencari tahu di sudut ruang mana Ammar berada.
Bagaimana bisa merasakan cinta jika berbicara saja jarang, bagaimana bisa merasakan cinta jika tak bersentuhan, bagaiamana bisa hati bergetar jika pemilik hatinya hanya dekat di hati tapi jauh Dimata dan raga.
Pagi dingin itu menjadi pagi pertama paling hangat untuk Ammar. Namun sayang seribu sayang. Saat Ammar sudah merebahkan istrinya dia tas tempat tidur. Arumi menahan tangan suaminya saat sudah kebagian bajunya.
Arumi pun tersenyum karena melihat suaminya frustasi seketika.
"I am sorry Am. We can not continue our activity. It is my red day."
"Oh My God.... Arumi... Kamu sengaja membuat aku kepanasan ditengah kedinginan." Ucap Ammar frustasi sambil memainkan hidung Arumi dengan hidungnya.
Pagi itu gunung hati Arumi mencair di tengah kedinginan Negara Australia. Kamar hotel itu menjadi saksi bendera putih telah terpasang. Perang dingin antara Ammar dan Arumi telah berakhir. Bahkan Ammar terasa malas akan keluar dari kamar itu. Ia masih memeluk istrinya itu.
"Katakan, kenapa kamu begitu sabar menunggu hati ku." Tanya Arumi masih di posisi membelakangi Ammar. Ia masih belum berani menatap wajah Ammar.
"Kamu tahu, kenapa di dalam agama kita akan ada pahala bagi istri yang lebih dulu menawarkan diri kepada suami."
",Hem"
"Bukan hanya itu saja. Tetapi lebih ke, seorang istri itu adalah wadah bagi calon anak. Maka untuk memiliki anak yang cerdas. Suami istri itu harus sama-sama memiliki h@srat yang besar ketika berhubungan !ntim. Dengan syarat sesuai tuntutan yang telah diajarkan. Dan, jika istri yang lebih dulu menawarkan berarti ia telah betul-betul siap. Kalau suami yang dulu mengajak. Mungkin istri lagi lelah, mungkin istri lagi bad mood. Maka hubungan yang di bangun dengan salah satu dari mereka tak memiliki h@srat yang besar akan membuat mereka sama-sama tak mencapai kepu@san. Makanya aku sabar menunggu. Aku ingin keturunan yang cerdas juga ingin sama-sama bahagia. Tidak sendiri." Ucap Ammar berkali-kali mencium rambut panjang Arumi.
"Lalu kalau aku menolak?" Ucap Arumi lagi.
__ADS_1
"Hehehe... Ya kalau sekarang jelas. Kamu haram aku ajak bersenang-senang. Tapi dari beberapa buku yang aku baca. Aku lebih suka memandang sudut seorang suami tak boleh memaksa. Itu bisa kita komunikasikan. Bukan mentang-mentang istri tak boleh menolak ajakan suami lantas aku bisa memanfaatkan dalil itu. Kita akan mengedepankan hubungan ini dengan komunikasi. Jangan seperti kemarin, kamu sudah mau menerkam ku saja setiap berbicara dengan ku. Tapi kalau sekarang diterkam juga aku pasrah... Hehehe..." Ucap Ammar yang mengeratkan pelukannya.
Pagi itu Ammar meneguk indahnya berumahtangga. Hangatnya bersama istri dibalik selimut saat dinginnya pagi menusuk tulang.